Cinta terpendam adalah perasaan suka diam-diam. Mencintai sendiri.
Setiap insan pasti pernah merasakan Cinta Terpendam.
Memendam cinta walau hanya sehari, atau bahkan lebih.Terlepas dari cinta itu terbalas atau tidak. Tetap cinta itu itu sempat terpendam.
Beruntung bagi seseorang yang memendam cinta, saat cintanya terbalas. Terlepas berapa lama cinta itu terpendam.
Namun, bagaimana jika cinta terpendam berlabuh pada seorang pembenci?
Khadziya Putri seorang gadis berusia 17 tahun, tiga tahun memendam cinta membuatnya tersiksa akan sakitnya mencintai dalam diam.
Reynan Prayoga laki-laki yang membuatnya berdebar-debar, membuat Ziya salah tingkah, tapi dia juga mematahkan hati Ziya.
Reynan begitu membenci Ziya, setiap berhadapan Reynan akan melontarkan kata kasar dan pedas.
Kenapa Reynan begitu membenci Ziya? Akankah benci berubah jadi cinta?
Mungkinkah cinta terpendam cukup lama akan terbalas?
Ikuti kisahnya di Novel ini. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marta Linda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Bersalah dan Kerapuhan Redo
Tidak lama mobil terhenti di parkiran kantor. Ziya turun bersamaan dengan Mario. Mereka jalan beriringan. Saat memasuki lobi, Semua mata menatap Ziya dan Mario.
Ziya merasa tidak nyaman dengan tatapan karyawan yang berlalu lalang. Tatapan tidak percaya mengarah kepadanya. Sebagian menatap dengan memindai tubuhnya dari atas hingga ke bawah.
Berbeda dengan Mario. Tampak santai dan acuh dengan tatapan semua mata yang memandang. Sudah biasa baginya di tatap demikian.
"Mereka menatapku seperti itu pasti karena aku jalan bersama Mario," bisik hati Ziya.
Ziya menghentikan langkahnya. Dengan maksud agar Mario lebih dulu jalan di depannya. Ternyata Mario ikut menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Mario heran, Ziya menghentikan langkah.
"Bapak duluan saja, aku jalan di belakang Bapak saja,"
Mario menaikkan alisnya, "kita jalan bersama saja, tidak baik wanita jalan di belakang laki-laki,"
Ziya menggeleng, "lihatlah semua mata menatapku. Aku tidak nyaman,"
Mario terkekeh, "mereka semua menatap ketampanan saya. Saya sudah terbiasa di tatap begitu," Mario membuat Ziya mencibir.
Mario tampak angkuh dengan entengnya memuji ketampanannya. Lihatlah dia begitu percaya diri. Sementara Ziya menatap tidak suka. Keduanya tampak seperti pasangan kekasih yang wanitanya sedang merajuk. Ziya menekuk wajahnya.
"Jelas-jelas mereka menatapku, Bapak. Mata aku ini bertemu dengan bola mata mereka. Tampak sekali mereka sedang memperhatikanku,"
"Tidak apa, tandanya kamu menarik perhatian mereka,"
"Menarik perhatian? maksud Bapak apa? Bagian mana yang menarik perhatian mereka?"
"Bagian di mana kamu berjalan beriringan dengan CEO tampan di Perusahaan ini," perkatan Mario membuat Ziya meninju lengan Mario. Namun, dengan sigap Mario menghindar.
"Kamu tidak malu memukul saya di tempat umum?"
Ziya tersadar, Ziya lupa akan keberadaannya. Karena kesal akan perkataan Mario. Ziya mempercepat langkahnya menuju pantry. Semua mata memandang penuh tanya.
"Siapa wanita itu?"
"Mengapa terlihat akrab dengan Pak Mario?"
"Apa dia kekasih pak Mario ya?"
"Sepertinya bukan, wajah polos begitu tidak sebanding dengan Bapak Mario,"
Kasak kusuk karyawan terdengar di telinga Ziya, saat dia melewati satu persatu karyawan yang berdiri di sepanjang langkah Ziya.
"Mereka meghibah aku. Aku pikir dengan menumpang mobil Pak Mario akan menguntungkan, ternyata aku salah. Aku malah jadi gunjingan karyawan." batin Ziya.
Mario terkekeh memandang Ziya yang berjalan terburu-buru meninggalkannya. Mario ikut menyusul, namun menuju lift yang ada di lobi setelah Ziya menghilang di pandangannya.
*****
Kita lihat kabar Redo, Reynan, dan Khaira.
Redo termenung di dalam kamar menatap kosong ke luar jendela kamar. Penyesalan membuat dia tidak lagi semangat menjalani hari-hari. Wajah Ziya selalu memnuhi benaknya.
Sejak kecelakaan menimpa Ziya, Redo di rundung perasaan bersalah . Tidak jarang dia mengamuk diri merutuki kebodohannya. Terlebih, kini Ziya tidak ingin melihat wajahnya. Bahkan maaf tidak dia dapatkan dari bibir Ziya meski dia berulang meminta maaf.
Untuk menemui gadis itu begitu sulit. Berulang dia mengirim pesan pada gadis itu, namun Ziya tidak pernah membalas.
Hal itu membuat Redo frustasi. Redo tidak bisa tenang sebelum mendapat kata maaf dari Ziya. Hari-harinya jadi suram, makan tidak lagi teratur. Tidak jarang dia melewati jam makan.
Tidur pun tidak lagi nyenyak. Pikiran yang kacau membuat Redo tak lagi seperti dulu. Orangtua Redo merasakan perubahan Redo, anaknya tampak berantakan.
Mama Redo memberi sedikit perhatian. Mungkin kurangnya perhatian membuat Redo begini. Begitu pikir mama Redo. Namun, setelah berusaha melakukan pendekatan, mama Redo tidak bisa mengembalikan Redo yang dulu.
Mama terdiam, memikirkan hal apa yang membuat Redo seperti mayat hidup. Hidup tapi mati. Tidak mau makan, tidak banyak bicara, tidak beradaptasi. Dia hanya mengurung diri di dalam kamar. Berbeda 180 derajat dengan kepribadian Redo yang dulu.
"Bodoh!! bodoh!! Aku memang bodoh!!" Mama Redo mendengar teriakan Redo dari dalam kamarnya.
Redo melampiaskan kekesalannya. Meninju dinding kamar sekuat tenaganya. Emosinya memuncak saat dia kembali mengingat tatapan mata Ziya penuh kekecewaan ke bolamatanya, saat Ziya tahu kebenaran dari kebohongannya.
PRANGG!!
Bunyi suara pecahan kaca terdengar. Dengan langkah cepat mama menuju kamar Redo. Hal ini sering terjadi sejak 3 bulan lalu. Mama tidak terkejut, tapi dia selalu waspada. Bisa saja Redo melakukan yang lebih ekstrim.
Mama membuka pintu, tampak pecahan kaca berhamburan di lantai. Mata mama membelalak saat mendapati tetesan darah di lantai kamar, mata mama mencari keberadaan Redo. Namun, putranya tidak terlihat.
Mama panik. Dengan tergesa menuju kamar mandi dan membukanya. Di sana tampak kosong, tidak tampak adanya Redo. firasat mama buruk, mama menelusuri tetesan darah di lantai yang ternyata menuju ke balkon.
Tampak Redo berdiri di pinggir balkon, tengah menghisap rokok. Perasaan mama lega, setidaknya Redo tidak melakukan apa yang terlintas di benaknya.
Mama perlahan mendekati Redo. Mengelus pundak putranya. Berharap putranya akan terbuka.
Mata mama mendapati tangan Redo di penuhi darah. Tetesan darah bersumber dari buku-buku jari putranya itu. Mama meraih tangan Redo, membuat dia terperanjat.
"Apa yang kamu lakukan? kenapa tanganmu sampai berdarah?" tanya mama sedikit emosi.
Meski mama kasihan, mama tidak bisa diam saja melihat putranya begini. Dia harus tegas mendidik putranya. Kini putranya butuh seseorang yang bisa menyadarkannya. Ya, dia mamanya. Sudah tugasnya menyadarkan putranya yang semakin menggila.
Redo diam tidak menanggapi perkataan mama.
"Apa kamu sudah gila! Sampai harus melukai dirimu sendiri! Tidak bisakah kamu berpikir! tindakanmu ini menyakiti dirimu!" mama mulai emosi
"Sadarlah Redo! Sadar! di sini mama ikut tersakiti! hati Mama sakit melihatmu seperti ini!" mama kembali bersuara setelah diam beberapa detik.
"Sampai kapan kamu akan terus begini? kamu tidak kasihan sama mama? apa kamu tidak memikirkan perasaan mama?" Mama mulai terisak.
Mama Redo tidak mampu membendung airmata yang sejak tadi menggenang. Sakit melihat kondisi Redo yang memprihatinkan. Tubuh mengurus, rambut yang mulai memanjang, mata cekung, lingkaran hitam di bawah mata terlihat jelas di wajah itu. Membuat mama tidak mampu menahan kesedihan dalam dirinya.
Redo mematikan rokok. Isakan mama membuat Redo menghentikan kebiasaan barunya itu. Ya, Redo mulai merokok sejak Ziya menjauhi dan tidak mau melihatnya.
Redo tidak pernah merokok sebelumnya. Meski tergolong supel dan di kelilingi banyak teman. Redo tidak mudah terpengaruh hal-hal negatif.
Mama terduduk dengan terisak. Redo ikut merasakan sakit, mamanya menangis karena dirinya. Redo memeluk mama, matanya tampak basah. Mereka berpelukan dalam tangis.
Redo mendadak cengeng, jiwa yang lemah kembali tak berdaya. Saat satu lagi wanita yang di sayangi tersakiti karenanya. Dia rapuh dalam kesendirian.
Mama meregangkan pelukan. Menatap muka sayu putranya. Wajah itu tampak basah. Mata memerah jelas terlihat di mata coklat itu. Wajah sayunya menambah mendung hati mama.
"Katakan, apa yang membuat putra mama seperti ini?"
**Bersambung...
Tekan Like setelah baca. Mohon dukungannya, kasih vote buat author jika kalian suka. komentar kritik dan saran sangat di perlukan.
Buat pembaca baru, pleaseee tekan like terlebih dulu. Karena author yakin kalau kalian baca lebih dulu, ntar like nya malah kelupaaan. Terima kasih**.
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉