Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Datang
Jam 22:53 - Ruang OK 3.
Di dalam OK, tim OK dan tim ICCU bertemu. Handover.
Perawat Vina maju selangkah. "Brankar sudah siap." Suaranya tegang tapi jelas.
Savira berdiri di sisi kepala pasien. Tangannya sudah di ETT. Dia pegang nyawa orang lima menit ke depan. "Oke tim. On count of three.1...2...3...angkat."
Srett.... 4 orang sekaligus mengangkat. Perawat Vina, perawat Lia, dan dua perawat dari ICCU. Pasien di pindahkan dari meja operasi ke brankar. Pelan banget. Seperti mindahin kaca.
Savira langsung menempelkan telinganya ke selang ETT. Mendengarkan. "Cek ETT. Napas masuk dia sisi. Aman. Cek line sentral jugular. Tidak ada darah balik. Aman. Cek drain thoraks. Tidak ada kebocoran. Aman."
"Drain aman, Dok." Kata Arlo sambil menyangga botol drain biar tidak tertekuk. Matanya tidak lepas dari botol itu sedetikpun.
"Line sentral aman, Dok." Sahut Devan sambil satu tangannya pegang infus leher pasien. Tangan sayu lagi pegang tiang infus.
Savira ngangguk pelan. Jantung bertalu. Ini titik kritis. "Oke. Lepas ventilator OK. Masuk ventilator portable. On my mark...sekarang"
Tut... Beep... Beep... Beep...
Alat sebesar koper itu berbunyi. Menggantikan kerja mesin besar di atas kepala mereka.
3 detik terasa satu jam.
"Napas masuk. Chest rising bagus. SpO2 99%." Lapor Savira. Suaranya baru keluar. Ia baru sadar tadi nahan napas.
"Siap transport ke ICCU." Kata koordinator perawat dari pintu.
Mereka mendorong brankar hati-hati. Polisi yang berjaga, jaksa, dan beberapa pihak keluarga yang menunggu memberi jalan.
Di koridor. Savira sambil jalan bicara dengan perawat ICCU melalui HT.
"ICCU dari OK. Pasien atas nama bapak Haryoko. Usia 55 tahun. Post-op CABG + Eksisi Tumor Mediastinum. Sedasi dalam. ETT no. 7.5. Ventilator mode SIMV. Tensi 120/80. HR 80. SpO2 99%." Suara Savira lewat HT datar tapi tegas. Semua sudah di luar kepala.
Perawat ICCU menjawab lewat HT. "Siap, Dok. Bed 5 sudah siap."
KRETEK
Hening.
Ting.
Pintu lift ketutup. Kini mereka 10 orang berjejer di ruang sempit 2×3 meter. Menuju lantai 7. Ruang ICCU.
Brankar di tengah. Savira di sisi kepala. Tangannya di dahi pasien. Merasakan suhu. Merasakan getaran. Mata tidak lepas dari ventilator Beep... Beep... Beep...
Arlo di sisi kanan brankar. Pegang drain dada dua-duanya takut ketarik. Devan di sisi kiri pegangin infus sentral di leher + 3 infus lainya di tangan. Di ujung kaki brankar ada perawat Vina dan perawat Lia. Dorong pelan. Di samping mereka ada dua perawat ICCU yang jemput. Bawa monitor portable cadangan.
Sedangkan di depan brankar dan belakang brankar ada petugas polisi yang berjaga. Tangan di pinggang.
...
Jam 23:02 - RUANG ICCU
Brankar sejajar, nempel di bed 5 ICCU. Savira kembali memimpin. "Oke tim. Pindah ke bed ICCU. 1... 2... 3... Angkat."
Sretttt... Pasien dipindah.
"Lepas ventilator portable. Masuk ke ventilator ICCU." Suara Savira tegas.
Tut... Beep... Beep ... Ganti jadi Beep... Lebih yang besar.
"Tensi 118/78. HR 76. SpO2 100%." Savira hela napas panjang pertama kali dalam 8 jam. "Handover. Bapak Haryoko 55 tahun. Post-op CABG ×4 untuk Triple Vessel Disease + Eksisi Tumor Mediastinum 7 cm. Obat jalan: Dopamin 5, Norepinefrin 0.1, Fentanyl 25.Drain kanan total 280cc. Darah masuk 4 KOLF. Alergi nihil." Kata Savira pada perawat ICCU.
Kepala perawat ICCU ngangguk paham. "Terima handover, Dok. Pasien resmi tanggung jawab ICCU." jawabnya tegas.. tanda tangan.
Savira noleh ke Arlo dan Devan. Keduanya kompak ngangguk. "Kita cek dia jam lagi." kata Arlo. Devan di sebelahnya ngangguk setuju tanpa mengelus suara.
Jam 23:08, mereka mundur keluar. Pintu kaca ICCU ketutup pelan. Devan dan Arlo berjalan dengan langkah yang stabil meskipun baru selesai operasi 8 jam lebih. Sedangkan Savira di belakang mereka jalan dengan langkah gontai menuju ruang istirahat residen.
Malam ini, mereka akan stay di rumah sakit, sampai 24 jam ke depan. Begitu pintu ruang istirahat residen kebuka, Savira melihat dr. Erika duduk di kursi plastik sambil memainkan ponselnya.
"Dokter Erika." Kata Savira. Pelan.
Dokter cantik itu menoleh. Tidak ada baju scrub atau jas putih yang membalut tubuhnya. Hanya pakaian kasual, blouse satin warna salem dengan jeans navi.
"Capek banget ya." katanya tersenyum lembut. Savira hanya ngangguk lemas. "Ini, aku beliin coklat panas sama pai apel. Makan dulu, jangan langsung tidur." Katanya perhatian.
Savira tidak menolak. Ia mengambil duduk di kursi sebelah dokter Erika. Berdiri selama delapan jam, sungguh menguras energi dan tenaganya. Apalagi saat makan siang, ia tidak makan dengan benar. Lambungnya meronta-ronta minta jatah.
Dengan mata berbinar, Savira menyeruput coklat hangat dalam cup. "Dokter tahu banget kalau saya laper." Katanya setelah meneguk beberapa kali. "Terimakasih." Savira langsung menggigit pai apel.
Dokter Erika tertawa pelan. "Kamu sudah bekerja keras, Vi. Kamu pasti laper." katanya pengertian. Savira hanya ngangguk, mulutnya penuh ngunyah pai apel.
Biasanya, Riko yang memberinya makanan setelah selesai operasi. Tapi hari ini, entah pergi kemana pria bermarga Panjaitan itu. Mungkin saja sudah pulang, sebab ini sudah hampir tengah malam.
"Eh, dokter tidak pulang?" tanya Savira setelah menelan pai dalam mulut nya.
Dokter Erika melihat arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Iya nih. Kalau gitu saya pulang dulu." Katanya sambil memasukkan ponsel dalam tas. "Habisin dulu makannya, baru tidur." sambungnya berdiri.
Savira mengernyit heran melihat wajah sumringah dokter Erika. "Dokter lul sendiri?" ia sedikit khawatir, mengingat waktu sudah larut.
Dokter malah tersenyum lebar. "No. Saya bareng temen." Katanya. "Bye, Vi." Ia melambaikan tangan sebelum menghilang di balik pintu.
"Bye..." Sahut Savira. Masih heran. Tapi ia kembali menyantap makanan dari dokter Erika sampai habis tak tersisa. Begitu pun dengan coklat hangat nya.
"Hahhh...." Savira menyandarkan di kursi. Perutnya kenyang. Dan kantuk pun datang. Ia membuang sampah makanan itu ke kotak sampah, lalu ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Ia punya waktu 105 menit untuk istirahat sebelum visit pertama. Savira langsung merebahkan tubuhnya di kasur tipis nan sempit itu. Bukan tempat mewah, tapi lebih dari cukup untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya.
Belum ada lima menit Savira menutup mata. Pintu kembali terbuka. Suara derap langkah mendekat dan berhenti di samping ranjang kecil Savira.
Hening. Tidak ada suara. Savira yang memang belum benar-benar tidur membalikan tubuhnya. Matanya belum melihat, tapi hidungnya mengenal aroma itu.
"Dokter Devan!" Pekik Savira langsung duduk. Panik. "Dokter ngapain disini?" Suaranya seperti berbisik. Takut jika ada orang yang dengar.
Devan tidak menjawab. Ia malah ikut duduk di ranjang kecil Savira, memeluk gadis itu dan menghirup aroma tubuh Savira dalam-dalam.
"Saya ingin istirahat." katanya pelan. Seperti pria lemah yang tidak punya apa-apa.
Padahal. Beberapa menit yang lalu. Pria itu masih berdiri dan berjalan dengan gagah tanpa goyah sedikitpun. Terlalu sempurna untuk ukuran manusia yang baru selesai bekerja 8 jam. Berdiri tanpa jeda.
Tapi kini... Pria itu menunjukkan sisi lemahnya yang tidak pernah ia perlihatkan pada siapapun. Termasuk orang tuanya.
"Ta-tapi, Dok...." Suara Savira hilang saat jari telunjuk Devan menempel di bibirnya.
"Saya ingin istirahat di sini." katanya menarik tubuh Savira dal pelukannya dan berbaring di ranjang sempit itu. Jangan tanya bagaimana perasaan Savira. Senang dan takut bercampur jadi satu dalam dadanya. Niatnya ingin istirahat, malah tidak bisa istirahat sama sekali.
*
*
*
*
*
To be continued
Sampai bab ini, adakah kritik dan sarannnnn wahai para readers goib 🥹🥹🥹🥹