Pernikahan adalah suatu ikatan sakral dua insan manusia untuk saling melengkapi, saling berbagi dan saling membutuhkan namun bagaimana jika pernikahan yang sudah berlangsung selama dua tahun harus di warnai oleh perselingkuhan?
Ayu Anindia yang semula bahagia dengan pernikahannya bersama seorang pengusaha Prasetyo Aryaduta harus mengalami kepahitan akibat perselingkuhan Prasetyo atau yang lebih akrab di panggil mas Tio. akankah Ayu memaafkan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mccain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mertua
Saat ini keduanya tengah berada di sebuah rumah makan sederhana tempat biasanya Ayu dan Tyo makan bersama dulu ketika baru menikah. Suasana di dalam rumah makan tersebut masih sama seperti dulu mengingatkan Ayu berapa bahagianya dulu mereka. Berbeda dengan sekarang yang susah untuk memiliki waktu. Jangankan makan bersama, memiliki waktu berdua pun sekarang sangat sulit.
"Apa yang ingin di bicarakan? " Tanya Tyo yang kini duduk berhadapan dengan Ayu
"Mas, semalam mas pulang cepat ya? " Tanya Ayu
"Iya, semalam memang pulang lebih cepat tapi keluar lagi karena teman mas ngajak mas makan di luar. Kenapa memangnya? "
"Nggak mas, nggak apa-apa. Kenapa nggak telpon aku kalo mas pulang cepat? "
"Mas tahu kamu sibuk di kantornya Ravel makanya mas sengaja nggak kasih tahu kamu"
"Apa mas tahu kalo mama datang ke rumah? "
"Iya. Kemarin siang mama nelpon mas katanya mama mau datang ke rumah"
"Kenapa mas nggak bilang sama aku? "
"Mas kan udah bilang tadi, mas tahu kamu sibuk di kantor makanya mas sengaja nggak hubungin kamu"
"Mas, semalam aku di omelin sama mama"
"Mas sudah bilang sama kamu kan, kerja tapi jangan lupa waktu. Sekarang kamu ngadu ke mas kalo kamu di omelin. Ayolah sayang, kamu itu udah besar. Nggak usah kekanakkan dong" Risih Tyo.
"Mas, apakah selama ini di mata mas aku kekanakan seperti apa yang mas bilang? " Tanya Ayu.
Sejujurnya Ayu sedikit kecewa mendengar perkataan Tyo hingga menyulut emosi Ayu sedangkan Tyo kini sibuk dengan telepon genggam entah dengan siapa ia saling membalas pesan
"Mas, mama nyuruh aku untuk berhenti kerja. Apa sebaiknya aku berhenti kerja saja mas? Sepertinya mama sudah sangat menginginkan cucu mas" Tutur Ayu. Namun lawan bicaranya sepertinya tidak mendengar apa yang Ayu ucapkan
"Mas.... Mas.... Kamu dengerin aku nggak sih? " Ucap Ayu dengan nada yang sedikit tinggi akibat kekesalannya terhadap Tyo yang sedari tadi hanya sibuk dengan telepon genggamnya hingga Tyo pun menoleh
"Kamu kenapa sih? Kalo kamu ngajak aku makan cuma mau ribut mending nggak usah Ayu. Aku juga lagi banyak kerjaan di kantor bukan cuman mau dengerin ocehan kamu tentang mama yang ngomelin kamu semalam" Kata Tyo dengan gusar hingga akhirnya Ayu pun memilih untuk diam.
Lagi pula ini tempat umum bukan di rumah.
Apa salah jika ia mengatakan pada suaminya apa yang terjadi semalam? Tapi kan Ayu bukan bermaksud agar Tyo marah terhadap mamanya. Sebenarnya Ayu ingin bertanya bagaimana pendapat tyo jika Ayu berhenti kerja saja karena memang Ayu sendiri tidak nyaman jika mertuanya selalu menuntutnya untuk melayani anaknya sebaik mungkin dan memiliki momongan. Lagi pula kehidupan Ayu dan Tyo juga bisa di bilang berkecukupan jadi rasanya tidak masalah jika Ayu kembali menjadi istri rumahan saja. Namun belum juga mengutarakan semuanya, Ayu dan Tyo malah bersitegang.
Akhirnya hingga Ayu dan Tyo pulang ke rumah mereka hanya saling diam tanpa ada yang mau mengalah.
"Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan semuanya. Maaf mas kalau sikapku selama ini kekanakkan" Batin Ayu
Ayu pun memilih nanti malam saja ia akan kembali membahas masalah tadi ketika keduanya berada di kamar.
Malam harinya ketika selesai makan malam, mama mengajak Tyo dan Ayu ke ruang keluarga. "Praseryo, Ayu, ada yang ingin mama bicarakan. Buat mama ini penting" Kata mama mendahului namun ayu dan Tyo hanya diam tidak ingin bertanya..
"Kalian berdua sudah menikah tiga tahun lebih tapi belum juga memiliki anak. Jujur saja, mama ingin sekali punya cucu Tyo. Jadi mama harap Ayu bisa memberikan mama cucu" Ungkap mama
"Ma, untuk urusan anak tolong jangan terlalu memaksa ma. Tolonglah untuk bersabar, aku sama Ayu juga lagi berusaha ma... " Jelas Tyo.
Ia sendiri kini mulai merasa risih dengan tuntutan mamanya tentang anak. Jujur saja Tyo sendiri ingin memiliki anak, namun ia tidak ingin memaksakannya karena baginya jika sudah waktunya pasti akan di kasih sama yang di atas. Lagi pula, ia juga masih ingin bersama Radita tanpa di repotkan oleh kehadiran anak.
"Itulah Tyo makanya kamu juga jangan terlalu menyibukkan diri sama kerjaan. Sekali-kali berliburlah bersama Ayu. Mungkin salah satu faktor kalian belum punya anak karena kalian terlalu sibuk bekerja, apa lagi Ayu yang sekarang juga kerja. Ayu, apa kamu nggak ingin punya anak? " Kini mama mulai menyerang Ayu juga.
"Ma, andai mama tahu bahwa Ayu juga ingin punya anak. Ayu juga merindukan kehadiran seorang anak di tengah pernikahan Ayu sama mas Tyo karena anak bisa menyatukan ikatan yang mulai goyah dalam rumah tangga. Tapi mau bagaiman lagi jika memang Ayu belum di ijinkan untuk hami? " Batin Ayu.
Sesak di dadanya ketika mendengarkan ucapan mertuanya. Perempuan mana yang tidak ingin mengandung dan melahirkan? Semua juga pasti menginginkannya namun untuk yang satu itu, semua bergantung pada yang di atas.
Ayu hanya diam tanpa sepatah katapun untuk menjawab pertanyaan mamanya.
"Atau kamu mandul Ayu? " Tiba-tiba mama bertanya hal yang selama ini di hindari oleh Ayu.
Ya, apakah ia mandul? Apakah ia tidak bisa memiliki anak?
"Ma, sudahlah jangan memperkeruh keadaan. Aku udah lelah seharian kerja di kantor, pulang ke rumah ingin istirahat tapi mama malah menanyakan sesuatu yang hanya membuat aku tambah pusing aja" Ucap Tyo tiba-tiba. Ia kasihan melihat Ayu yang kini menundukkan kepala setelah pertanyaan terakhir mamanya.
"Tyo, apa yang salah dengan pertanyaan mama? Mama hanya ingin tahu Tyo. Dan juga mulai, sekarang mama akan tinggal sama kalian" Sarkas mama.
"Ma, terus papa gimana ma? Apa mama mau biarin papa tinggal sendiri di rumah? " Tanya Tyo
"Papa juga akan mama ajak tinggal di sini untuk sementara waktu. Dan kamu Ayu, sebaiknya kamu berhenti kerja mulai sekarang. Belajar jadi istri yang bertanggung jawab atas suami kamu. Baru mau dua hari mama nginap di rumah kalian dan mama perhatikan kamu bahkan tidak bisa melayani suami kamu dengan baik" Kata mama sambil berdiri meninggalkan sepasang suami istri tersebut.
Mama sudah masuk ke kamar menyisakan Ayu dan Tyo di ruang keluarga. Tinggal keduanya namun tidak ada satupun yang berani bersuara. Buliran air mata perlahan menggenang di pipi Ayu, sungguh perkataan mertuanya tadi membuat ia terluka ingin menangis namun ia tahan air mata yang hampir tumpah tapi sayangnya air mata itu lolos begitu saja. Sepanjang mertuanya menyudutkan Ayu, Ayu ingin mendengar pembelaan dari suaminya namun nihil. Tyo tidak sedikit pun membela Ayu di depan mamanya. Mungkinkah ia terlalu berharap? Bahkan suaminya enggan menghiburnya saat ia menangis. Saat Ayu mulai merasa tenang, ia pun mengangkat kepala perlahan hingga di sadarinya kini hanya tinggal Ayu sendiri di ruang keluarga
para pengusaha hampir 90% begutu, main sgn bawahannya, cukup dikencani 3 x pertemuan setelah itu dilempar ke teman2nya. mana mau punya istri model murahan.
suami klu cinta jgnkan zinah sama perempuan lain, menatap mata perempuan lain aja ogah.
ini kan luar biasa si tio, cinta yg seperti apa coba!!
maaf, sebaiknya waktu pergantian POV dikasih tanda Thor... jadi gak bingung antara POV Ayu dan POV author