Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.
Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.
Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?
ikuti kisahnya dalam bab berikut ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
BOOM!
Api dari Phoenix Api meledak ke langit, menembus kabut salju, sehingga menciptakan lingkaran panas di tengah dunia yang membeku. Salju berhenti berjatuhan, dan udara serasa telah terbelah antara panas api dan salju yang turun.
"Wilayah es atau neraka," suara Ling Xi dingin dan tegas. "Semua iblis pasti akan terbakar oleh api kebenaran."
"Xi'er, walaupun kau membakar Iblis Es itu, tapi tetap saja itu tidak akan sepenuhnya hancur. Sedangkan Iblis itu akan hancur dengan kekuatan es itu sendiri," ucap Lian.
Tak lama setelah Lian mengucap itu, tiba-tiba dari langit muncul suara yang seharusnya belum terbangun.
HUAANG... HUAANG...
Salju berhenti berjatuhan, lalu melayang ke udara.
Langit pun berubah menjadi kebiruan. Formasi array yang diciptakan Paman Yun pun pecah.
Lalu di atas langit terlihat seekor burung yang seharusnya belum terbangun saat ini.
Mereka semua terkejut. Termasuk iblis es.
"T-tidak-tidak mungkin..." matanya membulat menatap ke arah langit.
Seekor burung pun mengeluarkan sebuah cahaya dan
WUSSHHH
"Tidakk...kk..."
KRAAKK
Terlambat menyadari, akhirnya iblis es itu beku oleh es suci milik seekor burung.
Ya, burung itu... Phoenix Es... Yang sekarang tengah di cari Ling Xi dan rombongannya.
"Hancurkan..." ucap Phoenix Es.
BOOM...
Tubuh Iblis Es hancur tak tersisa.
Manusia boneka yang tadi dirasuki oleh iblis, sepenuhnya telah sadar. Dan mereka tidak mengingat apa yang terjadi... Mereka pun merasa linglung, dan seperti ada memori yang hilang.
"Para warga semuanya, kembalilah ke rumah kalian masing-masing. Dan beristirahatlah dengan nyaman," ucap Ling Xi pada warga Desa Qingshui.
"Baiklah, nona, tuan. Kami permisi."
Para warga pun pergi meninggalkan Ling Xi, Paman Yun, Lian dan Bai Hu.
Burung Phoenix Es pun berbicara, "Pemegang takdir... Kenapa kau membawa api suci ke tanahku?"
Ling Xi melangkah maju satu langkah, menatap Phoenix Es itu tanpa gentar.
"Aku tidak membawa untuk membakar," jawabnya pelan. "Aku hanya membawanya untuk menghangatkan tubuhku agar bisa menemuimu."
"Ling Xi... datanglah ke puncak Gunung Xueyuan."
Setelah memberitahu hal itu, Phoenix Es langsung menghilang di kesunyian malam.
Bai Hu menatap Ling Xi dengan mata penuh arti. "Dia telah memanggilmu."
Ling Xi menghela napas pelan, dadanya bergetar oleh rasa yang sulit dijelaskan.
"Ya," jawabnya. "Dan ujiannya pasti tidak akan mudah seperti yang kita bayangkan."
Lian pun memecahkan keheningan. "Sebaiknya kita kembali ke penginapan. Malam sudah semakin larut."
Mereka semua pun mengangguk.
...****************...
Pagi pun belum benar-benar tiba, tetapi Ling Xi dan rombongannya sudah keluar dari penginapan.
Saat ini mereka tengah menuju Gunung Xueyuan. Salju masih menutupi segalanya, dan suara angin terdengar seperti suara bisikan yang tak pernah padam.
Mereka pun tiba di kaki gunung.
"Mulai dari sini," ucap Lian pelan. "Hanya Xi'er yang boleh melanjutkan."
Ling Xi mengangguk. Kali ini, ia tidak lagi ragu.
Api suci dalam tubuhnya pun meredup sepenuhnya, seolah memahami bahwa Gunung Xueyuan bukanlah wilayahnya.
Ling Xi melangkah sendirian.
Ketika mendaki Gunung Xueyuan, ia merasa seperti diawasi oleh sesuatu. Namun, ia menepis hal itu, karena tidak ingin mencari tahu apa yang sedang mengawasi itu.
Dari kejauhan, tampak siluet dua orang, yang satu, ia mengenakan pakaian putih dengan bordir warna emas, seolah membuktikan keagungannya. Dan di sebelah kirinya, pengawal setianya menggunakan bajunya berwarna hitam dan dengan pedang di pinggangnya.
"Semoga kau bisa melewatinya... sayangku," ucapnya.
Sedangkan pengawalnya, ia menghembuskan napas, seolah lelah mendengar kata yang sama.
"Yang mulia, sudah membicarakan itu ketika kita di Gunung Yanhuo."
"Diamlah. Kau tidak tahu apa yang kurasakan. Aku hanya ingin menyemangati permaisuriku."
Sang pengawal memutarkan bola matanya, seolah malas.