NovelToon NovelToon
Sahabatku Adalah Jodohku

Sahabatku Adalah Jodohku

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nayemon

sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WASIAT SANG MENTOR & DESAIN MASA DEPAN

Aroma antiseptik yang tajam menyambut Arlan dan Kira saat mereka melangkah menyusuri koridor rumah sakit bertaraf internasional di Jakarta Pusat. Di luar, hujan deras mengguyur kota, namun di dalam ruangan VVIP itu, suasana sunyi mencekam. Pak Gunawan, sang singa bisnis properti yang selama ini tampak tak terkalahkan, kini terbaring lemah dengan berbagai selang yang menopang hidupnya.

​Maura berdiri di dekat jendela, matanya sembab. Begitu melihat Arlan dan Kira masuk, ia hanya mengangguk kecil, kehilangan semua aura angkuhnya.

​"Dia baru saja siuman sepuluh menit lalu," bisik Maura, suaranya parau. "Dia terus menanyakanmu, Lan. Dan... dia minta Kira juga ikut masuk."

​Arlan melirik Kira dengan tatapan khawatir. "Ra, kamu yakin? Baunya agak menyengat di sini, kalau kamu mual kita bisa keluar."

​Kira menggeleng mantap, tangannya mengelus perutnya yang kini terasa memberikan tendangan kecil—seolah si Jagoan di dalam sana juga ingin memberikan dukungan. "Aku nggak apa-apa, Lan. Pak Gunawan sudah seperti ayah bagimu. Aku harus ada di sini."

​Mereka mendekati ranjang. Mata Pak Gunawan terbuka perlahan, tampak kuyu namun binar kecerdasannya masih tersisa sedikit.

​"Arlan..." suara Pak Gunawan nyaris seperti desiran angin.

​"Saya di sini, Pak," Arlan membungkuk, menggenggam tangan pria tua yang telah membukakan jalan bagi kariernya itu. "Bapak harus kuat. Proyek Bali menunggu Bapak untuk peresmian."

​Pak Gunawan tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh pengakuan. "Bali... itu proyekmu, Lan. Bukan milikku lagi. Aku sudah cukup... membangun gedung. Sekarang saatnya aku membangun... kedamaian."

​Matanya beralih ke Kira. "Kira... mendekatlah, Nak."

​Kira melangkah maju, tangannya gemetar saat menyentuh lengan Pak Gunawan. "Iya, Pak. Saya di sini."

​"Maafkan... anakku," bisik Pak Gunawan, matanya melirik ke arah Maura yang tertunduk di pojok ruangan. "Dia punya segalanya... kecuali kerendahan hati. Aku gagal... mengajarinya tentang itu."

​"Ayah..." Maura terisak, menutup wajahnya dengan tangan.

​"Arlan," Pak Gunawan menarik napas berat, seolah mengumpulkan sisa tenaganya. "Di laci meja kerjaku... ada sebuah map merah. Itu bukan soal saham... bukan soal aset Anastasia Group. Itu soal... masa depan kalian."

​Dua jam kemudian, setelah kondisi Pak Gunawan kembali stabil dan beliau tertidur, Arlan dan Kira duduk di ruang tunggu pribadi bersama Maura. Maura menyerahkan sebuah map merah yang ia ambil dari brankas rumah sakit sesuai instruksi ayahnya.

​"Ayah bilang, ini hanya boleh dibuka di depan kalian berdua," ucap Maura dengan nada datar, meski rasa penasarannya terlihat jelas.

​Arlan membuka map itu perlahan. Di dalamnya terdapat sebuah sertifikat tanah atas nama yayasan yatim piatu yang pernah dibantu oleh orang tua Arlan dulu, ditambah sebuah surat wasiat yang ditulis tangan.

​“Arlan, Kira... Aku tahu kalian adalah pasangan yang dibangun di atas pondasi kejujuran selama sebelas tahun. Aku memberikan lahan seluas dua hektar di Bogor ini bukan untuk dibangun hotel atau resort mewah. Aku ingin kalian membangun sebuah 'Sekolah Arsitektur dan Desain Gratis' untuk anak-anak berbakat yang tidak punya biaya.”

​Kira menutup mulutnya dengan tangan, air mata haru menetes. "Pak Gunawan... beliau ingat impian kita dulu, Lan?"

​Arlan mengangguk, tenggorokannya tercekat. "Dulu, waktu aku masih asisten magang, aku pernah cerita ke beliau kalau aku sedih melihat banyak tukang bangunan yang punya insting desain luar biasa tapi nggak pernah bisa sekolah. Beliau ternyata mencatat itu."

​Surat itu berlanjut: “Maura akan mendanai pembangunannya melalui dana CSR Anastasia Group sebagai syarat agar dia tetap bisa memegang jabatan Direktur. Dia harus belajar bahwa uang bukan untuk membeli kebahagiaan orang lain, tapi untuk membangun harapan. Arlan, kau arsiteknya. Kira, kau yang mengisi jiwanya dengan desain. Ini wasiatku sebelum aku benar-benar istirahat.”

​Maura terdiam seribu bahasa. Ia menatap surat itu, lalu menatap Arlan dan Kira bergantian. "Ayah... benar-benar ingin aku melakukan ini?"

​"Ini cara beliau menyelamatkanmu, Mau," ucap Kira lembut, keberaniannya muncul dari empati yang mendalam. "Beliau ingin kamu punya tujuan hidup yang lebih besar daripada sekadar bersaing denganku atau mengejar Arlan. Beliau ingin kamu dicintai karena jasamu, bukan karena hartamu."

​Maura menunduk, bahunya berguncang hebat. Untuk pertama kalinya, tidak ada lagi dendam di antara mereka. Yang ada hanyalah tiga orang manusia yang sedang menghadapi kenyataan pahit tentang kehidupan.

​Malam harinya, di rumah mereka yang tenang, Arlan dan Kira duduk bersila di lantai studio, dikelilingi oleh lembaran denah sekolah yang baru saja mulai mereka corat-coret secara kasar.

​"Lan, ini bakal jadi proyek paling menantang buat kita," ucap Kira sambil memutar pensilnya. "Nggak ada profit, nggak ada klien cerewet... cuma kita dan mimpi Pak Gunawan."

​"Dan mimpi kita juga, Ra," Arlan meletakkan penggarisnya, menatap Kira dengan lebat. "Aku tadi mikir, gimana kalau sekolah ini kita kasih nama 'Lentera Sebelas'?"

​Kira mengernyit. "Kenapa sebelas?"

​"Sebelas tahun kita sahabatan, sebelas tahun kita saling jaga. Angka itu yang bawa kita sampai ke titik ini. Aku mau anak-anak di sana nanti tahu, kalau sesuatu yang hebat butuh waktu untuk tumbuh. Nggak ada yang instan, bahkan untuk sebuah persahabatan jadi cinta."

​Kira tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Arlan. "Boleh. 'Lentera Sebelas'. Bagus, Lan. Aku suka strukturnya."

​Tiba-tiba, Kira meringis kecil, memegang perutnya.

​"Ra! Kenapa? Mual lagi?" Arlan langsung panik, siap siaga dengan bantal.

​"Nggak, Lan. Dia... dia nendang kencang banget. Kayaknya dia setuju sama namanya," Kira tertawa, menarik tangan Arlan untuk menyentuh sisi perutnya.

​Arlan merasakan tendangan itu—kecil namun bertenaga. "Wah, kerasa, Ra! Dia beneran nendang! Kayaknya dia mau bilang kalau dia mau jadi murid pertama di sekolah itu nanti."

​"Enak aja! Dia harus jadi bosnya, dong!" canda Kira.

​"Lan," panggil Kira lagi setelah tawa mereka mereda. "Soal Maura... kamu beneran nggak apa-apa kerja bareng dia buat proyek CSR ini? Bakal intens lho pembangunannya."

​Arlan menghela napas panjang, menatap langit-langit studio. "Jujur, Ra, kalau ditanya secara pribadi, aku malas. Tapi lihat kondisi Pak Gunawan tadi... aku sadar kalau hidup ini terlalu singkat buat simpan dendam. Lagipula, Maura sudah kehilangan taringnya. Dia cuma anak perempuan yang takut kehilangan ayahnya sekarang."

​"Aku setuju. Aku juga lihat ada yang beda dari dia tadi. Tapi tetap ya, Arlan Dirgantara..." Kira menatap suaminya dengan tatapan 'peringatan' yang lucu. "Pembangunan sekolah ini harus transparan. Nggak boleh ada rapat berdua di kafe remang-remang dengan alasan bahas anggaran."

​"Siap, Nyonya! Rapatnya bakal di kantor, pintu terbuka lebar, dan ada kamu yang duduk di kursi sebelahku sambil makan camilan. Puas?"

​"Puas banget!"

​Keesokan harinya, Maura datang ke kantor Arlan lebih awal dari jadwal. Ia membawa berkas-berkas pendanaan pertama. Wajahnya tampak lebih segar meskipun masih ada gurat kelelahan.

​"Pagi, Lan. Pagi, Kira," sapa Maura. Ia meletakkan sebuah kotak kecil di meja Kira. "Ini bukan maket kristal atau surat aneh. Ini vitamin penguat kandungan dari dokter pribadiku di London. Aku tahu kamu nggak butuh, tapi... anggap saja ini permintaan maafku secara resmi."

​Kira menatap kotak itu, lalu menatap Maura. Ia melihat ketulusan yang langka. "Terima kasih, Mau. Aku hargai ini."

​"Sama-sama. Oke, bisa kita bahas anggaran untuk 'Lentera Sebelas'?" Maura membuka laptopnya. "Ayah sudah menyisihkan dana abadi. Kita bisa mulai peletakan batu pertama bulan depan."

​"Bulan depan?" Arlan mengernyit. "Kira bakal masuk bulan kelima, perutnya bakal makin besar. Kita harus pastikan lokasinya aman buat dia."

​"Aku sudah siapkan mobil khusus dan area pantau yang nyaman di lokasi buat Kira, Lan," sela Maura cepat. "Aku nggak mau keponakan 'angkatku' ini kenapa-napa."

​Kira dan Arlan saling pandang, lalu tertawa kecil. Sebutan "keponakan angkat" dari mulut Maura terasa sangat aneh namun menyejukkan.

​Pekerjaan dimulai. Selama berjam-jam mereka bertiga berdiskusi. Arlan dengan logika strukturnya, Kira dengan kehangatan estetikanya, dan Maura dengan ketajaman manajerialnya. Untuk pertama kalinya, mereka bekerja bukan sebagai saingan atau korban drama, melainkan sebagai sebuah tim.

​Saat matahari mulai terbenam di balik gedung-gedung Jakarta, mereka mengakhiri rapat. Maura berpamitan untuk kembali ke rumah sakit.

​"Lan," panggil Kira saat mereka berdua saja di ruangan.

​"Ya?"

​"Ternyata Pak Gunawan beneran jenius ya? Beliau tahu cara menyatukan kita semua tanpa ada yang merasa kalah."

​Arlan merangkul pinggang Kira, menatap sketsa sekolah di atas meja. "Beliau arsitek kehidupan yang hebat, Ra. Beliau tahu kalau pondasi yang retak bisa diperbaiki kalau kita mau pakai semen keikhlasan."

​"Gombal lagi!"

​"Tapi bener, kan?"

​Mereka berjalan keluar kantor bergandengan tangan. Di depan, langit Jakarta berwarna ungu keemasan. Sebelas tahun persahabatan, satu tahun pernikahan yang penuh drama, dan kini sebuah masa depan yang bukan lagi soal diri mereka sendiri, tapi soal orang lain.

​"Lan, nanti kalau sekolahnya jadi, aku mau ada taman melati yang besar di tengahnya," ucap Kira saat mereka di dalam lift.

​"Kenapa melati?"

​"Biar setiap kali anak-anak di sana mencium wanginya, mereka tahu kalau desain yang bagus itu harus menenangkan hati, kayak kamu yang selalu tenangin aku."

​Arlan mengecup puncak kepala Kira. "Siap, Nyonya. Satu taman melati untuk sekolah kita, dan satu taman cinta buat hidup kita."

1
Penikmat Sunyi
yang nulis cerita keren sekali....😍
Penikmat Sunyi
kerennnn bangetttttt rumah tangga ini😍
Penikmat Sunyi
Bagus, layak dibaca..
Nani Wulandari: trimakasih kak uda mampir di novelku ☺
total 1 replies
Penikmat Sunyi
Bagus banget cerita sampe sedih bacanya, semangat ya buat lanjutan ceritanya tulisanmu layak dibaca 💪👍😍. Aku tunggu eps selanjutnya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!