Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sinyal Hilang, Nyawa Melayang
Bunga lili putihnya mana? Tolong jangan bilang kalian meninggalkannya di gudang!" Cala menekan alat komunikasi di telinga kanannya kuat-kuat. Suasana ruangan besar Hotel Grand Valera sungguh bising. Alunan musik orkestra beradu dengan obrolan para tamu undangan kelas atas.
"Sedang diturunkan dari lobi belakang, Mbak Cala! Tapi lift barang sedang penuh," sahut suara Rina, asistennya, dari seberang sambungan.
"Lift barang VIP, Rina! Pakai lift barang VIP! Tamu penting sudah mulai mengisi meja depan. CEO Valera Group akan memberikan pidato sambutan lima belas menit lagi. Pastikan semua karangan bunga sudah di posisi."
Cala memijat pangkal hidungnya. Mengatur pernikahan keluarga konglomerat memang selalu menguras kewarasan. Belum lagi sepatu hak tinggi yang ia pakai. Tumitnya terasa seperti ditusuk jarum tiap kali ia melangkah. Lecet-lecet parah. Ia menggerutu pelan.
"Zeta Katering bagaimana? Minuman pembuka sudah siap?" Cala kembali bicara ke alat komunikasi di tangannya.
Suara statis panjang menjawabnya.
"Rina? Halo? Cek sinyal. Rina?"
Cala melihat layar ponselnya. Sinyal silang. Kosong. Dinding peredam suara ruangan ini selalu memblokir sinyal.
"Aku cari sinyal dulu ke lorong servis. Kamu pastikan katering berjalan lancar," ucap Cala.
Cala berjalan cepat menembus kerumunan. Senyum palsu ia lemparkan tiap kali berpapasan dengan klien. Mulutnya bermanis-manis, tapi kakinya berteriak minta ampun.
Ia mendorong pintu tebal berlapis kain beludru di sudut ruangan. Begitu pintu tertutup, suara bising pesta langsung teredam drastis. Lorong servis ini panjang, temaram, dan sepi. Hanya ada pintu-pintu staf dan akses tangga darurat. Aroma parfum mahal bercampur makanan mewah seketika berganti menjadi bau cairan pembersih lantai yang tajam.
Cala menghela napas panjang. Ia mengangkat ponselnya, memutar tubuhnya mencari tangkapan sinyal. Satu bar muncul. Hilang lagi. Muncul lagi.
"Ayo dong, jangan putus-putus begini," omel Cala pada layar ponselnya. Ia berjalan makin ke ujung lorong.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar samar dari arah pintu darurat di ujung lorong. Ini suara sol sepatu keras beradu dengan lantai marmer.
Cala tidak terlalu peduli awalnya. Matanya masih fokus ke layar. Namun, suara gedebuk keras yang disusul rintihan tertahan membuatnya mendongak refleks.
Napas Cala tercekat. Di ujung lorong, dua sosok pria berdiri berhadapan. Satu pria berdiri menjulang mengenakan jaket kulit hitam, tubuhnya membelakangi Cala. Pria satu lagi berlutut memegangi perutnya. Setelan jas pria yang berlutut itu sangat familier bagi Cala. Itu CEO Valera Group. Pria yang seharusnya naik ke mimbar lima belas menit lagi.
"Kenapa kau lakukan ini?" Suara serak CEO Valera Group menggema pelan.
Pria berjaket hitam tidak menjawab. Tangannya terangkat tinggi. Sebilah pisau panjang berkilat dalam keremangan. Tanpa ragu sedikit pun, pisau itu diayunkan ke bawah. Menancap dalam di dada sang CEO.
Tubuh CEO itu ambruk ke samping, membentur lantai marmer dengan suara mengerikan.
Cala membeku. Seluruh darah di tubuhnya seolah turun ke kaki. Otaknya menolak memproses apa yang baru saja matanya lihat. Ada orang mati di depannya.
Insting bertahan hidup Cala mengambil alih. Tangannya yang gemetar parah secara otomatis menekan tombol rekam di aplikasi kamera yang kebetulan masih terbuka di ponselnya. Lensa kameranya menangkap sosok pria berjaket hitam yang sedang menarik pisaunya dari tubuh korban. Detik demi detik terekam jelas.
Cala mundur selangkah dengan sangat hati-hati. Ia harus memanggil polisi.
Satu langkah. Dua langkah.
Tiba-tiba, layar ponselnya menyala terang benderang. Nada dering panggilan masuk memecah kesunyian lorong servis seperti suara petir.
"Mbak Cala! Kateringnya..." Suara nyaring Rina bocor dari pengeras suara.
Cala panik menekan tombol tolak panggilan, tapi semuanya sudah terlambat.
Pria berjaket hitam itu menoleh perlahan. Wajahnya tertutup masker hitam, tapi matanya menatap lurus ke arah Cala. Tatapan yang kosong, sedingin es, dan mematikan.
"Sial!" umpat Cala pelan.
Pria itu bangkit berdiri utuh, memutar pisaunya yang berlumuran darah, lalu berlari mengejar Cala.
Cala memutar tubuhnya. Ia berlari sekuat tenaga. Sepatu hak tinggi yang menyiksanya kini menjadi ancaman nyawa. Baru lima langkah, kakinya tersandung.
Tanpa berpikir panjang, Cala menendang kedua sepatunya hingga terlempar ke dinding. Ia lari-lari bertelanjang kaki menyusuri lorong dingin itu.
"Tolong! Siapa saja, tolong!" Cala berteriak histeris. Tapi pintu-pintu staf terkunci rapat dan dinding peredam suara membuat teriakannya sia-sia.
Langkah kaki berat pria itu semakin mendekat. Terdengar sangat menakutkan.
Cala melihat pintu keluar darurat berlogo hijau menyala. Ia menabrak pintu itu dengan bahunya, mendobraknya terbuka, dan berlari menuruni tangga beton. Berputar-putar turun. Napasnya memburu kencang hingga tenggorokannya terasa perih.
Pria itu tidak bersuara, tapi Cala tahu dia tepat berada di belakangnya. Jarak mereka semakin dekat.
Pintu keluar staf di lantai dasar terlihat. Cala mengerahkan seluruh sisa tenaganya, mendorong tuas pintu besi itu sekuat mungkin, dan menerobos keluar ke udara malam kota yang lembap.
Keberuntungan masih berpihak padanya. Sebuah taksi biru dari Taksi Lintas Kota baru saja menurunkan staf hotel di area bongkar muat.
Cala langsung melompat masuk ke kursi belakang sebelum sopir itu sempat mengunci pintu.
"Jalan, Pak! Tolong jalan sekarang! Cepat!" teriak Cala kalap sambil mengunci semua pintu dari dalam.
Sopir taksi paruh baya itu kaget bukan kepalang, tapi kepanikan di wajah Cala membuatnya refleks menginjak pedal gas dalam-dalam. Ban taksi berdecit nyaring meninggalkan area hotel.
Cala menoleh ke kaca belakang. Pria berjaket hitam itu baru saja keluar dari pintu staf. Dia hanya berdiri mematung di sana, menatap lekat ke arah pelat nomor taksi yang menjauh. Tangannya merogoh saku jaketnya, mengeluarkan ponsel.
Cala merosot di kursi penumpang. Jantungnya berdetak liar. Rekaman video berdurasi lima belas detik itu masih ada di sana.
"Neng, kita mau ke mana?" tanya sopir taksi dengan suara gemetar.
"Ke Apartemen Neo Asri, Pak. Tolong secepatnya. Lewat jalan tol saja." Cala menyebutkan nama apartemennya dengan suara serak.
Sepanjang jalan, mata Cala tidak berhenti mengawasi kaca spion. Namun jalanan malam cukup lengang, dan taksi melaju tanpa hambatan.
Begitu taksi berhenti di lobi Apartemen Neo Asri, Cala melempar beberapa lembar uang ratusan ribu ke kursi depan. "Kembaliannya ambil saja, Pak. Terima kasih!"
Cala berlari bertelanjang kaki melewati lobi apartemen yang sepi. Satpam tertidur di posnya. Cala tidak berani membangunkan siapa pun. Ia menekan tombol lift berkali-kali dengan jari bergetar.
Pintu lift terbuka. Cala masuk, menekan tombol lantai delapan berulang-ulang sampai pintu menutup rapat.
"Kamu selamat, Cala. Kamu selamat," bisiknya pada diri sendiri.
Lift berdenting di lantai delapan. Cala keluar dan berlari menyusuri lorong. Ia hafal setiap inci tempat ini. Berhenti di depan pintu unit nomor 812, Cala menekan tombol sandi digitalnya.
Satu. Tiga. Lima. Tujuh.
Bunyi peringatan berbunyi. Sandi salah.
"Astaga, ayo fokus!" Cala memukul pelan dahinya sendiri. Ia menarik napas panjang, menekan tombol dengan lebih pelan dan pasti.
Bunyi klik terdengar. Pintu terbuka. Cala segera masuk, membanting pintu di belakangnya dengan keras. Ia memutar kunci ganda, memasang rantai pengaman tambahan.
Cala bersandar penuh di daun pintu. Ia melorot perlahan hingga berbaring di lantai kayu yang dingin. Kakinya lemas tidak bertulang. Napasnya terdengar keras memenuhi ruangan apartemennya yang gelap.
Ia aman. Ini rumahnya. Tempat paling aman.
Ia melihat ponsel di tangannya. Sekarang saatnya menelepon polisi.
Namun, sebelum Cala sempat menekan nomor darurat, matanya terpaku pada sesuatu di atas kepalanya.
Bayangan dari celah bawah pintu menunjukkan ada kaki yang berdiri tepat di luar unitnya. Dan perlahan, sangat pelan hingga nyaris tak bersuara, gagang pintu logam di atas kepala Cala bergerak turun dari luar.
berasa nonton adegan action