NovelToon NovelToon
Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.

"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.

"Belum," jawab Sarah tenang.

Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.

"Lalu... apa kamu punya pacar?"

"Tidak," jawab Sarah lagi.

Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.

"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."

****

Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Sarah benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan aktingnya untuk mempertahankan egonya yang setinggi langit. Di awal-awal minggu, ia mencoba bersikap sesantai mungkin, seolah-olah ketidakhadiran Ardhana di depan gerbang sekolah sama sekali tidak memengaruhi suasana hatinya. Ia ingin membuktikan pada dunia bahwa hidupnya tetap baik-baik saja tanpa gangguan polisi tengil itu.

Namun, Tini tentu saja tidak membiarkan sahabatnya itu hidup tenang dalam kepura-puraan. Saat jam istirahat di ruang guru, Tini kembali menggeser kursinya mendekati meja kerja Sarah yang sedang sibuk mengoreksi lembar jawaban murid.

“Sar, seriusan ini? Udah seminggu lebih lho Pak Polisi nggak kelihatan batang hidungnya. Kamu beneran nggak nyariin dia gitu?” goda Tini sembari menopang dagunya, menatap Sarah dengan senyuman jahil.

Sarah bergeming, pulpen merahnya tetap bergerak konstan di atas kertas. “Ngapain dicariin, Tin? Malah bagus dong, artinya dia udah paham kalau aku nggak mau diganggu.”

“Halah, santai banget mukanya, tapi itu pulpen merah dari tadi coretnya kencang banget, Sar. Kertasnya sampai mau robek tuh,” ledek Tini lagi, tertawa kecil melihat tangan Sarah yang mendadak kaku. “Awas lho, entar kalau dia beneran nyangkut di polsek lain atau kepincut cewek kota kecamatan sebelah, baru tahu rasa kamu.”

Sarah langsung meletakkan pulpen merahnya dengan sentakan agak keras di atas meja. Ia berbalik dan menatap Tini dengan pandangan mata yang tajam, benar-benar mulai merasa terusik dengan godaan yang tiada henti itu.

“Tini, bisa stop nggak?” kata Sarah dengan nada ketus yang tertahan. “Lama-lama aku malas ya dengar kamu bahas dia melulu dari pagi. Aku ke sini buat mengajar, bukan buat urusan jodoh-jodoh maut kayak gitu. Kalau kamu terus-terusan ngegodain aku soal Ardhana, aku beneran bakal marah dan pindah duduk ke meja piket depan!”

Melihat kilatan amarah yang serius di sepasang mata Sarah, Tini langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah. “Eh, iya, iya, maaf, Sar. Sensitif banget deh, bercanda doang kok. Ya udah, aku nggak bakal bahas lagi.” Tini pun menggeser kursinya kembali ke mejanya sendiri, meninggalkan Sarah yang kembali menghembuskan napas panjang untuk meredakan gemuruh di dadanya.

Meskipun di depan Tini ia berhasil menang telak dengan sikap santainya, benteng pertahanan ego Sarah akhirnya hancur berkeping-keping tanpa sisa pada suatu sore yang cerah.

Saat itu, Sarah sedang dalam perjalanan pulang dari pasar kecamatan setelah membeli beberapa keperluan dapur. Ia mengendarai motor maticnya dengan kecepatan sedang, membiarkan embusan angin sore menerpa wajahnya. Namun, saat motornya melewati sebuah tikungan jalan yang agak ramai di dekat area taman kota, pandangan matanya mendadak terkunci pada sebuah warung semen sederhana di tepi jalan yang biasa menjadi tempat mangkal penjual kopi keliling menggunakan sepeda motor.

Di sana, di atas bangku kayu panjang di bawah rindangnya pohon talas, duduk sesosok pria tegap berkaos hitam kasual yang sangat ia kenali.

Itu Ardhana. Pria itu tampak sedang menikmati secangkir kopi hitam di tangannya. Namun, hal yang membuat detak jantung Sarah mendadak berhenti selama satu detik dan digantikan oleh rasa sesak yang luar biasa di dalam dadanya adalah kenyataan bahwa Ardhana tidak sedang sendirian di sana.

Tepat di sebelah kanan Ardhana, duduk seorang wanita muda berambut panjang yang di mata Sarah terlihat sangat modis dan begitu cantik. Wanita itu mengenakan pakaian kasual yang pas di tubuhnya, dengan senyuman yang terus merekah lebar di wajahnya yang putih bersih.

Dari jarak beberapa meter di atas motornya, Sarah bisa melihat dengan jelas bagaimana perempuan cantik itu tertawa malu sembari menutup mulutnya dengan punggung tangan akibat mendengar ucapan Ardhana. Sementara itu, Ardhana sendiri tampak memamerkan wajah tengilnya yang khas dengan wajah penuh percaya diri dengan senyuman miring yang dulu selalu berhasil membuat Sarah gemas sekaligus kesal di masa lalu. Pria itu sesekali mencondongkan badannya ke arah wanita di sebelahnya, mengobrol dengan gestur tubuh yang terasa dekat dan akrab.

Sarah mendadak merasa tangannya yang memegang stang motor menjadi sangat dingin. Ia refleks menarik tuas gasnya sedikit lebih dalam, melajukan motornya melewati kerumunan itu secepat mungkin agar Ardhana tidak sempat menoleh dan melihat keberadaannya. Matanya terasa memanas, dan ada rasa cemburu yang mendadak meledak hebat di dalam dadanya, jauh lebih menyakitkan daripada saat ia melihat Ardhana didekati oleh Lastri di ruang guru tempo hari.

Setelah posisinya sudah cukup jauh dari warung tepi jalan tersebut, Sarah memperlambat laju motornya dan meminggirkannya di bawah sebuah pohon rindang yang sepi. Ia melepaskan pegangan tangannya dari stang, lalu mencengkram kuat ujung jaketnya sendiri sembari menatap kosong ke arah aspal jalanan di depannya. Pikirannya mendadak kacau berantakan. Kata-kata Tini tempo hari tentang ‘banyak perempuan di luar sana yang suka dengan Ardhana’ kini terbukti nyata tepat di depan matanya.

Di dalam keheningan sore itu, Sarah menundukkan kepalanya dalam-dalam, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang kini sudah memerah padam menahan tangis akibat egonya yang terluka parah. Ia memulai bermonolog lirih di dalam hatinya dengan nada suara yang bergetar hebat dipenuhi rasa kecewa.

“Ooh… jadi ini alasan kamu beneran hilang dan nggak pernah nungguin aku di depan gerbang sekolah lagi, Ar?” batin Sarah merutuk pedih. “Katanya kemarin di kedai boba masih punya perasaan yang sama ke aku? Katanya lagi fokus berjuang demi mendapatkan restu dari calon istri kamu yang asli? Tapi buktinya apa? Baru aku tolak gitu aja, kamu sudah bisa tertawa lepas dan bersikap tengil begitu di depan perempuan lain yang lebih cantik!”

Sarah mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas lutut, meratapi kebodohannya yang sempat merasa kehilangan pria itu sepanjang minggu ini. “Ternyata ucapan kamu malam itu memang cuma omong kosong ya, Ar. Kamu beneran nggak berubah dari dulu, tetap saja cowok manis mulut yang gampang banget berpaling kalau jalannya mulai terasa sulit. Bodoh banget aku karena sempat mikir kalau kamu bakal berjuang lebih keras demi aku!” desisnya tajam pada angin sore, mencoba mengubah rasa sakit hatinya menjadi amarah agar ia tidak terlihat menyedihkan sendirian di tepi jalan.

...****************...

Nah kan, apa dibilang. Ardhana udah dapat cewek baru tuh, Sar. Makanya jangan sok jual mahal 🤣🤣

1
Esther
Koq jadi Ardhana yg disalahin Sar, kan kamu yg gengsi mengakui kalau masih suka.
Panas....cemburu melanda😂
Esther
Nanti kalau Ardhana jalan sama cewek lain, baru deh Sarah kelimpungan. Jangan gengsi Sar kalau emang suka😄
Esther
Sabar Ar....kalau jodoh tak lari.kemana
mumu: kalau kata Afgan, Jodoh Pasti Bertemu... 🎶🎶
total 1 replies
bidadari
hai ka.. kenalan dong
mumu: halo, kak.. salam kenal ya ☺️
total 1 replies
Esther
ya udah....pasrah banget sih Sarah😂😂.
Esther
Gak ketemu Ardhana koq malah galau Saras😂
Esther: *Sarah* mksdnya😁
total 1 replies
Esther
Sikap tenang Sarah membuat Ardhana malah kepikiran😁
Esther
ternyata seperti itu ceritanya.
Esther
selalu suka dengan semua ceritanya
mumu: terima kasih, kakak selalu dukung author 🥰🥰
total 1 replies
Esther
double up dong thor
Ani
jawab Ardhana jang cuman diam membeku kayak patung..

kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Esther
Aluna koq nyasar kesini thor😄
mumu: lah lagi mikirin si Aluna ini soalnya 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ani
dengerin dulu Sar, penjelasan Ardhana siapa tau setelah itu harimu jauh lebih mantap dan tenang dalam mengambil keputusan dikemudian hari
Esther
Lanjut
Ani
ceritanya bagus, penulisan nya juga rapi..
Ani
pantesan kalau sarah ampe trauma begitu..
Ani
kira kira ini daerah mana ya kak.. kok jadi penasaran aku nya 😄😄😄😄
Ani: waduh..
total 2 replies
Esther
semangat ya Saras
Esther
waduh koq sampai gitu thor, sengaja nabrak othor.
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor
Esther: ngeri ya thor lawan psikopat
total 2 replies
falea sezi
lanjut banyak q kirim hadiah
mumu: maaf lama up, nya 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!