Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...
Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26 Ketulusan yang Membasuh Luka
Menanggapi pertanyaan dari Elvano dengan suara yang sedikit bergetar dan membuat hatinya sangat sakit melihat ke adaan dari Elvano yang sangat khawatir kepada keadaan kembarannya itu.
"Langkah pertama kita, kita harus merawat Alvaro dengan sangat intensif takutnya penyakitnya kambuh lagi atau bisa lebih parah" ucap dokter Angga kepada mereka semua.
"Baik dok kami semua mengerti" ucap Erlan.
"Dan untuk demam berdarahnya kita lihat trombositnya untuk dua hari kedepan secara berkala, sedangkan untuk infeksi di paru-paru dan juga gastritisnya. Alvaro akan di beri obat antibiotik dan obat nyeri supaya radang di lambungnya bisa mereda dan untuk paru-parunya kita juga melakukan pengobatan intensif juga kepada paru-parunya secara berkala" ujar dokter Angga kepada mereka berlima yang mendengarkan sek sama penjelasan dari dokter Angga mengenai penanganan tentang penyakit Alvaro.
Setelah dokter Angga menjelaskan tentang penyakit Alvaro dan cara penanganan tentang penyakit Alvaro, dan keheningan yang mencekam sempat menyelimuti kamar rawat milik Alvaro.
"Jadi Alvaro bisa sembuhkan, dok?" tanya Arlan.
"Tentu bisa, jika kita selalu mensuport Alvaro supaya ia bisa sembuh" jawab dokter Angga
"Kalau begitu saya permisi dulu, nanti akan ada perawat yang akan kesini" ucap dokter Angga.
"Baik, dok. Terimakasih." Balas Arlan.
Sepeninggalan dari dokter Sam, keheningan pun masih bisa di rasakan di dalam kamar tersebut dengan suasana yang masih sama-sama mencekam seperti tadi saat dokter Angga menjelaskan tentang penyakit Alvaro dan cara penanganannya.
Dan campuran dari roma dari obat-obatan membuat kamar rawat inap semakin di landa oleh kesedihan dan juga rasa bersalah yang sama-sama mereka rasakan.
Di ruangan ruang rawat hanya ada lima orang yang menatap lurus ke arah satu orang yang sama yaitu Alvaro dan ke lima orang itu adalah Arlan, Erlan, Elvano, papah dan juga uncle Sam yang selalu ada untuk menemani mereka.
"Al, kamu kapan sehat sihhh?" tanya Elvano ke arah Alvaro yang masih istirahat di brakar setelah tadi sempat di suntik obat dan di ambil sempel darah untuh uji lab.
"Sabar ya El, Al juga mau sembuh kok kita doain aja yaa" ucap Erlan kepada adik bungsunya itu.
"Iya El sabar yaa kita juga harus suport Al jua, oky?" tanya Arlan kepada Elvano dan ia hanya bisa mengangguk kecil sebagai jawaban.
Di sudut ruang rawat itu, terdapat pria paruh baya yang sedang menatap kosong kearah brakar anak ke tiganya itu yaitu Alvaro, ia merasa bersalah karena dulu ia sempat menyalahkan Alvaro tentang kematian istrinya padahal Alvaro tidak mengetahui apa-apa.
Melihat kondisi atasannya sekaligus sahabatnya itu uncle Sam hanya bisa mendekat kearah sang papah untuk memberikan dukungan untuk sang papah.
"Sabar ya Ric, pasti Varo bakal sembuh kok" ucap uncle Sam.
"Huh, dulu aku sempat menyalahkan kematian Elina karena kesalahan Alvaro padahal ia tidak salah apa-apa" sahut sang papah penuh dengan penyesalan saat ia mengingat kejadian ia membenci Alvaro yang tidak bersalah.
"Tapi itu dulu dan sekarang kita harus mendukung Alvaro supaya ia bisa sembuh pelan-pelan" ujar uncle Sam.
"Dan soal pekerjaan sekaligus perusahaan nanti aku yang ambil alih jika ada yang memerlukan tanda tanganmu, aku bisa kesini sambil bawa berkas yang perlu memerlukan tanda tanganmu" sahut uncle Sam lagi dan papah pun hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya kearah uncle Sam yang selalu ada di sisinya pada saat duka maupun senang.
Beberapa menut kemudian, Alvaro pun membuka matanya secara perlahan-lahan dan ia pun menatap Elvano yang ada di samping brakarnya.
"Sudah bangun Al? Sudah mendingan?" tanya Elvano.
"Sudah El, nyenyak banget tidurku mungkin efek dari demam berdarah kali ya aku ngantuk terus" jawab Alvaro kepada adik kembarnya.
"Nanti akan ada perawat yang datang kesini kok Al, ngasih obat ke kamu" sahut Arlan.
"Minum ya Al?" tanya Erlan dan Alvaro pun mengangguk menyetujui itu.
Erlan pun mengambil botol minum yang masih ada sedotannya supaya Alvaro memudahkan untuk minum dan tidak kesusahan dan Elvano dan Arlan pun membantu membangunkan tubuh Alvaro supaya mudah untuk minum.
"Sudah kak" ucap Alvaro pelan ke arah Erlan.
"El, tolong brakarnya agak di naikkin dong yang kepala biar enak aku" sahut Alvaro lagi kearah kembarannya itu.
"Oky al bentar ya" jawab El dan ia pun membuat brakar yang area kepala Alvaro agak naik keatas supaya Alvaro tidak bosen cuma tiduran aja.
"Makasih ya El" ujar Alvaro.
"Sama-sama Al" jawab Elvano dengan senyum tipisnya dan sambik memegangi tangan Alvaro yang masih panas saat ia memegangi tangannya itu.
Melihat interaksi dari si kembar, membuat kamar yang tadinya hening sekaligus mencekam menjadi sedikit demi sedikit mulai mencair dan juga hangat. Namun, rasa bersalah yang dari tadi menggelayuti sang papah justru terasa semakin menghimpit dada.
Alaric pun berjalan dengan langkah berat dan juga ragu-ragu ke arah brakar Alvaro, rasa bersalahnya kepada Alvaro belum juga hilang bahkan sedikit pun belum juga hilang. Arlan dan Erlan yang menyadari pergerakan lembut sekaligus ragu-ragu dari sang papah langsung bergeser mundur memberikan ruang dan merema berdua berdiri di samping uncle Sam yang sudah berdiri di situ mengikuti pergerakan sang papah.
"Varo...." panggil sang papah dengan suara serak dan juga beratnya ke arah Alvaro.
"Iya pah?" tanya Alvaro kepada sang papah sambil melihat muka sang papah yang kelihatan kelelahan menjaganya.
"Maaf ya Varo, karena ke egoisan papah dan ke salahan papah karena menyalahkanmu padahal kamu tidak tau apa-apa" jawab sang papah dengan setetes air mata yang sudah terjatuh di tangan kirinya yang tidak terpasang oleh infus.
Alvaro hanya bisa tersenyum tipis sekaligus tulus yang sepenuh hati ia berikan dan menatap sang papah dengan mata sayunya yang melihat pun akan terasa sesak karena haru.
"Gak papa kok pah, aku tau kok papah juga kangen banget sama mamah aku paham kok" ucap Alvaro kepada sang papah.
"Sekarang kita akan selalu di sisi Varo, jangan ada yang merasa bersalah atay merasa gagal, karena kita tidak sempurna yang sempurna hanya milik Allah yang meciptakan kita" ujar Arlan berusaha tidak menangis saat mendengar kalimat tulus dari dari ke duanya itu.
Tokk!!
Tokk!! Tokkk!!
Suara ketukan pintu terdengar memecahkan momen haru di keluarga itu, dan seorang perawat pun masuk sambil membawa nampan berisi obat-obat yang akan ia suntikan di infus milik Alvaro.
"Permisi, selamat sore semuanya. Saya akan menyuntikan obat kedalam infusnya dek Al ya, obatnya ada obat pereda nyeri dan mual untuk lambung sekaligus obat antibiotik juga, supaya pembengkakan di dinding lambungnya bisa mereda" ucap perawat itu dengan sopan sambil mendekati brakar.
Dan mereka sumua pun mundur dari posisi mereka semua supaya perawat tersebut leluasa untuk menyuntikan obat lambung milik Alvaro di dalam infus miliknya.
Dan mereka semua pun menunggu perawat tersebut dengan sabar dan juga tenang dan Elvano selalu menatap Alvaro yang menahan sakit saat satu persatu obat obat itu di suntikan di infus milik Alvaro.