NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Menjadi Istri Kedua Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.

​Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Perlahan, mobil mewah kami melewati sebuah Sekolah Dasar yang suasananya masih tampak ramai oleh anak-anak, lalu berlanjut melintasi deretan rumah-rumah warga setempat. Tiap jalur kami lalui dengan santai, mulai dari tikungan tajam hingga tanjakan berliku, sampai akhirnya kami kembali disuguhi pemandangan hamparan area persawahan yang luas.

​"Pak, kalau sudah lewat sawah-sawah begini, seingatku jaraknya sudah tidak lama lagi," ucapku pelan sembari melirik ke arah luar jendela.

​Tangan kananku berada erat di dalam genggaman Jalal, dan sesekali pria itu membawa punggung tanganku ke depan bibirnya untuk dicium dengan penuh sayang. Saat laju mobil kami berjalan santai, rombongan sepeda motor si kembar tiba-tiba membunyikan klakson ke arah kami, lalu melaju mendahului di depan. Tak berselang lama, disusul oleh Rudi yang ikut membawa mobil SUV hitamnya melesat ke depan.

​"Kita santai saja jalannya ya, Yas..." kata Jalal pelan, memastikan kenyamananku.

​Aku mengangguk setuju. Aku menunduk, sesekali menciumi pucuk kepala Jayan yang sedari tadi sedang sibuk mengutak-atik mainan kubus rubik miliknya. Entah bagaimana ceritanya, sejak kedatangan Jalal yang membawakannya mainan rubik itu, putra kecilku mendadak jadi sangat diam dan anteng memainkannya. Dia seolah selalu terbawa arus fokusnya sendiri. Namun, aku tidak memprotesnya; biarkan saja mainan itu melatih fokus serta ketajamannya dalam berpikir sejak dini.

​"Pak... saya mendadak jadi mengantuk," ucapku sembari refleks menutup mulut, menguap lebar karena embusan AC mobil yang teramat sejuk.

​"Sabar ya, Sayang," ucap Jalal lembut, lalu tangan kirinya bergerak mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang.

​Dari kejauhan, mataku menangkap keberadaan gerbang masuk tempat wisata air terjun yang dijaga oleh beberapa orang petugas, bahkan tampak ada anggota Polisi dan Babinsa yang ikut berjaga di sana. Aku bisa melihat mobil hitam milik Rudi sudah terparkir tak jauh di depan gerbang untuk menunggu kami, disusul oleh rombongan motor si kembar yang ikut menepi.

​Begitu melihat kedatangan mobil Sequoia putih kami, mobil Rudi langsung bergerak duluan mendekati loket gerbang. Melalui kaca jendela, aku melihat Rudi mengeluarkan lima lembar uang pecahan seratus ribu rupiah, lalu berbicara sebentar kepada petugas agar mobil Toyota putih kami serta rombongan motor di belakang dipersilakan langsung masuk tanpa perlu mengantre.

​Para penjaga itu mengangguk paham sembari tersenyum lebar, lalu melambaikan tangan ke arah kami sebagai isyarat agar kami langsung masuk. Suamiku lantas melajukan kembali mobilnya perlahan melewati gerbang.

​Tatapan mata para petugas penjaga yang melihat mobil Toyota raksasa ini tampak sangat bingung, diselingi senyuman ramah yang teramat segan, seolah-olah kami yang berada di dalam kabin ini adalah tamu agung atau pejabat terhormat.

​"Yas, kita sudah seperti Raja dan Ratu saja," ucap Jalal dengan senyuman lucu, melirik kaca spion.

​"Itu semua karena mobil Bapak. Mobil dengan harga di atas satu miliar dibawa jalan ke tempat begini, ya jelas bingung mereka... Apalagi mereka yang tinggalnya di area pedesaan begini, pasti jarang lihat mobil seperti ini," ucapku pelan membalas ucapannya.

​Jalal membelokkan setir lalu memarkirkan mobil putihnya di sebuah tempat parkir khusus yang posisinya agak teduh. Aku mengembuskan napas lega, lalu memutar tubuhku menatap wajah suamiku.

​"Sayang!" panggil Jalal tiba-tiba dengan suara rendah yang serak.

​"Hemm?" jawabku sembari menaikkan kedua alis.

​"Kita jalan di belakang saja nanti, ya. Jayan biar dibawa dan dijaga oleh Rudi duluan," ucapnya dengan tatapan mata yang penuh maksud terselubung.

​Aku langsung membelalakkan mata, menatapnya tidak percaya. "Bapak ini... kelakuannya kok seperti anak muda saja. Lagipula nanti malah merepotkan Rudi, Pak..." ucapku memperingatkan.

​"Tidak akan merepotkan, tenang saja. Saya sudah bicara dan mengondisikan semuanya dengan dia tadi," ucap Jalal santai.

​Pria matang itu kemudian memajukan tubuhnya ke arahku. Melihat Jayan yang masih diam dan fokus penuh pada mainan rubiknya, Jalal dengan cepat mendekatkan bibirnya lalu mencium bibirku dengan teramat lembut. Aku yang terbuai refleks membalas lumatannya. Namun, tautan bibir kami terpaksa terhenti seketika saat terdengar suara ketukan keras di kaca jendela mobil di sampingku.

​Rupanya Andra sudah berdiri di sana menghampiri mobil kami. Jalal seketika menjauhkan wajahnya lalu tersenyum tanpa dosa ke arahku, membuatku ikut tersenyum malu sembari merapikan daster dan cardigan. Aku perlahan membuka pintu mobil untuk turun.

​"Abang, kita sudah sampai... Abang mau mandi-mandi di air terjun tidak?" ucapku pada Jayan yang masih duduk di jok.

​Bocah kecil itu langsung mendongak, lalu tertawa girang luar biasa. Kami pun turun bersama-sama dari mobil. Putra kecilku terlihat sangat bahagia melihat pemandangan hijau di sekelilingnya. Jalal langsung menggendong tubuh gempal Jayan, lalu sebelah tangan kirinya menggandeng jemariku, membawa kami berjalan menuju ke arah mobil Rudi.

​Di sana, Rudi sudah menurunkan beberapa alat pemanggang mini, sekantong arang, serta bahan-bahan makanan yang akan dipakai untuk acara bakar-bakar nanti. Jalal langsung mengambil alih komando. Dengan wibawanya, dia menyuruh para pria dari rombongan si kembar untuk membawakan barang-barang berat itu, sedangkan para perempuan hanya ditugaskan membawa barang yang ringan-ringan saja. Kantong plastik berisi snack dan mi cup yang kubeli di Indomaret tadi pun tidak lupa mereka angkut naik ke atas.

​Kalau kalian berpikir lokasi titik air terjunnya sudah dekat dari area parkiran ini... kalian salah besar. Kami semua masih harus berjalan kaki kembali menyusuri jalur setapak hutan selama kurang lebih tiga puluh menit jika berjalan dengan ritme cepat. Tapi kalau jalannya santai dan lambat, yah... bisa memakan waktu hampir satu jam perjalanan untuk bisa sampai ke tujuan utama.

***Dear Besok Aku nggak Update dulu yah!***

***Lengan aku sakit habis pasang Implan!***

***Nggak bisa Ngetik.! Makasih buat kalian***

***Yang sudah Sempatin singgah.♡***

1
Fitria Syafei
KK cantik kereen 😍 kereen 😍 terimakasih 😘
Fitria Syafei
semangat kk cantik 👌 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Fitria Syafei
cepat sehat yaa KK cantik 😍 KK cantik kereen 😘 terimakasih 😘
Ummi Sulastri Berliana Tobing
cepat pulih y Thor 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!