Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 11
Pintu yang terbuka paksa itu masih bergoyang pelan.
Suara langkah kaki terdengar jelas.
Berat.
Tenang.
Namun cukup untuk membuat tubuh Liora… membeku.
Ia berdiri di tengah ruang.
Matanya langsung membesar. Napasnya tertahan.
Dan saat sosok itu muncul dari bayangan—
Saga.
Berdiri di ambang pintu, dengan jas hitamnya yang rapi, wajah tanpa ekspresi, mata gelap yang langsung menemukan Liora.
Seolah sejak awal—
targetnya hanya satu. Liora membeku. Tubuhnya kaku.
Matanya semakin membesar.Napasnya tercekat di tenggorokan.
“Kamu…” suaranya hampir tidak terdengar
Saga berhenti beberapa meter darinya. Matanya langsung mengunci Liora.
Tanpa emosi.
Tanpa ragu.
Seolah memang sudah tahu… gadis itu akan ada di sini.
“Permainanmu sudah selesai,” ucapnya datar.
Deg.
Tubuh Liora terasa lemas. Namun sebelum ia sempat bergerak—
“Liora?!”
Suara itu datang dari atas tangga.
Selena.
Ia berdiri di sana, wajahnya panik saat melihat siapa yang datang.
Matanya langsung berpindah ke Liora.
“Lari!” teriaknya.
Satu kata. Cepat.
Tegas. sekaligus panik dan khawatir.
Namun—
“Coba saja.”
Suara Saga memotong.
Dingin. Mematikan.
Tangannya terangkat.
Sebuah senjata sudah berada di genggamannya, mengarah… tepat ke Selena.
Ruangan langsung sunyi. Mencekam.
“Aku tidak akan ragu,” lanjutnya pelan.
Mata Liora membesar.
“Jangan!” teriaknya.
Tangannya gemetar. Tubuhnya langsung bergerak maju.
“Jangan sakitin dia! Ini bukan urusannya!”
Saga tidak menjawab. Tatapannya tetap dingin. Seolah nyawa seseorang… tidak berarti apa-apa.
Selena menatap Liora.
Matanya penuh ketakutan, tapi juga… tekad.
“Liora, kita harus lari sekarang!” bisiknya cepat.
Tanpa menunggu—
ia turun cepat, menarik tangan Liora.
“Sel, jangan—”
Namun Selena sudah menariknya. Membawa Liora berlari menuju pintu belakang.
Langkah mereka cepat.
Panik. Harapan terakhir untuk selamat..
Dan di belakang—
Saga tidak bergerak. Hanya mengangkat senjatanya sedikit.
Menarik napas pelan.
Lalu—
Dor
Dor
DUA LETUSAN TERDENGAR.
Suara itu menggema di seluruh ruangan villa.
Liora langsung berhenti melangkah .Tubuhnya kaku.
Perlahan…
ia menoleh.
Selena...yang tadi menarik tangannya—
tiba-tiba kini sudah terlepas. Tubuh gadis itu jatuh di lantai dengan darah mengalir di tubuhnya.
Diam.
Tak bergerak.
“Sel…?” suara Liora nyaris tak terdengar. Dunianya seperti berhenti.
Ia menatap.
Tidak percaya. Kakinya gemetar saat mendekat.
“Selena… bangun…” tangannya menyentuh bahu gadis itu, gemetar.
Tidak ada respon. tubuh selena tak bergerak sama sekali.
Sunyi.
Terlalu sunyi.
Air matanya jatuh.
“SELENA NO!!”Teriakan itu pecah.
Penuh rasa sakit. Penuh penolakan.
Orang yang menolongnya…
yang memberinya harapan… hilang tepat di depan matanya.
Tangannya mengepal. Tubuhnya bergetar hebat.
Perlahan…
ia berdiri.
Berbalik. Matanya merah. Penuh amarah.
Saga masih berdiri di tempatnya.
Tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Dan itu—
membuat sesuatu dalam diri Liora… hancur.
“KAMU JAHAT!” teriaknya.
Ia berlari ke arah Saga. Memukul dada pria itu.
Sekuat tenaga. Berulang kali.
“KENAPA HAH?! DIA GAK SALAH APA-APA!!”
Tangannya memukul. terus memukuli saga.
Mendorong.
Air matanya jatuh tanpa henti. “AKU BENCI KAMU BRENGSEK!!”
Saga tidak menahan. Tidak membalas.
Ia hanya menatap Liora.
Dingin. Seolah semua itu… tidak menyentuhnya sedikit pun.
Setelah beberapa saat—
tangannya menangkap pergelangan Liora. Menghentikan pukulan itu dengan mudah.
“Sudah?” tanyanya datar.
Liora menatapnya.
Hancur.
Penuh benci. Namun juga… tidak berdaya.
“Monster…” bisiknya serak.
Saga tidak menjawab.Ia langsung mengangkat tubuh Liora. Menggendongnya paksa.
“LEPASIN AKU!!” Liora meronta.
Menangis. Memukul lagi. Namun kali ini lebih lemah.
Tenaganya sudah habis.
Hatinya… hancur. Kenapa ia harus terjebak dalam kehidupan saga.
Di luar—
puluhan pria berpakaian hitam sudah berjaga.
Mengelilingi villa. Siap siaga. Tidak memberi celah sedikit pun.
Pintu terbuka.
Saga berjalan keluar membawa Liora yang terus berontak.
Seolah membawa sesuatu yang memang sudah menjadi miliknya.
Sementara di dalam—
ruangan itu kembali sunyi. Menyisakan jejak dari sebuah pelarian…
yang harus dibayar mahal.
Dan di dalam pelukan Saga—
Liora masih menangis.
Namun kali ini..bukan hanya karena takut.
Tapi karena kehilangan.
Sesuatu dalam dirinya. benar-benar telah mati.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.........................