NovelToon NovelToon
ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:535.5k
Nilai: 4.7
Nama Author: FRESH NAZAR

BACAAN 18+ Harap tidak dibaca oleh yang di bawah umur tersebut.
Pernikahan Saras yang indah berubah mengerikan karena suaminya Aidan ternyata seorang monster galak. Lebih parah lagi Aidan dan Papanya menyimpan rahasia kelam terhadap Mama Aidan. Tapi kenapa Saras yang hidup tersiksa akhirnya bisa meraih bahagia? Yuk, baca biar gak penasaran....
PERINGATAN: Beberapa tokoh di novel ini tidak biasa. Jangan baper dengan tingkah Aidan dan Papanya yang raja tega. Masih ada tokoh Nerissa, Jhon dan Emaknya Jhon yang rada gila tapi lucu. Baca sampai habis biar tau serunya Emak si Jhon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FRESH NAZAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28. Tarik Sis, Semongkooo..!

Saras kaget. Ia melihat Aidan muncul.

“Jauh-jauh kamu dari istriku!” Marah Aidan dalam bahasa Inggris ke lelaki itu.

“Hei!” lelaki itu protes. “Saya gak ngapa-ngapain dengan istrimu? Kenapa kamu marah?!” Dia bangkit dari jatuhnya di salju.

Saras gak enak hati. Orang-orang di sekitar mengamati kejadian itu. Mereka bertiga jadi tontonan.

“Kamu tadi pegang-pegang istriku!” Aidan tak perduli diperhatikan banyak orang. Ia masih merasa jengkel ke pemuda tampan itu.

“Whaattt??! (haaaahhh??!)” Si cowok bule ganteng kaget. “Perempuan ini minta tolong fotoin. Lalu aku foto dan ngarahin dia foto biar keren. Just like that (cuma gitu doang)! Gak ada apa-apanya!”

“You, bastard (******* lo)!” Aidan memaki.

BUUKK! Tinju Aidan kembali mendarat ke lelaki itu. si lelaki terperangah. Ia kesakitan kena tinju.

Namun Ia tidak terima! Tiba-tiba lelaki itu melakukan gerakan yang sulit diikuti mata. Ia mendekat dan mengangkat tubuh Aidan dengan cepat.

BUUKK! Dibantingnya tubuh Aidan ke salju. Ternyata lelaki tampan betubuh kekar ini jago bela diri.

“Aarrghhh…!” Aidan menjerit kesakitan.

“Biar lo tau ya!” Si lelaki ganteng menatap Aidan jengkel. “Gua cuma nolong istri lo foto! Gak ada niat mesum ke dia! Karena gua gak tertarik sama cewek! Paham lo?!”

Aidan diam saja. Dia masih meringis kesakitan.

“Maaf… maaf..” Saras  minta maaf ke lelaki itu dalam bahasa Inggris. Ia jadi serba salah. “Maafkan saya dan suami saya.”

“It’s oke…” Suara si lelaki masih jengkel. “Gak penting urusan beginian! Untung suami lo gak gua bikin babak belur!” Dia kemudian pergi begitu saja. Malas memperpanjang urusan.

Saras mengambil hand phone nya yang tadi jatuh ke salju saat si cowok jatuh.

Aidan juga bangkit. Ia meringis kesakitan karena bantingan si lelaki tadi membuat tubuhnya lumayan sakit.

Aidan mendekati Saras. “Ini gara-gara lo! Dasar kegatelan!” Ia melotot ke istrinya.

“Jangan ribut disini Aidan. Please…. Kita dilihatin orang.” Saras menatap sekitarnya. Beberapa pengunjung puncak Mount Titlis masih mengamati mereka.

“Huhh…!” Aidan mendengus jengkel. Lantas pergi.

“Aidaaan…! Tungguuuu….!” Saras mengejar.

Namun suaminya terus pergi. Masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang memang sengaja dibangun di Puncak Mount Titlis untuk tempat orang menghindari diri dari dingin dan serangan angin yang menusuk tulang di puncak gunung itu.

Di dalam ruangan berkaca tebal itu banyak wisatawan tengah merubungi berbagai counter penjualan. Ada wisatawan yang membeli souvenir bergambar Swiss atau mount Titlis. Ada yang beli T Shirt, jaket bahkan baju dingin.

Aidan  melewati itu semua. Ia menuju ke sebuah sudut yang menjual minuman. Aidan memesan segelas minuman keras ke pelayan.

Saras mendekati Aidan tapi tak berani bicara. Ia sudah bersyukur Aidan tak marah besar!

*

“Sudah mau maghrib, Pak. Lebih baik kita ke villa.” Heru menatap Pak Argajaya yang duduk di bangku belakang sedan hitam yang disetirinya.

Ada Pandi duduk di sebelah Heru di bangku depan. Mobil itu belum bergerak. Masih menunggu di ujung jalan

kecil  yang menembus jalan besar menuju Cipanas.

“Kita tunggu sebentar lagi. Feeling saya. Perempuan itu akan keluar setelah maghrib.” Suara pak Argajaya ketus.

DEEGG!

Heru kaget. Ia ingat tadi berpesan ke Tantenya, Bu Wicaksono. Perempuan itu  boleh  keluar setelah gelap.

 “Saya rasa begitu, Pak. Perempuan itu sekarang sedang ngumpet. Dia baru berani keluar sesudah gelap karena mengira kita  gak mencarinya lagi.” Tambah Pandi.

Alamak! Heru jadi pusing. Ia mencari cara agar Tantenya bisa pergi dari tempat ini dengan selamat.

Tiba-tiba terdengar nada sambung. Sebuah potongan lagu dangdut…. ’Tarik, Sis, semongkoo…..!’

Heru kaget. Itu hand phonenya yang memang dipasangi nada penerima lagu yang tengah hits tersebut.

“Hand phone lo tuh!” Pandi melotot ke  Heru. Pak Argajaya juga memperhatikan Heru.

“Oh, iya.” Heru segera mengambil hand phonenya di kantung baju.

DEEGG!

Heru kaget melihat nama penelpon yang tertera di layar hand phonenya. LADY.

Ia bingung harus menerima atau tidak telpon yang masuk.

Dilihatnya Pandi dan Pak Argajaya menatapnya. Heru segera menekan simbol hand phone merah di layar hapenya tanda menolak menerima telpon yang masuk.

“Siapa yang nelpon?” Pak Argajaya kepo, bertanya ke Heru. Ia heran karena Heru buru-buru menolak telpon yang masuk.

“Teman.” Heru menjawab ogah-ogahan. “Dia suka pinjam duit makanya saya malas menerima telponnya.”

“Oh…” Pandi mengangguk paham.

Sementara itu mobil Nerissa yang dikendarai Jhon sudah meluncur mendekati Cipanas!

“Heru menolak menerima telponku. Pasti ada apa-apa!” Nerissa terlihat tegang di dalam mobilnya.

Jhon yang menyetir dan Lia yang duduk di bangku belakang mobil menoleh ke Nerissa.

“Tadi sore saya sempat chat dengan Heru. Katanya maghrib aman untuk menjemput Tantenya di Cipanas.” Beri tahu Jhon.

“Ya. Saya juga dikasih tau begitu sama Heru. Tapi sekarang dia menolak menjawab telpon saya. Berarti dia dalam posisi tidak memungkinkan untuk menjawab. Ada kemungkinan dia sedang bersama Argajaya! Saya juga curiga Bu Wicaksono belum aman dijemput!”

“Kalau begitu, apa kita tunggu Bu Wicaksono di titik yang tidak jauh di lokasi penjemputan?”

“Lebih baik begitu.” Nerissa setuju. “Biar kalau ada apa-apa dengan Bu Wicaksono kita bisa segera menolongnya!”

Lepas maghrib Bu Wicaksono sudah tak betah di kebun labu siam. Nyamuk di kebun itu ternyata banyak dan ganas

menyerangnya. Bu Wicaksono sudah kesal mukulin nyamuk melulu. Tapi dipukulin satu muncul lagi dua puluh satu nyamuk. Buru-buru Bu Wicaksono keluar dari kebun.

Ia berjalan kaki menuju ujung jalan. Sesuai kata Heru, setelah malam dia akan bebas pergi dari tempat ini karena Pak Argajaya dan securitynya sudah dibawa pulang Heru ke villa.

Senang hati Bu Wicaksono melihat ujung jalan kecil yang menembus jalan menuju Cipanas. Tak terlihat mobil sedan hitam Pak Argajaya menunggu disitu. Berarti Heru benar. Tentu Heru sudah membawa majikannya ke villa.

Tiba di jalan besar itu Bu Wicaksono menunggu. Sesuai janji, Lady akan menjemputnya di sini. Tapi ia melihat mobil Lady belum muncul.

Mendadak hand phonenya berbunyi.

Bu Wicaksono mengangkat hand phonenya. Tertera nama NERISSA di layar hand phone.

Bu Wicaksono lega. Akhirnya lady menelponnya lagi. Tadi lady sempat menelponnya kala ia menunggu di kebun labu siam.

“Ya. Saya sudah menunggu di pinggir jalan.” Ujar Bu Wicaksono di telepon.

Nerisa gemas mendengar suara Bu Wicaksono di telpon. “Kamu sembunyi dulu! Sekarang belum aman!” Teriaknya.

Bu Wicaksono kaget. “Iya… iya…!” Perempuan itu mematikan hand phone. Ia segera kembali ke jalan kecil berbatu.

Tapi tiba-tiba 3  lelaki bertubuh besar muncul dari jalan besar dan mengejarnya.

“Heii….! Jangan kabur…!”

 Bu Wicaksono segera lari secepat ia bisa berlari di jalan kecil berbatu. Ketiga lelaki itu terus  mengejarnya dengan gesit.

Jantung Bu Wicaksono  berdebar kencang sambil berlari. Ia ketakutan karena ketiga lelaki ini berlari kencang.

TRAAPP! Bu Wicaksono tertangkap!

“He he he, mau lari kemana kamu?!” Si penangkap, seorang lelaki bertubuh besar tapi perutnya agak tambun terkekeh.

“Lepaskan saya. Saya gak punya salah sama kalian!” Bu Wicaksono protes.

“Boss kami yang punya urusan denganmu! Kita ditunggu di villa pak Argajaya.” Si lelaki tambun menarik Bu Wicaksono kembali ke jalan besar. Bu Wicaksono hanya bisa pasrah mengikuti ketiga lelaki security itu membawanya.

Tiba-tiba. BUUKKKK! Sebuah kayu dipukulkan dengan keras mengenai tubuh seorang security dari belakang. Lelaki itu tersungkur jatuh ke jalan.

BERSAMBUNG…..

1
Fitri Yuli
Lumayan
Ani Mendur
biasa jo
Irfan Idris
si Aidan hiperseks
玫瑰
lucu nya 🤭🤣😂😂😂
玫瑰
🤣🤣
玫瑰
Setuju
玫瑰
materialistic..huh
玫瑰
setelah membaca komen dan rekomen dari NT,aku singgah di sini.
Kalee Chan
yaa Alloh gustii...
kui si emak ganggu wae.
sak.e cah cah.. lgi panas panass.e diganggu.. gek Rasane wiiih Ra karuan.. sabaaar yaa narissa.🤭🤭
Jro Ratih
judul sm cerita nggak nyambung banget....
Balqis Shopp
klau aku jadi rama... setelah kejadian itu biar saras di buang sama adian dan mau balikan ke Rama lagi ..gue ogah... biar nangis darah juga saras nya gak sudi balikan termasuk cewe matre ihh benci 🤬
Suryani
lanjut
Umisah Asther
Q suka karyamu thor
choirunissa
mulai bqcq
@Ani Nur Meilan
mampir lagi Dan like

sambil nunggu Boss Barton Up lagi 🤗🤗🤗
Yani mulyani
giru trus bosenn
Yani mulyani
ga ada romantis" nya ..sllu d skip...konflik trus isinya
Yani mulyani
harusnya tadi pendarahan pas d dorong sama c aiden jd biar dia merasa bersalah...bkn don rama ..jd kan nyalahin rama ...
Yani mulyani
knp selalu ada kata JREENG sihhh galfok jd ga enak bacanya
Istri pangeran
sebel jg nih wanita keriput...napa ggu org mlulu kyk gak ada kerjaan
emang dl gak pernah gituan gitu??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!