Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati yang Hancur
Hari ini tepat di hari wisuda mereka, sepasang sejoli yang sedang menjalin hubungan cukup lama, akhirnya kandas juga. Pasalnya, Ayra begitu keras untuk memutuskan hubungannya bersama dengan Bagas, kekasih yang selama ini dia cintai selama 4 tahun semasa mereka belajar di bangku kuliah.
Bagas yang tak terima dengan keputusan Ayra, kini juga keras menentang putusnya hubungan mereka. Masalahnya adalah Bagas belum begitu paham dengan alasan Ayra memutuskan hubungan mereka. Memang diakui Bagas, karena selama ini Bagas telah membohonginya, lebih buruknya adalah menipu Ayra. Tapi selama ini juga Bagas melakukan itu karena semata-mata untuk menutupi jati dirinya yang sebenarnya dari sesuatu hal buruk.
"Kamu pasti tahu bagaimana hidupku tanpa kamu, Ay?" Tanya Bagas dengan mata yang penuh emosi menatap mata sendu seorang perempuan manis dengan mata berkaca-kaca, dia adalah Ayra.
Ayra hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan sembari menatap mata tajam seorang lelaki dihadapannya itu.
"Hancur ... aku akan hancur ... dunia Bagas akan hancur tanpa kamu, Ay!" Tegas Bagas penuh penekanan.
"Aku pastikan bahwa nanti aku akan hancur, Ay!" Ulang Bagas dengan menyudutkan wanita dihadapannya itu.
"Kamu tahu kan bagaimana seorang lelaki bila tidak bisa memiliki seseorang yang diinginkannya, hah?" Bagas sedikit teriak.
Ayra masih saja menggelengkan kepalanya, dirinya terlihat sangat ketakutan dengan perilaku Bagas. Sungguh Bagas saat ini diluar kendalinya, sampai-sampai dia mencengkram bahu Ayra cukup kuat dan itu membuat Ayra kesakitan.
"Hentikan Bagas, kamu menyakitiku!" Keluh Ayra menepis tangan Bagas.
"Sakit ini tidak seperti sakit yang aku rasakan, Ay. Sakit di tubuh bisa hilang tapi jika sakit hati yang aku rasakan akan sulit untuk dihilangkan," tutur Bagas sembari memegang dadanya.
"Jangan egois Bagas, kamu sendiri yang menciptakan masalah ini. Dan aku lah yang menjadi korbannya," Ayra hendak pergi dari taman kampus dimana tempat mereka bertemu, namun dicegah oleh Bagas.
"Tapi ini semua aku lakukan karena aku mencintai kamu Ayra," tutur Bagas.
"Tidak, kau melakukannya hanya untuk dirimu saja, hanya dirimu!" Bantah Ayra cukup keras.
"Ay ... sungguh aku tidak ada maksud buruk menjadikan kamu milikku, sungguh sayang," sangkal Bagas bersuara lembut sambil menahan Ayra.
"Lagi pula kesalahanku hanya menyembunyikan statusku saja. Lalu kenapa harus kau memutuskan hubungan kita? Aku tidak pernah menyakitimu, Ay!" Sambung Bagas.
Namun sungguh Ayra tidak mempedulikan kata-kata Bagas. Ayra juga mengalihkan pandangan matanya kearah lain sambil menahan air matanya yang akan tumpah.
"Ok, aku salah, aku minta maaf, tapi tolong jangan pergi, Ay. Please, jangan pergi tinggalkan aku, sayang!" Bujuk Bagas yang hampir frustasi menghadapi sikap Ayra yang keras kepala.
Bagas berusaha keras untuk mendapatkan kesempatan oleh Ayra memaafkannya dan kembali pada wanita pujaan hatinya. Namun Ayra sudah terlanjur sakit dan terluka hatinya oleh perbuatan Bagas yang mungkin tidak bisa kembali seperti dulu lagi semasa kebersamaan mereka yang indah dan bahagia.
Ayra menahan air matanya agar tak menangis di depan Bagas. Percuma, jika dia menangis pun tak akan bisa mengubah pendirinya untuk berpisah dengan Bagas. Ayra pun berjalan meninggalkan Bagas, namun lagi-lagi Bagas mencegah kepergian Ayra.
Bagas rupanya berlutut memohon maaf di depan Ayra yang secara bersamaan pun Ayra terkejut dengan perbuatan Bagas.
"Apapun akan aku lakukan asal kau memaafkan aku dan tetap bersamaku, Ayra."
Melihat perlakuan Bagas, membuat Ayra tersenyum hambar.
"Aku tidak akan pernah termakan oleh mulut manismu lagi, Bagas. Dan aku tidak ingin terlihat seperti wanita bodoh yang rela ditipu oleh pria seperti kamu." ucap Ayra.
"Sudah 4 tahun kita menjalani hubungan dan selama itu pula kamu merahasiakan statusmu dariku. Kamu pikir aku ini perempuan matre yang harus kamu test terlebih dahulu? Kita ini bukan sedang ujian masuk pegawai negeri, Bagas!" Sambung Ayra yang mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.
Bagas menggelengkan kepalanya, kemudian menggenggam kedua tangan Ayra.
"Bukan seperti itu, Ay. Maafkan aku, sayang. Sungguh bukan maksudku...," ucapan Bagas pun langsung dipotong Ayra.
"Kita bukan sepasang kekasih lagi. Tolong panggil aku dengan Ayra saja. Berdirilah dan jangan membuang-buang energimu memohon padaku," ucap Ayra yang melangkah pergi melewati Bagas begitu saja.
Bagas menoleh ke samping lalu bangkit berdiri kemudian berbalik menatap punggung Ayra yang melangkah pergi membelakanginya. Bagas memejamkan matanya sejenak sembari mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.
"AYRA," panggil Bagas cukup kuat.
Namun Ayra tak mempedulikan panggilan itu, dia malah mempercepat langkahnya.
"AYRA GRIZELLE...!!!
Teriakan Bagas kali ini membuat langkah Ayra berhenti karena kagetnya dia. Ayra pun menoleh ke arah Bagas, lalu perlahan menatap pria di seberangnya itu yang masih setia berdiri ditempatnya. Dari jauh mereka saling menatap, dalam diam mereka saling menyesali satu sama lain.
"Jika memang kamu ingin pergi karena kesalahanku, maka pergilah yang jauh. Aku akan ikhlas melepas mu," dengan suara bergetar Bagas berucap.
"Tapi bagaimana denganmu? Apa kau siap melepas ku? Bisa menjawab?" Bagas tersenyum hambar seperti senyuman mengejek.
"Aku rela bersujud di kakimu hanya untuk membuatmu kembali," lanjut Bagas seolah meminta kesempatan pada Ayra sekali lagi untuk memaafkan dirinya.
Hening sejenak, tidak ada suara yang keluar dari mulut Ayra. Bagas berjalan perlahan mendekati Ayra, namun Ayra malah berjalan mundur seolah tak mau Bagas bersujud di hadapannya. Bagas mengerti diamnya wanita pujaan hatinya itu adalah penolakan. Akhirnya Bagas pasrah dengan keputusan Ayra.
"Baiklah, kau bisa pergi dariku. Tapi ingat, aku mengikhlaskan kamu bukan berarti aku berhenti sampai disini, Ay."
"Aku berjanji bahwa kau tidak akan pernah bisa bahagia dengan pria manapun kecuali diriku," ucap Bagas seperti ancaman untuk Ayra.
DEG
Ayra kini menatap Bagas dengan membelalakkan matanya, dia terkejut dengan perkataan Bagas. Namun Ayra tak bisa berucap sepatah katapun.
"Selamat tinggal, Ay."
Bagas langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Ayra. Dia memejamkan matanya dengan tangan yang terkepal, kemudian melangkah pergi meninggalkan Ayra.
Sedangkan Ayra terpaku menatap kepergian Bagas. Air matanya kini tumpah dan mengalir di pipi mulus Ayra. Dia memegangi dadanya yang terasa sakit. Ya, tepatnya hatinya begitu terluka.
"Kamu kejam, Bagas. Kamu tega membohongiku selama ini dengan statusmu yang nyatanya tidak bisa aku terima," gumam Ayra lirih dengan suara yang hanya bisa dia dengar sendiri.
Ayra pun akhirnya berbalik dan melangkah pergi. Dia tidak berharap bahwa Bagas akan menoleh ke arahnya untuk terakhir kalinya. Tapi saat Ayra ingin melangkah, tubuhnya cukup rapuh hingga dia menjatuhkan lututnya ke tanah dengan merintih menangis.
"Ya Tuhan, kenapa sesakit ini," lirih Ayra sambil memegangi dadanya yang terasa sakit.
Namun di sisi lain, Bagas yang dikuasai amarah bahkan kekecewaan akhirnya berhenti sejenak lalu perlahan menoleh ke belakang berharap Ayra menunggunya dan menatapnya. Tapi siapa sangka, saat Bagas menoleh ke belakang, sungguh pemandangan yang sangat menyakitkan baginya. Ingin sekali Bagas berlari menghampiri Ayra yang terluka, namun dia urungkan bukan karena tak peduli tapi itulah keinginan wanita pujaan hatinya yang memilih untuk pergi darinya.
Bagas tak kuasa menatap Ayra yang sedang menangis, namun apa daya dia hanya bisa melihat dari seberang keberadaan antara dia dan Ayra. Mata Bagas berkaca-kaca. Sungguh dia juga rapuh saat ini, apalagi melihat wanitanya bersedih karena dirinya.
"Aku tahu jika kamu terpaksa pergi dariku, Ay. Aku ingin tahu seberapa kuat dirimu jauh dariku, Ayra."
Bagas mendongakkan kepalanya dan mengedipkan matanya beberapa kali agar air matanya tak jatuh. Kemudian dia menghela nafasnya dengan kasar menatap kembali pemandangan Ayra yang masih terduduk lesu di tanah.
"Lihat saja nanti, aku pasti akan mendapatkan kamu kembali, sayang. Itulah janjiku," lirih Bagas dengan segenap hati dan jiwanya yang terluka.
Bagas akhirnya meninggalkan tempat itu setelah memastikan Ayra sudah bisa bangkit dan pergi dari pandangannya.
Bersambung....