NovelToon NovelToon
Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Setelah Cerai Dokter Itu Berkuasa

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Dokter / Tamat
Popularitas:294.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

"
Lima tahun Naira menyusun kerajaan bisnis suaminya dari balik bayang, tapi lelaki itu malah memberikan undangan kongres penting kepada cinta lamanya. Lalu Dimas membatalkan janji menjemput ayahnya sendiri demi perempuan itu. Naira tidak berteriak. Ia hanya melepas cincinnya, mengajukan cerai, dan mengambil kembali seluruh aset yang ia bangun.

Keluarga Mahendra panik. Mereka tidak tahu bahwa Naira adalah putri tunggal Atmadja yang kekayaannya bisa membeli seluruh perusahaan mereka. Tepat saat segalanya kacau, Raka Wiratama muncul. Penguasa bisnis paling ditakuti itu bersumpah melindungi Naira dengan satu alasan: lima tahun lalu, perempuan itu menyelamatkan nyawanya. Dan Raka tidak pernah main-main soal utang nyawa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Keluarga Wiratama bergerak lebih cepat daripada yang Naira duga.

Sore itu, setelah kongres hari pertama selesai, Hanif meminta Naira datang ke ruang rapat pribadi di lantai dua hotel. Katanya ada dokumen medis Raka yang harus diserahkan secara langsung.

Naira hampir menolak.

Lalu Hanif menambahkan, "Ibu Ratih Wiratama juga datang."

Nama itu membuat Raka yang sedang berdiri di dekat jendela menoleh tajam.

"Siapa yang memberi tahu dia?" tanyanya.

Hanif menunduk. "Keluarga mendapat laporan insiden tadi."

"Laporan atau rekaman?"

Hanif tidak menjawab.

Naira langsung mengerti. Video Clara memang dihapus dari ponsel, tetapi di tempat seperti kongres, selalu ada kamera lain, mata lain, orang lain yang ingin mendapat posisi.

Raka menatap Naira. "Kamu tidak perlu datang."

"Itu kalimat paling mencurigakan hari ini."

"Keluargaku tidak mudah."

"Aku baru bercerai dari keluarga Mahendra. Standarku rendah."

Raka hampir tersenyum, tetapi wajahnya kembali dingin saat pintu ruang rapat terbuka.

Ratih Wiratama duduk di ujung meja.

Usianya sekitar enam puluh, tubuhnya tegak, kebaya hitamnya sangat rapi. Ia bukan ibu Raka. Ia bibi ayahnya, perempuan yang mengurus dewan keluarga setelah orang tua Raka meninggal. Wajahnya tidak keras seperti Raka, tetapi matanya jauh lebih berpengalaman dalam menilai orang.

Di sampingnya ada dua pria paruh baya yang Naira tebak sebagai penasihat keluarga.

Ratih menatap Naira dari kepala sampai kaki.

"Dr. Naira Salsabila Atmadja."

"Ibu Ratih."

"Silakan duduk."

Naira duduk. Raka tetap berdiri.

Ratih meliriknya. "Raka, duduk."

"Saya berdiri."

"Kamu selalu membuat hal sederhana menjadi pernyataan perang."

"Tergantung siapa yang memulai."

Naira menatap meja. Keluarga kuat ternyata punya pola yang mirip: semua percakapan sederhana membawa pisau kecil.

Ratih kembali kepada Naira.

"Saya berterima kasih karena Anda membantu Raka hari ini."

"Itu tindakan medis."

"Justru karena itu, saya ingin bicara. Kami sudah lama mencari cara menstabilkan kondisi Raka. Dokter keluarga mengatakan responsnya terhadap Anda tidak biasa."

"Respons trauma kadang terikat pada stimulus tertentu."

"Aroma obat di tubuh Anda?"

Naira menatap Ratih. "Atau memori pasien terhadap situasi ia pernah diselamatkan."

"Apapun istilahnya, hasilnya sama. Anda berguna."

Raka langsung berkata, "Tante."

Naira mengangkat tangan kecil, meminta Raka diam.

Raka menahan diri.

Ratih memperhatikan gerakan itu. Matanya menyipit sedikit, bukan marah, lebih seperti menemukan fakta baru.

"Saya tidak bermaksud merendahkan."

"Tapi Ibu memilih kata yang tepat untuk menunjukkan cara berpikir keluarga ini."

Salah satu penasihat bergerak tidak nyaman.

Ratih justru tersenyum tipis. "Berani."

"Lelah."

"Lebih menarik."

Raka menatap Ratih dengan tidak sabar. "Sampaikan maksud Tante."

Ratih membuka map. "Kami ingin menawarkan kerja sama resmi. Dr. Naira menjadi konsultan medis pribadi keluarga Wiratama, khususnya untuk Raka. Semua fasilitas, laboratorium, dana riset, dan perlindungan akan kami berikan. Nilainya bisa Anda tentukan."

Ruangan diam.

Hanif yang berdiri di belakang tampak ingin menghilang.

Naira menatap map itu tanpa menyentuh.

"Tidak."

Jawaban itu terlalu cepat sampai salah satu penasihat tersedak kecil.

Ratih mengangkat alis. "Anda belum mendengar rinciannya."

"Saya sudah mendengar bagian yang penting. Pribadi keluarga. Khususnya untuk Raka. Nilai bisa saya tentukan."

"Banyak dokter akan menganggap itu kesempatan."

"Banyak dokter bukan saya."

Ratih menatapnya lama. "Anda menolak perlindungan Wiratama?"

"Saya menolak menjadi alat medis yang disimpan di samping seseorang."

Raka menunduk sedikit.

Ratih melihat reaksi itu.

"Bahkan jika itu bisa membantu Raka hidup lebih stabil?"

Naira menatap Raka. "Kalau Raka ingin saya membaca rekam medisnya sebagai dokter, saya bisa. Dengan batas, persetujuan, dan jalur profesional. Kalau keluarga Wiratama ingin membeli hidup saya agar Raka merasa aman, jawabannya tetap tidak."

Raka berkata pelan, "Aku tidak meminta itu."

"Aku tahu."

Ratih menatap mereka bergantian.

"Kamu tahu?" tanyanya kepada Naira.

"Kalau dia meminta, saya sudah keluar dari ruangan ini."

Untuk pertama kali, Raka benar-benar tersenyum sedikit.

Ratih melihatnya dan wajahnya berubah, sangat halus. Mungkin sudah lama ia tidak melihat Raka tersenyum tanpa ancaman.

Namun ia belum selesai.

"Dr. Naira, dunia yang sedang Anda masuki tidak bersih. Cakradinata bukan hanya perusahaan farmasi. Mereka punya orang di rumah sakit, media, daerah, bahkan lembaga. Anda mungkin kuat, ayah Anda juga bukan orang kecil. Tapi perlindungan Wiratama akan membuat banyak orang berpikir dua kali."

"Saya tahu."

"Lalu?"

"Kalau saya menerima karena takut, besok keluarga ini akan punya hak merasa saya berutang. Saya baru keluar dari rumah yang memakai kata utang untuk mengikat saya. Saya tidak akan masuk ke rumah lain dengan tali yang lebih mahal."

Raka menatap Naira.

Hanif menunduk.

Ratih diam beberapa detik, lalu menutup map.

"Saya mulai mengerti kenapa Raka tidak langsung membawamu ke rumah utama."

"Karena saya akan pergi?"

"Karena kamu akan membakar ruang tamu kami dengan kalimat sopan."

Naira berdiri. "Kalau tidak ada lagi, saya harus kembali ke rapat Prof. Hadi."

Ratih tidak menahan.

"Satu hal lagi."

Naira berhenti.

"Kalau kamu tidak menjadi konsultan pribadi, apa syaratmu untuk menangani kasus Raka?"

"Raka sendiri yang meminta sebagai pasien. Bukan keluarga. Bukan dewan. Bukan karena ia merasa punya hak atas saya."

"Dan jika suatu hari dia meminta lebih dari itu?"

Raka menegang. "Tante."

Naira menatap Ratih.

"Maka saya jawab sesuai keinginan saya. Bukan sesuai kebutuhan dia."

Ia keluar dari ruang rapat.

Raka mengikuti beberapa detik kemudian. Di lorong, ia berhenti di samping Naira.

"Maaf."

"Untuk apa?"

"Keluargaku."

"Mereka jujur. Aku lebih suka musuh yang jujur daripada keluarga yang berpura-pura baik."

"Mereka bukan musuhmu."

"Belum."

Raka tertawa pelan.

Naira menatapnya. "Kamu juga jangan merasa menang."

"Aku tidak."

"Bagus."

Mereka berjalan beberapa langkah dalam diam.

Lalu Raka berkata, "Aku ingin kamu membaca rekam medisku."

"Sebagai pasien?"

"Sebagai pasien."

"Syaratku?"

"Aku tidak memerintah, tidak menyembunyikan data, tidak menyuruh keluarga menekanmu, dan tidak memakai sakitku untuk membuatmu tinggal."

Naira berhenti.

"Kamu sudah menyiapkan jawaban."

"Aku belajar cepat."

Kali ini Naira tidak menahan senyum kecilnya.

Di ujung lorong, Clara melihatnya.

Senyum itu kecil. Hampir tidak terlihat.

Tapi bagi Clara, itu lebih berbahaya daripada pelukan.

Ia mengambil foto dari jauh dan mengirimkannya kepada Cakradinata.

Mereka dekat. Keluarga Wiratama mencoba mengikat Naira, tapi Naira menolak.

Balasan datang cepat.

Kalau tidak bisa dibeli, gunakan skandal.

Clara menatap foto Sari di mapnya.

Besok, ia akan membuat semua orang bertanya apakah ibu Naira benar-benar korban.

Di ruang rapat yang sudah sepi, Ratih Wiratama masih duduk.

Salah satu penasihat berkata, "Perempuan itu terlalu sulit dikendalikan."

Ratih menatap pintu tempat Naira keluar. "Justru itu alasan Raka mendengarnya."

"Keluarga butuh kepastian."

"Keluarga ini terlalu lama mengira kepastian hanya datang dari kendali."

Penasihat itu diam.

Ratih mengambil map tawaran kerja sama yang ditolak Naira, lalu menutupnya.

"Jangan tekan dia lagi tanpa seizinku."

"Tapi kondisi Raka..."

"Kalau kalian membuat Naira pergi, kondisi Raka akan menjadi masalah yang lebih besar."

Di lorong, Raka tidak tahu bibinya baru saja melindungi pilihannya dengan cara yang sangat khas keluarga Wiratama: tetap terdengar seperti ancaman.

Ia hanya berjalan di samping Naira dan menyadari satu hal sederhana.

Untuk pertama kalinya, ia ingin seseorang tetap tinggal bukan karena tidak punya jalan keluar.

Melainkan karena ia sendiri memilih kembali.

Naira kembali ke ruang persiapan kongres dan menemukan pesan dari Surya.

Papa dengar keluarga Wiratama menawarkan kontrak.

Naira membalas.

Papa punya mata-mata di hotel?

Surya:

Papa punya kekhawatiran yang sehat.

Naira:

Aku menolak.

Surya:

Papa tahu. Kalau kamu menerima, langit Jakarta mungkin runtuh.

Naira tertawa kecil. Rasa lelahnya berkurang sedikit.

Pesan terakhir ayahnya masuk.

Jangan biarkan keluarga mana pun membuatmu merasa perlindungan harus dibayar dengan kebebasan.

Naira menatap kalimat itu lama.

Lalu ia menyimpan ponsel dan kembali bekerja.

Di luar, langkah Raka berhenti sebentar, lalu menjauh.

Ia benar-benar tidak masuk.

Naira menyadarinya.

Ia tidak mengucapkan terima kasih.

Tapi ia juga tidak menghapus kesadaran itu.

Untuk Raka, mungkin itu sudah cukup banyak.

1
Priskha
ini knp sih kok diulang2 bikin bingung bacanya
Priskha
aq tadinya ngantuk berat tp setelah baca novel ini ngantukku jd ilang dan pingin baca trs krn penasaran dan senang dg tokoh wanitanya yg tegas
Priskha
baru baca sdh bikin esmosi.... lanjut thor....
SediaKala
Quotes lagi weh.. ini keren sih kata2nya
SediaKala
Mendadak jadi detektif klo baca cerita ini.. beh mantap sekali
Otak berputar terus ini
Good job author🤏
SediaKala
Quotes hari ini
Mr T
👍
Anonim
Nani heri Upitarini
semakin membaca,semakin mumet....
Nani heri Upitarini
kaku sekali bahasax....
Nani heri Upitarini
terulang LG episode sebelumx
Reni Setia
makasih untuk novelnya ya
Night Watcher
tau ah.. bingung di bab ini..
ada yg diulang2, ada dimas yg ikut nimbrung.
naira yg cucunya dilarang masuk, tp stlh bisa masuk, tau2 dimas jg ada disitu. aneh & membungungkan.
Tangsah Jagad
diulang lagi ulang lagi
Tangsah Jagad
karakter tangguh keren Dokter naira👍👍👍👍
Tangsah Jagad
mantapppp👍👍👍
Tangsah Jagad
tbah seruuuuu👍👍👍👍👍
Tangsah Jagad
smart thor👍👍👍👍
Tangsah Jagad
Clara km gak punya malu banget
Tangsah Jagad
kereeeen👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!