Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Rahasia Satu Malam
Pagi yang cerah menyelimuti pelataran rumah besar keluarga Baskoro. Sam melangkah keluar menuju garasi, membukakan pintu mobil untuk Vanya yang sejak tadi terus merajuk karena merasa Mita mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tua Sam. Namun, saat Sam baru saja menghidupkan mesin dan melajukan mobilnya perlahan menuju gerbang untuk mengantar kekasihnya itu pulang, pandangannya menangkap sosok Mita. Gadis itu sedang menuntun sepeda listriknya, bersiap untuk berangkat kuliah.
Tanpa sadar, Sam menginjak rem. Ia membuka kaca mobilnya, memanggil Mita hingga gadis itu terpaksa menghentikan sepedanya tepat di dekat pos satpam.
Sam menatap Mita dengan tatapan yang dipenuhi rasa penasaran yang teramat sangat, mengabaikan raut wajah tidak suka dari Vanya disampingnya. "Mita, tunggu sebentar."
Mita menoleh dengan tenang, menatap Sam tanpa ada gairah kebencian sedikit pun. "Ada apa, Kak Sam?"
"Soal pengakuanmu semalam di meja makan..." Sam mencengkeram kemudi mobilnya lebih erat, dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah yang aneh. "Mita, apa kamu sudah meminta pertanggungjawaban kepada pria itu? Kepada seseorang yang dulu selalu mengejar dan memanggil namamu itu? Ludwig, kan?"
Mita tertegun sejenak mendengar nama Ludwig disebut. Detik berikutnya, sebuah senyum tipis yang sarat akan ketenangan terukir di bibirnya. Ia menggeleng perlahan.
"Bukan, Mas. Bukan Ludwig pelakunya," jawab Mita dengan nada suara yang mengalir pelan. "Dan tolong jangan salah paham, bukan berarti pria itu adalah orang yang jahat."
Sam mengernyitkan dahi, semakin tidak mengerti. "Lalu kalau bukan dia, siapa? Kenapa kamu malah membelanya?"
Mita mengembus napas pendek, menatap lurus ke arah jalanan di depan mereka. "Hubungan kami... itu hanya sebuah kejadian satu malam karena suatu kecelakaan, Mas. Lelaki itu bahkan tidak tahu apa-apa karena saat itu dia sedang dalam keadaan mabuk berat dan sama sekali tidak sadarkan diri. Jadi, aku tidak bisa dan tidak akan pernah meminta pertanggungjawaban darinya."
Mita menjeda kalimatnya, lalu menatap Sam dengan binar mata yang begitu teduh namun menusuk jauh ke dalam ulu hati pria itu. "Lagipula... kebetulan lelaki itu sudah memiliki pasangan hidupnya sendiri saat ini. Jadi, biarkan saja semuanya berlalu sebagai takdirku."
"Mita, tapi ini tidak adil untukmu!" desak Sam, entah mengapa merasa tidak rela mendengar kepasrahan Mita. "Bagaimana dengan masa depanmu? Bagaimana dengan Ludwig?"
"Ludwig sudah mengerti, Kak. Dia sudah menyerah dan pergi setelah aku berterus terang kalau aku sudah mengandung anak dari pria lain," jelas Mita dengan pembawaan yang sangat mandiri.
Sam semakin tidak puas dengan jawaban itu. Sifat egois dan rasa ingin tahunya bergejolak hebat. Ia memajukan tubuhnya ke arah jendela, mendesak Mita dengan suara yang lebih menuntut. "Mita, katakan yang sejujurnya padaku. Siapa sebenarnya lelaki itu? Siapa ayah dari anak yang kamu kandung?!"
Mita yang sangat mengenali tabiat dan sifat Sam yang keras kepala, hanya bisa menatap mantan suaminya itu dalam-dalam. Alih-alih merasa terintimidasi oleh desakan Sam, Mita justru mengunci rapat mulutnya. Ia hanya melemparkan sebuah senyuman misterius yang sarat akan arti, lalu kembali mengayuh sepeda listriknya melintasi gerbang, meninggalkan Sam yang terpaku dalam sejuta rasa penasaran di dalam mobilnya.
Vanya yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka langsung mendengkus kesal, lalu melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh. "Sudahlah, Sayang, tidak usah dipikirkan. Lagipula itu urusan dia, bukan urusan kita lagi. Ayo jalan, nanti aku bisa terlambat."(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)