"Apa kau pikir Alexandra ikut bagian dalam rencana mereka untuk menjebakku?" tanya Marc Maretta serious.
"Nona Alexandra bekerja sebagai tour guide di negerinya. Ia datang menemui kekasihnya di Thessaloniki setelah satu setengah tahun mereka berkenalan. Kelihatannya hubungan mereka tak berhasil," kata pengawal Marchetti.
Gadis yang sedang patah hati, mampukah ia membunuh mafia kejam seperti Marc Maretta, that's impossible!
Perjalanan yang ditempuh Alexandra begitu jauh, dari Indonesia menuju Greece kemudian ke France. Namun dirinya malah terdampar di Milan, Italy. Dan luka tembak di lengannya, itu bukan untuknya!
Alexandra bukan gadis yang lemah tapi jatuh cinta pada mafia membuat dirinya harus menerima kenyataan, dilukai atau melukai.
Apakah Marc Marreta menjadi pilihan hidupnya di antara dua laki-laki lain yang mencintainya?
Antonis yang ingin merebut cintanya kembali atau mungkin Guy Dupuis sahabatnya yang menyayangi Alexandra sejak lama?
Sebuah dilemma bagi Alexandra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ray B., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam membara
Let the world stop turning
Let the sun stop burning
Let them tell me love's not worth going through
If it all falls apart
I will know deep in my heart
The only dream that mattered had come true
In this life, I was loved by you
Marseille
Alexandra terbangun sendirian, melihat ruang kamarnya yang berbeda lagi. Ia mendesah, ini bukan di Puri Lombardy maupun penthouse Milan's.
Dibukanya pintu kamar, Guy Dupuis sudah berangkat ke kantor hanya ada kertas tulisan di pintunya akan mengajaknya makan siang diluar nanti.
Alexandra langsung mandi & berganti pakaian. Mencari dapur membuat coffee, di meja makan sudah tersedia croissant. Menyesap coffee panasnya yang cepat menjadi dingin karena cuaca seperti ini.
Ia menggosokkan kedua tangannya mencoba menghangatkan diri. Dipandangnya kota Marseille yang indah di pagi hari yang cerah walau semalam hujan salju & angin kencang.
Marseille adalah sebuah kota di pesisir tenggara Prancis. Kota ini merupakan kota berpenduduk terbanyak kedua di Prancis (setelah Paris) dengan jumlah 852.395 jiwa (2007).
Didirikan di pesisir Laut Tengah dengan nama Massalia sekitar tahun 600 S.M. oleh bangsa Yunani, Marseille kini merupakan pelabuhan komersil terbesar di Prancis dan ke empat terbesar di Eropa.
Secara internasional, kota ini merupakan kota kedua di Prancis yang memiliki banyak perwakilan dari negara lain, yaitu lebih dari tujuh puluh konsulat.
Marseille adalah ibu kota administratif (préfecture de région)
région Provence-Alpes-Côte d'Azur dan sekaligus ibu kota administratif (préfecture départementale) département Bouches-du-Rhône.
Guy Dupuis mengirim pesan untuk siap-siap mengajaknya keluar siang ini. Alexandra menatap langit Marseille, sebuah hari baru dalam liburan berikutnya. Ia pantas mendapatkan keceriaan dirinya kembali.
Old Port (Vieux Port) di Marseille mengelilingi marina penuh kapal pesiar serta terkenal dengan hotel yang keren, cafe tepi laut, dan restoran seafood yang menyajikan ikan belanak dan lobster dari pasar ikan pinggir dermaga.
Di dekat Gereja Saint-Laurent bergaya Romanesque, berdiri Fort Saint-Jean yang berusia berabad-abad yang berfungsi untuk melindungi pelabuhan tersebut.
Bar dan kelab larut malam memenuhi jalan untuk pejalan kaki dekat dengan Opéra de Marseille bergaya art deco.
Guy Dupuis menggandeng tangan Alexandra memasuki sebuah cafe. Ia mengenalkan menu khas negaranya. Alexandra makan dengan lahapnya, udara dingin membuat ia mudah lapar.
Confit de Canard adalah panganan khas Perancis dengan olahan daging bebek. Dibumbui dengan beragam bumbu-bumbu khas masakan Perancis, daging bebek kemudian di marinasi 24 jam dimatangkan selama paling tidak 36 jam sebelum kemudian dipanggang atau digoreng.
Proses memasak yang panjang ini membuat rasa bumbu yang gurih dan aromanya yang nikmat benar-benar terserap hingga ke dalam daging bebek.
Guy Dupuis bertanya disela makannya, "Besok kau mau ikut aku ke beberapa kota lainnya?"
Alexandra menjawabnya, "Mon plaisir - dengan senang hati. Tapi apakah aku tidak mengganggu pekerjaanmu, Guy?"
Laki-laki tampan rupawan itu tertawa. Ia memegang tangan Alexandra, "Dari dulu aku mengenalmu, kau lah perempuan yang membuatku sibuk mengatasi obrolan di kafe waktu aku masih bekerja di negerimu. Tapi aku senang kau teman diskusi yang baik!"
Setelah membayar makan siangnya, Guy mengajak jalan-jalan ke Palais Du Pharo sebuah istana di Marseille, Prancis. Dibangun pada tahun 1858 oleh Napoleon III untuk Eugénie de Montijo.
Mereka memandang luas laut Mediterranean & diseberangnya benteng Saint-Jean dibangun pada 1660 oleh Louis XIV di pintu masuk ke Pelabuhan Tua.
"Alexa," Guy Dupuis membuyarkan lamunannya. Pandangan Alexandra memang ke depan tapi matanya terlihat kosong.
"Apa yang terjadi di Milan, mengapa kau tiba-tiba memutuskan ke Marseille?" tanyanya ingin tahu.
Alexandra menunduk, siang yang dingin karena angin, tapi ada sinar matahari mulai sedikit menghangatkannya. Akhirnya ia pun menceritakan kejadian kemarin di kantor Marc Maretta.
"Kupikir ia bisa menghargaiku selama berada disana. Tapi semua sia-sia. Sebelumnya ia pun memukul Antonis saat kami tidak sengaja bertemu di sebuah cafe tak jauh dari kantornya. Itu juga karena aku kesal, perempuan brengsek yang terus menggodanya sampai kejadian kemarin pagi."
Guy Dupuis tertawa, Alexandra langsung menyikutnya karena tersinggung atas sikapnya mendengar keluhannya.
"Ouch .. pardonne-moi maafkan aku, hmm kupikir kau sedang jatuh cinta dengan mafia itu, benarkah?" Guy menatap wajah gadis itu dalam.
"Je ne sais pas - aku tidak tahu," jawabku melengos dari tatapan yang menghujam.
Guy Dupuis merangkulnya, "Ayo kita nikmati kotaku. Hari ini aku pulang cepat untuk persiapan perjalananku selama 2 minggu. Jadi aku punya waktu mengantarmu ke lokasi menarik di sekitar sini."
Alexandra mencium pipinya, "Merci, kau sahabatku yang baik!"
Guy Dupuis terkesima & dipeluknya Alexandra erat, "Datanglah padaku jika kau butuh sesuatu."
Mereka mengunjungi Notre Dame le Garde gereja terbesar & tertinggi di Marseille, kemudian mengendarai mobilnya menuju Cassis - teluk Calanque Morgiou yang indah & cantik.
"Apa kau sudah lebih baik sekarang, Alexa?" Guy Dupuis mendapatkan senyum manis Alexandra, tidak sia-sia ia mengajaknya kemari. Diraihnya tangan gadis itu mendaki perbukitan Cassis.
Sampai diatas, Ia memeluknya dari belakang seraya berkata, "Nikmati lah saat ini, mungkin tidak ada kesempatan lagi kau berada disini bersamaku."
Alexandra kembali menyikutnya, dan mereka berdua tertawa bersama mengenang persahabatan yang terjalin lama. Rasa hormat antara mereka yang melebihi dari sebuah cinta.
......................
Milan's
Marc Maretta berangkat ke kantor dengan gusar, merasa hidupnya hampa tanpa kehadiran Alexandra disisinya. Di kantornya ia pun tak bisa mengerjakan apa-apa, dibenaknya hanya tentang gadis itu.
Marchetti datang setelah mendengar laporan Leonardo, bahwa Tuan Muda belum menandatangani berkas penting yang makin menumpuk di meja kerjanya sampai siang hari.
"Marc, kau ingin menyusul Nona Alexa ke Marseille?" Desak Marchetti yang kesal bossnya hanya duduk melamun, banyak bekas cigarettes di asbaknya. Gelas minuman sudah dituang beberapa kali untuk dirinya sendiri.
"Aku sudah menghubungi Alexa beberapa kali, telephone ku tidak diangkatnya. Pesanku tidak dijawabnya. Kalau pun aku datang menjemputnya, apakah ia bisa memaafkan semuanya?"
Jemari Marc Maretta menyisir rambutnya, kegalauannya begitu kentara. Ia memang merasakan kesalahannya lebih dari itu.
Marchetti duduk menemani diseberang meja kerjanya.
"Aku sudah mengecek posisi Nona Alexa, ia berada di pusat kota Marseille pagi ini kemudian siangnya mengarah ke Calanque Morgiou sampai saat ini."
Mata Marc Maretta kelihatan menyala mendengar paparan Marchetti. "Ia bebas sekarang tanpaku, tak ada ancaman musuh bagi dirinya selama bersamaku. Mungkin sebaiknya begitu!"
Marchetti beranjak keluar kantornya sambil menyerahkan photo-photo yang diretas lewat satellite, diambil dari berbagai CCTV dimana Alexandra berada saat ini & bersama siapa.
"Apa ini?" tangan Marc memegang photo saat laki-laki lain memeluk kekasihnya. Wajahnya berubah keras.
"Marchetti, cari tahu siapa dia!" Perintahnya tegas. Marchetti menoleh, "Kau akan dapatkan laporannya sore ini."
Marc Maretta mengangkat gelasnya & melemparkan ke dinding. "Brengsek kau, Alexa! Kupikir kau lebih baik dari perempuan manapun, ternyata sama saja!"
Hatinya lebih dari kecewa sekarang, berubah menjadi dendam membara. Ia tidak pernah merasa sangat sakit hati oleh perempuan manapun juga. Kecuali dengan Alexandra, karena ada sebagian jiwanya telah dititipkan disana.
Kini ia kembali menjadi manusia yang sejati yang pernah jatuh hati.
...****************...
Alurnya tak biasa. Keren.
Bahasanya enak dibaca.
Untuk novel karya pertama, ini adalah sesuatu yang luar biasa.
Two thumbs up!
*ikutan nyesek jadinya.
Jd bersa ikut perang...
😁
Smgt n sukses