Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Upeti
Berhubung ayah mertua yang menelepon, Tya tidak mungkin mengabaikan. Apalagi posisinya sedang online karena membuka aplikasi Whatsapp. Pintu kamar ditutup dulu agar suaranya tak terdengar ke ruang tamu. Di mana ada Ibu yang sedang bergaya dan dipotret oleh Diaz. Barulah menerima telepon dengan posisi berdiri di tepi jendela.
"Halo, Ayah. Assalamu'alaikum."
"Tya, apa kabar, Nak?".
Dih, tidak Leon tidak Ayah. Lidahnya berat banget menjawab salam.
"Alhamdulillah. Ayah juga sehat, kan?"
"Gimana ya. Lagi banyak pikiran jadi tensi naik lagi."
"Aduh. Dijaga, Yah. Jangan sampai terulang kayak dulu kena stroke ringan." Tya tulus memberi perhatian meski sifat ayah mertuanya itu tidak disukainya. Si tukang kawin.
Tya menoleh saat pintu kamar didorong dari luar. Kedatangan Diaz membuat dadanya lega. Ada bantuan jika ada pertanyaan Ayah Hilman yang butuh pertimbangan jawabannya. Begitu saling tatap, ia berucap tanpa suara, "Telepon dari Ayah."
"Loud speaker," sahut Diaz. Sama-sama menggunakan bahasa isyarat lewat gerak bibir.
"Iya, Tya. Oh ya, tadi Ayah mampir ke rumah karena kebetulan lewat. Tapi yang ada di rumah bilang Ibu, Diaz, sama Tya lagi pergi liburan. Benarkah itu?"
Tya menatap Diaz yang kemudian mengangguk. Ia takut salah ucap sehingga butuh persetujuan jawaban dari suaminya itu.
"Iya, Ayah. Berangkat kemarin pagi."
"Ayah iri, Tya. Harusnya kita liburan keluarga berempat. Sayangnya, takdir berkata lain. Ayah dan Ibu udah selesai."
Tya kembali menatap Diaz. Suara Ayah Hilman terdengar sedih. Dan ia bingung harus menanggapi bagaimana.
Masa aku harus bilang, 'Nyesel kan, Yah. Berlian disia-siakan.'
Tapi Diaz tidak membantu Tya. Malah mengode dengan menunjuk arlojinya. Membuat Tya harus berpikir cara menyudahi sambungan telepon.
"Hm, meskipun Ayah sama Ibu memilih jalannya masing-masing, aku sama Mas Diaz berada di titik tengah. Akan selalu ada untuk Ayah, akan selalu ada untuk Ibu," jelas Tya yang kemudian melihat Diaz mengacungkan dua ibu jari.
"Terima kasih, Nak. Ayah tenang karena Diaz punya istri yang tepat. Istri yang baik seperti Tya. Kelihatan sekali perbedaannya Diaz sebelum nikah dan sesudah nikah. Dari sorot mata nggak bisa bohong."
Tya memegang hidung dan menahan senyum sambil menatap Diaz. Yang ditatap malah berbuat jahil meremas dadanya.
"Masya Allah! Semoga aku seperti yang diharapkan Ayah.Jadi istri yang baik dan menantu yang baik."
"Ayah percaya sama Tya."
"Makasih, Yah. Hm, Ayah ... Bukannya aku nggak betah berlama-lama, Ibu sama Mas Diaz nungguin aku di luar. Kami mau jalan-jalan ke pantai."
"Oke, Tya. Maaf Ayah udah ganggu."
"Bukan keganggu kok, Yah. Cuma untuk saat ini nggak bisa lama-lama aja."
"Iya, Tya. Ayah ngerti. Kalian liburannya ke mana? Bali, ya?"
Tya menatap Diaz. Semoga Diaz memahami bahasa isyarat lewat gerak matanya itu.
"Bukan, Yah. Liburan di Banyuwangi. Yah, Ibu udah manggil aku nih. Maaf ya, Yah, harus ditutup dulu." Tya sengaja bicara tergesa. Padahal alasannya itu hanya cara untuk mencegah interogasi lanjutan sang ayah mertua.
"Oke. Happy holiday buat semuanya. Tya kirim nomor rekening ya. Ayah mau ngasih buat Tya jajan. Nggak boleh nolak ya! Kau tetap minta jajan juga ke Diaz meskipun sama Ayah dikasih."
"Wah, Ayah. Makasih sebelumnya. Nanti aku chat ya, Yah. Sehat selalu, Ayah. Assalamu'alaikum."
Tya senyum senyum sambil menggoyang-goyangkan kepala. Mengecup pipi Diaz dengan wajah semringah. Sudah tak perlu lagi menjelaskan percakapan yang barusan berlangsung dengan Ayah Hilman karena Diaz sudah mendengar dengan jelas.
"Padahal aku udah bilang mau liburan. Cuma nggak bilang aja mau ke mana."
"Oh ya? Berarti cuma modus karena mau ngasih jajan menantunya." Tya tertawa. "Eh tapi, Ayah bilang katanya tadi mampir ke rumah. Benar apa bohong, Bey?"
"Benar. Sekuriti laporan. Makanya aku ke kamar tadinya mau ngasih tahu."
Tya manggut-manggut.
***
Waktu liburan selama lima hari empat malam berlalu tanpa terasa. Bertiga menjelajahi spot-spot indah, menikmati berburu kuliner di Banyuwangi. Tak lupa main ke Kawah Ijen. Penuh sukacita. Sangat berkesan. Kini waktunya pulang. Selamat tinggal The Sunrise of Java—julukan kota Banyuwangi karena letaknya di ujung paling timur pulau Jawa.
Jika kebanyakan orang berlibur di akhir tahun dengan tujuan merayakan malam tahun baru, Diaz dan Tya serta Ibu Suri justru pulang di tanggal 31 Desember. Tiba di rumah di malam pergantian tahun. Sesuai dengan konsep awal. Mencari ketenangan, menjauhi kebisingan.
Selama berada di Banyuwangi, Tya kembali mendapat rengekan Leony yang iri ingin liburan setelah keinginannya tetap sekolah di Jakarta ditolak. Masih sama, minta bantu membujuk Ayah Hilman agar diizinkan ke Bali. Lagi-lagi Diaz menolak tegas. Leony satu-satunya gangguan kecil yang mengusik ketenangan liburan.
Pagi hari di hari pertama Januari disambut Tya dengan meringkuk di balik selimut. Diaz yang mengajak bermalas-malasan dalam rangka beristirahat sepulang liburan. Tya menurut sambil melihat-lihat galeri foto dan video selama liburan kemarin.
"Bey ...."
Yang dipanggil hanya berdehem. semakin mengeratkan memeluk Tya dari belakang dengan mata terpejam.
"Ini ada chat dari Kak Bisma. Katanya kapan bisa ketemu buat bahas tawaran waktu itu. Apakah Kak Bisma yang ke sini atau gimana, katanya."
Diaz menarik kepalanya yang terbenam di ceruk leher Tya. Beringsut hingga posisinya berubah duduk dengan punggung bersandar pada kepala ranjang. "Aku hampir lupa. Gimana kalau suruh ke sini nanti sore. Ajak juga Mbak Susan dan Nesha sekalian main ke sini."
Tya bangun dan duduk sila menghadap Diaz. "Aku sampaikan dulu ya." Dua ibu jarinya bergerak lincah mengetikkan balasan. Selesai dalam waktu satu menit.
"Ngomong-ngomong soal pabrik garmen, aku juga pengen bahas soal tradisi gelap rekruitmen pegawai yang mungkin Abey tidak tahu. Tapi belum ada waktu yang pas buat ceritanya."
Diaz mengangkat kedua alisnya. "Cerita aja sekarang, Yang."
"Oke, Yang Mulia." Tya membulatkan telunjuk dan ibu jarinya. "Yang mau aku ceritakan ini murni pengalaman saat bekerja di garmen ya, Bey."
Diaz mengangguk.
"Di lingkungan anak-anak pabrik, mau itu pabrik garmen, elektronik, atau apalah. Ada istilah kalimat, 'Jangan mau punya pacar atau nikah sama anak pabrik. Bisa-bisa udah nggak virgin. Pernyataan itu aku pastikan real dan valid. Di pabrik garmen milik Abey, praktek itu udah berlangsung bertahun-tahun tiap abis masa kontrak pegawai baru."
Diaz mengernyit. "Aku masih belum paham, Yang. Praktek apa yang dimaksud?"
"Upeti ke oknum yang ada di manajemen. Upetinya berupa harus mau diajak tidur, nanti bisa diangkat jadi pegawai tetap."
terimakasii upnyaa tehh
Jgn kasih hati buat Leon