Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.
Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.
Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.
Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.
Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Singgasana Emas dan Darah Seorang Pengkhianat
Bab 28: Singgasana Emas dan Darah Seorang Pengkhianat
Pasir arena yang meleleh menjadi kaca cair memantulkan cahaya pedang api di tangan Bara. Panasnya begitu intens hingga udara di sekitar Bara berdistorsi, menciptakan fatamorgana yang membuat sosoknya terlihat seperti dewa yang turun dari lukisan kuno.
Chimera itu, meski buta dan terluka parah, masih mencoba bangkit. Insting binatangnya menolak untuk mati. Ekor ularnya mendesis, mencari target.
"Kau makhluk yang menyedihkan," gumam Bara, matanya menyala emas. "Diciptakan dari penderitaan, mati dalam penderitaan. Biarkan aku mengakhirinya."
Bara mengangkat pedang plasmanya tinggi-tinggi. Api putih memadat, memanjang hingga sepuluh meter menembus langit-langit arena.
"Sembilan Langkah Surya: Langkah Keempat - Belah Langit (Sky Splitter)."
Bara mengayunkan pedangnya ke bawah dalam satu gerakan vertikal yang bersih.
ZRRRT.
Tidak ada suara ledakan. Hanya suara mendesis pelan seperti air menetes ke wajan panas.
Tubuh raksasa Chimera itu terbelah dua dari kepala hingga ekor dengan presisi sempurna. Lukanya langsung tertutup hangus (cauterized), sehingga tidak ada setetes pun darah yang tumpah.
Kedua potongan tubuh monster itu ambruk ke kiri dan kanan. Mati seketika.
Hening.
Lima puluh ribu penonton di Colosseum menahan napas. Mereka tidak pernah melihat teknik sebersih itu. Itu bukan pembunuhan. Itu adalah seni.
Bara tidak melihat bangkai monster itu. Dia mendongak. Mata emasnya terkunci pada satu target di tribun VIP.
Ki Rangga Agnimara.
"Rangga!" suara Bara, diperkuat Prana, meledak di seluruh stadion, menggetarkan kaca-kaca di tribun VIP. "Kau mengirim monster untuk melawanku? Kau menghina leluhur kita!"
Bara menekuk lututnya. Tanah kaca di bawahnya retak jaring laba-laba.
BOOM!
Bara melompat.
Dia tidak lari ke gerbang keluar. Dia terbang vertikal setinggi lima puluh meter, langsung menuju kotak VIP Kaisar.
"PENJAGA! LINDUNGI KAISAR!" teriak Jenderal Wirabumi yang berdiri di samping singgasana, mencabut tombak hitamnya.
Puluhan penyihir istana yang bersiaga di pinggir tribun segera mengaktifkan Tabir Pelindung Kristal. Sebuah kubah energi biru transparan menyelimuti seluruh area VIP.
"Penghalang sampah," desis Bara di udara.
Dia tidak berhenti. Dia memutar tubuhnya, menghantamkan tumit api ke kubah pelindung itu.
KRAK! PRANG!
Tabir sihir tingkat tinggi itu hancur berantakan seperti kaca jendela dilempar batu bata.
Bara mendarat dengan dentuman keras tepat di tengah meja perjamuan VIP. Makanan, anggur, dan piring emas berhamburan. Para bangsawan dan menteri lari tunggang-langgang, menjerit ketakutan, kain sutra mereka basah oleh tumpahan anggur dan air seni mereka sendiri.
Hanya dua orang yang tidak lari.
Ki Rangga, yang jatuh terduduk di lantai dengan wajah pucat pasi, kakinya gemetar hebat.
Dan Kaisar Brawijaya VIII, yang masih duduk tenang di singgasananya, menyesap anggur seolah tidak ada apa-apa, bahkan tidak berkedip saat pecahan kristal jatuh di dekat kakinya.
Bara mengabaikan Kaisar. Dia berjalan menuju Ki Rangga. Pedang apinya sudah hilang, digantikan oleh tangan kosong yang mencengkeram leher Rangga.
Dia mengangkat Tetua Agnimara itu ke udara dengan satu tangan.
"B-Bara... tunggu... kita bisa bicara..." racau Ki Rangga, kakinya menendang-nendang udara. Wajahnya membiru. "Aku... aku pamanmu! Kita satu darah!"
"Darah?" Bara tertawa sinis, suaranya dingin. "Kau baru ingat darah saat nyawamu di ujung tanduk? Di mana ingatan soal darah itu saat kau mengirim pembunuh ke asrama adik-adikmu? Saat kau menjualku ke penjara ini?"
Tangan Bara memanas. Leher Ki Rangga mulai melepuh. Bau daging terbakar tercium, membuat mual para bangsawan yang bersembunyi di balik pilar.
"BERHENTI!"
Sebuah gelombang tekanan spiritual yang mahadahsyat (Conqueror's Haki) meledak dari arah singgasana.
Lantai marmer retak. Bara merasakan lututnya goyah sejenak, paru-parunya sesak seolah oksigen di ruangan itu hilang. Tapi dia menolak untuk berlutut. Dia menoleh ke arah Kaisar.
Kaisar Brawijaya VIII berdiri. Dia membuka tirai tipis yang menutupi wajahnya.
Wajahnya... awet muda. Terlalu muda untuk seseorang yang sudah memerintah 50 tahun. Rambutnya putih panjang, tapi kulitnya kencang. Matanya berwarna ungu gelap—tanda garis keturunan Dewa Wisnu.
"Lepaskan dia, Anak Muda," titah Kaisar. Suaranya tidak keras, tapi bergema langsung di dalam otak Bara, memaksa kepatuhan. "Dia anjingku. Kalau dia nakal, aku yang akan memukulnya. Bukan kau."
"Anjingmu ini sudah menggigit terlalu banyak orang tak bersalah," balas Bara tajam, tidak melepaskan cengkeramannya sedikitpun.
Jenderal Wirabumi bergerak maju, tombaknya terarah ke jantung Bara. Tapi Kaisar mengangkat tangan, menahannya.
"Kau menarik, Raden Bara," Kaisar berjalan turun dari podium, mendekati Bara tanpa rasa takut sedikitpun. "Kau punya api ayahmu. Dan kau punya keras kepala ibumu."
Bara menyipitkan mata. "Kau tahu siapa aku. Dan kau membiarkan semua ini terjadi."
"Tentu saja. Karena Aku Kaisar. "Aku membiarkan Rangga bermain-main denganmu karena aku ingin melihat... apakah Benih Wijaya layak untuk diselamatkan."
"Diselamatkan?" Bara mendengus. "Aku tidak butuh keselamatan dari pembunuh ayahku."
"Oh ya? Kau pikir kau bisa keluar dari sini hidup-hidup setelah membunuh Tetua Catur Wangsa di depan umum?" Kaisar menunjuk ke sekeliling arena. "Ada sepuluh ribu prajurit Elang Hitam di luar sana. Kau mungkin kuat, tapi kau akan kehabisan tenaga sebelum sampai di gerbang kota."
Kaisar berhenti satu langkah di depan Bara.
"Tapi aku bisa memberimu pilihan lain. Bergabunglah denganku. Jadilah Jenderal Kelima. Gantikan posisi anjing tua yang tidak berguna ini."
Ki Rangga membelalak kaget, matanya hampir keluar. "Baginda?! Hamba setia pada Baginda!"
"Diam, Rangga. Kau gagal membunuh bocah ingusan selama 17 tahun. Kau tidak berguna," kata Kaisar dingin tanpa menoleh.
Bara menatap Kaisar. Tawaran itu... kekuasaan, perlindungan, status. Semua yang dia butuhkan untuk hidup aman.
Tapi Bara melihat mata Kaisar. Mata itu kosong. Ambisius. Mata seorang tiran yang melihat manusia hanya sebagai alat catur.
Bara tersenyum miring.
"Tawaran yang bagus."
Bara melemparkan tubuh Ki Rangga ke kaki Kaisar. Rangga terbatuk-batuk, bersujud mencium kaki Kaisar.
"Tapi aku menolak," kata Bara tegas.
Wajah Kaisar berubah datar. Senyumnya hilang. "Kenapa?"
"Karena aku bukan anjing. Dan aku tidak sudi melayani orang yang membiarkan pembantaian terjadi hanya untuk 'ujian kelayakan'."
Suasana menjadi berat. Niat membunuh Kaisar mulai bocor, membuat udara di tribun VIP terasa seberat timah.
"Sayang sekali," desah Kaisar. "Wirabumi. Bunuh dia."
Jenderal Wirabumi bergerak secepat kilat. Tombak hitamnya menusuk jantung Bara. Gerakannya tidak terlihat oleh mata biasa.
Tapi sebelum tombak itu sampai...
BOOM! BOOM! BOOM!
Serangkaian ledakan terjadi di sekeliling arena. Lantai pasir di bawah meledak ke atas. Asap tebal berwarna ungu memenuhi seluruh stadion.
Itu bukan asap biasa. Itu asap bercampur serbuk sari Bunga Tidur racikan Kirana.
Di tengah kekacauan itu, sebuah kait besi meluncur dari atap tribun, menyambar pinggang Bara.
"Mas Bara! Pegangan!" suara Jaka terdengar dari atas.
Bara mendongak. Di atap stadion yang bolong, Jaka, Kirana, dan Anjani sedang menarik tali kerek mesin derek konstruksi.
"Kalian..." Bara tersenyum lega.
"Jangan biarkan dia lari!" teriak Wirabumi, hendak melompat mengejar.
Tapi tiba-tiba, lantai di bawah kaki Wirabumi dan Kaisar runtuh. Pondasi tribun VIP telah diledakkan dari bawah tanah oleh Anjani (menggunakan denah pipa air yang diberikan Drupadi).
"Brengsek!" Wirabumi terpaksa berhenti mengejar untuk menangkap Kaisar agar tidak jatuh ke reruntuhan.
Bara ditarik ke atas dengan cepat. Dia bergelantungan di tali, menatap Kaisar yang melayang di udara (terbang dengan sihir levitasi) di tengah debu reruntuhan.
Bara mengacungkan jari tengahnya.
"Sampai jumpa lagi, Paman Kaisar! Jaga lehermu!"
Dengan itu, Bara dan tim penyelamatnya melompat ke sisi luar dinding stadion, meluncur turun menggunakan jubah layang (Glider) seadanya, menuju labirin Distrik Merah yang padat.
[Epilog Bab 28: Di Balik Bayangan]
Satu jam kemudian. Istana dalam keadaan darurat militer. Sirene meraung di seluruh kota.
Kaisar Brawijaya VIII berdiri di balkon istananya yang rusak, menatap kota yang berasap. Dia tidak terlihat marah. Dia justru tertawa kecil.
"Menarik... sangat menarik."
"Baginda," Wirabumi berlutut di belakangnya, penuh debu. "Hamba gagal menangkapnya. Pasukan sedang menyisir kota. Kami akan menutup semua gerbang."
"Biarkan dia lari, Wirabumi."
"Apa? Tapi dia ancaman! Dia baru saja menghancurkan simbol kekuasaan Baginda!"
"Tidak. Dia adalah Katalis," mata Kaisar bersinar ungu. "Perdamaian semu ini sudah terlalu lama. Catur Wangsa sudah terlalu gemuk dan malas. Kita butuh api untuk membakar lemak-lemak itu."
Kaisar berbalik, menatap Wirabumi.
"Biarkan Bara Wirasena membangun pasukannya. Biarkan dia mengira dia punya harapan. Saat dia mencapai puncaknya... saat apinya paling terang... saat itulah aku akan memadamkannya dan mengambil Inti Garuda yang matang darinya."
Kaisar memegang dadanya. Di sana, di balik jubah emasnya, ada sebuah segel gelap yang berdenyut menyakitkan, merambati kulitnya seperti akar hitam.
"Waktuku hampir habis... aku butuh wadah baru yang kuat. Dan Bara... dia sempurna."
Glosarium & Catatan Kaki Bab 28
Tabir Pelindung Kristal: Sihir pertahanan standar VVIP. Hancurnya tabir ini menunjukkan level kekuatan Bara (Step 4) sudah setara dengan penyihir istana tingkat tinggi, meskipun durasinya singkat.
Jenderal Kelima: Tawaran politis. Mengangkat musuh menjadi teman adalah taktik klasik untuk meredam pemberontakan sekaligus mengawasi ancaman dari dekat.
Katalis & Wadah: Motif asli Kaisar mulai terkuak. Dia tidak membunuh Bara bukan karena belas kasihan, tapi karena dia "menumbuhkan" Bara untuk dipanen nantinya (sebagai wadah tubuh baru).