Namanya Arumi, seorang gadis yang tinggal di desa Dukuh Asem.
Arumi adalah seorang gadis yang baik hati dan suka membantu orang tuanya.
Namun, ketenangan itu perlahan menghilang, saat bayi-bayi di desanya mulai meninggal satu-persatu dengan darah yang mengering.
Arumi juga mulai sering melihat penampakan aneh, bahkan sampai hampir disakiti oleh sesosok kuntilanak merah.
Kuntilanak itu selalu mengatakan, kalau ibunya Arumi telah membuat hidupnya hancur.
Arumi dan adiknya, yang bernama Bella, mulai merasa curiga dengan kedua orang tuanya.
Apalagi, mereka sering tampak terlihat aneh.
Arumi juga merasakan keanehan dengan dirinya, sebab dirinya sering melihat penampakan aneh.
Sebenarnya, apakah yang terjadi? Dan mampukah Arumi mengungkap semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Aksara 04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Arumi membuka matanya dengan perlahan.
Matanya mengedar ke sana ke mari, melihat ke sekitar yang sama sekali tidak ia kenali.
Tak jauh di depannya, ada sang adik yang belum membuka mata.
Ingatan sebelum kesadarannya tertarik kembali bermunculan, membuat Arumi kembali mengingat penyebab dari dirinya yang kini ada di gubuk tersebut, dan ia juga mengingat tentangnya yang tadi hendak melawan Jono.
"Bell, bangun," ucap Arumi.
Tangan gadis itu terjulur, berusaha menggapai Bella untuk menepuk pundaknya agar Bella segera membuka mata.
Benar saja, tubuh Bella menggeliat pelan.
"Ugh, di mana ini?" tanya Bella.
"Kita ada di gubuknya Mbah Parjo, Bella," jawab Arumi.
"Ah sial sekali, sih, malah diikat begini, jadinya nggak bisa kabur, kan," Bella berdecak kesal.
"Aaaargh. Darah," ucap sebuah suara.
Di depan mereka, munculah sesosok makhluk kerdil.
"Pergi kau, jangan ke mari," ucap Arumi.
"Darah wangi, aku suka,"
Air liur makhluk itu terlihat menetes saat menatap Bella, matanya memancarkan nafsu yang membara.
Arumi menggunakan tenaga dalamnya, tangannya ia hentakan ke depan guna mengusir makhluk itu.
Arumi pun baru tahu bahwa dirinya bisa menggunakan tenaga dalam, mungkin itu akibat dari ia yang waktu itu bermeditasi di gua yang berada di istana Nyai Sekar Arum.
Braaak.
Tubuh makhluk itu terpental ke dinding.
Makhluk kerdil itu pun langsung menghilang pergi, karena ia adalah makhluk kelas teri, jadi wajar saja apabila mudah dibasmi.
"Kak, kira-kira kita bisa nggak ya keluar dari hutan ini?" tanya Bella.
"Aku juga nggak tahu, Bell, tapi kalau kita keluar malah bahaya. Bisa aja kan kita malah ketemu sama hewan buas," jawab Arumi.
Posisi kedua gadis itu memang cukup dilema.
Jika mereka tetap berada di dalam gubuk itu, maka bisa saja mereka akan dikorbankan kepada makhluk gaib.
Namun, apabila mereka keluar juga, itu sama saja dengan mencari mati.
"Kalian tenang saja, biar aku yang urus hewan buas itu," ucap Nyai Sekar Arum yang muncul dengan tiba-tiba di hadapan mereka.
"Eh, ini siapa?" tanya Bella sangat terkejut.
Bagaimana tidak, Nyai Sekar Arum muncul secara tiba-tiba, membuat siapapun pasti dilanda keterkejutan.
"Ini Nyai Sekar Arum, khodamku," jawab Arumi.
"Oh, ternyata ini Nyai Sekar Arum. Aku kira siapa," ucap Bella.
"Tapi, ini kalau kita pergi sekarang, apa kita nggak bakalan ditangkap lagi sama Mbah Parjo?" tanya Arumi masih khawatir.
"Nggak akan, aku sudah melihat mereka. Mereka sudah tidur," jawab Nyai Sekar Arum.
"Wah, kok malah tidur, ya, mereka itu? Emangnya nggak takut kita kabur, kah?" tanya Bella sedikit aneh.
"Kemungkinan mereka mau menyiapkan tenaga untuk nanti malam. Jadi, cepatlah kalian bersiap untuk pergi sebelum mereka terbangun," ucap Nyai Sekar Arum.
Arumi memandang ke sekitar, mencari apa pun yang bisa digunakan untuk membuka ikatan mereka.
Saat ia sedang melihat-lihat itulah, tak sengaja netra gadis itu terhenti pada sebuah pisau yang ada di dalam kamar itu.
Pisau tersebut sepertinya sering digunakan untuk melakukan ritual.
Namun, sayangnya pisau itu berada cukup jauh dari jangkauan Arumi dan Bella.
Apalagi tangan mereka juga terikat, susah sekali untuk bergerak.
"Ini gimana cara ngambil pisaunya ya?" tanya Arumi.
Nyai Sekar Arum melayang, ia memindahkan pisau tersebut ke tempat yang lebih dekat agar Arukmmi mampu menjangkaunya.
"Wah, bisa gitu, ya?" ucap Bella yang baru pertama kali melihat hantu bisa memindahkan barang.
Tanpa berkata apa pun lagi, Arumi segera mengambil pisau itu.
Digenggamnya erat-erat, lalu dia coba untuk memotong tali yang mengikat dirinya.
Untungnya tali itu berhasil terputus karena hanya berupa tali rafia saja, bukan rantai yang berat.
Setelah tali yang mengikatnya berhasil terlepas, Arumi bergerak memutus ikatan tali sang adik.
"Ayo kita keluar," ajak Arumi.
Bella mengangguk, ia mengikuti langkah Arumi.
Arumi mengintip ke kamar lain yang berada tak jauh dari kamar tempat mereka diikat.
Ternyata memang benar, Mbah Parjo sedang tertidur lelap.
Sementara itu, anak buahnya yang bernama Jono tertidur di ruang tengah.
"Baguslah, beneran tidur ternyata mereka ini," ucap Bella dengan suara yang sangat pelan agar tidak membuat kegaduhan.
Kali ini gadis itu memahami situasi dengan baik.
Sekarang memang bukan waktunya ia bersikap barbar ataupun berisik.
Keduanya keluar dari gubuk dengan langkah yang dibuat sesenyap mungkin.
***Rimbunnya hutan menyambut Arumi dan Bella kala mereka keluar dari gubuk Mbah Parjo.
Matahari hampir tak terlihat saat mereka berjalan menembus hutan.
"Ih, Kak, kok aku takut ya," ucap Bella.
"Tumben kamu takut. Biasanya juga apa-apa diterabas," jawab Arumi sambil sedikit tersenyum guna mencairkan suasana tegang di antara keduanya.
"Ya beda, Kak. Kalau itu kan nggak ada ancaman. Kalau ini bisa aja kan tiba-tiba ada harimau yang datang ke sini," ucap Bella ada benarnya.
"Ya iya sih. Tapi bismillah aja lah, semoga nggak ada apa-apa," jawab Arumi.
Namun, kala mereka masih berjalan, tiba-tiba saja terasa seperti ada yang mengikuti mereka.
Dengan warspada, Arumi menoleh ke belakang seraya masih tetap berjalan.
Arumi hampir saja melompat, saat ia melihat Jono, anak buah Mbah Parjo, rupanya mengejar dirinya dan Bella.
"Ayo lari, ternyata Jono ngejar kita," ucap Arumi.
Kedua gadis itu pun langsung berlari kencang.
Tentu saja Arumi takut apabila mereka sampai tertangkap kembali, karena tadi saja ia kalah saat berusaha memukul Jono, dan tenaga pemuda itu memanglah kuat.
"Hey, berhenti kalian!" teriak Jono.
Arumi mempercepat larinya, membuat Bella ikut berlari cepat juga.
Braaak.
Akibat berlari dengan tidak memperhatikan jalan, kaki Bella tersandung akar pohon yang mencuat ke tanah.
"Aduh," lenguhnya, larinya pun terhenti.
Arumi menjadi begitu panik, jika mereka berhenti maka Jono akan menangkap mereka lagi.
"Kau nggak papa, kan?" tanya Arumi.
"Nggak papa, ayo lari lagi, Kak," jawab Bella.
"Hahaaaaa, mau ke mana kalian, manusia," ucap sebuah suara.
Sesosok buto ijo muncul di hadapan mereka, membuat Arumi dan Bella terpaksa harus berhenti, karena buto ijo itu menghalangi mereka.