NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Romansa / Tamat
Popularitas:17.2k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."

​Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.

​Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.

​Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?

​"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

​Udara di ruang kerja Isvara mendadak terasa statis saat Adrian melangkah masuk. Tidak ada ketukan, tidak ada izin. Pria itu datang seperti badai yang siap merobohkan apa pun yang menghalangi jalannya. Aroma tembakau mahal dan parfum maskulin yang tajam segera memenuhi ruangan, mengusir aroma lili yang tenang.

​Isvara tidak bergeming dari kursi kebesarannya. Ia hanya mengangkat pandangannya dari tumpukan dokumen teknis, menatap suaminya dengan mata elang yang tidak menunjukkan setitik pun rasa gentar meskipun di dalam sana, tubuhnya masih memproses sisa-sisa pemulihan dari masa kritisnya.

​"Dua hari menghilang tanpa kabar, dan pagi ini kau bahkan tidak menginjakkan kaki di rumah?" Adrian memulai, suaranya rendah namun penuh dengan getaran kemarahan yang tertahan. Ia berdiri tepat di depan meja Isvara, tangannya bertumpu pada permukaan marmer yang dingin. "Kau pikir rumah itu hotel yang bisa kau datangi sesukamu? Atau kau merasa sudah cukup berkuasa karena baru saja menemui Papaku?"

​Isvara meletakkan pena emasnya dengan gerakan pelan, sengaja menciptakan kesan bahwa kehadiran Adrian hanyalah interupsi kecil yang tidak penting.

​"Jikapun aku tidak pulang ke rumah, itu harusnya tidak jadi masalah bagi Anda, Tuan Adrian," sahut Isvara dingin. "Rumah itu luas, dan aku yakin kau justru lebih menikmati ketenangan tanpaku di sana. Bukankah kau sendiri yang menurunkan fotoku dari dinding? Itu tandanya kau sudah menghapus kehadiranku secara simbolis."

​Wajah Adrian mengeras. "Ini bukan soal foto, Isvara! Ini soal martabat keluarga Prayudha! Apa kata staf di rumah jika melihat Nyonya mereka menghilang berhari-hari dan langsung pergi ke kantor seolah-olah dia lajang yang tidak punya kewajiban?"

​Isvara berdiri perlahan. Ia merapikan ujung blazer-nya dengan gerakan anggun, lalu melangkah keluar dari balik mejanya, mendekati Adrian hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal. Isvara mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.

​"Kewajiban?" Isvara menyeringai tipis, sebuah senyuman yang mengandung kepahitan luar biasa. "Jangan bicara soal kewajiban moral padaku. Kita berdua tahu posisi masing-masing karena satu hal: Surat Perjanjian Pra-Nikah itu. Aku terikat padamu, dan kau terikat padaku. Aku tidak akan melanggar poin apa pun yang bisa membuatku kehilangan hak profesional atas proyek-proyek ini. Tapi jangan harap kau bisa mengatur setiap embusan napas yang kuambil di luar jam kerja rumah tanggamu yang palsu itu."

​Adrian mengepalkan tangannya. Kalimat Isvara benar-benar menghantamnya. Surat perjanjian itu adalah rantai yang mereka ciptakan sendiri rantai yang memastikan Isvara tetap menjadi "istri" di mata publik, sementara Adrian tetap menjadi "pemilik" sah atas segala aset, kecuali firma desain Isvara yang berdiri secara independen.

​"Jangan pernah merasa besar kepala hanya karena kau merasa aku membutuhkanmu, Isvara," desis Adrian.

​"Aku tidak merasa besar kepala. Aku hanya merasa... lelah," jawab Isvara pelan, nyaris berbisik, namun segera ia ubah kembali menjadi nada otoriter. "Sekarang, berhentilah membuang waktu. Tim teknis dan operasional Prayudha Group sudah menunggu di ruang rapat utama. Proyek Bali yang sangat kau banggakan itu butuh realisasi, bukan drama rumah tangga."

​Mereka berjalan beriringan menuju ruang rapat utama. Meskipun di dalam hati mereka saling ingin menghancurkan, di depan para staf, mereka adalah pasangan kekuasaan yang sempurna. Isvara berjalan dengan dagu tegak, sementara Adrian memancarkan aura dominasi yang tak tertandingi.

​Di dalam ruangan yang dikelilingi dinding kaca kedap suara tersebut, para petinggi Prayudha Group sudah duduk rapi. Isvara mengambil tempat di kursi utama sebagai Desainer Utama, sementara Adrian duduk di ujung meja sebagai CEO.

​Rapat berlangsung dengan tensi tinggi. Isvara membedah setiap langkah realisasi proyek Grand Prayudha Resort Bali. Namun, ada satu poin yang membuat suasana mendadak hening.

​"Mengenai seremoni peletakan batu pertama di lokasi minggu depan," ujar salah satu direktur operasional. "Kami sangat berharap Pak Adrian dan Ibu Isvara bisa hadir untuk memberikan restu secara langsung di lokasi."

​Isvara melirik sekilas ke arah agenda digitalnya, lalu beralih menatap Adrian yang ternyata juga sedang menatapnya.

​"Sayangnya, kemungkinan besar kami berdua tidak bisa hadir secara langsung di Bali," ucap Isvara dengan nada profesional yang mantap. "Kebetulan, dua hari lagi adalah Rapat Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Prayudha Group. Agenda itu jauh lebih krusial dan membutuhkan kehadiran fisik kami berdua sebagai perwakilan pemegang kepentingan."

​Adrian mengangguk, menyetujui pernyataan Isvara. "Benar. Rapat pemegang saham tahun ini akan menentukan arah investasi kita lima tahun ke depan. Peletakan batu pertama akan diwakili oleh tim manajemen senior. Isvara dan saya akan memantau melalui transmisi digital."

​Isvara merasakan perutnya mendadak mulas saat menyebut RUPST. Ia tahu persis apa yang menunggunya dua hari lagi. Rapat pemegang saham bukan sekadar soal laporan laba rugi; bagi Isvara, itu adalah medan perang. Seluruh keluarga besar Adrian, termasuk kerabat-kerabat yang lebih kejam dari Arini dan Mama Wina, akan hadir di sana.

​Ia harus menyiapkan mentalnya dengan sangat baik. Serangan terhadap asal-usulnya, sindiran tentang ayahnya, dan upaya untuk menjatuhkan kredibilitasnya sebagai desainer utama pasti akan diluncurkan secara terang-terangan di depan para investor. Isvara harus tampil sebagai tameng bagi firma desainnya sendiri, sekaligus menjaga martabat "Nyonya Kalandra" yang dipaksakan padanya.

​Selama satu jam berikutnya, Isvara terus memimpin presentasi dengan sangat detail. Ia menjelaskan koordinasi vendor, spesifikasi material, hingga mitigasi risiko lingkungan. Ia adalah mesin yang bekerja tanpa cela. Adrian, yang biasanya selalu mencari kesalahan Isvara, kali ini hanya bisa diam dan mendengarkan. Ia tidak bisa membantah bahwa istrinya adalah jenius di bidang ini.

​Namun, di tengah-tengah penjelasan Isvara tentang sistem drainase resort, Adrian tiba-tiba berdiri. Gerakannya yang mendadak membuat beberapa staf terkejut.

​"Lanjutkan detailnya dengan tim teknis, Isvara," ucap Adrian tanpa menoleh. "Aku punya urusan mendadak yang harus kuselesaikan sekarang. Kirimkan laporan akhirnya ke mejaku sore ini."

​Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari Isvara, Adrian melangkah keluar dari ruang rapat. Pintu otomatis tertutup di belakangnya dengan suara desis yang tajam, meninggalkan Isvara di tengah ruangan yang kini dipenuhi tatapan bingung para staf.

​Isvara terdiam sejenak, tangannya meremas ujung meja marmer hingga buku jarinya memutih. Ia tahu ini adalah cara Adrian untuk menunjukkan kekuasaan untuk mengingatkan Isvara bahwa meskipun dia adalah otak di balik desain ini, Adrian-lah yang memegang kendali atas ruang dan waktu.

​"Mari kita lanjutkan," ucap Isvara, suaranya tetap stabil meskipun hatinya bergemuruh. "Jangan biarkan gangguan kecil menghambat fokus kita. Kembali ke poin ketiga, mengenai instalasi pencahayaan lobi..."

​Isvara terus bicara, memimpin rapat dengan kekuatan penuh, meskipun di dalam kepalanya, ia mulai menghitung waktu menuju RUPST dua hari lagi. Sebuah pertemuan di mana ia akan dikelilingi oleh serigala-serigala yang lapar akan kehancurannya. Isvara harus tetap berdiri tegak, karena jika ia jatuh sekali saja, tidak akan ada tangan Adrian yang akan menangkapnya.

1
rika mutalib
Adrian atau Andra
Nadira ST
judul agendanya bikin darting dan tegang belom apa2 udah mikir berat banget konsepnya💪💪💪
"C"
bagusss
Ma Em
Season 2 jgn buat hdp Isvara celaka dan menderita lagi buat Isvara jadi wanita kuat dan hebat .
blcak areng: udah up ya kak di season 2
total 2 replies
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
ren_iren
wajib baca ya gaes, gk usah nanya kenapa pokoknya wajib baca... rekomend dech 🤗🤗
blcak areng: mksh KAK 😍😍😍
total 1 replies
ren_iren
tak tunggu pokoknya 🤗
blcak areng: udah up ya kak di season 2
total 1 replies
Oma Gavin
ngga sabar nunggu sessions 2
blcak areng: udah up ya kak di season 2
total 1 replies
Ma Em
Semoga Isvara bisa sembuh dari penyakitnya dan sehat kembali .
"C"
akhirnya alurnya ga stuck
yumi chan
good jod thor dn bt klusga andra hncur jg gmbl thor..
Siska Amelia
harusnya kan Andra bukan Gavin ya yang ngomong begitu
Ma Em
Duh sdh tdk sabar menunggu kehancuran Andra dan keluarganya .
Siska Amelia
keren lanjut thor
lin sya
bner apa kata davin, jdilah suami dan pria yg tau diri dan peka jgn mikirin ego sendiri, mna ada istri yg lapang dada klo suaminya perhatian kan isvara gk ada hubungan darah mskipun lo anggap adik angkat, jgn serakah dewa, klo misalnya clara jdi jahat itu krn lo, mau jdi duda🤭, isvara aj rumah tangganya ngegantung, tp mnding sm gavin dripd sm dewa dan andra mkin sekarat isvara nya/Smile/
Ma Em
Jangan sampai Andra bisa menemukan Isvara biarkan Andra dan keluarga Prayuda sadar dan merasakan hdp nya susah setelah ditinggal Isvara .
lin sya
syukurlah isvara berada ditmpt yg sehat brsama org yg tepat sprti gavin , seengaknya kondisinya gak menurun, klo berada dilingkungan toxic , jantungnya mkin memburuk krn tekanan , emg enak andra , ada orgnya diskitin gk ada orgnya menyesal berasa kehilangan , cinta tp nyakitin
Ma Em
Makanya keluarga Prayuda Jgn sombong sok jadi penguasa orang kaya tdk menghargai kerja keras Isvara malah selalu dihina dan direndahkan dan dianggap parasit yg numpang tenar hdp enak , sekarang rasakan sama kalian setelah Isvara pergi pasti perusahaan yg kalian bangga2 kan akan gulung tikar setelah Isvara pergi .
Wd Helena
karya yang bagus, nice
Brown choco
Keren banget emang ceritanya, meskioun alir nya lambat buast isvara kelaur dari kelurga toxic itu, tapi ceritanya emang layak buat ditunggu
Crazy up nya ditunggu thor, pengennya isvara bisa balik keadaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!