Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diagnosis di Balik Pintu Tertutup
Angin pagi yang dingin mulai berganti udara hangat. Bahkan secangkir teh hijau milik Akira sudah habis tanpa sisa.
Daiki muncul membawa sebuah kardus besar berisi bahan makanan.
"Kau datang lebih cepat!" Yukari berjalan menghampiri sahabatnya.
"Maaf lama," Daiki sambil meletakkan kardus itu di atas meja dapur, lalu bergeser ke samping. "Aku sekalian membawa Dokter Yamada. Sebaiknya Takagi-san segera diperiksa."
Seorang pria paruh baya dengan jas tebal berwarna cokelat berdiri di belakang Daiki. Rambutnya sudah dipenuhi uban, namun sorot matanya terlihat hangat dan tenang.
"Selamat siang," sapa pria itu ramah. "Di mana pasiennya?"
"Terima kasih sudah datang, Dokter Yamada," ucap Yukari sambil membungkukkan badan hormat. "Mari, saya antar ke kamarnya."
Mereka berjalan lewat selasar kayu yang sunyi menuju kamar tempat Akira beristirahat.
Yukari menggeser pintu kamar dengan perlahan. Di atas kasur lantai, Akira masih berbaring diam. Dokter Yamada segera berlutut di sampingnya dan meletakkan tas medis dengan tenang.
"Takagi-san," panggil dokter itu lembut. "Maaf mengganggu istirahatmu."
Kelopak mata Akira bergerak perlahan. Ia sedikit terkejut melihat pria asing berada begitu dekat dengannya. "Anda?" bisiknya penuh curiga.
"Saya Yamada," jawab dokter tua itu tenang. "Dokter desa Oku-Niko."
"Tidak perlu," kata Akira langsung memalingkan wajah. "Saya tidak apa-apa. Tolong tinggalkan saya sendiri."
Meskipun suaranya terdengar lemah, nada penolakannya yang dingin terasa sangat jelas. Suasana kamar mendadak berubah canggung. Daiki dan Yukari hanya bisa saling bertukar pandang.
Melihat pria itu terus menutup diri, Yukari akhirnya ikut berlutut di sisi lain kasur lantai.
"Takagi-san," panggil Yukari lembut.
Akira menoleh sedikit, membuat tatapan mereka bertemu.
"Tolong izinkan Dokter Yamada memeriksa sebentar saja. Kami hanya ingin memastikan kondisimu membaik," bujuk Yukari tulus.
Akira memandangi wanita itu beberapa saat. Mengingat bagaimana repotnya Yukari yang sudah berusaha membuatkannya sarapan tadi pagi, keras kepala pria itu akhirnya luluh. Ia mengangguk kecil.
"Baik..."
Dokter Yamada segera mulai memeriksa luka-lukanya. Namun saat perban di bagian punggung dibuka, kerutan langsung muncul di dahi dokter tua itu.
Luka lebam berwarna ungu kehitaman membentang luas dari bahu hingga ke pinggang. Bahkan Daiki yang sudah melihatnya semalam masih refleks bergidik nyeri.
"Luka ini parah sekali," gumam Dokter Yamada. Jari tangannya menekan perlahan di sekitar area yang memar.
Akira langsung mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Sebuah rintihan tertahan lolos dari bibirnya yang memucat. Dokter Yamada memperhatikan reaksi itu sebelum kembali melihat luka tersebut dengan serius.
"Gimana kau bisa mendapatkan luka seperti ini, Takagi-san?" Dokter Yamada penasaran. "Polanya tidak terlihat seperti luka jatuh biasa."
Akira tidak menjawab apa pun. Pandangan kosongnya beralih menatap dinding kamar, seolah-olah dia tidak mendengar apa-apa.
Melihat situasi yang tegang, Daiki buru-buru menyela. "Ah! Itu sebenarnya karena kami memancing, Dokter!"
Yukari langsung menoleh kaget ke arah sahabatnya.
"Kemarin sore kami bertiga memancing di dekat hulu sungai," lanjut Daiki berbohong dengan senyum kaku. "Lalu dia terpeleset di atas batu yang licin."
Dokter Yamada mengangkat sebelah alisnya. "Memancing?"
Daiki tertawa canggung sambil menggaruk tengkuknya. "Ya... kurang lebih begitu."
Dokter tua itu melirik Daiki dari balik bingkai kacamatanya. Jelas sekali beliau tidak percaya dengan alasan konyol itu. Namun pada akhirnya, ia memilih untuk tidak memperpanjang masalah.
Dokter Yamada mulai menyiapkan suntikan dari dalam tas medisnya. "Suhu tubuhnya hampir tiga puluh sembilan derajat. Demam ini kemungkinan akibat peradangan luka dan hipotermia."
Saat jarum suntik menembus lengannya, Akira hanya memejamkan mata tanpa mengeluh sedikit pun.
Sebelum Pergi, Dokter Yamada meletakkan dua botol obat di atas meja kecil di dekat kasur. "Ini antibiotik dan pereda nyeri. Pastikan dia meminumnya setelah makan."
***
setelah mengantar kepulangan Dokter yamada, Mereka kembali masuk ke dalam rumah. Namun langkah Daiki mendadak berhenti di depan meja dapur.
Mata Daiki tertuju pada sebuah mangkuk bubur dingin yang masih bersisa di sana. Itu adalah mangkuk bubur yang tadi pagi diberikan Yukari kepada Akira.
Daiki berkedip, lalu menoleh ke arah Yukari dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah sangat serius. "Tunggu dulu..."
"Apa?" Yukari bingung melihat mata Daiki yang terbelalak.
"Jangan bilang..." Daiki tidak melanjutkan ucapannya. Ia malah mengambil sendok bersih lalu mencicipi sedikit sisa bubur yang mengental di dasar mangkuk.
Wajah Daiki berubah drastis.
"Astaga!" Daiki buru-buru menjauhkan mangkuk itu. Alisnya berkerut hebat "Yukari! Kau memasak ini? Apa yang kau masukkan didalamnya?!"
Pipi Yukari langsung memerah "Garam di dapur sudah kedaluwarsa semua sejak tahun lalu, Daiki! Lagipula Takagi-san menyukainya!"
Daiki terkekeh geli sambil menggelengkan kepala.
"Yukari, maafkan aku. Tapi pria malang itu cuma terlalu lemas buat protes," ledek Daiki mengacak rambut gadis itu "Kau hanya memperparah lambungnya nanti. Sudah, serahkan urusan masak padaku!"
Yukari mendecakkan lidahnya kesal. "Kau berlebihan!"
Melihat ekspresi cemberut sahabatnya itu, Daiki justru langsung tertawa puas.
***
Siang berganti sore. Kini aroma gurih dari kaldu ayam, jahe, dan daun bawang segar menguar dari arah dapur, memenuhi setiap sudut rumah dengan kehangatan yang menenangkan.
Rasa hangat dari mangkuk sup merambat hingga ke telapak tangan Yukari saat ia berjalan menyusuri lorong kayu yang sunyi. Sesampainya di depan kamar tamu, ia mengetuk pintu geser pelan sebelum membukanya.
Akira ternyata sudah terbangun. Wajahnya memang tidak sepucat pagi tadi, tetapi raut kelelahan masih terlihat jelas di matanya.
"Gimana keadaanmu?" Yukari menaruh nampan makanan di samping kasur. Ia memperhatikan wajah Akira sejenak. "Sudah lebih baik?"
Akira mengalihkan pandangannya ke arah mangkuk sup yang masih mengepulkan uap harum. "Ya," jawabnya dengan suara yang masih serak.
"Itu bagus." Yukari bernapas lega, lalu mendorong mangkuk sup sedikit lebih dekat ke arah pria itu. "Ini sup ayam jahe. Kali ini aku jamin rasanya aman untuk lidahmu daripada bubur tadi pagi."
Akira menerima mangkuk itu. aroma harum dan Uap hangat mengepul pelan di depan wajahnya saat ia menyendok kuah sup, lalu memakannya. Akira menatap mangkuk di tangannya. "... Ini sangat enak."
"Kan, Daiki memang bisa diandalkan untuk makanan sehat!" seru Yukari bangga.
"Daiki?" Akira mengernyit bingung.
Pintu geser kamar terbuka lebih lebar. Daiki masuk sambil membawa segelas air putih dan obat-obatan, lalu menaruhnya di atas nampan yang kosong.
Yukari tersenyum kecil lalu menatap Akira. "Takagi-san, Ini Tachibana Daiki. Dia yang menggantikan pakaianmu semalam, dan yang membuatkan sup lezat itu untukmu."
Akira menatap Daiki beberapa saat. Pria kaku itu kemudian sedikit menundukkan kepalanya dengan hormat. "Terima kasih," ucapnya tulus.
Daiki langsung melambaikan kedua tangannya dengan heboh, merasa salah tingkah. "Ah, tidak perlu sungkan! Yang penting habiskan supnya dulu supaya tenagamu cepat kembali!"
...----------------...
Waktu berjalan tanpa terasa hingga cahaya matahari mulai berubah jingga. Daiki akhirnya pamit pulang dan berjanji akan berkunjung lagi besok pagi.
Yukari duduk bersandar di sofa ruang tengah. Ia mengeluarkan kantong pouch berisi koleksi stempel tua milik kakeknya, lalu mulai menekan stempel itu pada ujung kertas kosong secara acak.
Cetrek!
Motif bergambar alpukat tercetak di sana. "Eh, motifnya lucu juga," gumam Yukari terhibur. Ia memilih motif lain lalu menempelkannya lagi di sudut kertas yang kosong.
Yukari yang asyik bermain stempel langsung kaget saat mendengar suara pintu geser terbuka dari arah koridor.
Sreeekk...
Suara itu membuyarkan fokus Yukari. Ia menoleh dan mendapati Akira sudah berdiri di ambang pintu kamar dengan satu tangan bertumpu erat pada kusen kayu. Wajahnya masih sangat pucat, dan tubuhnya tampak agak goyah saat berusaha menopang diri.
Yukari buru-buru bangkit dari sofa dan menghampirinya dengan cemas. "Kenapa kau bangun, Takagi-san?"
Akira terdiam sesaat, seolah sedang mengumpulkan sisa tenaga hanya untuk mengeluarkan suara. "Kamar mandi..." jawabnya pelan. "Di mana?"
Tanpa aba-aba, Yukari langsung merangkul pinggang pria itu dan membiarkan Akira bertumpu pada bahunya. Tubuh Akira mendadak kaku. Entah karena rasa sakit di punggungnya, atau karena dia tidak terbiasa disentuh dan dibantu oleh orang lain.
"Aku bisa sendiri," gumam Akira lirih mencoba menolak halus.
Yukari mengangkat sebelah alisnya. "Kalau kau sampai jatuh yang repot juga aku takagi-san"
Sesampainya di depan kamar mandi, Yukari melepaskan pegangannya. "hati-hati" Akira hanya mengangguk pelan sebelum melangkah masuk.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi kembali terbuka. Akira sedikit terkejut saat mendapati Yukari ternyata masih setia berdiri di sana menantinya.
"Kau... masih di situ?" Akira heran.
Yukari smiled. "Tentu saja. Ayo aku bantu lagi" jawabnya sambil kembali memapah lengan kekar pria itu.
Pria itu terdiam seribu bahasa. Sudah lama sekali tidak ada seseorang yang menunggunya seperti ini. Perasaan asing itu membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Yukari kembali membimbingnya menuju ruang tengah. "Sebaiknya kau duduk di sofa ini dulu," ujarnya lembut.
Akira mengangguk pelan lalu menyandarkan tubuhnya yang lelah. Yukari kemudian mengambil botol obat dan salep dari atas meja kecil.
"Aku mau mengoleskan salepnya dulu di punggungmu sebelum kau tidur, Takagi-san."
"Tidak perlu," tolak Akira cepat. "Aku bisa sendiri."
Yukari melihat kedua tangan Akira yang masih gemetar. "Kau yakin? Kau bahkan tidak bisa menjangkau punggungmu sendiri dalam kondisi lemas seperti ini," lanjut Yukari sambil membuka tutup botol salep. "Ayo, berbaliklah sedikit."
Akira hanya diam memandangi Yukari, sebelum akhirnya ia menyerah kalah. "Baiklah."
Dengan hati-hati ia mengangkat sedikit bagian belakang kaus longgar yang dikenakan Akira. Luka lebam besar yang mengerikan itu kembali terlihat jelas.
Mengoles sedikit salep di ujung jarinya, lalu menyentuh luka itu dengan sangat hati-hati. Sentuhan pertama yang tiba-tiba itu membuat tubuh Akira refleks menegang karena terkejut.
"Ngh..." Akira mengerang tertahan.
"Maaf," ucap Yukari pelan "Apa sakit?"
"Sedikit."
"Aku akan lebih pelan-pelan." Gerakan jari Yukari menjadi semakin lembut, meratakan salep di bagian memar lainnya.
Melihat parahnya luka di punggung pria itu, rasa penasaran yang sejak semalam mengusik pikiran Yukari akhirnya tidak bisa ditahan lagi.
"Takagi-san..."
"... Ya?"
"Saat di sungai kemarin... apa kau benar-benar ingin mengakhiri hidupmu?"
Tubuh Akira seketika tersentak. Rahangnya mengeras rapat. Tidak terdengar lagi suara ringisan perih dari mulutnya, dan gerakan jari tangan Yukari pun mendadak terhenti.
Yukari menunggu dengan napas tertahan. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang mencekam, namun sama sekali tidak ada jawaban dari pria itu. Akhirnya, Yukari menghela napas pelan, menyesali pertanyaannya.
"Maaf," kata Yukari lembut. "Kau tidak perlu menjawabnya sekarang."
Akira tetap diam, Tatapan matanya kini tidak terlihat penuh dendam Hanya saja... ia sangat lelah