Sequel dari Pesona Setelah Menjadi Janda
(Mohon untuk membaca novel sebelum nya agar kalian tidak bingung)
***
Arra, gadis berusia delapan belas tahun yang baru saja melangkah ke dunia perkuliahan, tengah menghadapi berbagai perubahan dalam hidupnya. Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah—keberadaan Leo Rexander.
Leo mengaku sebagai pacarnya. Arra tidak pernah mengiyakan. Namun Leo tetap yakin, seolah hubungan mereka telah terpatri sejak lama. Sikapnya yang tenang namun posesif, membuat banyak orang meragukan ucapannya. Dan keraguan itulah yang mendorong sejumlah pria mencoba merebut tempat yang tak pernah benar-benar kosong di sisi Arra.
Meski seringkali berbenturan, Arra dan Leo justru saling melengkapi—dua kutub berbeda yang terus tertarik satu sama lain, meski tak pernah tahu kapan harus berhenti.
Ini bukan sekadar kisah cinta remaja, tapi tentang dua hati yang keras kepala, saling mempertahankan tanpa pernah benar-benar saling mengucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saras Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Dia Berhenti
“ARRA!"
Suara lantang itu menyusup di antara suara mesin permainan yang ramai. Arra yang sedang fokus bermain mobil balap langsung menoleh dengan dahi mengernyit. Suara itu terlalu familiar—dan mengganggu.
Brandon berdiri tak jauh dari gerbang masuk area permainan, matanya tertuju pada gadis yang sejak tadi memenuhi kepalanya.
Gladys yang dari tadi duduk memperhatikan Dewa—dan sesekali curi-curi pandang ke arah pria itu—langsung berdiri begitu melihat Brandon berjalan cepat mendekat. Ia tahu ekspresi itu. Serius, penuh tuntutan, dan menyebalkan. Ekspresi khas pria yang tidak tahu diri.
“Eh, eh, stop! Lo mau ngapain?” Gladys berdiri di antara Brandon dan Arra, tangannya terangkat seperti palang jalan tol.
Brandon mendengus. “Gue cuma mau ngomong sama sepupu gue. Gue nggak tahu kalau mall ini sekarang dijaga satpam jelek kayak lo?”
Gladys nyengir sinis. “Lo bisa masuk mall, bisa nyetir mobil, tapi gak bisa baca situasi, ya?”
“Gladys,” suara Arra terdengar dari belakang, setengah menghela napas. Gadis itu sudah turun dari simulator balap dan kini berdiri di belakang sahabatnya. “Biar aku aja.”
Gladys menoleh cepat. “Lo yakin?”
Arra mengangguk kecil. Wajahnya tidak marah, tapi dingin. “Aku bisa handle.”
Brandon menyempatkan lirikan ke Gladys lalu berkata sarkastik, “Thanks udah jadi bodyguard dadakan. Sekarang boleh, ya?”
Gladys mengangkat alis, “Jangan lama-lama. Lo tuh pengganggu.”
Brandon akhirnya berdiri tepat di depan Arra. Mereka saling menatap—meski hanya sebentar, karena Arra menunduk tak nyaman.
“Gue cuma mau pamit,” ujar Brandon akhirnya. Suaranya lebih pelan dari biasanya. Tidak searogan sebelumnya.
Arra terdiam.
“Gue besok balik ke Australia. Daddy maksa. Gue tahu lo nggak peduli... tapi gue masih mau tahu satu hal.”
Arra mengangkat wajahnya. Matanya lembut, tapi tegas.
“Apa sama sekali nggak ada kesempatan buat gue?”
Gladys yang masih mendengar dari belakang melirik tajam. Tapi Arra sudah menjawab.
“Dari dulu nggak pernah ada, Brandon.” Suaranya pelan tapi jelas. “Kita saudara.”
Brandon menarik napas panjang. Lalu ia tertawa—tawa pendek, pahit.
“Gue tahu. Tapi kalau gue nggak mastiin ini untuk terakhir kalinya, gue nggak akan bisa tidur nyenyak.”
Arra hanya menatapnya. Tak membalas tawa itu, tak mengangguk, tak menggeleng.
Brandon mengangguk pelan. “Oke. Gue pamit. Semoga lo bahagia dengan pilihan lo.”
Ia membalikkan badan, berjalan meninggalkan mereka—kali ini tanpa berusaha menoleh kembali.
Gladys menghampiri Arra, lalu merangkul bahunya. “Ra... lo oke?”
Arra tersenyum tipis. “Akhirnya dia berhenti.”
Dan di sudut ruangan, Dewa—yang terlihat tenang sambil menatap dari jauh—memalingkan pandangannya ke arah Arra sejenak, sebelum kembali fokus ke layar punching bag yang tadi dipukul oleh Bimo.
---
Brandon sudah pergi. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian menit, napas Arra terasa lebih ringan. Seolah satu beban yang menggantung sejak kemarin akhirnya jatuh, membentur lantai, dan pecah berkeping-keping.
Gladys masih merangkul pundaknya saat Arra mengangkat wajah dan mencoba tersenyum.
“Gue lapar,” katanya pelan. “Dan... kayaknya kita butuh duduk dengan tenang.”
Kevin menoleh. “Food court?”
Arra menggeleng. “Nonton film, yuk. Aku pengen yang nggak terlalu ramai, nggak ada suara mesin game, dan... nggak ada mantan sepupu ngeselin yang muncul tiba-tiba.”
Bimo langsung tertawa. “Valid. Gua setuju banget.”
Mereka pun beralih ke lantai atas, ke depan bioskop yang baru saja mengganti daftar film. Arra dan Gladys berdiri paling depan, memperhatikan layar LED yang menampilkan poster-poster digital.
“Yang ini lucu,” Gladys menunjuk film romcom Korea yang cover-nya penuh bunga sakura dan senyum dua pemeran utamanya.
“Aku pengen yang itu,” Arra menunjuk film drama-thriller dengan tagline “You can’t run from the past.”
Gladys menoleh cepat. “Lo yakin? Ini ratingnya 17+.”
Arra hanya angkat bahu. “Muka kita udah kayak 20-an.”
Sementara itu di belakang, Kevin dan Bimo sibuk berdiskusi tentang popcorn rasa keju vs karamel, dan Dewa hanya berdiri diam di sisi mesin tiket otomatis. Sejak tadi, ia tidak banyak bicara. Pandangannya tidak pernah benar-benar menjauh dari Arra.
Gladys sempat melirik ke arah Dewa—refleks. Tapi seperti biasa, Dewa tidak melihat ke arahnya. Tidak juga menanggapi celoteh atau candaan yang dilontarkannya beberapa menit lalu. Hening. Seperti batu karang.
“Fix yang ini,” kata Arra akhirnya, menunjuk film thriller itu. “Adegannya banyak di tengah laut. Aku suka laut.”
Gladys hanya mengangguk, lalu tanpa sadar, matanya kembali melirik Dewa.
“Lo takut laut nggak?” tanyanya tiba-tiba.
Dewa menoleh perlahan. Lalu diam sebentar.
“Nggak,” jawabnya pendek.
“Bagus. Soalnya takut cinta aja udah cukup,” gumam Gladys, pelan tapi sengaja cukup terdengar.
Dewa menatapnya satu detik lebih lama dari biasanya, tapi tetap tidak menanggapi.
Gladys menghela napas. “Nyebelin bener nih orang…”
Bimo mendekat, menyodorkan dua kantong popcorn besar. “Karamel buat Arra. Keju buat Gladys.”
Gladys menerima dengan senyum lebar. “Lo tau aja selera gue. Nggak sia-sia kita satu genk hari ini.”
Mereka akhirnya masuk ke studio bioskop. Barisan kursi mereka memanjang ke tengah—Arra duduk di antara Gladys dan Kevin. Dewa duduk di ujung, dengan Bimo di sebelahnya.
Lampu mulai redup. Film dimulai. Di tengah gelap dan dinginnya ruangan, hanya layar lebar yang menyala terang. Tapi di hati beberapa dari mereka, ada yang mulai menyala juga—lebih samar, lebih pelan, tapi terasa hangat. Seperti cahaya kecil dari layar lebar yang tak bisa ditolak.
---
Sekitar dua jam kemudian, lampu studio perlahan menyala kembali. Suara kredit film masih mengalun pelan di background, namun kebanyakan penonton sudah mulai berdiri, meregangkan badan dan menguap.
Arra masih duduk di tempatnya. Matanya belum lepas dari layar, meski cerita sudah berakhir.
Gladys di sampingnya langsung menghembuskan napas panjang. “Gila. Filmnya gelap banget. Kayak hidup pas di tanggal tua.”
Kevin menimpali sambil merenggangkan badan, “Gua ngantuk setengah mati tapi takut kedip. Itu soundtrack-nya nancep parah.”
“Ending-nya gantung, ya,” ujar Arra pelan. “Tapi... bagus.”
Bimo yang duduk di dekat Dewa mengangguk. “Gua lebih suka yang nendang gini daripada yang semuanya bahagia nggak jelas.”
Gladys ikut berdiri, lalu menggeliat pelan. “Oke, not bad. Tapi jangan tanya gue soal alur. Gua lebih sibuk mikirin kenapa orang sebelah gua diem terus kayak poster film horor.”
Matanya melirik ke Dewa.
Dewa bangkit dari kursinya tanpa komentar.
“Liat, kan?” bisik Gladys ke Arra sambil nyengir. “Dia mungkin setipe sama tokoh utama tadi. Misterius, dingin, tapi punya trauma masa lalu. Cocok tuh.”
Arra hanya menahan senyum sambil berdiri.
Mereka beranjak keluar studio bersama. Mall masih sangat ramai. Sekarang sudah jam 19.30. Waktu sudah cukup malam, tapi suasana di antara mereka justru lebih cair.
“Ngopi dulu atau langsung pulang?” tanya Kevin sambil menguap kecil.
“Aku boleh makan es krim?” tanya Arra tiba-tiba.
Gladys menoleh cepat. “Setelah popcorn dan soda jumbo tadi?”
Arra mengangguk polos. “Lagi pengen yang manis.”
Gladys tersenyum. “Sama.”
Mereka melangkah ke arah kedai es krim yang tak jauh dari bioskop.
Dan meski langkah mereka ringan, di antara gurauan dan candaan, ada rasa hangat yang mengendap diam-diam.
Malam itu... ditutup bukan dengan dentuman mesin game atau tawa ramai, tapi dengan langkah-langkah kecil yang mendekatkan—satu sama lain.