Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Senyum tipis di wajah Ravian perlahan menghilang seiring motor Aleta yang sudah lenyap dari pandangannya. Sorot matanya berubah tajam, instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres yang sedang mengintai gadis itu.
Bukan hanya tentang penyerangan tadi, tapi juga tentang seberapa jauh orang-orang itu menargetkan Aleta.
Ravian merasa ada yang aneh dengan tunangannya, selama ini Aleta di kenal sebagai korban bully yang tidak pernah memberikan perlawanan tapi melihat gadis itu melawan para pria misterius itu, Ravian mulai meragukan laporan yang dia terima.
Cara gadis itu bergerak, cara dia bereaksi terhadap bahaya, hingga ketenangan di wajahnya saat berhadapan dengan sekelompok pria bersenjata… itu bukan kemampuan gadis biasa. Jelas itu gerakan orang yang sudah lama berkecimung di dunia perkelahian, dan sudah terbiasa dengan ancaman.
"Menarik sekali, Leta," gumam Ravian pelan.
Tak lama kemudian, dia masuk ke dalam mobil dan menyuruh sopir kembali ke mansion keluarga Doclan. Perjalanan berlangsung hening.
Ravian menyandarkan kepala sambil memejamkan mata, namun pikirannya bekerja tanpa henti. Sampai akhirnya mobil berhenti di halaman mansion.
Ravian turun tanpa banyak bicara dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan menunduk hormat saat dia melewati mereka, namun Ravian bahkan tidak melirik sedikit pun.
Dia langsung menuju ruang kerjanya di lantai dua.
Brak.
Pintu tertutup. Suasana ruangan itu langsung sunyi. Ravian melepas jasnya sembarangan ke sofa, lalu melonggarkan dasi di lehernya. Setelah itu dia mengambil ponsel dari saku celananya dan menekan satu nomor dengan cepat.
Tak butuh waktu lama panggilan itu terhubung.
"Selamat malam, Tuan Ravian," suara wanita terdengar dari seberang sana.
"Sera," panggil Ravian singkat.
"Ya, Tuan."
"Aku ingin semua rekaman CCTV di jalan kawasan distrik selatan malam ini tanpa terkecuali."
Sera sedikit terdiam. "Jam berapa tepatnya, Tuan?"
"Dari pukul delapan sampai sebelas malam. Fokus pada area sekitar gudang tua dekat danau, jalanan sepi yang jarang di lalui orang."
Nada suara Ravian berubah dingin. "Dan cari semua kendaraan atau orang yang mencurigakan sebelum motor tunanganku muncul di area situ."
"Baik, Tuan."
Ravian berjalan menuju meja kerjanya lalu duduk perlahan. Sorot matanya menggelap.
"Aku juga ingin identitas pria-pria yang menyerang Aleta malam ini, mereka dari kelompok mana dan siapa sumbernya."
Sera tampak sedikit terkejut mendengar nama itu disebut. "Nona Aleta diserang?"
"Hm."
"Apakah Anda baik-baik saja, Tuan?"
Ravian terkekeh kecil. "Kau mengkhawatirkanku atau dia?"
"Keduanya."
Jawaban itu membuat Ravian menyandarkan tubuhnya santai. "Sayangnya, gadis itu jauh lebih berbahaya daripada yang terlihat. Dia tidak selemah yang kau pikirkan, karena begitu aku datang dia masih bernyawa."
"Apa ada yang membantu Nona sebelumnya?"
"Tidak, jika ada aku tidak mungkin terkejut dengan wataknya yang menyebalkan itu." Dia terdiam sesaat sebelum kembali berkata. "Cari tahu siapa dalang di balik penyerangan itu secepatnya."
"Baik, Tuan. Saya akan segera mencaritahunya."
"Dan kalau ada hubungan dengan Obsidian Circle… laporkan langsung padaku."
Hening sejenak. Lalu Sera menjawab serius, "Saya mengerti."
Panggilan terputus. Ruangan kembali sunyi. Ravian memutar kursinya perlahan menghadap jendela besar di belakangnya. Cahaya kota Varexion terlihat gemerlap dari sana.
Namun pikirannya justru dipenuhi satu sosok. Aleta. Gadis itu jelas menyembunyikan sesuatu. Dan semakin Ravian mencoba mengabaikannya, semakin besar rasa penasarannya.
Tok.
Tok.
Ketukan pintu terdengar.
"Masuk," ujar Ravian tanpa menoleh.
Pintu terbuka perlahan. Bimo masuk sambil membawa kotak P3K.
"Tangan Anda harus diobati, Tuan."
Ravian melirik sekilas tangan kanannya yang penuh luka dan darah mengering. Dia bahkan hampir lupa dengan luka di tubuhnya.
"Bukankah tadi dia bilang aku terlihat buruk?" gumamnya pelan, mengingat ucapan Aleta sebelumnya.
Bimo mengernyit bingung. "Maksud Tuan?"
Ravian tersenyum tipis. "Tidak ada, tinggalkan kotak obat itu. Aku bisa mengobatinya sendiri."
"Baik, Tuan."
Setelah kepergian Bimo, ruangan kembali hening. Ravian menatap hamparan kota dari jendela besar di ruangan tersebut. Sudut bibirnya terangkat sedikit, kemudian dia bergumam pelan. "Siapa Aleta sebenarnya, ya?"
***
Aleta berguling-guling di atas ranjangnya, setelah dia pulang dan mendapat omelan dari kakeknya karena pulang larut kini dia bisa bernapas lega setelah mandi dan mengganti pakaian.
Dia memainkan ponsel di tangannya dengan malas, masih merasa aneh karena Ravian menolongnya padahal pria itu bisa saja mengabaikannya jika mau.
"Apa alasan di balik sikap ramahnya itu?" pikir Aleta heran.
Hubungan mereka bukan di awali dengan cinta atau kisah romantis seperti di dalam novel, mereka hanya terjebak oleh perjodohan yang tidak menguntungkan bagi Ravian.
Aleta membalikkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Lampu tidur di sudut ruangan menyala redup, menciptakan suasana tenang yang seharusnya membuatnya mengantuk.
Namun pikirannya justru semakin berisik. Masih terbayang jelas bagaimana Ravian menghajar pria-pria tadi tanpa ragu. Sorot mata pria itu saat marah, berbeda jauh dari sikap tengil dan santainya.
"Apa alasan di balik sikap ramahnya itu?" pikir Aleta heran.
Kalau pria lain berada di posisi Ravian mungkin mereka sudah menolak mentah-mentah. Tapi Ravian berbeda. Pria itu justru terlihat terlalu santai menerima semuanya. Dan itu yang membuat Aleta merasa aneh.
"Jangan-jangan dia punya tujuan lain…" gumamnya pelan.
Aleta memejamkan mata sesaat, mencoba mengingat kembali setiap percakapan mereka malam ini. Ravian terlalu mudah mendekatinya.
Dan yang paling mengganggu, Aleta tidak bisa membaca isi pikirannya. Padahal biasanya dia cukup pandai menilai seseorang hanya dari tatapan mata. Namun Ravian, seolah menyembunyikan sesuatu di balik sikap main-mainnya.
Aleta menutup wajahnya menggunakan bantal. "Ah, menyebalkan sekali."
Dia benci memikirkan seseorang terlalu lama. Terlebih laki-laki asing yang baru muncul kembali dalam hidupnya. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Aleta mengangkat bantal dari wajahnya lalu melirik layar.
Nomor tidak dikenal. Alisnya sedikit mengernyit. Namun entah kenapa dia langsung tahu siapa pengirimnya. Dengan malas, Aleta membuka pesan tersebut.
"Sudah sampai rumah?"
Kalimat itu cukup membuat Aleta terdiam beberapa detik. "Aneh."
Baru beberapa jam bertemu, tapi pria itu sudah bertingkah seolah mereka dekat. Jarinyanya bergerak cepat di atas layar.
"Sudah."
Tak sampai lima detik, balasan masuk.
"Syukurlah. Berarti aku masih punya alasan untuk bertemu denganmu lagi."
Aleta langsung bangkit duduk. "Apa-apaan dia?"
Tanpa sadar sudut bibirnya sedikit bergerak menahan kesal. Dia mengetik cepat.
"Jangan datang mencariku lagi."
Balasan Ravian muncul lagi.
"Wah, galak sekali. Padahal aku hanya khawatir pada tunanganku."
Aleta menatap layar ponselnya lama. Lalu tanpa ragu dia mematikan ponselnya dan melemparkannya ke samping ranjang.
"Manusia aneh."
Dia kembali merebahkan tubuhnya. Namun kali ini sudut bibirnya justru terangkat tipis tanpa sadar. Dan itu membuat Aleta langsung mengernyit kesal pada dirinya sendiri.
"Aku benar-benar mulai aneh gara-gara pria itu."
Karena sudah setahun juga berlalu kenapa baru sekarang Ravian penasaran/ngejar2 Aletta? bukan dari dulu?? Berarti yang Ravian sukai sekarang BUKAN Aleta TAPI Aurelia..