NovelToon NovelToon
Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Diremehkan Suami, Diobsesi CEO Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Duda
Popularitas:30.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.

Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.

Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.

Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28 Ajakan Rujuk

Malam semakin larut. Rumah besar itu mulai tenang. Cintya sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Bella juga akhirnya tertidur lebih nyenyak setelah obat demamnya bekerja. Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram.

Anjani masih duduk di sisi ranjang. Sesekali mengusap rambut Bella. Sesekali mengecek suhu tubuh anaknya. Dan sesekali melirik jam di ponselnya. Pukul sepuluh lewat.

Perutnya mulai terasa tidak nyaman. Baru saat itulah ia teringat kalau dirinya belum makan sejak siang. Hari ini terlalu sibuk dengan latihan runway., rapat, revisi, dan persiapan Aurora. Belum lagi kejutan-kejutan yang selalu muncul dalam hidupnya sejak bertemu Ren Aksara.

Anjani menghela napas pelan, kemudian ia meraih tumbler dari dalam tas, meneguk isinya perlahan. Setidaknya minuman hangat itu bisa sedikit mengurangi rasa perih di lambungnya.

Dari ambang pintu, Satriya diam-diam memperhatikannya. Pria itu berdiri cukup lama tanpa bersuara. Tatapannya tidak lepas dari sosok yang sedang duduk di sisi ranjang Bella. Dan semakin lama melihatnya, semakin sulit ia mengabaikan sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.

Anjani terlihat berbeda, lebih menarik dan cantik. Tatapannya tidak lagi kosong seperti beberapa bulan terakhir saat masih tinggal di rumah ini.

Deg.

Perasaan aneh itu kembali muncul. Perasaan yang sudah lama sekali tidak ia rasakan. Satriya langsung mengerutkan kening, menganggapnya hanya ilusi, hanya efek karena mereka sudah lama tidak berinteraksi.

Namun, pikirannya tetap bergerak liar. Ia mulai mengingat masa lalu. Dulu Anjani selalu menunggunya pulang, selalu menurut, selalu memaafkan. Dulu rumah tangga mereka jauh lebih tenang.

Dia berpikir mungkin selama ini mereka hanya sedang mengalami fase buruk. Mungkin semua ini masih bisa diperbaiki dan perceraian itu tidak perlu terjadi.

Dan mungkin Anjani hanya membutuhkan sedikit perhatian dan kelembutan darinya. Bukankah perempuan memang seperti itu? Satriya meyakinkan dirinya sendiri dengan pikiran tersebut, sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar.

Anjani langsung menoleh. Sinyal waspada reflek muncul. Sikap itu membuat Satriya sedikit tidak nyaman, karena dulu wanita itu tidak pernah memasang tatapan seperti itu kepadanya.

"Bella sudah tidur."

Anjani mengangguk. "Iya."

Satriya melirik jam. "Lumayan lama juga."

"Hm."

"Aku pikir kamu mau ambil dokumenmu malam ini."

Anjani terdiam. Benar juga. Ia memang datang untuk itu. Kalau malam ini dokumennya sudah siap, besok pagi ia bisa langsung kembali ke kontrakan lalu berangkat ke kantor. Tidak perlu berlama-lama berada di rumah ini.

"Aku ambil sekarang."

Satriya mengangguk. "Bella biar aku yang jaga."

Anjani tidak langsung bergerak. Ia menatap curiga pria itu beberapa detik. Dia merasa ada sesuatu yang terasa aneh malam ini.

Satriya terlalu tenang, terlalu tidak seperti biasanya.

"Dokumennya bawa ke sini aja," ucap Anjani.

Satriya menggeleng. "Banyak. Aku ambil sendiri, nanti berantakan."

Anjani masih ragu. Namun, pada akhirnya ia tetap berdiri, karena memang dokumen-dokumen itu penting.

"Jangan lama-lama." Bella tiba-tiba bergumam dalam tidurnya.

Anjani tersenyum kecil. "Iya."

Wanita itu akhirnya keluar dari kamar. Lorong rumah terasa sunyi. Langkah Anjani berhenti di depan kamar utama. Kamar yang dulu menjadi kamarnya juga. Perasaan tidak nyaman langsung muncul, tapi ia segera mengabaikannya.

Ini hanya sebentar. Ambil dokumen, lalu kembali ke kamar Bella. Sesederhana itu pikirannya.

Anjani membuka pintu. Ruangan itu masih sama. Hampir tidak berubah. Lemari besar, tempat tidur, meja kerja, semuanya masih berada di tempat yang sama. Bahkan sebagian barang miliknya masih tersimpan di sana, seakan dirinya tidak pernah benar-benar pergi.

Anjani segera menuju lemari penyimpanan dokumen, membuka laci, mulai mencari map-map yang dibutuhkan. Ketemu, Anjani menghela napas lega. Lanjut mulai memeriksa isinya. KTP, ijazah, akte, sertifikat, lengkap.

Syukurlah.

Namun, rasa leganya tidak bertahan lama karena tiba-tiba terdengar suara pintu tertutup.

Klik.

Tubuh Anjani langsung menegang. Perlahan ia menoleh dan mendapati Satriya berdiri di sana. Entah sejak kapan.

"Ada apa?" tanya Anjani.

Satriya tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap lama sampai membuat Anjani semakin waspada.

"Mas?"

Masih tidak ada jawaban, tapi pria itu melangkah mendekat. Anjani refleks mundur. Namun, sebelum sempat menjauh lebih jauh, dua lengan Satriya tiba-tiba melingkar di pinggangnya.

Deg.

Tubuh Anjani langsung membeku. Bukan karena jantungnya berdebar, melainkan karena terkejut. Sudah terlalu lama sampai dirinya hampir lupa bagaimana rasanya dipeluk pria itu.

Namun anehnya, tidak ada perasaan apa-apa. Tidak ada rindu yang tumbuh. Hangat juga tak terasa. Yang ada hanya kosong.

Satriya memejamkan mata, menyesap rasa nyaman yang begitu familiar. Ia merasa seperti menemukan sesuatu yang sempat hilang.

"Aku kangen." Suara pria itu terdengar pelan.

Anjani langsung mengerutkan kening.

"Aku pikir..." Satriya berhenti sejenak. "Mungkin kita sama-sama terlalu keras kepala."

Anjani nyaris tertawa. Keras kepala? Jadi sekarang masalah rumah tangga mereka karena keras kepala? Bukan karena pengkhianatan? Bukan karena penghinaan? Bukan karena dirinya yang diusir? Namun ia memilih diam.

Satriya melanjutkan. "Kalau kita mulai lagi pelan-pelan Bella juga senang."

Hening beberapa detik, lalu perlahan Anjani melepaskan kedua tangan Satriya dari pinggangnya satu per satu, kemudian ia berbalik dan menatap pria itu. Tatapan yang membuat dada Satriya tiba-tiba berdenyut nyeri, karena ia tidak menemukan apa yang sedang dicarinya. Di mata wanita itu tidak ada cinta seperti dulu, hanya ketenangan yang membuat jarak mereka semakin jauh.

"Mas, aku datang karena Bella dan karena dokumenku," ucap Anjani tegas.

Anjani menatap lurus-lurus Satriya yang masih terdiam. "Jangan lakukan ini lagi."

Deg.

Kali ini Satriya benar-benar merasa ada sesuatu yang retak. Perempuan yang berdiri di depannya sekarang, bukan lagi Anjani yang dulu.

Anjani segera melangkah menuju pintu. Ia sudah terlalu lama berada di kamar itu. Namun, baru beberapa langkah, Satriya mencekal pergelangan tangannya.

Tubuh Anjani kembali menegang. "Mas." Nada suaranya kini seperti sebuah peringatan.

Akan tetapi Satriya tidak peduli. Ia justru menariknya kembali ke dalam pelukannya. Kali ini lebih erat. Map dokumen di tangan Anjani sampai terjepit di antara tubuh mereka.

"Mas, lepas."

Satriya tidak langsung menjawab. Kepalanya turun ke ceruk leher Anjani, menghirup aroma yang sudah terlalu lama tidak ia rasakan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian bulan, ia merasa kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap akan selalu ada.

"Kenapa harus sejauh ini?" gumamnya pelan.

Anjani langsung mengernyit karena kalimat itu terdengar sangat tidak adil. Seolah-olah semua yang terjadi adalah keputusan dirinya seorang.

"Mas." Suaranya semakin dingin. "Lepas."

Namun Satriya masih bertahan. Wajah pria itu kian menunduk, hingga napasnya menyentuh kulit leher Anjani, membuat wanita itu semakin tidak nyaman.

"Kalau kita coba lagi--"

"Jangan," potong Anjani dengan tegas.

Satriya terdiam sesaat. Namun, entah karena ego, entah karena merasa masih memiliki hak, pria itu tidak juga mundur. Dan detik berikutnya Anjani mendorong kuat dadanya.

Brak.

Pelukan itu terlepas. Satriya mundur setengah langkah dengan mimik wajah syok. Ia masih belum percaya.

Sementara Anjani menatapnya dengan mata yang bergetar oleh kemarahan. Marah yang selama ini jarang ia tunjukkan.

"Aku sudah bilang lepas."

Suasana mendadak membeku. Sampai akhirnya--

Plak!

Suara tamparan menggema di dalam kamar. Tidak terlalu keras, namun cukup membuat Satriya mematung. Kepalanya sedikit berpaling ke samping. Pipinya memanas.

Dan untuk beberapa detik, ia bahkan tidak mampu bereaksi, karena selama bertahun-tahun bersama, Anjani tidak pernah menamparnya. Anjani tidak pernah sekasar itu. Selama ini ia mengenali Anjani sebagai wanita yang lembut.

Napas Anjani memburu. Tangannya gemetar. Bukan karena takut, melainkan karena marah dan jijik pada situasi yang baru saja terjadi.

"Jangan pernah lakukan itu lagi. Jangan pernah berpikir aku datang ke sini karena ingin kembali." Setiap katanya terdengar jelas

Satriya perlahan menoleh. Tatapannya berubah menjadi penyesalan. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat berkata apa-apa lagi, suara kecil Bella terdengar dari luar.

"Mama..."

Anjani langsung menoleh ke arah pintu. Anaknya memanggil. Ketegangan yang nyaris meledak seketika pecah begitu saja.

Anjani tidak lagi memedulikan Satriya. Ia langsung membuka pintu dan bergegas keluar.

"Mama..." Suara Bella terdengar lagi. Kali ini lebih jelas.

Anjani mempercepat langkahnya, meninggalkan Satriya yang masih membeku di dalam kamar. Sesampainya di kamar Bella, ia segera menutup pintu, lalu menguncinya rapat-rapat, mencegah Satriya menemuinya lagi.

Bersambung~~

1
Yeni Astriani
ditunggu selalu kelanjutan ceritanya Author☺☺☺
ryuka
owww oowww.. yg sadar duluan malah raka 🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭🤭
Najwa Aini
kalau kata pribahasa madura..
tep kotep cellot.
Najwa Aini
Lanjut investigasi, Raka. cari alasan lain yg ada di balik alasan lbh efisien itu
Najwa Aini
Ambrukk malah
Ayuwidia
Aamiin, dan semoga kesalahpahaman kamu ke Ren nggak berkepanjangan 🤭
Hary Nengsih
lucu perang m anak nya
ryuka
kangen obrolan sae sma bella lagi thorrr 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
ryuka
ya ampunn saaeee.. kamu tuh lucu bgt siihhh 🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
Yeni Astriani
lanjut Author
Najwa Aini
kok malah berasumsi hanya karena mendengar satu potongan kalimat..
kayaknya ini bukan karakter Anjani..
Najwa Aini
Berarti dari dulu² perintah Ren itu agak syaithoni..ya..baru sekarang cukup manusiawi
Najwa Aini
sebegitu kuat ya getaran bahunya Raka
Najwa Aini
sebentar..apa dulu yg digoreng nih..yg aromanya sampai memikat gitu
Najwa Aini
sebentar..Aurora itu nama Brand ya..
aku pikir itu tajuk untuk koleksi terbaru yang launching..
bukan tajuk sih tepatnya tapi..tema. mungkin ya..kayak beberapa Brand yg lagi melaunching koleksi terbaru mereka dalam perhelatan berjudul..Manik Raya. atau swarna bumi gitu...
Najwa Aini
ketenangan Anjani itu memukul mental Satrya
Ayuwidia
woahhh ini mah celetukan othornya 😆
Ayuwidia
Woahhh, kalau Sae ikut berasa liburan sekeluarga 😍
Ayuwidia
Woahhh, jawabannya ngadi², tapi masuk akal. Siapa tahu orang yg benci dia datang ke Gunung Kawi buat nyantet 😆
Ayuwidia
Owalah, ternyata Raka 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!