NovelToon NovelToon
Pernikahan Perawan Tua

Pernikahan Perawan Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Berondong
Popularitas:30.3k
Nilai: 5
Nama Author: Franciarie

"Pantesan jadi perawan tua, kaku banget, sih!"

Komentar senada sudah menjadi makanan harian Prita. Tapi, Prita nggak punya energi lebih untuk membalas kata-kata jahat itu. Pada akhirnya, Prita selalu diam dan memahami bahwa memang kenyataan sepahit ini. Di usianya yang sudah 35 tahun, pernikahan masih terasa jauh dari bayangan. Jangankan menikah, pacar pun Prita nggak punya.

Tapi, permintaan ayahnya yang sedang sakit kanker, membuat Prita mulai memikirkan pernikahan. Haruskah dia menikah dengan sembarang orang demi melihat sang ayah bahagia di detik-detik terakhir hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franciarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemburu yang Tak Seharusnya

Pagi ini, sebelum matahari benar-benar tinggi dan penghuni rumahku belum benar-benar terbangun, suara bel terdengar dari luar. Aku yang baru berniat memasak sarapan mengernyit, heran siapa yang datang sepagi ini.

Cia yang terbangun karena suara bel keluar kamar dengan rambut acak-acakan. "Aku aja, Mbak," katanya sambil melangkah lesu ke ruang tamu.

Aku melanjutkan niatku yang tertunda. Kubuka kulkas dan mengambil brokoli yang semalam baru aku beli di supermarket bersama Leo.

"Mas Leo!" seru Cia begitu membuka pintu, membuat aku langsung berbalik.

Nama itu baru mampir ke pikiranku. Tapi, kenapa dia sudah muncul di depan rumahku?

Aku buru-buru menghampiri Cia, memastikan yang datang benar-benar Leo. Mataku membuka lebar dengan tangan menggenggam brokoli.

Leo berdiri dengan senyum lebar, mengenakan kaus hitam dan celana jeans biru tua. Wajahnya terlihat segar, tapi ada sedikit ketegangan di matanya. Dia membawa kotak kecil dan sekantong plastik putih yang belakangan aku tahu berisi roti hangat dan satu botol besar susu murni.

"Aku buka, ya, Mas." Cia langsung berlari masuk begitu mendapatkan izin mencicipi roti dari Leo. Nggak lama, aku mendengar dia menggedor pintu kamar Tama. "Mas Tama, bangun! Nanti telat lagi kayak kemarin."

"Pagi, Mbak Prita," sapa Leo sambil melambaikan tangan. Senyumnya lebar, tapi seperti untuk menutupi kegelisahannya sendiri. "Maaf ganggu pagi-pagi banget. Aku cuma mau pamit. Hari ini dan besok aku harus ke Bogor. Ada meeting penting sama investor dan sekalian presentasi project baru."

Aku mengangguk singkat. "Oke. Hati-hati, ya."

Leo menatapku sejenak, seolah menunggu sesuatu yang lebih dari sekadar 'oke'. Tapi, aku cuma memaksakan senyum tipis. Entah kenapa rasanya seperti ada jarak yang mengembang di antara kami.

"Dua hari doang, kok. Aku tetap kabarin. Tapi, kayaknya nggak bisa jemput Mbak Prita dulu, ya." Leo menghapus hening di antara kami.

"Iya, nggak apa-apa," jawabku singkat. "Aku bisa bawa mobil sendiri. Dulu juga sering ke mana-mana sendiri, kan?"

Leo mengangguk, meski jelas kecewa karena responsku terlalu datar. Cia menyelamatkan suasana dengan bertanya apakah oleh-oleh dari Bogor nanti bisa boneka atau brownies. Leo tertawa dan menjanjikan akan membawa sesuatu yang spesial.

Setelah Leo pergi, pagi berjalan seperti biasa. Aku sibuk memasak untuk sarapan adik-adikku, lalu bersiap ke kantor. Tapi, begitu keluar rumah, rasanya ada yang ganjil. Biasanya aku bertemu dia di depan pagar, mendengar lelucon paginya, atau melihat senyum menyebalkannya yang entah kenapa membuatku nyaman.

Siang hari, dia tetap mengirimi pesan.

Leo : Makan yang bener ya, Mbak Prita.

Kali ini, dia nggak mengirim makanan atau camilan apa pun, benar-benar cuma pesan singkat yang agak terlambat. Pasti dia sedang sibuk banget.

Menjelang malam, Leo masih menghubungiku lewat pesan singkat.

Leo : Hari ini banyak kerjaan nggak? Jangan lupa istirahat.

Aku membalas seadanya. Tapi, begitu merebahkan diri di kasur, aku gelisah. Rasanya lelah banget, tapi bukan karena alasan pekerjaan. Hari ini agak santai dan aku bisa menyelesaikan semua pekerjaanku dengan baik tanpa kesalahan sama sekali.

Suasana kantor juga lebih tenang, meski sesekali aku masih bertemu dengan karyawan yang mengomentari kehidupanku seenaknya. Harusnya, ini sudah nggak jadi masalah buatku karena biasa terjadi sejak dulu. Tapi, tetap saja rasanya ada yang kurang.

Aku menyadari hariku jadi lebih sepi. Saat aku menyadari kalau biasanya ada satu orang yang muncul setiap pagi dan sore, dan sekarang nggak ada, rasanya jadi ... kosong.

Aku cepat-cepat mengalihkan pikiran. Aneh! Ini cuma karena terbiasa, bukan karena aku ... merindukannya, kan? Nggak mungkin aku kangen sama Leo, kan?

Hari selanjutnya pun datang dengan lebih padat. Ayah akan pulang dari rumah sakit dan aku harus sedikit lembur untuk membereskan laporan akhir bulan.

Aku tetap menyempatkan waktu ke rumah sakit sebelum ke kantor untuk bantu Ibu membereskan administrasi. Dokter bilang kondisi Ayah sudah cukup stabil. Sel kanker di paru-parunya merespons baik terhadap kemoterapi. Selama masa pemulihan di rumah akan diawasi dengan obat dan makanan bergizi.

"Tapi, jangan terlalu banyak bicara, Pak," ucap Ibu mengingatkan. "Apalagi sampai stres karena mikirin yang berat-berat."

Ayah hanya tersenyum dan menggenggam tangan Ibu. "Mulai sekarang, Ayah nggak mungkin stres lagi, Bu." Ayah melirikku dengan senyum tipis.

Di kantor, aku mencoba tenggelam dalam kerja. Tapi, saat istirahat makan siang, aku iseng membuka Instagram Leo. Aku jarang melihat profilnya, tapi entah kenapa hari ini aku penasaran.

Foto terbaru langsung menyambutku. Leo duduk di sofa ruang kerja modern dengan laptop terbuka di depannya bersama lima orang lain. Di sampingnya, seorang wanita berambut panjang, mengenakan blazer krem, duduk dengan pose kasual. Wanita itu tersenyum tipis. Nggak ada yang aneh dari foto dengan caption "Great minds think together." itu. Tapi, aku nggak suka.

Aku terpaku pada satu sosok. Siapa cewek itu?

Aku memang bukan siapa-siapa Leo. Tapi, melihat dia duduk sedekat itu dengan wanita lain, apalagi terlihat akrab, membuat perutku terasa nggak nyaman. Dadaku panas dan kesal membungkusnya cepat.

Saat membuka akun wanita itu, aku langsung menutupnya lagi. Jumlah pengikutnya setengah juta lebih. Kulitnya putih, wajahnya imut, usianya jelas lebih cocok dengan Leo. Mereka terlihat ... cocok, jauh lebih cocok daripada aku dan Leo.

Aku langsung mematikan ponsel dan membenamkan wajah di telapak tangan.

"Kenapa, Ta?" Mbak Chiki berdiri menatapku bingung.

Aku membuang napas panjang, lalu bersandar di kursi. "Nggak apa-apa, Mbak." Aku berusaha menutupi kegelisahan yang muncul mendadak ini.

"Dari kemarin, gue lihat nggak ada semangat sama sekali lo." Mbak Chiki mengangkat tangan kanannya, lalu menjatuhkannya dengan dramatis. "Ini baru tanggal muda, Ta."

"Biasalah, Mbak. Mana ada hidup gue tenang, sih?" Aku mencoba biasa saja dan melupakan kalau Mbak Chiki punya mata tajam yang bisa menembus isi pikiranku.

"Leo, ya?" tebaknya cepat dan tepat. Senyumnya tipis, tapi jelas mengandung arti dalam.

"Kenapa jadi Leo, sih?" protesku.

"Dia masih ke luar kota? Ke mana itu?"

"Bogor." Aku duduk tegak, lalu mengambil pulpen. Kucoret kertas kosong di meja, seakan aku masih sibuk menyelesaikan pekerjaan.

"Tuh, kan. Lo kangen." Mbak Chiki menghampiri mejaku dengan cepat, lalu duduk di depanku. "Lo mikirin Leo dari tadi, ya?"

Aku buru-buru mendongak. "Enggak."

"Terus, kenapa wajah lo kayak habis ditinggal nikah?" Mbak Chiki menaik-turunkan kedua alisnya dengan senyum tertahan.

Aku nggak menjawab. Tapi, Mbak Chiki cuma tertawa dan menggeleng. "Udahlah, Ta! Nggak usah ngeles. Lo kangen."

Nggak mungkin aku kangen sama Leo!

Sore harinya, aku berpapasan dengan Raditya di lorong menuju pantry. Dia sedang mengantar dokumen dan hanya menyapa singkat.

"Sore, Bu Prita," sapa Raditya dengan ramah dan hangat, seperti dulu saat kami nggak ada masalah apa pun. "Semoga harinya menyenangkan."

Aku tersenyum. "Amin. Makasih, Pak Raditya."

Itu saja. Nggak ada basa-basi, nggak ada tatapan dalam seperti biasanya. Anehnya ... aku lega, tapi juga sedih.

Ada sesuatu berubah. Tapi, ini bukan tentang Raditya. Hatiku berubah dan ini berhubungan dengan ... Leo.

Saat aku pulang, rumah sudah lebih ramai. Ayah duduk di kursi malas dengan senyum lebar, sementara Tante Maya sedang membantu Ibu menyiapkan makan malam. Cia dan Tama berebut puding, seakan makanan itu baru pertama kali mereka temui.

"Mbak Prita!" Cia langsung menghampiri aku yang masih berdiri di pintu depan. "Tante Maya bawain banyak makanan! Ada puding cokelat juga!"

Aku tersenyum dan menyalami Tante Maya. "Jangan langsung dihabisin, ya. Belum makan nasi, kan?"

Seperti biasa, Tante Maya tetap modis dengan rambut pendek tertata rapi dan make up tipis yang membuat wajahnya tampak segar dan muda. Suaranya ceria menyambutku. "Gimana kantor hari ini? Capek banget, ya?" tanyanya.

"Lumayan, Tante. Tapi, Ayah udah pulang, jadi lega. Ilang capeknya." Aku memandang Ayah dengan senyum lega, terutama setelah melihat Ayah jauh lebih segar dari sebelum masuk rumah sakit bulan lalu.

Kami menikmati makan malam bersama. Suasananya hangat. Cia bercerita soal tugas sekolah, sedangkan Tama sesekali menyebut soal teman-temannya. Ibu sesekali mengomel saat Tama tanpa sadar membocorkan kenakalannya di sekolah. Tante Maya lebih banyak tertawa mendengar semua obrolan. Ayah hanya tersenyum menikmati semuanya. Tapi, aku masih merasa ada yang hilang walau suasana ini menyenangkan.

Hingga pintu pagar terbuka dan menimbulkan derit yang mengagetkan.

Cia buru-buru menuju depan, melihat siapa yang datang. Dia memang paling bersemangat menyambut tamu, seolah ada orang yang memang dia nantikan kedatangannya setiap saat. "Mas Leo datang!" seru Cia girang dari ruang tamu.

Aku langsung menoleh dan berdiri. Leo masuk ke ruang tamu, tampak sedikit lelah, tapi tetap menawan dengan kemeja putih dan jeans. Matanya langsung tertuju padaku. Saat pandangan kami bertemu, ada sesuatu yang aneh dalam dadaku.

Leo menyalami semua orang, lalu duduk di samping Tante Maya.

"Leo baru banget dateng dari Bogor?" tanya Ibu, lalu meletakkan gelas kosong di depan Leo.

Leo mengangguk sopan dan menyodorkan gelas ke Tante Maya. Dengan cekatan, Tante Maya mengisi gelas itu dengan air putih. "Iya, Tante. Langsung ke sini soalnya Mami bilang mau makan bareng di sini."

Ayah tertawa. "Bagus dong. Rumah ini memang harus ramai."

"Ya, udah. Makan dulu. Ini Mami kamu repot-repot bawa banyak makanan ke sini, kayak ada pesta aja." Ibu memberikan piring kosong ke Leo, tapi kali ini Tante Maya yang menerima. Piring itu sudah berisi makanan dalam sekejap sebelum Tante Maya memberikannya pada Leo.

Aku hanya duduk diam, tapi sesekali mencuri pandang ke arah Leo yang duduk di depanku. Dia terlihat gelisah. Tangannya menggenggam sendok, tapi jarang menyentuh makanan. Aku tahu dia ingin bicara, tapi menahan diri.

Hingga akhirnya semua sudah selesai makan, Ayah duduk bersandar dengan napas tenang. Wajahnya lebih cerah walau masih terlihat lemah.

"Om Sono." Suara Leo terdengar mantap. "Saya mau ngomong sesuatu."

Semua langsung menoleh. Suasana seketika berubah lebih tenang, serius, dan tegang.

"Saya serius suka sama Mbak Prita. Saya tahu kami beda usia dan mungkin kelihatannya aneh. Tapi, saya benar-benar ingin menjaga dia. Jadi, ... saya minta izin untuk melamar Mbak Prita."

Suasana langsung hening. Tante Maya satu-satunya orang yang tersenyum bangga. Tangannya mengusap lengan Leo, tapi Leo justru memandangku dalam.

Aku hanya menatap Leo. Mulutku terkunci rapat. Dunia seketika jadi terlalu sunyi untuk jantungku yang kini berdetak terlalu keras.

1
Shofia Hadi
tinggalin aja udah dari pada makan hati
Nurjannah Rajja
Iya ada orang yg suka banget bohong, ngutang juga alasannya bohong...tapi kok hidupnya tenang aja ya. Herann...
mimief
elah..otot
kalau lelah istirahat tinggalin
kalau mau bertahan,hajar orangnya. omongin ke leo apa yg mau dan ga mau
buat aku ga masuk diotak ku
yg mau nya sat set 🤣
mimief
mestinya Leo belajar jgn bawa kerjaan kerumah
rumah.. rumah
kerjaan yg ditempat kerja
dan..buat si mba ini. hati hati kadang temen curhat buka celah buat selingkuh
dan yg kau perbuat itu lebih parah dari dira
tutiana
gimana klo mba prita belajar sedikit2 ttg gaming,,, biar ga insecure terus2an
mimief
kau tau..apa yg lebih menyakitkan dari pada omongan,luka fisik yg ditimbulkan dr orang lain.
bukan.. bukan itu semua
yg paling menyakitkan adalah...kita tidak m
bisa memenuhi ekspektasi kita sendiri
itu sebabnya, berdamai lah sama diri sendiri
jangan tekan diri sendiri terlalu keras
ayooo...mulai sayangi diri sendiri
mimief
yah begitulah romantis nya berumah tangga
tapi prit...
kau juga harus belajar bisa mempertahankan diri
orang bertindak sesuai kita bertindak
hargai diri kita terlebih dahulu,MK orang akan segan kepada kita
ga perlu lah kita merasa rendah diri
kalau kita memandang diri kita rendah
maka orang lain akan mudah merendahkan kita
kapanpun, dimana pun
mimief
hiss mami omongan nya nyentil ginjal aku🤣🤣
mimief
wkwkwkwk
kok mami tau si
ihhh aku fans nya mami deh
mimief
ayolah prit
ga perlu kyk gitu banget
setiap orang punya passion masing-masing
kl mang Leo naksir Dira,udah lama mereka jadian
kan gak...
capr capein aj mikir yg gak gak
sryharty
Leo ini bener2 aneh,dulu aja ngejar2 Prita dan dia dulu yg mati2an bantu keluarga Prita
kenapa sekarang jadi berubah yah
apa gara2 ada cinta lama yg bakalan bersemi kembali bersama Dira
dan saat itu kamu bakalan menyesal leo
Franciarie: Anu, sejak sebelum nikah Dira juga udah ada. Itu Dira hadir di pernikahan Prita dan Leo, kok. Kira-kira kenapa Leo jadi berubah, yok? 🤭🤭🤭
total 1 replies
Siti Rofiatin
ceritanya bagus
Franciarie: Terima kasih, Kak ❤
total 1 replies
tutiana
susah kali jd mba prita ini,,,
kalo krisis kepercayaan diri melanda,,, auto nething terus bawaannya
tutiana: kan jd sakit sendiri ya Thor
total 2 replies
tutiana
astaga Thor jd nangis terus ini😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭😭😭
tutiana
😭😭😭😭😭
tutiana
cerita mba prita ini membuat aq menangis di banyak bab 😭
tutiana
keep strong buat semua anak pertama,,,
wiwik
Jangan pesimis dong mbk Prit..Dira sm Leo cuma cocok d dunia bisnis klo prcintaan mbk Prita juara'y..smangatt yaaaa
wiwik
Ayo up Kak..makin pnasaran 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!