NovelToon NovelToon
Pesona Mas Brewok

Pesona Mas Brewok

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:583
Nilai: 5
Nama Author: septia19

saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 14. pertemuan di balik undangan

Setelah kedatangan Raka dan Zahra ke desa Rendra beberapa waktu lalu, hubungan mereka semua berjalan hangat namun tetap menjaga batas wajar. Raka sangat sibuk membantu urusan keluarga sekaligus mengurus beberapa keperluan pekerjaan yang harus diselesaikan dari jauh, sehingga sering kali ia tidak bisa selalu mendampingi Zahra ke mana-mana. Zahra sendiri sudah mulai akrab dengan lingkungan baru, meski hatinya masih menyimpan rasa segan dan ingin mengenal lebih dekat orang-orang di sekitarnya terutama Rendra, sosok yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita.

Di tengah suasana keakraban itu, datanglah sebuah surat undangan yang dikirim dari kota teman dekat Zahra sewaktu kuliah akan melangsungkan pernikahan di balai kota, dan kehadiran Zahra sangat diharapkan. Masalah muncul saat Raka mendapati jadwalnya bertabrakan ia harus pergi ke kota lain untuk urusan penting yang tidak bisa ditunda maupun diwakilkan.

“Maafkan aku, Zahra. Seharusnya aku yang mengantarmu dan menemanimu, tapi sungguh kali ini aku tidak bisa,” ujar Raka dengan nada kecewa saat membicarakan hal itu malam harinya. “Kau yakin bisa pergi sendiri? Atau mungkin menunda saja?”

Zahra menggeleng pelan. “Ini teman dekatku, Ka. Rasanya kurang pantas jika tidak hadir. Tapi tenang saja, aku bisa berhati-hati.”

Percakapan itu terdengar oleh Rendra yang kebetulan lewat di dekat teras rumah. Ia berhenti sejenak, lalu melangkah mendekat dengan wajah tenang namun tegas.

“Kalau boleh aku usul, biar aku saja yang mengantar dan menemani Zahra,” kata Rendra tiba-tiba.

Raka menoleh kaget namun langsung tampak lega. “Benarkah, Ren? Itu akan sangat membantu sekali. Tapi... apakah tidak mengganggu usahamu?”

“Tidak apa-apa. Toko bisa dijaga karyawan sebentar. Lagian aku juga ingin melihat suasana kota sebentar. Tenang saja, aku akan menjaga Zahra sebaik mungkin seperti menjaga saudaraku sendiri,” jawab Rendra dengan senyum tulus.

Maka kesepakatan itu tercapai, namun ada satu hal yang tidak disampaikan Rendra secara rinci, ia berniat berangkat bersama Zahra dengan jadwal yang terpisah dari Raka, dan perjalanan serta kehadiran mereka di acara itu akan berjalan tanpa Raka ikut serta maupun mengetahui secara mendetail bagaimana prosesnya berlangsung. Begitu juga dengan Putri sampai saat itu belum ada yang diberitahu rencana ini secara penuh. Namun, ada satu orang lain yang ikut serta dalam rencana ini Rana, sepupu dekat Rendra yang juga sudah lama ingin berkunjung ke kota dan ikut hadir di acara tersebut.

Pagi hari yang ditentukan, saat Raka sudah berangkat lebih awal ke tempat urusannya, Rendra, Zahra, dan Rana bersiap berangkat. Rendra tampil rapi namun tetap sederhana kemeja berwarna biru gelap yang pas di badan, celana kain berwarna hitam, dan brewoknya tetap terawat rapi namun tetap menjadi ciri khasnya yang gagah. Zahra mengenakan gaun sopan berwarna krem lembut, rambut disusun rapi tanpa riasan berlebihan, tetap memancarkan kesan tenang dan rendah hati. Sedangkan Rana tampak ceria dengan pakaian berwarna cerah yang sesuai wataknya yang lincah dan terbuka.

Perjalanan berjalan lancar. Di sepanjang jalan, percakapan mengalir hangat. Rana yang paling banyak bertanya, membuat suasana tidak pernah terasa kaku. Namun di balik keriuhan obrolan itu, ada rasa dekat yang perlahan tumbuh antara Rendra dan Zahra rasa yang tenang, penuh rasa hormat, dan rasa ingin tahu yang semakin besar satu sama lain.

“Kau tidak merasa canggung pergi berdua atau bertiga tanpa Raka?” tanya Rendra pelan saat Rana sedang asyik menikmati pemandangan dari jendela kendaraan.

Zahra tersenyum tipis. “Awalnya sedikit, tapi melihat sikap Mas Rendra yang begitu ramah dan menjaga, rasa itu hilang. Aku merasa aman.”

Rendra mengangguk, matanya tetap fokus pada jalan namun bibirnya tersenyum puas. “Raka sahabatku yang paling baik. Dia sangat menyayangimu, Zahra. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja saat dia tidak ada di dekatmu.”

Sampai saat itu, belum ada satu pun kabar yang disampaikan kepada Raka tentang perjalanan mereka menuju tempat pesta sesuai keinginan Rendra yang ingin menjaga perjalanan ini sederhana dan lepas dari kekhawatiran berlebihan Raka.

Sesampainya di lokasi, suasana sudah meriah. Musik lembut mengalun, dekorasi bunga tampak indah, dan banyak tamu yang sudah hadir. Rendra mengantar Zahra masuk dengan sopan, berjalan sedikit di samping namun tetap menjaga jarak sopan, sementara Rana bergerak lincah menyapa orang-orang yang dikenalnya.

Banyak mata yang menoleh melihat kehadiran mereka—terutama melihat Rendra. Penampilan gagah, wajah berwibawa, dan cara bicaranya yang tenang namun berisi membuat banyak orang tertarik. Zahra yang berada di sisinya tampak tenang dan anggun, membuat pasangan ini terlihat sangat serasi di mata banyak tamu yang tidak tahu hubungan sebenarnya di antara mereka.

Teman-teman Zahra pun menyambutnya dengan gembira. Saat diperkenalkan kepada Rendra sebagai “teman dekat sekaligus sahabat keluarga yang mengantar”, mereka pun menyapa dengan ramah.

“Senang sekali ada yang menemani Zahra datang, terima kasih banyak,” ujar salah satu teman.

Rendra hanya tersenyum sopan. “Tidak perlu berterima kasih. Hal yang wajar saling menjaga dan membantu.”

Saat acara berlangsung, Rendra tidak pernah meninggalkan Zahra sendirian terlalu lama. Ia berdiri di dekatnya, ikut mendengarkan percakapan, menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya dengan bijak, dan sesekali berbisik pelan memberi penjelasan jika ada hal yang membuat Zahra bingung. Rana yang ikut di samping mereka kadang tertawa kecil melihat betapa perhatiannya Rendra lebih dari sekadar tugas biasa.

Di satu momen saat suasana agak tenang, mereka bertiga duduk di sudut ruangan yang agak teduh. Zahra menatap sekeliling dengan perasaan campur aduk ingat masa kuliah, rindu suasana lama, namun juga sadar bahwa kini hidupnya sudah berubah.

“Kau terlihat sedang banyak berpikir,” ujar Rendra lembut.

Zahra menoleh padanya. “Sedikit saja... rasanya aneh bisa berada di sini lagi tapi dengan suasana yang berbeda, dan ditemani orang yang dulu hanya ada dalam cerita.”

Rendra menatapnya lekat-lekat. “Begitu juga denganku. Dulu aku hanya tahu ada gadis pendiam di pojok kelas, lalu ada cerita tentang gadis yang rajin dan tulus, dan sekarang... ada Zahra yang duduk di depanku ini. Ternyata takdir punya cara sendiri menyatukan jalan yang berbeda.”

Rana yang mendengar itu tersenyum menggoda pelan namun tetap sopan. “Lihat saja nanti, siapa tahu pertemuan ini justru menjadi awal cerita lain yang tak terduga.”

Zahra sedikit tersipu, Rendra hanya tertawa kecil namun matanya tetap memancarkan ketertarikan yang dalam.

Selesai acara, sebelum kembali pulang, mereka sempat berkeliling sebentar di sekitar kota. Rana yang paling antusias mengajak ke tempat-tempat yang dulu sering dikunjungi Zahra. Di sepanjang perjalanan itu, Rendra dan Zahra semakin banyak berbicara tentang asal-usul, tentang perjuangan hidup, tentang pandangan masing-masing terhadap arti kesederhanaan dan kejujuran.

Rendra bercerita tentang masa sulitnya merantau, tentang bagaimana ia belajar bahwa harga diri tidak diukur dari pakaian atau kemewahan, melainkan dari keteguhan hati. Zahra berbagi tentang bagaimana ia berjuang melawan keraguan diri dan pandangan orang lain agar tetap bisa menuntut ilmu. Di sela-sela itu, Rana ikut menyambung cerita dengan nada ceria, namun ia sadar betul bahwa ikatan batin antara Rendra dan Zahra sedang tumbuh lebih erat dari sekadar teman atau keluarga.

Sepanjang hari itu, tidak ada pesan maupun kabar yang dikirimkan kepada Raka sesuai rencana awal agar perjalanan ini berjalan tenang dan bebas gangguan. Namun hal ini tanpa sadar menjadi titik balik yang penting di sini, untuk pertama kalinya, Zahra melihat sosok Rendra bukan lagi lewat kacamata cerita orang lain, melainkan lewat pengalaman langsung kesopanannya, keberaniannya, ketulusannya, dan daya tarik tenang yang terpancar dari setiap sikapnya. Sebaliknya, Rendra pun mulai melihat sisi Zahra yang luar biasa lembut namun kuat, sederhana namun cerdas, dan penuh kehangatan yang jarang ia temukan pada orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!