NovelToon NovelToon
Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Membalas dendam / Balas Dendam / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028 - Tulisan Tangan

Rabu siang, Tan Hansel datang ke SMAN 7 bukan sebagai tamu Keira.

Secara resmi, Tan Group meninjau program CSR laboratorium komputer yang dulu pernah dijanjikan kepada sekolah. Ada proposal, foto serah terima, dan rencana renovasi ruang perangkat. Pak Bambang menyambutnya dengan senyum yang lebih hati-hati sejak malam Grand Megawan.

"Kami sangat berterima kasih atas perhatian Tan Group," kata Pak Bambang sambil berjalan di samping Hansel. "Sekolah kami punya banyak potensi. Beberapa siswa bahkan sudah menunjukkan prestasi tingkat provinsi."

"Saya tahu," jawab Hansel.

Pak Bambang tertawa kecil, lalu berhenti karena tidak yakin apakah itu lelucon.

Tan Yannic berjalan di belakang dengan tablet, mencatat kondisi ruangan. Kabel kusut, komputer lama, pendingin ruangan yang suaranya kasar. Beberapa siswa mengintip dari jendela. Mereka bukan melihat lab. Mereka melihat Hansel.

Di papan mading dekat ruang guru, hasil try out masih ditempel. Nama Keira berada di paling atas.

Hansel tidak berhenti di sana. Ia sudah melihat angka itu terlalu banyak sejak Jumat malam. Yang ia cari bukan angka.

Saat rombongan melewati ruang Bahasa Indonesia, Bu Ratna keluar membawa tumpukan kertas esai. Beberapa lembar jatuh karena angin dari kipas koridor. Tan Yannic spontan membantu mengambil.

"Maaf, Pak," kata Bu Ratna.

Hansel menunduk untuk mengambil satu lembar yang terpisah jauh. Matanya tidak sengaja berhenti pada tulisan tangan di atas kertas.

Rapi.

Tajam.

Huruf-hurufnya kecil, miring sedikit ke kanan, dengan tekanan kuat di akhir garis tertentu.

Ia pernah melihat tulisan seperti itu.

Bukan di sekolah.

Bukan di Megawan.

Tiga tahun lalu, di ruang kerja pribadi yang masih berbau obat dan kopi dingin, selembar surat anonim diletakkan di atas meja Hansel. Surat itu menyelamatkan proyek medis Tan Group dari sabotase, menyebut nama reagen yang salah, nomor batch, dan satu instruksi pendek:

Jangan biarkan pasien keempat puluh tujuh menerima dosis kedua.

Saat itu, pengirimnya tidak meninggalkan nama.

Hanya tulisan tangan.

Hansel memegang kertas esai lebih lama dari yang wajar.

Bu Ratna memperhatikan. "Itu tugas lama siswa, Pak. Saya sedang sortir."

"Boleh saya lihat?"

Pak Bambang langsung menoleh. "Tentu, tentu. Kalau terkait program literasi..."

Hansel tidak mendengarkan Pak Bambang. Ia membaca nama di pojok atas.

Keira Wulandari.

Judul esai itu sederhana: Kota yang Terbiasa Tidak Melihat.

Isinya bukan tulisan siswa yang ingin nilai bagus. Kalimatnya pendek, bersih, dan sesekali seperti pisau yang dibungkus kain. Ia menulis tentang orang miskin yang tidak butuh dikasihani di depan kamera, anak sakit yang lebih sering dianggap beban daripada manusia, dan sekolah yang kadang lebih sibuk memoles papan prestasi daripada mendengar suara dari bangku belakang.

Hansel membaca sampai akhir.

Di paragraf terakhir, ada satu kalimat:

Yang tidak terlihat bukan selalu tidak ada. Kadang ia hanya menunggu semua orang selesai berpura-pura buta.

Jari Hansel menegang di tepi kertas.

"Yannic."

Tan Yannic langsung mendekat. "Ko Hansel?"

"Foto halaman ini. Semua. Dengan izin guru."

Bu Ratna terkejut, tetapi ia tidak tampak tersinggung. "Boleh saya tahu untuk apa?"

Hansel menatapnya. "Saya pernah menerima surat dengan tulisan tangan yang mirip. Saya perlu memastikan sesuatu."

Pak Bambang buru-buru berkata, "Kalau begitu, sekolah bisa membantu. Kami punya arsip tulisan siswa..."

"Tidak perlu banyak orang tahu."

Kalimat itu menutup mulut Pak Bambang.

Bu Ratna memandang Hansel, lalu memandang kertas Keira. Ada sesuatu yang ia pahami tanpa perlu detail. "Saya izinkan foto lembar ini. Tapi kertas asli tetap di arsip saya."

"Tentu."

Tan Yannic memotret halaman dengan tablet. Setelah itu, Hansel menyerahkan kembali kertas esai dengan hati-hati, seolah benda itu bukan tugas sekolah, melainkan bukti dari masa lalu yang baru membuka mata.

Kunjungan CSR berlanjut. Hansel menandatangani dokumen, memeriksa lab, dan mendengar Pak Bambang berbicara tentang rencana pembaruan perangkat. Namun pikirannya berada di tempat lain.

Di mobil, begitu pintu tertutup, ia membuka folder terenkripsi dari ponsel. Surat anonim tiga tahun lalu masih tersimpan dalam bentuk scan resolusi tinggi. Ia memperbesar bagian huruf a, r, dan tekanan garis di akhir kalimat.

Tan Yannic melirik dari kursi depan. "Mirip?"

"Terlalu mirip."

"Bisa kebetulan?"

Hansel tidak menjawab.

Ia membuka file lama lain. Rekaman laporan internal Tan Group dari tiga tahun lalu, malam ketika patient #0047 hampir masuk fase kritis. Ada cap waktu pengiriman surat, foto amplop tanpa alamat pengirim jelas, dan rekaman CCTV buram dari pos satpam belakang. Sosok kecil berjaket gelap terlihat hanya dua detik sebelum kamera terganggu hujan.

Saat itu, Hansel menyangka pengirimnya kurir bayaran.

Sekarang, setelah melihat tulisan Keira, dua detik buram itu terasa seperti tuduhan yang terlambat datang.

"CCTV lama masih ada?" tanya Hansel.

Tan Yannic mengetik cepat di tablet. "Backup dingin mungkin masih tersimpan. Kualitasnya buruk."

"Ambil. Tapi jangan sebarkan ke tim luas."

"Hanya saya?"

"Kau dan ahli grafologi."

Tan Yannic mengangguk. Ia mulai memahami mengapa nada Hansel lebih rendah dari biasanya. Ini bukan sekadar mencari informan lama. Ini tentang seorang gadis yang mungkin pernah berdiri terlalu dekat dengan bahaya, jauh sebelum siapa pun di Megawan belajar mengeja namanya dengan hormat.

Ia mengirim dua gambar itu ke ahli grafologi pribadi Tan Group dengan pesan singkat:

Bandingkan. Prioritas.

Balasan masuk lima menit kemudian.

Perlu pemeriksaan manual. Kecocokan awal tinggi.

Tan Yannic menghela napas pelan. "Kalau benar Keira yang menulis surat itu tiga tahun lalu, berarti saat itu dia..."

"Masih sangat muda," potong Hansel.

Terlalu muda untuk tahu sabotase medis tingkat korporat.

Terlalu muda untuk menyelamatkan patient #0047.

Terlalu muda untuk hidup dengan mata seperti orang yang sudah mengubur banyak nama.

Hansel menutup ponsel. Di luar jendela, gerbang SMAN 7 mundur perlahan. Beberapa siswa masih menatap mobilnya. Di antara mereka tidak ada Keira. Ia sedang di kelas, mungkin tidak tahu bahwa selembar esai Bahasa Indonesia baru saja menyeret masa lalunya ke depan pintu Hansel.

"Ko Hansel," kata Tan Yannic hati-hati, "mau saya cari data Keira dari tiga tahun lalu?"

"Tidak."

Tan Yannic menoleh.

"Aku akan bertanya padanya."

"Langsung?"

"Dia berhak memilih jawaban."

Keheningan turun di mobil. Untuk orang seperti Hansel, tidak langsung menggali dengan kekuasaan adalah bentuk pengekangan diri yang tidak semua orang bisa lihat. Tan Yannic melihatnya. Karena itu ia tidak bertanya lagi.

Sore itu, Keira baru keluar dari kelas ketika ponselnya bergetar.

Tan Hansel:

Kau punya waktu malam ini?

Keira berhenti di bawah pohon ketapang dekat gerbang.

Untuk apa?

Hansel:

Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan. Warung Padang dekat jalan lama. Jam tujuh.

Keira menatap pesan itu lebih lama dari biasanya. Warung Padang dekat jalan lama. Tempat yang pernah ia datangi saat hujan, tiga tahun lalu, setelah mengirim surat tanpa nama ke orang yang seharusnya tidak mengenalnya.

Bayu yang berjalan di sampingnya bertanya, "Mbak kenapa?"

"Tidak apa-apa."

"Itu dari Tuan Tan?"

Keira menoleh.

Bayu langsung mengangkat tangan kecil. "Aku nggak ngintip. Cuma wajah Mbak berubah."

"Wajahku tidak berubah."

"Berubah. Sedikit. Kayak waktu Mbak dengar suara motor yang salah berhenti di depan rumah."

Keira diam. Bayu sudah semakin peka, dan itu membuatnya bangga sekaligus khawatir.

"Pulang dulu," katanya. "Latihan kakimu jangan dilewatkan."

"Mbak?"

"Aku ada urusan sebentar malam."

Bayu tidak bertanya lagi, tetapi genggamannya pada tali tas mengencang.

Tetapi jarinya sudah dingin.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke Megawan, masa lalu kecil yang ia tinggalkan tanpa nama mulai mengetuk pintu depan.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bayu sama kakak nya ini seumuran apa gmna dia anak kandung bu Sri apa anak angkat
falea sezi
bagus
falea sezi
ini novel al kah
Erna Fkpg
makin misterius dan menegangkan
Erna Fkpg
ceritanya menarik dan menegakkan
Erna Fkpg
wah makin mantap ceritanya 💪💪💪
Erna Fkpg
pada akhirnya tetap ditakdirkan pd jalan yg selalu dihindari untuk mencari kenyamanan
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
ni sebenarnya Bu Sri orang kaya bukan sih kok selalu memerintah dengan uang
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
nah Lo malu sendiri GK tu Bu Sri ngomongnya ngurusin keyra padahal dijadikan babu
Erna Fkpg
harusnya Laras dapat nilai dibawah Bayu biar kalah telak dan mati kutu dengan kesombongannya 💪💪💪
Cty Badria
👍👍👍
Erna Fkpg
secangkir kopi untuk semangat up💪💪💪
Cty Badria
ayo semangat up lg ni hadiah /Rose/
Cty Badria
jgn lm2 up nya thor ni hadiah biar semangat /Rose/
Erna Fkpg
GK sabar nunggu hasilnya 💪💪💪🙏🙏🙏
Anne Soraya
lanjut 👍
Erna Fkpg
lanjut thor tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!