Seorang siswa yang terlambat ke sekolah berpindah ke dunia lain bersama dengan dua orang yang tak dikenalnya, setelah mereka ditabrak truk secara tidak sengaja.
Menurut suara misterius yang mereka dengar saat baru sampai di dunia itu, mereka harus menyelamatkan dunia itu dari kekacauan.
Kehidupan mereka berubah sejak mereka bertemu dengan seorang lelaki yang mengaku sebagai orang terkuat di dunia itu dan mereka belajar tentang keabadian dari orang itu.
Ikuti perjalanan mereka di dunia yang tak terduga, penuh darah, pertarungan, dan pengkhianatan itu.
[1 chapter untuk satu hari, dimohon bersabar...
Ada beberapa adegan garing, kalo gk lucu dimohon jangan ketawa...
Apabila terdapat kesamaan nama orang, lokasi, ataupun jurus, mohon maaf karena itu adalah ketidaksengajaan, beberapa disengaja ;)
Original story by Slitherio/Rio Andriana]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Slitherio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Serangan
“Jadi, bagaimana Divine Root barumu?” Tanya seseorang, yang membuat Ray langsung terbangun.
Di depannya saat ini adalah seseorang pria dengan jubah hitam. Ia adalah Kuro.
“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku memiliki Divine Root baru?” Tanya Ray balik.
“Dua temanmu sudah menceritakan tentang empat Divine Root yang dulu kau miliki...” Jawab Kuro, “Dan sebelum kau sadar, kau sudah disambar petir sebanyak empat kali dan tak sadarkan diri selama hampir seharian...”
Seharian? Bagaimana bisa selama itu? Batin Ray.
“Kami tahu kalau dua dari empat petir yang menyambar itu adalah petir untuk menguji siapa yang ingin menjadi praktisi World Foundation. Dan aku ingin bertanya sesuatu...” Kuro lalu berdeham.
“Tunggu, kenapa aku serasa seperti diinterogasi?” tanya Ray dengan panik. Ia lalu menatap ke sekelilingnya.
Shirao sedang duduk di sebelah Agus dan Mira, memperhatikan Kuro yang berbicara dengannya.
“Bagaimana rasanya disambar empat petir bergantian?” tanya Shirao.
Sebelum Ray menjawab, suara berisik terdengar dan sekelompok orang yang lebih tinggi praktiknya dari Ray, Agus, dan Mira muncul.
“Oh, sebuah kesempatan bisa menghabisi White Sword dari Aliran Putih...” salah seorang yang praktiknya cukup tinggi menyapa dengan nada meremehkan.
“Apa maksudmu?” Shirao berdiri. Ia tahu kalau yang dimaksud White Sword adalah dirinya.
“Kami hanya akan menghabisi bibit unggul Aliran Putih, tidak lebih. Karena selanjutnya...” orang itu berhenti berbicara sambil menatap Shirao dengan senyuman lebar yang mengerikan.
Karena Shirao merupakan praktisi jenius Aliran Putih sekitar dua generasi sebelumnya, praktisi yang sebelumnya membentuk Heaven World, ditambah dirinya adalah murid dari Zien sang Sword Emperor membuat Shirao sering diincar oleh Aliran Hitam.
Praktisi yang membentuk Heaven World sering menjadi incaran musuh karena dua alasan. Yaitu praktisi yang mencapai Heaven World akan menjadi praktisi terkuat di generasinya dan bisa menjadi ancaman bagi musuh sekte asalnya.
Shirao menarik pedangnya, ia bisa memperkirakan kekuatan lawannya. Yaitu di tingkatan Soul Rebirth Early Stage.
Untuk menghabisinya, akan sedikit sulit karena berada di tingkatan yang berbeda. Kalau hanya memojokkan, Shirao bisa saja dengan bayaran luka dalam.
Ray menarik pedangnya dan menepuk pundak Shirao, “Aku akan membantu....”
Agus mengeluarkan Golden Staff dari Dimentional Ring dan Mira memilih menyimpan Wyrmslayer.
Dalam bertarung kelompok seperti ini, sabit kadang bisa membahayakan rekan kelompok sendiri selain membahayakan lawan karena jarak jangkauannya yang luas, mungkin melebihi tombak.
Kuro dan Mira memasang posisi dan tepat setelah lawan Shirao memerintahkan untuk menyerang, kelompok yang mengepung mereka langsung menyerang.
Shirao dan Ray melesat menuju tempat praktisi Soul Rebirth itu berdiri dan mereka langsung mengeroyoknya.
Shirao menusukkan pedangnya dan lawannya menghindar dengan senyuman lebar, “Lambat...”
Setelah Shirao gagal menusukkan pedangnya, Ray muncul dan menebas lengan lawannya, tetapi tidak berhasil.
Keduanya melompat mundur dan Ray berbisik, “Sulit...”
Shirao hanya mendengar saja sambil menatap ke sekitarnya. Agus dan Kuro bisa dibilang paling banyak mengalahkan lawan mereka.
Shirao paham kenapa Kuro tak menghabisi lawannya karena lawannya saat ini berasal dari Aliran Hitam dan Kuro ragu untuk menghabisi rekan satu alirannya.
Sedangkan Mira, ia hanya mengandalkan pukulannya yang cukup untuk membuat tulang praktisi Mortal World patah atau hancur.
Situasi sedikit menguntungkan lawan karena Kuro hanya mengalahkan tapi tidak menghabisi lawannya hanya karena ia ragu.
Lawan Agus kebanyakan mati dengan kepala tidak utuh atau tubuh yang luka karena ayunan tongkatnya yang cukup mengerikan.
Di saat Agus merasa kalau ia bisa menghadapi lawannya, Shirao dan Ray tak mampu memojokkan lawannya.
***
Menurut perhitungan Shirao, ada sekitar 20 praktisi Mortal World serta tiga praktisi Spirit Forging dan satu praktisi Soul Rebirth yang menyerang mereka.
Shirao menebak kalau alasan mereka bisa tahu lokasi mereka ialah karena Ray yang berlatih sampai langit menurunkan empat petir dan mungkin saja mereka langsung bergerak ke lokasi mereka.
“Shirao, kita harus mundur dulu!” Ray berkata dengan nada keras.
Shirao menggeleng sambil menunjuk lawannya dengan pedangnya, “Apa kau lihat lawan kita? Dia bahkan tidak memberi kita kesempatan mundur...”
Sebenarnya, Ray merasa kalau saat ini ia masih belum bisa mengalahkan praktisi Soul Rebirth, bahkan dengan bantuan praktisi Spirit Forging seperti Shirao sekalipun.
Tetapi, tekadnya masih ada dan ia akan mengalahkan semua orang yang menghalangi jalannya untuk pulang.
Ray berdecak lalu ia berteriak keras sambil ia mengalirkan Mana elemen petir ke pedangnya.
Pedangnya yang awalnya berwarna hitam pekat berubah menjadi warna biru gelap karena Ray mengalirkan Mana elemen petir. Pedangnya lalu diselimuti petir berwarna biru.
Ray melesat dan kali ini ia tidak menghiraukan apakah Shirao ikut maju atau tidak.
Lawannya hanya tersenyum lebar dan ia menahan pedang Ray dan saat itulah lawannya menyadari kalau Ray sedikit bertambah kuat.
Tubuh lawannya bergerak mundur sambil menahan pedang Ray yang didorong dengan kuat oleh Ray sendiri.
Tangan lawannya juga berubah warna menjadi merah karena ia mulai mengalirkan Mana untuk menahan pedang Ray yang diselimuti petir.
Petir yang ada di pedang Ray bergerak menuju tangan lawannya dan memberikan luka yang cukup dalam di pergelangan tangannya.
Ray melompat mundur dan ia melepas petirnya lalu ia mengalirkan Mana elemen api dan kembali melesat sambil mengayunkan pedangnya.
Shirao tidak tinggal diam. Ia mengalirkan Mana elemen angin dan ia lalu berseru, “Wind Cutter!”
Shirao menebaskan pedangnya dan gelombang tak kasat mata bergerak menuju lawannya dengan kecepatan tinggi.
Pendengaran Ray sedikit meningkat setelah menjalani latihan berat yang dilakukan oleh dua gurunya di Pulau Giok Putih dan ia bisa mendengar gesekan antara gelombang serangan yang dibuat oleh Shirao dan juga udara biasa.
Ray menghindar dan ia secara tak sengaja melihat gelombang yang dilepaskan Shirao dan ia takkan menyia-nyiakan kesempatan dimana lawannya sedang mengejarnya.
Tubuh lawannya dan gelombang buatan Shirao bertemu lalu mementalkan lawannya ke pohon yang ada di dekat sana. Pohon itu langsung patah karena dihantam tubuh kuat praktisi Soul Rebirth dan menimpanya.
Ray dan Shirao tidak membuang kesempatan untuk kabur sehingga Ray dan Shirao bergerak menuju tiga temannya untuk mengajak mereka pergi.
Tiga teman mereka langsung menghabisi lawan yang bisa mereka habisi sebelum melesat pergi, meninggalkan praktisi Soul Rebirth yang tertimpa pohon dan lebih 15 praktisi yang gugur disana.