Copyright ©2026, Kembalikan Anakku, Adinata oleh Doubleareya.
Adinata Hardiyanto menikah dengan Nadine Ayunda bukan akibat perjodohan, accident atau kontrak semata, tapi karena rasa cinta untuk memiliki. Dari awal menikah orang tuanya selalu ikut campur dan tidak memberi akses untuk dirinya bisa memimpin keluarga kecilnya sendiri. Adinata tetap bersabar sampai ia harus kehilangan sang istri—Nadine Ayunda.
Nadine Ayunda memilih berpisah dengan sang suami—Adinata Hardiyanto yang hidupnya selalu disetir oleh sang mertua. Nadine pergi dengan membawa sang buah hati yang dikandung di perutnya.
Tapi jika memang sudah digariskan oleh takdir, sejauh apapun langkah membawa, ia pasti akan kembali menjadi satu lagi. Untuk kembali artinya perlu dijemput, apakah Adinata bisa menjemput istrinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon doubleareya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Akhirnya bertemu Nadine
“Kalian ngapain datang ke sini dan menemuiku?”
Nadine memberi tatapan marah ke Fregy dan Xavier yang berdiri di depannya. Dia khawatir jika Adinata ikut datang bersama dengan mereka. Mereka tiba-tiba datang di depan rumah Ayah Divaz.
“Aku ingin bertemu denganmu, Nad. Ini aku bawakan buah dan susu untukmu.” Fregy menatap Nadine dengan tatapan tidak terbaca. Antara percaya dan tidak percaya dengan Nadine yang berdiri di hadapannya. Nadine dengan perutnya yang membuncit.
“Tidak ada Adinata. Hanya aku dan Fregy saja yang datang ke sini, Nad.”
Itu yang Nadine cemaskan. Dia bernapas lega di hadapan mereka.
Xavier menatap rumah di belakang Nadine. Rumah sederhana, tapi terlihat hangat. Rumahnya tidak sepi, rumahnya ramai dengan toko dan tumbuhan yang dirawat setiap hari, terlihat daunnya yang segar.
Nadine ingin marah, tapi tidak mungkin dia melakukannya. Dia menghargai bantuan Xavier dan sekarang, Fregy. “Duduklah di Teras.”
Nadine mengajak Fregy dan Xavier untuk duduk di kursi yang ada di Teras rumah. “Aku ambilkan minum ke dalam sebentar.”
Fregy dan Xavier menganggukkan kepalanya. Mereka memberi tatapan nyaman ketika menatap sekeliling mereka.
“Nadine nyaman tinggal di sini.”
Xavier menganggukkan kepalanya. “Aku rasa tidak hanya rumahnya yang hangat, tapi juga hubungan mereka hangat di dalamnya.”
Fregy tidak merasa khawatir jika Nadine di sini. Nadine pasti diperlakukan dan dirawat dengan baik tanpa kekurangan kasih sayang. Dia merasa bersalah dengan perlakuan keluarga Adinata kepada Nadine. Beribu kata maaf akan dia sampaikan kepada Nadine walau dirinya tidak ikut memperlakukan Nadine dengan penuh kemarahan.
Nadine datang dengan membawa sebuah nampan berisi dua gelas jus mangga dan roti hangat. Dia meminta waktu kepada ayah, bunda dan Andin untuk bertemu dengan teman-teman Adinata sendiri. Dia meletakkannya di atas meja kecil yang berada di tengah di antara kursi. “Hanya ini yang bisa aku sajikan.”
“Ini cukup, Nad,” ucap Fregy. Dia ikut membantu meletakkan gelas dan piring tersebut ke atas meja.
Nadine bergabung dengan mereka. “Apa yang membuat kalian datang ke sini untuk menemuiku?”
Xavier melirik Fregy. Ide Fregy yang membawanya untuk ikut datang menemui Nadine. Sampai saat ini dia belum mengetahui siapa yang menjadi suruhan Fregy untuk mengawasi Nadine. Tapi Xavier tetap diam, dia akan bertanya di lain waktu.
“Aku ingin melihatmu dan menyapa keponakanku.” Fregy tersenyum tipis. “Aku kira itu berita bohong, Nad, tapi setelah bertemu denganmu, aku merasa tidak menyangka kalau kamu benar hamil.”
Nadine menghembuskan napasnya. “Apa di sini sudah tidak aman lagi untukku dan anakku, Freg?” Dia ingin menjauh dari Adinata dan lingkungannya, tapi kenapa Nadine masih ditakdirkan untuk terlibat dengan lingkungan Adinata lagi. Dia ingin menjauh.
Fregy terdiam. Jujur saja, sebenarnya Nadine tidak akan selalu aman ketika tinggal di sini. Akan ada lebih banyak lagi orang-orang Adinata yang mengawasi Nadine. Untuk saat ini masih terasa mudah karena hanya beberapa yang Adinata taruh di sekitar Nadine dan berhasil disingkirkan oleh Reyka, tapi ke depannya akan lebih banyak lagi. Apalagi jika Adinata sadar dengan hal yang aneh. Dia tidak akan diam saja, mungkin Adinata akan langsung datang ke sini dan membuat kekacauan besar.
Adinata akan benar-benar marah jika mengetahui teman-temannya menyembunyikan anak dan istrinya.
Nadine menatap Fregy yang terdiam. Dia tidak ingin bertanya ketika melihat tatapan Fregy. Dia yakin jika jawabannya bertolak belakang dengan keyakinannya. “Silahkan minum dan makan sajian kecil yang aku suguhkan. Kalian sudah jauh-jauh datang ke sini untuk menemuiku.”
Xavier menganggukkan kepalanya. Dia yang mengawali untuk mengambil salah satu gelas sebelum disusul oleh Fregy yang ikut mengambilnya.
“Maaf kalau kedatanganku dan Xavier ke sini membuatmu terkejut.”
Nadine menganggukkan kepalanya. “Aku baik-baik saja tinggal di sini. Rasanya lebih bahagia dan aku merasa kendali hidupku, aku sendiri yang memegangnya.”
“Aku ikut senang mendengarnya, Nad.” Fregy berdehem. Dia mengulurkan totebag yang dia siapkan. “Aku membawa ini untukmu.”
Nadine menerimanya. Dia merasa tersentuh dengan kebaikan teman-teman Adinata yang membantunya. Dia tahu jika Fregy dan Xavier akan membantunya, berbeda dengan Suyuy, dia merasa jika Suyuy di sini, maka Adinata juga akan ada di sini. Karena Suyuy sangat membantu Adinata dibandingkan dengan yang lainnya. “Tidak perlu repotkan dirimu. Kalau ingin datang ke sini, datang saja tanpa membawa apapun.”
“Nad, aku datang ke sini bukan tanpa tujuan,” ucap Fregy.
Nadine memberi tatapan tanya. “Apa yang bisa aku bantu?”
Fregy mengeluarkan satu kartu debit dari dompetnya. Dia menaruhnya di atas meja dan menggerakkan ke arah Nadine. “Pakai ini untuk biaya kebutuhanmu dan anakmu.”
Nadine tertawa kecil. “Tidak perlu, Freg. Adinata memberiku satu kartu debit secara diam-diam tanpa aku ketahui, jadi aku bisa menggunakannya selama aku tidak bekerja.” Dia mengembalikannya.
“Kamu bisa memakai ini juga, Nad. Aku akan rutin mengirimkan ke rekening ini setiap bulannya.”
“Kamu tidak perlu melakukan sampai segitunya, Freg. Kamu tahu, kan kalau aku dan teman dekatmu sudah berpisah.”
Fregy menganggukkan kepalanya. “Kamu juga temanku. Aku yang membantu Adinata untuk membawamu ikut masuk ke kehidupannya. Ambil ini, Nad. Aku tidak ingin kamu dan anakmu merasa kekurangan sesuatu.”
“Aku tidak bisa menerimanya.”
Fregy menghembuskan napasnya. “Ini kartu debit yang Adinata berikan untukku. Dia tidak hanya memberiku gaji selama ini, dia juga memberiku kartu ini untuk tambahan gaji yang dia berikan. Aku tidak merasa kurang dengan gaji yang dia berikan kepadaku dan kartu ini, dibandingkan aku yang memakainya, lebih baik kamu saja yang memakainya, Nad. Semua uang keluar dan masuk, Adinata tidak akan mengetahuinya karena hanya aku saja yang mengetahui transaksi di kartu ini. Aku harap kamu jangan lagi menolaknya.”