Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28• Dua Pilihan
Bara sampai di rumah saat matahari baru naik setengah tiang. Kemejanya masih sama seperti semalam. Bau apek kontrakan menempel di rambutnya.
Ia masuk lewat pintu belakang, berharap rumah masih sepi. Tapi langkahnya baru sampai ruang tengah, suara Ibu Desy sudah menyambar.
“BARA!”
Ibu Desy berdiri di ambang pintu dapur. Wajahnya merah. Matanya bengkak, entah karena marah atau semalam tidak tidur. Di belakangnya, Arkan duduk di kursi makan, kepalanya tertunduk. Di depannya ada ponsel. Layarnya menyala. Foto Naya di depan pintu kos, diambil diam-diam oleh tetangga, sudah tersebar di grup WhatsApp keluarga besar.
Bara berhenti. Tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Kamu semalam di mana?” tanya Ibu Desy. Suaranya bergetar menahan amarah.
Bara tidak menjawab. Ia melepas sepatu, meletakkannya di rak.
“Jawab aku, Bara!” Ibu Desy menghentak lantai dengan sandal. “RT kos itu tadi pagi telepon. Katanya kamu ketahuan nginap di kamar perempuan. Perempuan itu istri kakakmu sendiri!”
Bara mendongak. “Aku tidak nginap, Ma.”
“Terus ngapain kamu di sana jam enam pagi? Ngobrol? Main catur?” Nada Ibu Desy naik satu oktaf. “Kamu tau ini memalukan? Satu komplek sudah tau. Tetangga sudah tau. Keluarga besar kita sudah tau!”
Arkan akhirnya angkat kepala. Matanya merah. “Lu sadar gak sih Bar, lu lagi main api? Dia istri gue.”
Bara menoleh ke Arkan. “Gue cuma nolongin dia, Mas. Dia diusir tengah malam. Dia gak bawa apa-apa.”
“Nolongin?” Ibu Desy tertawa pendek, tajam. “Dengan tidur satu kamar? Dengan dia pakai jaketmu? Bara, kamu pikir orang bodoh?”
“Aku tidak tidur di sana!” bentak Bara. Untuk pertama kalinya suaranya setinggi Ibu Desy. “Aku duduk di lantai. Aku jagain dia karena dia nangis semalaman. Itu aja!”
“Alasan!” Ibu Desy menunjuk wajah Bara. “Kamu itu adik iparnya, Bara. Ada batasnya. Tapi kamu sengaja lewatin batas itu. Kamu pikir Ibu tidak lihat? Sejak dulu kamu selalu liatin Naya dengan cara yang salah!”
Tubuh Bara kaku. Kata-kata itu menampar lebih keras daripada tamparan fisik.
“Ma, cukup. Jangan bikin masalah makin runyam, Bara benar, Naya butuh dibantu.” potong Arkan pelan.
“Cukup apanya?, kamu bela dia Arkan?” Ibu Desy berbalik ke Arkan. “Adikmu ini sudah bikin nama keluarga kita hancur. Besok gosipnya bisa sampai kantor. Kamu mau kerja dengan kepala tegak kalau adikmu ketahuan deket sama istrimu sendiri?”
Bara mengepalkan tangan sampai buku jarinya putih. “Kalau mama lebih peduli nama keluarga daripada Naya, ya sudah. Aku salah. Aku akui.”
Ia melangkah naik ke kamar tanpa menunggu jawaban. Tangga kayu berderit di bawah kakinya.
Di belakangnya, suara Ibu Desy masih menggema. “Kamu pulang itu bawa masalah, Bara. Bukan bawa penjelasan!”
Pintu kamarnya tertutup. Bara bersandar di pintu. Napasnya berat. Di luar, ia dengar Arkan mencoba menenangkan Ibu Desy. Tapi nada suara Arkan tidak setegas semalam.
Untuk pertama kalinya, Bara sadar. Ia bukan cuma melawan Ibu. Ia juga mulai kehilangan kepercayaan kakaknya sendiri.
......................
Keesokan harinya, kabar tentang dirinya didepan kontrakan Naya makin mencuat, dan terdengar ditelinga Jeslyn, hal itu membuatnya makin membenci Naya. Jeslyn mengadu kepada Ayahnya dan pertunangannya semakin dimajukan.
Sejak pulang dari kantor, Ibu Desy sudah menyeretnya ke rumah calon mertua. Fitting baju tunangan. Rapat keluarga. Senyum palsu depan kamera.
“Bara, ini hari penting kamu. Jangan mikirin orang lain dulu,” kata Ibu Desy di mobil, sambil merapikan dasinya. “Masalah gosip tentang kamu, biar Arkan yang beresin.”
Bara diam. Tangannya menggenggam ponsel. Ada tiga panggilan tak terjawab dari nomor tak dikenal. Kemungkinan besar dari penjaga kos. Tapi ia tidak bisa angkat. Tidak di depan calon mertua.
Ia pulang jam 1 dini hari. Rumah gelap. Arkan sudah tidur. Atau pura-pura tidur.
Baru pagi harinya Bara tau, Naya diusir dari kos. RT telepon Ibu Desy. Foto Naya bareng Bara sudah menyebar makin luas.
Dan Bara tidak ada di sana untuk bela Naya.
Di rumah, pagi itu juga.
Ibu Desy meledak begitu melihat Arkan duduk lemas di meja makan.
“Kamu di mana semalam, Arkan?” Bentaknya begitu Arkan turun tangga. “Bukannya ngurusin masalah itu tapi kamu malah tidur?”
Arkan mengusap wajahnya. Matanya merah. “Aku cari Naya, Ma. Keliling komplek. Tapi dia udah pergi.”
“Terus kenapa kamu gak lanjut cari? Kenapa kamu diam di rumah?”
Arkan tidak jawab. Karena jawabannya memalukan. Semalam, setelah tau Naya kabur, tangannya sempat buka kontak Dewi. Jari-jarinya melayang di tombol panggil. Ada bagian dari dirinya yang ingin lari ke Dewi. Tempat yang lebih tenang. Tempat yang tidak menuntut penjelasan.
Tapi ia urungkan.
Sekarang, dihadapkan pada bentakan Ibu Desy, dilema itu balik lagi. Lebih keras.
Di satu sisi, Naya. Istri sahnya. Yang malam ini tidur entah di mana, setelah diusir karena gosip yang melibatkan adiknya sendiri.
Di sisi lain, Dewi. Telepon yang selalu diangkat. Pelukan yang tidak menghakimi. Tempat untuk napas.
Ibu Desy maju selangkah. “Kalau kamu masih laki-laki, Arkan, cari istrimu. Sebelum nama keluarga ini makin hancur.”
Arkan mengepalkan tangan di atas meja. Napasnya berat.
Ia berdiri. Ambil kunci mobil. Tapi arah langkahnya masih gantung. Ke kiri, pintu keluar cari Naya. Ke kanan tangga, ambil dompet telepon Dewi.
Ia berhenti di tengah ruang tamu. Lama.
Lalu tanpa kata, ia berbalik naik ke atas.