Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.
Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.
Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.
Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.
Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.
Sistem 2Bit.
Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.
Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.
Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.
Padahal baru dimulai.
━━━━━━━━━━━━━━━
⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️
Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.
🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Hujan turun deras di Desa Tidar. Bukan hujan gerimis yang romantis, tapi hujan badai yang menghantam atap seng gubuk Raka dengan suara memekakkan telinga. Petir menyambar-nyambar, menerangi langit malam sesaat sebelum kembali gelap gulita.
Di dalam gubuk, Raka duduk bersila. Matanya tertutup. Di dalam kepalanya, dunia putih itu sunyi. Boneka hitam berdiri diam, menunggu perintah.
[!] Simulasi Level 2: Lawan Ganda.
[!] Biaya: 20 Poin Energi.
Raka ragu sejenak. Energinya tinggal 30 poin. Jika dia pakai 20, sisa 10 poin mungkin tidak cukup untuk fungsi darurat sistem lainnya. Tapi dia butuh ini. Pertarungan satu lawan satu sudah mulai terasa mudah. Dia butuh tekanan lebih.
Klik.
Dua boneka muncul. Mereka bergerak sinkron. Menyerang dari sisi kiri dan kanan. Raka menghindar, menepis, berputar. Gerakannya lebih cair dari minggu lalu. Refleksnya tajam. Tapi jumlah lawan membuat celah pertahanan terbuka.
Tiba-tiba, sebuah tendangan menghantam rusuk kirinya—tempat luka lamanya.
Sakit.
Raka tersentak keluar dari simulasi. Napasnya berat. Dia memegang rusuknya, meringis. Rasa sakitnya nyata, meski hanya ilusi neural.
"Sial," gumamnya. "Masih belum cukup cepat."
Pintu gubuk terbuka tiba-tiba. Angin kencang masuk, membawa cipratan air hujan.
Laras berdiri di ambang pintu. Basah kuyup. Rambutnya menempel di wajah. Tapi matanya... matanya tidak fokus pada Raka. Matanya menatap ke arah jalan utama desa, ke arah rumah besar Keluarga Bima.
"Mereka datang," ucap Laras. Suaranya datar. Tanpa panik. Tapi ada ketegangan di bahunya yang kaku.
"Siapa?" tanya Raka, langsung berdiri meski kakinya masih gemetar pasca-simulasi.
"Bukan Hendra. Bukan Joko." Laras menoleh, menatap Raka tajam. "Mobil hitam. Tiga orang keluar. Membopong seseorang."
Jantung Raka berdegup kencang. Bukan karena takut. Tapi karena firasat buruk yang menusuk ulu hatinya.
"Bima?"
Laras mengangguk pelan. "Dia sadar."
Di rumah besar Keluarga Bima, suasana hening mencekam. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan histeris seperti biasa. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar keras di ruang tamu yang luas.
Bima duduk di sofa kulit mahal. Tubuhnya kurus. Wajahnya pucat pasi, seperti kertas yang lama terpapar matahari. Matanya cekung, dikelilingi lingkaran hitam tebal.
Dia tidak terlihat lemah. Dia terlihat... kosong.
Pak Hardo berdiri di depannya. Untuk pertama kalinya, postur tetua keluarga itu tidak sepenuhnya dominan. Ada rasa hormat—atau mungkin ketakutan—dalam tatapannya.
"Bagaimana perasaanmu, Nak?" tanya Pak Hardo hati-hati.
Bima tidak langsung menjawab. Dia menatap tangannya sendiri. Jari-jarinya gemetar halus. Lalu, perlahan, dia mengepalkan tangan. Gemetarannya berhenti.
"Dingin," ucap Bima. Suaranya serak, seperti pasir yang digesekkan pada batu. "Semuanya terasa dingin."
Hendra dan Joko berdiri di sudut ruangan, kepala tertunduk rendah. Mereka tidak berani menatap Bima. Sejak Bima dibawa pulang dari rumah sakit tadi sore, dia tidak pernah marah. Tidak pernah memaki. Dia hanya diam. Dan keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada amarahnya.
"Apa yang kau ingat?" tanya Pak Hardo lagi.
Bima mengangkat kepalanya. Matanya menatap Pak Hardo. Tatapan itu kosong, tapi tajam. Seperti pisau bedah yang siap membedah kebohongan.
"Aku ingat tekanan," kata Bima pelan. "Tekanan yang membuat tulangku rasanya akan hancur. Aku ingat... diriku sendiri berteriak hal-hal bodoh. Hal-hal yang memalukan."
Dia berhenti sejenak. Senyum tipis, dingin, muncul di sudut bibirnya. Senyum yang tidak mencapai matanya.
"Dan aku ingat Raka. Dia tidak melakukan apa-apa. Dia hanya duduk. Menonton. Sementara aku menghancurkan diriku sendiri karena ketakutan."
Pak Hardo mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Bukan Raka yang menyerangku, Paman," kata Bima. "Tapi kelemahanku sendiri. Tekanan itu... itu ujian. Dan aku gagal."
Dia berdiri. Kakinya masih goyah, tapi dia memaksakan diri tegak.
"Aku ingin bertemu dia."
"Besok saja," saran Pak Hardo. "Kau masih lemah."
"Tidak," potong Bima tegas. "Sekarang. Hujan begini... waktu yang tepat untuk membersihkan kotoran."
Di gubuk Raka, lampu minyak berkedip-kedip.
Raka sudah memakai jaket lusuhnya. Laras sudah memegang parangnya. Mereka tidak perlu bicara banyak. Mereka tahu apa yang akan terjadi.
Ketukan pintu terdengar. Tok. Tok. Tok.
Tidak kasar. Tidak agresif. Tapi teratur. Tenang. Mengintimidasi.
Raka membuka pintu.
Di luar, di tengah hujan deras, berdiri Bima. Sendirian. Tidak ada Hendra. Tidak ada Joko. Tidak ada pengawal. Hanya dia, baju putihnya basah kuyup, rambutnya lepek, dan mata yang menatap Raka dengan intensitas yang membuat bulu kuduk berdiri.
Laras melangkah maju, berdiri di samping Raka. Parangnya siap.
"Pergi," kata Laras dingin. "Dia sedang sakit."
Bima mengabaikan Laras. Matanya terkunci pada Raka.
"Boleh masuk?" tanya Bima. Suaranya lembut. Terlalu lembut untuk situasi ini.
Raka menatapnya. Dia mencari tanda-tanda kemarahan. Tanda-tanda dendam. Tapi dia tidak menemukannya. Yang dia temukan adalah sesuatu yang lebih aneh: Ketenangan mutlak.
Raka menggeser tubuhnya sedikit, memberi jalan. "Masuk."
Laras menatap Raka tak percaya. "Apa kau gila? Dia bisa membunuhmu!"
"Dia tidak akan membunuhku di sini," jawab Raka pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari Bima. "Kalau dia mau membunuhku, dia sudah melakukannya saat aku lemah kemarin. Dia datang untuk bicara."
Bima tersenyum tipis. Senyum yang sama seperti di ruang tamu tadi. Dingin. Kosong.
Dia melangkah masuk ke gubuk. Air hujan menetes dari bajunya, membentuk genangan kecil di lantai tanah.
Dia duduk di kursi kayu tua yang sama tempat Raka dulu disidang secara mental.
"Kopi?" tawar Raka. Ironi yang pahit.
"Tidak," tolak Bima. "Aku hanya ingin mengatakan satu hal."
Raka menunggu.
"Terima kasih," kata Bima.
Raka mengerutkan kening. Laras menyipitkan mata, bingung.
"Terima kasih telah menunjukkan padaku betapa lemahnya aku," lanjut Bima. Matanya menatap kosong ke arah api lampu minyak. "Sejak hari itu, aku tidak bisa tidur. Aku terus mendengar suaraku sendiri berteriak seperti hewan ketakutan. Itu menyiksa."
Dia menoleh ke Raka. Tatapannya tajam.
"Aku tidak akan memaafkanmu. Karena kau adalah saksi aibku. Tapi aku juga tidak akan membunuhmu. Karena kau adalah cermin bagiku."
Bima berdiri. Perlahan.
"Mulai besok, aku akan melatih diri. Bukan untuk membalasmu. Tapi untuk memastikan aku tidak pernah merasa takut lagi. Dan ketika aku sudah siap... kita akan bertarung lagi. Bukan sebagai preman desa. Tapi sebagai kultivator."
Dia berbalik, berjalan keluar ke hujan.
Sebelum menghilang ke dalam kegelapan malam, dia berhenti sejenak.
"Jangan mati karena hal konyol sebelum saat itu tiba, Raka. Karena kematianmu harus berasal dari tanganku. Bukan dari penyakit, bukan dari kecelakaan. Dari tanganku."
Lalu dia pergi. Menyatu dengan hujan.
Raka menutup pintu. Napasnya baru terasa lega sekarang. Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena adrenalin yang tertahan.
"Dia berubah," gumam Laras. Suaranya serius. "Itu bukan Bima yang dulu. Itu... sesuatu yang lain."
Raka mengangguk. Dia merasakan aura dingin yang ditinggalkan Bima. Aura yang mirip dengan tekanan spiritual wanita misterius, tapi versi manusiawi. Versi yang lahir dari trauma dan obsesi.
Sistem di kepalanya akhirnya berbunyi. Satu kali. Singkat.
[!] Peringatan: Antagonis Utama Telah Berevolusi.
[!] Tingkat Ancaman: Meningkat Signifikan.
[!] Rekomendasi: Tingkatkan Level Simulasi.
Raka menatap pintu yang tertutup. Hujan masih deras di luar.
Permainan baru saja berubah aturan. Dan kali ini, lawannya tidak lagi bodoh.
Bersambung.