Kisah cinta dua orang insan yaitu seorang pria irit bicara dan tampan/ sang pemilik perusahaan terbesar nomor satu dengan seorang sekertaris cantik yang memiliki sifat manja.
"Asisten Han, apakah kamu menemukan wanita yang ku cari selama ini?" Tanya Bian.
"Belum, Tuan Bian," Sahut Han.
"Yasudah, keluar lah. Satu lagi, selalu cari informasi tetang wanita itu sampai dapat," Kata Bian.
"Baik, Tuan," Sahut Bian.
Dukung ceritanya ya!
HAPPY READING...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Fitrianingsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Masuk Kerja
Keesokan harinya, Bian mengadakan meeting dengan karyawannya, diruang meeting kantor BYW. Di ruangan itu, seluruh anggota meeting sudah berkumpul. Ia pun memulai meeting nya.
"Selamat pagi semua!" Bian menyapa. Semua orang yang didalam ruangan itu menjawab dengan sopan.
"Pagi hari ini, seperti bulan-bulan sebelumnya. Kita akan membahas tentang pemasukan pada bulan lalu karena ini sudah awal bulan," Tutur Bian.
"Saya mengambil alih dari Tn. Bian," Ucap Han.
"Sekarang, perwakilan bagian keuangan silahkan mempresentasikan hasil pemasukan bulan lalu!" Perintah Han.
"Baik, Pak," Sahut salah satu karyawan bagian keuangan. Ia pun berdiri di depan kursinya.
"Laba yang kita dapat dalam bulan lalu meningkat 20% dari bulan sebelumnya....," Dia menceritakan pemasukan, pengeluaran bahkan hambatan sehingga hanya mendapatkan 20% keuntungan dalam satu bulan.
Bian mendengarkan dengan hening. Ia paham yang dijelaskan oleh salah satu karyawan bagian keuangan.
"Sekian yang dapat saya laporkan, Pak," Lanjutnya.
"Silahkan duduk kembali!" Perintah Han.
"Bagaimana cara agar Laba perusahaan lebih meningkat dari sulan lalu? Ada yang bisa memberi pendapat, masukan atau kritikan?" Tanya Han pada seluruh karyawan yang mengikuti meeting.
"Menurut saya, perusahaan kita harus bisa meningkatkan pengelolaan tambang lebih baik lagi, menghasilkan emas yang bisa menarik perhatian konsumen dan harganya mahal saat dipasarkan," Tutur Salah satu karyawan bagian pengembangan.
"Dan harus bisa menarik banyak konsumen untuk membeli properti yang telah perusahaan kita ciptakan. Selain itu, mencari tahu kekurangan dari barang yang ciptakan dan membuat desain promosi yang lebih menarik lagi agar Laba yang kita dapat semakin meningkat," Sambungnya.
"Ide dan masukan mu sangat menarik. Aku sangat suka," Ucap Han.
"Terimakasih," Ucap salah satu karyawan bagian pengembangan.
"Tn. Bian. Bagaimana menurut anda, apakah bisa anda terima masukan tadi?" Han bertanya pada Bian. Tetapi, tidak ada respon dari Bian.
Semua orang yang ada di ruangan itu melihat kearah Bian.
"Tn. Bian," Han memanggil lagi.
"Eh, iya," Bian baru tersadar dengan lamunannya.
"Pasti Tuan Bian lagi memikirkan sesuatu. Raganya ada di ruangan ini tetapi jiwa dan pikirannya entah kemana-mana," Batin Han.
"Yasudah. Cukup sekian meeting kita hari ini. Dilain waktu kita bicarakan lagi," Tutur Bian.
"Sekarang kalian sudah bisa bubar!" Sambungnya.
"Baik, Pak," Ucap salah satu Karyawan. Sedangkan karyawan yang lainnya mengangguk paham.
Satu per satu, para karyawan yang mengikuti meeting keluar dari ruangan itu. Tersisa lah Bian dan Han yang masih duduk di kursi mereka.
"Tuan Bian. Anda kenapa? Sepertinya Anda tadi tidak fokus meeting," Tanya Han.
"Ya seperti itu lah, Han," Sahut Bian. Ia memijat pelipisnya.
"Apa yang mengganggu pikiran Anda, Tuan Bian? Tidak biasanya Anda tidak fokus saat sedang meeting," Tanya Han lagi.
"Aku sedang memikirkan keadaan Zena. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya, tetapi hasilnya nihil," Sahut Bian seraya memejamkan matanya dan bersandar di kepala kursi.
"Tidak biasanya Anda kepikiran tentang perempuan," Ucap Han.
"Entah lah, aku juga tidak tahu. Di hati ku, Zena itu sosok perempuan yang berbeda dari perempuan lainnya. Dan kamu juga tahu, kalau Zena lah yang telah menyelamatkanku waktu dulu dan dia juga yang bisa ku sentuh dan dia juga yang bisa menyentuhku tanpa membuat penyakit ku kambuh," Tutur Bian. Ia berbicara serius pada Han.
"Mungkin Anda sedang jatuh cinta, Tuan," Celetuk Han.
"Sepertinya begitu," Sahut Bian.
"Aku sangat nyaman saat berada didekatnya," Sambungnya.
"Yasudah. Perjuangkan cinta Anda pada nona Zena!" Perintah Han.
"Aku bisa saja memperjuangkannya. Tetapi, dia belum tentu cinta padaku. Dan aku takut, saat dia tahu kalau penyakit ku ini bukan penyakit sembarangan. Walaupun waktu kami di kota Bali, Zena sudah melihat penyakit ku. Namun aku belum cerita padanya kalau penyakit ku ini kambuh jika disentuh oleh perempuan," Tutur Bian.
"Sabar, Tuan Bian. Tuhan tidak akan memberi cobaan yang tidak bisa diselesaikan oleh hambanya. Tuhan memberikan cobaan pada hambanya sesuai kemampuan hambanya itu sendiri," Ucap Han.
"Yakinlah, suatu hari kebahagiaan akan datang pada mu,Tuan," Sambungnya. Ia menyemangati Bian.
"Aamiin," Sahut Bian.
"Yasudah, aku mau pergi kerumah Zena dulu. Kamu handle dulu pekerjaan hari ini!" Ucap Bian.
"Siap, Tuan Bian," Sahut Han.
"Hati-hati dijalan," Sambungnya.
Bian mengangguk, lalu ia meninggalkan ruangan meeting.
*****
Beberapa menit, Bian sampai ke kediaman keluarga Bagaskara.
'Ting tong, ting tong'
Bian memencet Bel rumah Zena. Tidak butuh lama, pembantu rumah tangga keluarga Bagaskara keluar membukakan pintu.
"Ada apa, Mas?" Tanya asisten rumah tangga itu. Yaitu Inem.
"Bi, nama saya Bian, saya ingin melihat Zena," Sahut Bian.
"Oooh, Den Bian Bosnya Non Zena toh. Silahkan masuk Den Bian!" Tutur Inem.
"Terimakasih, Bi," Sahut Bian.
"Oh iya, Bi. Tante Ninda dimana?" Tanya Bian.
"Oooh, sedang ada dikamar Non Zena. Den Bian langsung kesana saja," Sahut Inem.
"Iya, Bi," Ucap Bian. ia pun masuk kedalam rumah dan menuju kamar Zena.
Satu hari yang lalu, Inem baru pulang dari kampung halamannya. Dan saat sudah sampai kerumah Keluarga Bagaskara, Inem sudah diberi tahu oleh Ninda bahwa jika ada Bian yang datang kerumah disuruh masuk saja.
*****
Sesampai didepan kamar Zena, Bian mengetuk pintu kamar itu.
"Masuk!" Ucap Ninda dari dalam kamar.
Bian pun membuka pintu kamar Zena.
"Eh, Nak Bian," Ucap Ninda. Ia pun tersenyum.
"Siang Tante," Ucap Bian. Ia salim tangan Ninda.
"Tante, Ini buah untuk Zena," Ucap Bian setelah selesai salim tangan Ninda.
"Terimakasih, Nak Bian," Sahut Ninda.
"Yasudah. Kalian saya tinggal ke dapur dulu ya! Mau mengupas buah ini dulu," Ucap Ninda. Padahal ia ingin memberi peluang agar Bian dan Zena bisa berbicara lebih leluasa.
"Baik, Tante," Sahut Bian seraya tersenyum.
Ninda pun keluar kamar Zena dengan membawa bingkisan yang berisi buah-buahan.
"Aku boleh duduk?"Bian bertanya pada Zena.
"Ya duduk saja," Sahut Zena. Ia sudah bersandar kepala ranjang.
Bian pun duduk di kursi samping ranjang milik Zena.
"Bagaimana keadaan kamu? Apakah sudah mendingan?" Tanya Bian.
"Sudah kok," Sahut Zena.
"Hmm, maaf ya. Karena aku, kamu jadi sakit begini," Tutur Bian.
"Tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah. Tapi, aku yang salah," Sahut Zena.
"Kenapa kamu makan dan minum sebarangan begitu? Kamu pasti sudah tahu kan, kalau kamu tidak bisa makan dan minum minuman sebarangan," Ucap Bian.
"Karena aku suka. Apalagi es krim, aku sangat menyukainya. Jadi, aku makan saja banyak-banyak. Karena kalau dirumah selalu dilarang. Jadi waktu di Bali, aku manfaatin untuk makan es krim banyak," Sahut Zena dengan entengnya.
"Kamu tahu itu bisa membahayakan kesehatan mu, kan?" Tanya Bian.
"Iya Tahu," Sahut Zena tanpa ada rasa bersalah.
'Tuk'
Bian menyentil dahi Zena.
"Iiih, apaan sih," Ucap Zena kesal. Ia mengelus dahinya.
"Itu hukuman untuk orang yang tidak bisa menahan selera dan tidak perduli dengan kesehatan," Ucap Bian.
"Bukannya kamu senang kalau aku sakit. Jadinya, kamu tidak perlu melihatku terus, dan tidak perlu mendengar ocehan ku," Ucap Zena.
"Mau aku sentil lagi?" Tanya Bian. Karena ia tidak suka dengan ucapan Zena.
"Iya-iya, Maaf," Ucap Zena.
*
*
*
*
*
Like, coment, vote :)
Bersambung...
maap ya thor bukan mau menggurui cuma sebagai pembaca jujur agak terganggu sedikit dengan cara penulisannya. tapi buat ceritanya mah menarik kok thor👍 semangat!!