Galaxy Adhitama, cowok manja dan posesif, membangun rumah tangga dengan sahabatnya sendiri—Davina Brawijaya, perempuan penyabar dengan hati selembut salju dan kesabaran setebal kamus.
Awalnya, pernikahan mereka terlihat manis dan harmonis. Tapi semuanya mulai berubah sejak Galaxy mengenal Athar Diaskara, CEO muda tempat Davina bekerja.
Athar yang terlihat tengil, royal, dan ugal-ugalan, ternyata menyimpan rasa pada Davina. Hal itu membuat Galaxy makin cemas dan terus dihantui rasa takut kehilangan.
Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan rumah tangga mereka?
Atau justru rasa cemburu yang akan menghancurkannya perlahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanzila mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 [make peace]
Pukul 20.00 malam.
Kamar mereka gelap, hanya diterangi cahaya samar dari layar televisi yang sesekali berkedip mengikuti adegan. Suasana tenang, ditemani suara pelan dari drama yang sedang mereka tonton.
Davina duduk bersandar di kepala ranjang, kakinya diselimuti sampai ke perut. Sementara Galaxy, berbaring dengan kepala di atas paha Davina. memeluk tangan Davina seperti guling hangat yang paling ia rindukan.
Mereka tertawa bersama, menikmati jalan cerita yang menghibur. Namun di tengah tawa itu, Galaxy perlahan mencoba bicara.
"Sayang," panggilnya sembari menatap wajah istrinya yang diterangi cahaya redup dari layar.
"Hmm?" jawab Davina, masih fokus menonton sambil melirik sekilas wajah suaminya.
"Sebenarnya..." ucap Galaxy pelan, terdengar ragu.
Namun belum sempat lanjut, Davina malah tertawa.
"Hahaha!" tawanya pecah karena adegan lucu di drama, membuat Galaxy menarik napas pelan. Ia mencoba lagi.
"Aku—"
"Hahaha... lihat, sayang. Mereka lucu banget," potong Davina lagi, masih tertawa lepas.
Galaxy mendesah kecil. Ia lalu bangkit dari pangkuan istrinya dan duduk di sampingnya. Dengan kedua tangan, ia memegang pipi Davina hingga bibirnya merucut.
"Aku mau ngomong serius, sayang," ucap Galaxy dengan wajah cemberut, masih memegangi pipi Davina yang merucut.
"Hehe... iya, maaf. Mau ngomong apa, sayang?" balas Davina sambil menggenggam tangan suaminya yang masih menempel di pipinya.
Galaxy menundukkan kepala, suaranya pelan.
"Waktu itu ... sebenarnya aku gak sengaja ketemu Ayah."
"Ha?! Di mana? Kenapa gak bilang sama aku? Kamu gak diapa-apain, kan, sama dia? Terus, luka di bibir kamu jangan-jangan—"
Belum sempat Davina menyelesaikan kekhawatirannya, Galaxy dengan cepat langsung memotong.
"Jangan negatif thinking dulu, sayang," ucapnya cepat, tak ingin istrinya membayangkan yang macam-macam.
"Aku nggak bisa positif thinking, Ga. Dia udah jahat sama kamu ... Dia datang lagi ke hidup kamu pasti buat nyakitin kamu lagi!"
Nada Davina meninggi. Wajahnya tegang. Bagi Davina, tak ada sisi baik dari Rendra setelah semua yang ia lakukan pada Galaxy.
Galaxy menghela napas. Tatapannya tenang, tapi matanya menyimpan luka yang dalam.
"Ayah memang jahat ... Tapi dia juga manusia. Aku percaya, manusia bisa berubah. Dan soal rasa takutku—aku harus bisa ngelawan itu, Dav. Tapi aku nggak bisa sendiri."
Galaxy menggenggam tangan Davina lebih erat.
"Aku butuh kamu, sayang. Selama ini aku bisa bertahan karena kamu. Sekarang pun aku butuh kamu buat ngelawan rasa takut ini."
"Ya udah, aku bakal dukung dan temenin kamu ngelawan rasa takut itu. Tapi aku mohon... jangan terlalu maksain diri, ya," ucap Davina lembut, sembari menangkupkan kedua tangan suaminya. Seolah ingin menyalurkan semua energi semangat dan keteguhan yang ia punya.
"Makasih ya, sayang. Aku beruntung banget bisa jalanin rumah tangga bareng kamu. Maafin aku ya, waktu itu aku belum bisa terbuka sepenuhnya," balas Galaxy, lalu memeluk tubuh Davina dengan hangat, menyandarkan dagunya di bahu sang istri.
Melihat Galaxy mulai terbuka, hati Davina dipenuhi rasa lega dan bahagia. Ia membalas pelukan suaminya dengan lembut, sambil mengelus punggungnya pelan—memberi kehangatan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
...----------------...
Keesokan harinya, tepat pukul 07:00 pagi. Langit pagi masih samar dengan kabut tipis menyelimuti pepohonan tua yang berdiri tenang di pemakaman umum. Embun masih menempel di atas rumput saat Athar duduk diam di samping salah satu makam, jas hitamnya tampak kontras dengan bunga putih yang ia letakkan dengan hati-hati di atas nisan bertuliskan nama sahabatnya: Devano Alexander. Wajah Athar terlihat tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang dalam. Perlahan, ia membuka suara, seolah makam itu bisa menjawab.
"Maafin aku ya, Dev. Aku udah lupain ulang tahun kamu…"
Suara Athar lirih, hampir seperti bisikan. Ia menghela napas sebelum melanjutkan.
"Aku baru sadar kenapa mereka rilis lagu itu kemaren, ternyata ulang tahun kamu ya. Aku benar-benar dibuat sibuk sama mama ku, kamu pasti tau kan cerewetnya mama ku. Aku harus ngikutin mau dia biar gak jadi anak durhaka."
Athar tersenyum tipis, namun getir. Ingatannya melayang pada masa lalu yang tak bisa ia ulang.
"Aku mau kayak kamu dulu, kamu anak baik yang selalu nurut sama orang tua kan. Walaupun aku tau kamu lumayan tertekan, tapi kamu berhasil jadi anak yang baik. Gak kayak aku..."
Suaranya bergetar sejenak, lalu ia menunduk.
"Hanya demi keinginan ku bisa jadi band terkenal, membuat aku jadi kehilangan ayah ku untuk selamanya. Aku jahat ya? Secara gak langsung aku udah bunuh dua nyawa yang aku sayangi."
Angin pagi berembus lembut, membuat helaian rambut Athar sedikit bergoyang. Ia menatap batu nisan itu lagi, matanya menghangat.
"Tapi dengan terus diam dan lari dari masa lalu, ngebuat aku jadi pengecut. Tapi sekarang aku tau… makna lagu yang mereka buat bukan untuk nyalahin aku, mereka pengen aku balik lagi kayak dulu."
Athar menghela napas panjang, lalu menggenggam kedua tangannya seolah menahan gemetar.
"Tapi, apa aku masih pantas ada di band itu? Aku masih ngerasa bersalah atas pergi nya kamu, Dev."
Ia menunduk, kali ini lebih dalam, seperti ingin bersembunyi dari rasa bersalah yang selama ini mengendap.
"Andai malam itu aku gak ajak kamu balapan, mungkin sekarang kita masih main berlima. Tapi gak ada yang tau kalau malam itu malam terakhir kita ketawa bareng..."
Athar menatap nisan itu lama, seolah menunggu jawaban yang tak akan pernah datang. Tapi di balik rasa bersalahnya, senyum tulus perlahan mengembang di wajahnya. Mungkin ini bukan tentang menghapus luka, tapi tentang berdamai dengan yang tak bisa diulang.
"Selamat ulang tahun, Devano. Semoga kamu tenang dan bahagia di sana."
Ia menunduk sebentar, lalu menatap langit yang mulai cerah.
"Oh ya... walaupun alam kita udah beda, kita masih bisa ketemu lewat mimpi kan?"
Athar tertawa kecil, lebih ke arah dirinya sendiri.
"Udah dua tahun loh kita gak ketemu. Emang kamu gak kangen liat muka ganteng ku?"
Ia mengusap pelan ujung nisan itu, senyum tipis masih menggantung di wajahnya. Meskipun Devano gak bisa jawab, Athar merasa seolah sahabatnya masih ada di situ.
Setelah cukup lama duduk dan berbicara dengan nisan yang diam itu, Athar melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Matanya sedikit membulat.
"Udah jam delapan..."
Ia berdiri perlahan sambil merapikan jas hitamnya. Angin pagi masih berembus pelan, membuat daun-daun di sekitar makam bergoyang ringan. Ia menatap nisan itu sekali lagi, kali ini dengan senyum yang lebih ringan.
"Aku ke kantor dulu ya, Dev. Biasalah... main ceo-ceoan."
Athar tertawa kecil, lalu menunduk sedikit, seolah sedang menunggu jawaban dari sahabatnya.
"Kamu mau ikut gak...? Eh, gak jadi deh. Kamu di sana aja ya. Aku belum siap jadi anak Indomi—eh maksudnya, indigo."
Ia menyentuh bagian atas nisan dengan lembut, lalu mundur satu langkah.
"Ya udah, aku pamit dulu ya. Bye."
Dengan langkah perlahan, Athar pun pergi meninggalkan makam itu.
...( ◜‿◝ )...
...🙌🏻 see you in the next chapter 🙌🏻...
Penulisannya pun aku suka. Bagus dan rapi. Setiap kata-katanya penuh makna dan ngena🥰❤❤
Terkhususnya untuk tokoh utama Galaxy dan Davina. Suka hubungan mereka yang adem ayem dan tidak banyak pertengkaran, karena dewasanya pemikiran Davina, walau Galaxy nya yang kadang-kadang kayak bocah🤭😂😂
Pokoknya semangat untuk Kakak. Semangat untuk nulisnya dan sukses selalu💪🥰🥰😘😘😘❤