Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 - Ide Adnan
Keheningan yang berat menyelimuti meja mereka sejenak. Namun belum sempat Adnan menambahkan sepatah kata pun, pundak Gladys tiba-tiba bergetar hebat. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya tumpah membasahi pipi pucatnya. Tubuh wanita itu yang selalu tampak tegak dan berwibawa kini terkulai lemah di atas meja, kedua tangannya menutupi wajah saat isak tangis akhirnya meledak tak terbendung.
"Aku... aku tak punya siapa-siapa, Ad..." suaranya pecah di sela tangis yang mencekam. "Aku yatim piatu sejak masih kecil. Tak punya keluarga, tak punya kerabat, tak punya tempat untuk pulang. Saat mereka mendekatiku dulu... aku kira aku akhirnya menemukan keluarga. Aku kira aku punya tempat di mana aku diterima apa adanya. Ternyata... itu hanyalah jebakan yang menjerumuskanku semakin dalam."
Gladys mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap Adnan dengan pandangan yang hancur lebur. "Aku sudah mencoba kabur berkali-kali. Mengganti alamat, bahkan pindah ke kota lain. Tapi mereka selalu bisa menemukanku. Seolah ada mata yang terus mengawasiku ke mana pun aku pergi. Setiap kali aku tertangkap, hukuman yang kuterima begitu mengerikan... sampai aku tak punya keberanian untuk melarikan diri lagi. Aku menyerah, berpura-pura setia, berpura-pura bahagia... hanya agar aku tetap hidup."
Adnan terpaku di tempat, tak menyangka akan melihat sisi rapuh yang begitu menyedihkan dari wanita yang selama ini dia anggap sebagai pemimpin yang kejam dan berkuasa. Tangisannya terdengar begitu tulus, penuh keputusasaan yang mendalam, seolah beban yang dia pikul sendirian selama bertahun-tahun baru saja runtuh dan menimpanya seketika.
"Kalau begitu..." Gladys menatap kamera di atas meja dengan pandangan penuh harapan yang bercampur keputusasaan, suaranya terdengar mendesak namun lemah. "Sebarkan rekaman itu, Ad. Sebarkan ke mana saja. Ke media sosial, ke berita, ke mana pun orang-orang bisa melihatnya. Aku yakin video itu pasti akan viral. Polisi pasti akan turun tangan. Mereka pasti akan membubarkan sekte itu dan menangkap mereka semua. Ini satu-satunya harapanku untuk bebas."
Adnan mengerutkan dahi, seketika menggeleng tegas. "Tidak bisa. Aku tidak akan melakukannya."
"Kenapa?" seru Gladys tak percaya, air matanya kembali mengalir deras. "Bukankah itu bukti nyata? Bukankah itu yang kita butuhkan untuk menjatuhkan mereka?"
"Justru itulah bahayanya," jawab Adnan mantap. "Kalau aku menyebarkannya begitu saja, mereka pasti tahu kalau itu rekaman dari kameraku. Mereka pasti akan melacak siapa yang menyebarkannya. Dan begitu mereka tahu... kau bisa jadi orang pertama yang akan dicurigai."
Gladys terdiam mendengar penjelasan itu, namun keputusasaannya justru semakin memuncak. Ia kembali menangis, kali ini lebih pilu dari sebelumnya, seolah satu-satunya jalan keluar yang ia harapkan baru saja tertutup rapat di hadapan matanya. Ia menunduk dalam, bahunya terus bergetar, dan tak lagi berusaha menyembunyikan air matanya yang mengalir deras.
Pemandangan itu membuat hati Adnan seakan teriris. Keraguannya yang masih tersisa perlahan luruh tertimpa tangis wanita itu. Tidak ada kepura-puraan yang bisa sepenuhnya meyakinkan seperti itu. Tidak ada akting yang bisa terasa begitu menyayat hati dan tulus. Di hadapannya kini bukanlah seorang pemimpin sekte yang kejam, melainkan seorang wanita yang hancur, yang telah lama terperangkap dan tak pernah mendapat sedikit pun kebahagiaan atau kebebasan seumur hidupnya.
Adnan menarik napas panjang, membiarkan keheningan menyelimuti mereka sejenak sambil menyusun rencana di dalam kepalanya. Ia menatap kamera tua di atas meja, lalu kembali menatap Gladys yang masih tergugu lemah. Tiba-tiba, sebuah ide melintas di benaknya, sederhana namun mungkin saja menjadi jalan keluar yang mereka cari.
"Aku punya cara lain," ucap Adnan pelan namun tegas, memecah kesunyian.
Gladys mendongak perlahan, matanya yang bengkak merah menatapnya dengan pandangan bingung namun penuh harap.
"Kau tidak perlu menunggu polisi atau viral untuk bebas," lanjut Adnan mantap. "Kau harus menghilang. Menjadi orang lain sepenuhnya. Ganti penampilanmu, ubah cara bicaramu, tinggalkan semua jejak masa lalumu. Ganti nama, ganti identitas, pergi ke tempat sejauh mungkin di mana tak ada satu pun dari mereka yang mengenalimu."
Gladys tertegun, mendengarkan saran itu dengan napas tertahan.
"Selama mereka masih mengenalimu sebagai Gladys," ucap Adnan lembut namun tegas, "selama itu pula kau akan terus dikejar dan ditemukan. Tapi jika Gladys yang mereka kenal itu sudah tiada... dan yang ada hanyalah seseorang yang baru, yang tak mereka kenal wajah maupun namanya... mungkin saja kau benar-benar bisa bebas."
Adnan menatapnya lekat-lekat, berharap wanita itu memahami maksudnya. "Aku akan membantumu. Kita akan hapus setiap jejak yang bisa mengarah padamu. Kita pastikan kau benar-benar menghilang dari pandangan mereka. Biarkan rekaman ini tetap bersamaku sebagai jaminan sekaligus pelindung. Tapi kau... kau harus mulai hidup baru. Mulai dari nol, sebagai orang yang bebas."
Gladys terdiam lama, menatap mata Adnan seolah mencoba memastikan apakah kata-kata itu nyata atau sekadar mimpi belaka. Perlahan, air matanya yang tadi terus mengalir kini mulai mereda. Di matanya yang semula penuh keputusasaan, kini perlahan tumbuh secercah harapan yang lemah namun nyata.
udah baca Thor novel terbarunya 🔥🔥🔥🔥seru