Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4_sesuatu yang aneh
"Aku merasa, akhir-akhir ini Elvara telah berubah..." gumam Arsenio sambil menatap hujan di balik jendela.
Semakin hari, Elvara semakin sulit ditemui. Ia tidak lagi menghubunginya lebih dulu. Tidak lagi menanyakan kabarnya.
Bahkan ketika mereka berada dalam satu rumah, Elvara selalu punya alasan untuk pergi.
Sejak perselingkuhan nya terbongkar beberapa waktu lalu, ada sesuatu yang berubah pada Elvara.
Bukan hanya sikap nya, tetapi juga tatapan yang dulu penuh cinta, kini terasa asing dan dingin.
Awalnya Arsenio mencoba mengabaikan semuanya.
Namun lambat laun, rasa kehilangan mulai menggerogoti hatinya.
"Apa dia masih marah karena kejadian itu?" batin Arsenio.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arsenio merasakan ketakutan.
Ketakutan kehilangan seseorang yang selama ini selalu ada untuknya.
Keesokan harinya...
Arsenio melihat Elvara sedang duduk sendirian di taman belakang rumah.
Wanita itu terlihat tenang membaca sebuah buku. Namun ketenangan itu justru membuat Arsenio semakin gelisah.
Ia berjalan mendekat.
Elvara yang menyadari kedatangannya langsung menutup buku itu.
Tatapan mereka bertemu, namun hanya sesaat. Karena Elvara segera mengalihkan pandangannya. Hal itu membuat dada Arsenio terasa sesak.
Ia lalu duduk di kursi yang berada tepat di samping Elvara.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Sampai akhirnya Arsenio membuka suara.
"Elvara, akhir-akhir ini kamu menghindariku?" tanya Arsenio pelan sambil menatap wajah wanita itu.
Elvara tidak langsung menjawab. Ia menutup bukunya perlahan. Lalu tersenyum tipis. Senyuman yang terasa begitu asing.
"Menghindarimu?" balas Elvara tenang.
"Iya... kamu berubah. Kamu tidak pernah lagi berbicara denganku seperti dulu." ujar Arsenio dengan suara yang mulai terdengar kecewa.
Elvara terdiam.
Tatapannya menerawang ke arah taman yang dipenuhi bunga mawar putih.
"Aku hanya sedang belajar menerima kenyataan." ucap Elvara lirih.
Kalimat itu membuat Arsenio mengernyit.
"Maksudmu?" tanya Arsenio bingung.
Elvara tertawa kecil. Namun tidak ada kebahagiaan dalam tawanya.
"Kamu tahu, Arsenio..." ucap Elvara perlahan.
"Dulu aku percaya bahwa cinta bisa memperbaiki segalanya." lanjutnya.
"Aku percaya bahwa kesetiaan adalah sesuatu yang tidak akan pernah berubah." katanya lagi.
"Tapi ternyata aku salah." ucapnya pelan.
Arsenio menundukkan kepalanya. Setiap kata yang keluar dari bibir Elvara terasa seperti pisau yang menusuk hatinya.
"Elvara... aku sudah meminta maaf." ucap Arsenio dengan suara bergetar.
"Aku tahu." jawab Elvara singkat.
"Lalu kenapa kamu masih menjauh?" tanya Arsenio.
Elvara menoleh.
Untuk pertama kalinya ia menatap Arsenio secara langsung. Tatapan itu tidak lagi dipenuhi amarah.
Tetapi juga tidak ada cinta yang dulu begitu jelas terlihat. Yang tersisa hanyalah kelelahan.
"Karena memaafkan dan melupakan adalah dua hal yang berbeda, Arsenio." ucap Elvara tenang.
Arsenio membeku.
Ia tidak mampu berkata apa-apa.
"Aku memaafkanmu..." lanjut Elvara. “Tapi hatiku tidak bisa kembali seperti dulu." katanya pelan.
Jantung Arsenio terasa diremas. Untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu.
Perselingkuhan yang ia anggap sebagai kesalahan sesaat ternyata telah menghancurkan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki dengan kata maaf.
"Jadi... apakah semua sudah berakhir?" tanya Arsenio dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Elvara terdiam cukup lama. Angin sore berembus pelan, memainkan rambut panjangnya.
"Aku tidak tahu." jawab Elvara jujur.
"Saat ini aku hanya ingin menemukan diriku sendiri lagi." katanya lirih.
"Aku lelah menjadi orang yang terus terluka." lanjutnya sambil menahan air mata.
Arsenio menatap wanita itu tanpa berkedip. Ada rasa sesal yang begitu besar memenuhi dadanya.
Andai waktu bisa diputar kembali.
Andai ia tidak pernah mengkhianati wanita yang paling mencintainya.
Namun semuanya sudah terlambat.
Elvara bangkit dari kursinya.
"Aku permisi." ucap Elvara pelan.
"Elvara..." panggil Arsenio dengan suara serak.
Elvara berhenti melangkah. Namun ia tidak menoleh.
"Aku masih mencintaimu." ucap Arsenio penuh penyesalan.
Air mata mulai memenuhi matanya.
Untuk pertama kalinya, pria yang selama ini terlihat kuat itu merasa begitu rapuh.
Elvara memejamkan mata. Dadanya terasa sesak mendengar pengakuan itu.
Tetapi luka yang ditinggalkan Arsenio masih terlalu dalam.
"Aku juga pernah mencintaimu dengan seluruh hatiku, Arsenio." jawab Elvara lirih.
Setelah mengatakan itu, Elvara melangkah pergi meninggalkan taman.
Meninggalkan Arsenio yang masih berdiri membeku di tempatnya.
Sendirian. Ditemani hujan yang kembali turun perlahan.
Dan untuk pertama kalinya...
Arsenio benar-benar merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang selama ini selalu menunggunya pulang.