Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 : Kasih sayang saudara
Annasya masih dengan wajah syok dan frustasi. Dua minggu, itu waktu yang sangat sebentar bahkan hanya untuk sekedar berkenalan.
Perjodohan A dan dirinya saja terjadi sudah cukup lama. Itupun , Annasya belum bisa mengakrabkan diri dengan A. Annasya tau diri, ia bukanlah wanita yang A sukai. Tapi mau bagaimana lagi, Annasya juga harus mengikuti peraturan itu.
" Kau tidak salah dengar kan, Zi." Annasya masih tidak percaya.
Azima menggeleng lemah.
" Apa sebenarnya yang terjadi ? Kenapa terburu buru seperti ini?" Annasya bingung.
Kedua bahu Azima terangkat bersamaan. Karena pertanyaan itu, ia sendiri tidak tau jawabannya.
" Kalau kata Abi, setelah tuan Ibrahim mendapatkan undangan pernikahan mu dengan mas A, beliau pun bergegas cepat. Tapi , ku rasa bukan hanya karena itu. "
Melihat bagaimana pasrah nya Azima, Annasya pun mendesah kasar.
" Kau yakin tidak ingin bertemu dengan pria itu?" Tanya Annasya kemudian.
Tatapan Azima lurus ke depan di sertai dengan gelengan kepala. " Pertanyaan mu itu sudah tiga kali aku dengar dalam beberapa hari ini."
Pasrah, putus asa dan kecewa. Perasaan campur aduk itu mendiami hati Azima yang rapuh.
Tak urung , Annasya memeluk Azima , membagi sedikit energi tersisa yang ia miliki. Karena pada dasar nya, perasaan nya pun sama. Ia pun butuh seseorang menyalurkan energi positif padanya.
" Bagaimana dengan mu dan mas A? Apa ada perkembangan?" Tanya Azima dalam pelukan Annasya.
Annasya melerai pelukan nya. " Apa yang kamu harapkan ? "
Azima memijit kepalanya, karena dari jawaban berbentuk pertanyaan itu, sudah cukup memberi tahu jika tidak ada perubahan dan tidak ada perkembangan apapun dari hubungan A dan Annasya.
" Mas A akan pulang lusa."
Annasya mengangguk.
" Apa dia sudah tau?"
" Masalah ini ? "
" Mmm.."
" Entah, tapi ku rasa, belum. Andai ia sudah mengetahui nya, ponselku tidak akan sekalem ini."
Annasya tersenyum getir, Azima masih mencoba bercanda di tengah kegundahan hati nya, dan itu yang Annasya sukai dari Azima. Meski di terjang badai sekalipun, ia akan tetap berdiri kokoh tak tergoyahkan.
Dan jiwa bertahan seperti itulah yang dia butuhkan saat ini. Annasya tau jika A tidak menyukai nya. Karena itu, ia harus punya banyak cadangan kesabaran dalam menghadapi rumitnya kehidupan rumah tangga nya nanti.
*
*
A menatap pintu kamar Azima. Cukup lama ia berdiri mematung di sana. Jam di dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Ia baru tiba dan langsung menuju kamar Azima setelah kisah perjodohan itu sampai di telinga nya.
Tangan A terasa gatal ingin mengetuk pintu . A yakin, jika penghuni kamar itu tidak bisa memejamkan mata.
Benar saja, A masih betah berdiri di sana ketika Azima membuka pintu.
Untuk sesaat, netra mereka bertemu . Saling menyelami pikiran masing masing hingga di akhir, A merentangkan tangan dan seketika itu pula, Azima masuk ke dalam pelukan A.
Kilau bening yang berusaha di redam tumpah juga. Azima menangis tanpa suara di pelukan sang kakak.
" Kenapa kamu baru datang, mas?"
" Aku minta maaf, Zi." Selain mempererat pelukan nya, hanya kata maaf pelipur lara yang mampu terucap .
Berpelukan cukup lama, Azima kini berada di dalam kamar A. Mereka duduk berdua di balkon, menatap cahaya bulan yang bersinar terang, tanpa kata tanpa suara. Keheningan itu terpecah ketika A memulai membahas seseorang yang jujur, Azima sangat ingin tau.
" Abi grandpa sangat pandai mencarikan mu calon suami." A tersenyum tipis.
" Mas megenalnya?"
" Ayyazh Moez , tentu saja. Ia salah satu pengusaha muda yang sangat sukses . Aku sudah pernah bertemu beberapa kali dengan nya."
" Apa dia baik?"
A mengangguk. " Sejauh ini, ia konsisten menjaga nama baik nya. Tanpa skandal dan tanpa wanita."
" Mungkinkah sifat nya dingin sepertimu? Terus terang, aku sulit akrab jika ia punya kulkas dalam diri nya.
A memutar bola mata jengah di sindir adik sendiri. " Buktinya, kau baru saja memeluk ku beberapa jam lalu, kalau bukan akrab, jadi apa nama nya?"
Azima mendesis bak ular yang siap mematuk A. " Aku jadi menyesal melakukan nya."
A terkekeh pelan , ia mengusap rambut adiknya yang terurai. " Aku percaya padamu. Sedingin dan sebeku apapun dia, kamu pasti bisa mencairkan nya."
Azima berdiri , ia memindai tubuh A dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan nya sinis ." Baguslah, aku akan menyuruh Asya memeluk mu setiap hari agar es batu di tubuh mu ini bisa meleleh sepenuhnya." Azima melangkah pergi.
" Hei...apa kau bilang!"
" Aku mengantuk. Bye mas A.."
Skakmat, A jadi di buat mematung seperti mumi hidup. Ia terjebak oleh ucapan nya .
Mendengar nama Annasya, ia mendesah pelan. " Apa aku bisa ? Apa aku bisa menyukai nya?" Tatapan nya kembali terfokus pada cahaya keperakan yang bersinar terang, berdiri sendiri tapi mampu memberikan cahaya di seluruh penjuru bumi.
*
*
Dubai.
Se sosok pria sedang berdiri dan menatap ke luar jendela . Dari posturnya yang hampir sama tinggi dengan atap lemari di sisi kanannya , bisa di perkirakan jika ia memiliki tinggi badan 190 cm. Berkulit putih dan terlihat sangat tampan. Struktur wajah khas arabian dengan stubble beard yang sangat memukau semakin membuatnya terlihat maskulin. Dari bahasa tubuh nya yang sedang berdiri menyilangkan kedua tangan di depan dada, sudah menampakkan aura dingin yang sangat menakutkan. Di tangan kanannya ada selembar foto . Foto wanita cantik mengenakan snelli dokter yang tersenyum manis ke arah kamera.
Fokus nya tidak lagi pada hamparan gedung gedung mewah yang hampir setiap hari ia lihat dan tidak menarik sama sekali. Kini, foto itulah yang menjadi pemenang mengalahkan beberapa lembar kertas bernilai miliyaran dirham UEA yang masih terbengkalai di atas meja menunggu bubuhan tanda tangan .
Beberapa kali ia mengusap lembut wajah di dalam foto itu. " Aku dengar, dia tidak mau bertemu dengan ku."
" Seperti yang tuan Ibrahim sampaikan , tuan. Nona Zizi menerima perjodohan tanpa syarat, termasuk ta'aruf ." Ujar seorang pria bertubuh tegap dan berwajah garang, tapi tampan.
Ia tersenyum smirk ." Aku begitu penasaran dengan kepribadian nya." Pria itu kembali mengingat saat pertama kali ia melihat Azima. Ramah, sopan, santun, menawan, berkharisma dan sangat cantik.
Seketika , ia tertawan oleh seorang dokter spesialis jantung yang saat itu sedang tidak dalam performa tercantiknya. Melainkan dalam kondisi kelelahan dan masih bisa memasang senyum manis di depan popa nya.
Ayyazh, nama pria tampan itu memilih duduk setelah puas memandangi gambar Azima. " Oiya, bagaimana persiapan ke Indonesia?"
" Sudah rampung, tuan ."
" Bagus. Jangan ada kesalahan! Kamu mengerti maksud ku, Khal?"
" Iya , tuan. Semua sudah di perhitungkan."
" Aku harus menemui calon mertuaku terlebih dahulu. Dari desas desus yang lewat dan menyapa telingaku, ayah nya bukanlah orang yang mudah di hadapi. "
" Anda benar, tuan Yazh. Tuan Zayn adalah dokter sekaligus pengusaha yang di segani. Sepak terjangnya dalam bidang kedokteran dan bisnis, berjalan beriringan tanpa satu pun yang terbengkalai. Mungkin itu salah satu yang menjadi tolak ukur hingga tuan besar Brawijaya itu sangat di takuti, tuan. "
" Ya, ku rasa itu hanya sebagian dari keunggulannya. Untuk membuktikan secara langsung, aku harus bertemu dengan nya, sekaligus meminta restu untuk pernikahan ku dengan putri nya."
Ayyazh kemudian tersenyum samar. " Azima Zanitha Brawijaya, selamat datang di kehidupan ku. "
...****************...
habisnya setiap bab ko ya dikir amat, mana nunggu up sehari berasa lama banget, eh giliran udah up baru baca dh abis🙈🙈
wah parah Malah di samain sma batu, g sekalian zi sama dindingnya 🤣