dr. Nayla Azzura percaya satu hal bahwa cinta tidak pernah benar-benar tinggal.
Menjadi salah satu saksi pernikahan orangtuanya yang hancur sejak usianya masih kecil, membuat Nayla tumbuh menjadi perempuan yang dingin, mandiri, dan sulit mempercayai siapapun. Baginya, memiliki pasangan hanya pandai memberi harapan sebelum akhirnya meninggalkan.
Sampai akhirnya sebuah tragedi kecelakaan kerja mempertemukan Nayla dengan Arsen Mahardika, pengusaha muda yang keras kepala, hangat dan yang paling mengganggu adalah usianya tiga tahun lebih muda dari Nayla.
Awalnya Nayla mengganggap semua hanya lelucon biasa, tapi bagaimana mungkin jika lelaki yang usianya lebih muda tapi pandai bicara tentang sebuah keseriusan?.
Namun Arsen berbeda, iya tidak datang membawa janji besar justru ia datang dengan sejuta kesabaran. Saat Nayla menjauh, menunggu saat Nayla merasa takut, dan membuktikan bahwa tidak semua rumah berakhir hancur.
Karena terkadang... Lelaki yang lebih muda justru lebih tahu cara men
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Selamat Datang Di Rumah...
Semalam suntuk Nayla hampir tidak bisa memejamkan kedua matanya, hanya memandangi langit-langit kamarnya dalam diam dengan kalimat Arsen yang terus terngiang di kepalanya.
" Aku tidak mengejar jawaban cepat, Nay"
" Aku mengejar masa depan yang benar-benar kamu pilih"
Setelah bertahun-tahun akhirnya kini Nayla tidak lagi berperang dengan masa lalunya, kini ia sibuk berbicara dengan hatinya sendiri.
" Apakah aku benar-benar mencintai Arsen?"
" Tapi sejak kapan?"
Mungkin sejak laki-laki itu rela menunggu di lobby rumah sakit hampir setiap malam, hanya untuk memastikan bahwa Nayla pulang dengan selamat.
Mungkin juga sejak malam di pantai ketika Arsen memilih untuk menjadi pendengar yang baik, bukan menghakimi apalagi pemberi nasihat.
Mungkin sejak Arsen yang datang dan langsung diterima begitu hangat oleh sang Ayah. Atau mungkin sejak Arsen tidak pernah sekalipun memaksa keinginan dirinya, dan kini air mata kecil itu jatuh disudut mata Nayla. Namun bukan air mata kesedihan, tapi air mata rasa syukur.
Nayla bersyukur karena akhirnya ia menemukan seseorang yang tidak berusaha mengubah dirinya, melainkan bisa menerima seluruh luka yang ia miliki.
🌟
Pagi hari Nayla bangun lebih awal dari biasanya, ia membuka lemari pakaian dan tangannya berhenti pada sebuah blouse berwarna putih gading... Sederhana namun menjadi salah satu pakaian favoritnya.
Nayla ingin terlihat rapih hari ini bukan karena ingin tampil cantik, tetapi karena hari ini ia akan mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya.
Selesai dengan bersiap kini Nayla turun ke ruang makan, Ayahnya sudah duduk rapih dengan koran ditangannya.
" Lohh..." Ayah mengangkat wajahnya ketika sang anak duduk di meja makan.
" Selamat pagi, Yah" Nayla tersenyum kecil.
" Kamu mau kerumah sakit? Atau ada seminar hari ini, Nak?" Ayahnya memperhatikan penampilan sang anak beberapa detik.
" Enggak, Yah" jawab Nayla.
" Lalu?"
" Hehe... Nay mau ketemu seseorang hari ini, Yah" jawab Nayla malu-malu.
" Arsen maksudnya?" senyum sang Ayah terlihat melebar.
" Iya, Yah... Lagi ada yang mau Nay sampaikan" wajah Nayla sudah memerah.
" Maaf kalau Ayah terkesan ikut campur, tapi apakah Ayah boleh kasih masukan sedikit, Nak?" Ayah menggenggam tangan putrinya.
" Nak... Apa yang kamu takutkan?" tanya sang Ayah pelan.
" Nay... Nay takut bahagia sampai akhirnya harus kehilangan lagi" jawab Nayla lirih.
Ayah menggenggam kedua tangan Nayla hangat, sama seperti dulu saat Ayah menggenggam tangan kecil Nayla ketika belajar berjalan. Ayah memandang wajah Nayla sedikit lama, putri kecilnya yang dulu selalu bersembunyi dibalik punggungnya ketika mendengar kedua orang tuanya bertengkar.
Putri yang tumbuh tanpa pernah benar-benar percaya, bahwa cinta bisa bertahan.
" Nak... Ayah tahu kenapa kamu kehilangan lagi" mata Ayahnya kini mulai berkaca-kaca.
" Dengarkan Ayah sebentar boleh?" Nayla sudah menangis tersedu-sedu, sedangkan sang Ayah berusaha tersenyum meskipun air matanya ikut menggenang.
" Jangan biarkan masa lalu menghukum masa depanmu, tidak semua orang yang kira cintai akan pergi, tidak semua rumah tangga akan berakhir dengan perpisahan" genggaman tangan sang Ayah kini terasa lebih erat.
" Tuhan tidak membawa Arsen sejauh ini hanya untuk menyakitimu, kalau hatimu sudah memilih jangan biarkan rasa takut mengambil hak mu untuk bahagia" ucap sang Ayah lembut tapi ada ketegasan didalamnya.
" Ayah..." Nayla langsung memeluk Ayahnya erat.
Ayah membalas pelukan itu dengan senyuman hangat, bagaimanapun seorang Ayah tahu perasaan anaknya. Hari ini bukanlah hari kehilangan, melainkan hari dimana putri kecilnya kini berani membuka pintu hatinya untuk pria pilihannya.
" Temui Arsen, laki-laki yang benar-benar mencintai kamu sedang menunggu jawaban dari perempuan yang selama ini ia perjuangkan " suara sang Ayah nyaris berbisik.
" Ayah hanya ingin berpesan kalau suatu hari nanti kalian berbeda pendapat, jangan buru-buru menyerah tapi duduklah... saling mendengarkan dan ingat kembali alasan kalian memilih satu sama lain. Karena keluarga yang bahagia buka. Keluarga yang tidak pernah diuji tapi keluarga yang selalu memilih untuk pulang" Ayah kini mengusap air mata dipipi Nayla.
" Terimakasih banyak, Ayah" ucap Nayla lirih.
" Pergilah kasian Arsen menunggu terlalu lama".
🌟
Di sisi lain kota Arsen yang sedang memimpin rapat bersama beberapa klien, suasana ruang rapat berlangsung serius hingga seketika ponselnya bergetar pelan.
" Pak Arsen, Maaf ada dokter Nayla ingin bertemu" begitulah isi pesan dari resepsionis.
Melihat kalimat Nayla jantung Arsen seolah berhenti sesaat, membuat Arsen langsung meminta izin kepada para peserta rapat.
" Maaf, saya izin keluar sebentar" tanpa menunggu jawaban Arsen langsung keluar.
Begitu pintu lift terbuka Arsen langsung melihat Nayla berdiri disana, mengenakan blouse putih gading dengan senyum yang begitu lembut.
" Nay, kamu kesini?" Arsen menghampiri dengan sedikit berlari.
" Iya, maaf ya aku mengganggu kamu" jawab Nayla.
" Kamu enggak kenapa-kenapa, kan?" Arsen justru terlihat khawatir dan mengecek tubuh Nayla.
" Aku cuma mau ketemu kamu" Nayla menggelengkan kepalanya dengan tertawa kecil.
" kamu sibuk?" tanya Nayla.
" Sesibuk apapun aku, kalau kamu yang datang aku selalu punya waktu" jawab Arsen.
Wajah Nayla langsung menghangat mendengar kalimat sederhana itu, Nayla menunggu Arsen yang sedang rapat sampai selesai.
Selesai dengan kegiatan rapat akhirnya Nayla dan Arsen memutuskan untuk pergi keluar, keduanya berjalan berdampingan meninggalkan gedung menuju taman kecil yang berada tidak jauh dari kantor Arsen.
" Nay... Kamu bikin aku deg-degan" ucap Arsen.
" Sama aku juga hahah, ternyata operasi lebih gampang yaa dari pada mengontrol perasaan" jawab Nayla terkekeh.
Nayla memberanikan diri menggenggam tangan Arsen terlebih dahulu ketika mereka sudah duduk disalah satu kursi taman, dengan hangat, lembut dan penuh keyakinan.
" Nay..." Arsen terlihat kaku, bahkan ia hampir lupa cara bernafas.
" Kalau selama ini kamu yang selalu datang, sekarang gantian ya..." Nayla menatap kedua mata Arsen dihadapannya.
Nata Arsen kini mulai berkaca-kaca, ia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu keluar dari mulut Nayla.
" Semalam aku memikirkan semua yang sudah kita lewati, tentang pantai, tentang rumah sakit, tentang Ayah, tentang keluarga kamu, dan tentang semua kesabaran kamu selama ini" Nayla menarik nafas dalam.
" Aku sadar selama ini yang paling aku takuti bukan jatuh cinta tapi kehilangan... sampai akhirnya aku mengerti kalau aku takut kehilanganmu" ucap Nayla dengan tenang.
" Kalau tawaranmu semalam masih berlaku..." Nayla tersenyum kecil.
" Selalu berlaku..." Arsen menganggukkan kepalanya cepat.
" Kalau begitu aku mau berjalan sama kamu, bukan cuma hari ini tapi selama Tuhan masih mengizinkan aku mau selamanya " Nayla tersenyum semakin lebar.
Arsen mantap perempuan dihadapannya, perempuan yang telah ia perjuangkan sejak hari pertama bertemu. Perempuan yang kini memilihnya buka karena kasihan, bukan karena merasa berhutang, melainkan karena rasa cinta.
" Nay... Terimakasih Karana sudah memilih aku" Suara Arsen terdengar serak.
" Bukan aku yang berbaik hati memilih kamu, Ar. Tapi kamulah yang mengajarkan aku jika cinta tidak selalu menyakitkan" Nayla tersenyum hangat.
" Selamat datang dirumah, Nay..." suara Arsen begitu lirih.
Seolah jika ia berbicara sedikit lebih keras semua akan berubah menjadi mimpi.
" Terimakasih karena sudah memberiku kesempatan untuk menjadi laki-laki yang berjalan disampingmu" Arsen tersenyum lega.
" Aku tidak bisa janji kalau hidup kita nanti selalu mudah, tapi aku janji setiap kamu takut, ketika kamu merasa lelah, aku akan tetap ada memastikan kamu tetap pulang" Arsen menggenggam tangan Nayla penuh hati-hati.