DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gembok nasib yang terkunci
## BAB 6 - Gembok Nasib yang Terkunci
Perlahan tapi pasti, motor yang dikendarai Rahmat semakin mendekati sumber cahaya misterius tersebut. Begitu jarak kian dekat, barulah terlihat jelas bahwa cahaya jingga itu berasal dari sebuah rumah kayu tua yang berdiri menyendiri di pinggiran hutan, letaknya benar-benar terasing dan jauh dari pemukiman warga desa.
Kondisi bangunan itu tampak sangat memprihatinkan. Atapnya sudah lapuk dimakan usia, sementara dinding-dinding kayunya berwarna hitam legam akibat hantaman cuaca, angin, dan hujan selama bertahun-tahun. Cahaya jingga kemerahan yang mereka lihat dari kejauhan tadi ternyata bersumber dari sebuah lampu minyak tua yang digantung di langit-langit teras. Pola apinya tampak bergoyang-goyang gelisah, menari-nari ditiup hembusan angin malam yang dingin.
Suasana di sekitar tempat itu sunyi senyap, terasa begitu mencekam. Bahkan, serangga malam yang biasanya bising pun seolah-olah tidak berani bersuara di sekitar rumah tua tersebut. Keheningan yang tidak wajar ini seketika membuat Rahmat dan Ratna dilanda keraguan besar. Mereka saling melempar pandang, ragu apakah benar-benar ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah sekuno itu.
Rahmat memutar kunci kontak dan mematikan mesin motornya. Detik itu juga, keheningan malam seketika menyelimuti mereka berdua, terasa begitu pekat dan menekan dada. Ratna langsung turun dari jok motor dengan sepasang kaki yang gemetar hebat. Tangannya meremas ujung jaketnya sendiri erat-erat, mencoba mencari sedikit rasa aman yang mustahil ditemukan di tempat itu.
"Mas... Ini bener rumah Simbah?" bisik Ratna dengan suara lirih yang nyaris tak terdengar, terbawa angin malam. Matanya sama sekali tidak lepas menatap lurus ke arah rumah tua yang tampak sangat angker di hadapan mereka.
Rahmat menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa begitu kering. Rasa takut di dalam dirinya sebenarnya makin membesar, merayap naik dari tengkuknya. Namun, ego dan bayangan kemiskinan membuat Rahmat berusaha keras menutupinya di depan sang istri.
"Iya, benar. Iki alamaté rumah Simbah (Ini alamat rumah Simbah). Ayo!" sahut Rahmat, mencoba terdengar tegas meski ada getaran tipis dalam suaranya saat ia melangkah memimpin jalan.
Tok... tok... tok...
"Kula nuwun... Mbah? Simbah?" ucap Rahmat dengan suara agak bergetar, sembari memberanikan diri mengetuk pintu rumah tua yang tampak rapuh itu.
Setelah ketukan itu, sejenak suasana kembali hening seketika. Tidak ada jawaban, tidak ada pula suara langkah kaki dari dalam rumah. Hanya ada suara desir angin malam yang berembus pelan, menerpa dedaunan di sekitar hutan dan menyisakan hawa dingin yang kian mencekam.
Namun, entah dari mana datangnya dan sejak kapan berdirinya, tiba-tiba sesosok orang sudah berada di belakang mereka. Kepekatan malam dan hawa mistis tempat itu seolah benar-benar menyembunyikan kehadirannya sejak awal.
"Monggo... Ternyata kalian toh yang datang," sahut Simbah pelan, disusul suara tertawa kecil yang terdengar serak dan dingin di indra pendengaran mereka.
Sontak, Rahmat dan Ratna terlonjak kaget setengah mati. Jantung mereka serasa mau copot melihat kemunculan Simbah yang begitu tiba-tiba tanpa ada suara langkah kaki sama sekali di atas tanah kering itu.
"Thole, Nduk... Ayo kita masuk. Gak baik bicara di luar malam-malam begini," ujar Simbah dengan suara seraknya, sambil memutar tubuh lalu mendorong daun pintu kayu rumahnya.
Krieeek...
Suara engsel pintu yang berkarat berderit ngilu memecah kesunyian. Bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut, seketika bau harum bunga kamboja yang menusuk hidung bercampur pekatnya aroma asap kemenyan menyeruak hebat dari dalam rumah, seolah-olah hawa magis di ruangan itu sudah lama terperangkap dan memaksa keluar. Wangi yang begitu menyengat itu langsung membuat dada Ratna terasa sesak.
Rahmat dan Ratna seketika terpaku sejenak di ambang pintu. Langkah kaki mereka mendadak berat untuk bergerak. Sebelum benar-benar mengambil keputusan untuk melangkah masuk, sepasang mata mereka dengan cepat menyapu ke setiap sudut ruangan di dalam rumah itu, mencoba menerka-nerka bahaya apa lagi yang sedang bersembunyi di balik kegelapan di dalam sana.
Di atas sebuah altar kecil yang terletak tepat di bagian tengah ruangan, berjejer rapi perlengkapan mistis yang seketika membuat darah di sekujur tubuh mereka berdesir hebat. Di sana terdapat sebuah cawan tanah liat berisi rendaman bunga tujuh rupa yang kelopaknya masih tampak segar. Di sampingnya, kepulan asap tebal membubung dari pembakaran dupa, menyebarkan aroma pekat yang menyesakkan dada.
Tak jauh dari cawan itu, tergeletak sebuah keris kecil yang seluruh sarungnya terbalut kain kuning kusam yang sudah bernoda. Namun, yang paling membuat detak jantung Ratna dan Rahmat seolah berhenti adalah tumpukan tulang belulang di sudut altar yang tidak jelas asal-usulnya—entah itu milik hewan liar hasil buruan, atau justru potongan kerangka manusia yang sengaja dikeringkan untuk ritual gaib.
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti ruangan pengap itu. Mbah Cahyo menutup pintu kayu yang berat itu dengan sangat perlahan. Detik ketika daun pintu itu merapat, mereka sadar bahwa jalan keluar telah tertutup, memisahkan mereka sepenuhnya dari dunia luar. Suara engsel yang berderit nyaring di akhir narasinya terdengar seperti bunyi gembok gaib yang mengunci nasib mereka berdua di dalam rumah itu untuk selamanya.
Mbah Cahyo berjalan perlahan mendekati altar. Sementara itu, dengan tubuh yang kaku, Rahmat dan Ratna hanya bisa duduk pasrah di atas alas seadanya yang terbuat dari anyaman daun pandan tepat di depan altar mistis tersebut. Punggung bungkuk Mbah Cahyo sempat menghadap mereka sejenak, sibuk dengan sesuatu di atas meja altar, sebelum akhirnya pria tua itu berbalik secara perlahan.
Ketika wajah tua itu kembali menghadap mereka, sebuah senyuman terukir di bibirnya. Namun kali ini, senyum itu tidak lagi menyembunyikan apa-apa—sebuah senyuman yang teramat dingin, haus, dan memancarkan aura kekuasaan mutlak yang seketika mencengkeram akal sehat Rahmat dan Ratna.
Bersambung
jangan lupa like back ke ceritaku 😁