NovelToon NovelToon
Ketentuan

Ketentuan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Darimu aku belajar mencintai dengan ikhlas, meski tak terbalas.



(Nama yang selalu menjadi perbincangan disepertiga malamku)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Hari-hari berikutnya di isi oleh Indara seperti biasa, tentu dengan bekerja. Namun dalam beberapa hari ini gadis itu merasa enggan untuk lari pagi. Seperti yang terlihat pada saat ini, dia sedang sibuk melayani pengunjung cafe juga toko roti.

Gamila yang usia kehamilannya sudah mendekati HPL semakin susah bergerak, namun masih bisa untuk sekedar membantu di toko. Sedangkan Lafiza masih belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Namun itu bukanlah hal yang terlalu dipikirkan oleh keluarganya, karena setiap orang sudah memilik porsi rejekinya masing-masing.

“Ra.” Panggil Gamila pada gadis yang baru saja mengantarkan pesanan pengunjung.

“Kenapa mbak ?” Tanyanya dan semakin memangkas jarak pada Gamila juga Lafiza yang berada dibelakang meja kasirnya masing-masing.

“Ehh jujur deh Ra. Kamu hari Minggu keluar sama siapa ?” Tanya Lafiza dengan semangatnya.

“Minggu kapan ?”

“Iya hari Minggu beberapa hari yang lalu Ra.” Jelas Gamila yang semakin penasaran dengan sepupu dari suaminya itu.

“Oh, sama Ibam mbak. Sama Ina juga kok.” Jawabnya. “Mbak tau dari mana ?” Tanyanya kembali.

“Ibaaaam ?” Tanya Gamila dan Lafiza bersamaan.

Indara hanya mengangkat alisnya untuk mempertegas jawaban yang diberikannya. “Mbak Ila sama mbak Iza tau dari mana ?”

“Mama lah, siapa lagi.” Jawab Gamila. “Iya kan Za.”

“Eh Ra, emang Rai tau ?” Tanya Lafiza kembali.

“Emang apa hubungannya sama Rai Za ?” Tanya Gamila yang memasang wajah polos tanda tak megerti padahal ia tengah mengandung anak pertama.

“Mbak Ila nggak tau ?” Tanya Lafiza dan memandang saudara iparnya itu.

“Emang apa yang aku lewatkan ?” Tanya Gamila kembali.

“Kalau diliat-liat yah mbak. Ini diliat yah. Kayaknya Rai suka sama kamu Ra.” Jelas Lafiza.

“Terus mbak ?” Tanya Indara dengan ekspresi datarnya.

“Iya nggak terus-terus Ra.” Timpal Lafiza yang mulai menampakkan ekspresi kesal.

“Mbak gini deh, aku cuma anggap mereka teman kok.” Ucapnya, meskipun dengan setengah berbohong.

“Iya kah ?” Tanya Gamila dengan wajah yang penasarannya.

“Iya mbak. Nggak percaya ih.”

“Kalian lagi sibuk ngomongin apa ?” Tanya Bude’ Aya yang tiba-tiba berada tak jauh dari tiga perempuan itu.

“Nggak tau nih bude’. Asyik ngomongin pacar aja buat Ara.” Jawab Indara dengan memojokkan kedua kakak iparnya.

“Ih siapa yang ngomongin pacar kamu ? Kita cuma bilang yang sebenarnya. Kalau Rai itu suka sama kamu Ra.” Jelas Lafiza yang tak bisa mengontrol nada suaranya. Hingga terdengar ditelinga Naura yang baru saja mengambil pesanan pengunjung.

“Sudah, jangan urus urusan adik kalian ini. Biar dia sendiri yang nentuinnya.” Lerai Bude’ Aya.

“Tuh kan.” Jawab Indara dan menampakkan wajah menggoda pada keduanya. Sementara Gamila dan Lafiza hanya mengangguk dan mengiyakan saja apa yang dikatakan oleh Indara.

Naura berusaha menampakkan ekspresi sedatar mungkin, ia begitu terkesiap mendapati kenyataan bahwa orang-orang disekitar Indara juga mengetahui bahwa ternyata Rai menyimpan perasaan pada Indara.

Kembali sakit,,,

Sesak,,,

Itulah yang dirasakan oleh Naura, ia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam untuk menetralisirkan pikiran dari kekacauan. Ia begitu mengagumi Rai, bahkan jauh sebelum Indara mengenal sosok Rai.

“Nau, ntar kamu kepabrik yah. Kita ketemu disana.” Ucap Bude’ Aya yang melihat Naura menuju kearah mereka.

“Iya bu. Ntar saya kesana.” Jawab Naura sambil menunduk.

“Ya sudah. Bude’ pergi dulu Ra.” Pamit Bude’ Aya. “Kalian jangan sibuk ngerumpi aja.” Lanjutnya kembali.

“Iya mama.” Jawab Lafiza dengan cengengesan.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam.” Jawab ketiganya yang berada didepan kasir itu.

***

Malamnya setelah toko tutup namun Indara masih belum beranjak dari toko, karena ia harus menghitung penghasilan hari itu. Beruntung ia ditemani oleh dua karyawan yang tidak tega meninggalkannya sendirian meskipun petugas keamanan berjaga.

Gadis itu dengan teliti menghitung beberapa tumpukan uang yang diletakkan di atas meja kasir. Sama seperti yang biasanya dilakukan oleh Naura.

“Coba ada Naura, aku nggak perlu ngitung-ngitung nih.” Ucapnya pada diri sendiri sambil sibuk menghitung beberapa uang recehnya.

Setelah beberapa lama menghitung, akhirnya menyelesaikan pekerjaan tambahan itu. Pun berbarengan dengan kedua karyawan yang pamit untuk meninggalkan toko.

“Mbak Ara, kami pamit dulu. Sudah ada janji ketemu teman mbak.” Ucap salah satu karyawan itu.

“Oh iya mbak. Terima kasih sudah mau nungguin saya mbak.” Jawab Indara dengan santunnya.

“Iya mbak sama-sama.” Ucap keduanya. “Assalamualaikum mbak.”

“Waalaikumussalam.” Jawab Indara dan segera memasukkan amplop berwarna coklat kedalam tasnya, kemudian bersiap-siap meninggalkan toko.

Indara berkendara sendiri ketika pulang dari toko. Ini sudah menjadi hal yang biasa baginya. Entah itu karena Bude’ Aya masih dipabrik ataupun Naura yang harus mengerjakan tugas kelompok ataupun karena berada dipabrik bersama Bude’ Aya.

Saat tengah fokus mengendarai motornya, tiba-tiba Indara merasa ada yang aneh dan motornya seperti tak berjalan seperti biasa. Hingga ia harus berhenti disamping jalan untuk memeriksanya. Rupanya ban depan motornya bermasalah, gadis itu tak terlalu mengerti menganai otomotif. Ia memilih untuk menghubungi Arfan kakak sepupunya. Kemudian mengabari Bude’ Aya, mungkin ia akan pulang sedikit terlambat.

Terdengar suara kekhawatiran dari Bude’ Aya saat Indara menelponnya. Namun wanita paruh baya itu berhasil ditenangkan oleh Indara, bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sementara Naura ternyata sudah meninggalkan pabrik beberapa saat yang lalu, dikarenakan ia harus mengerjakan tugas kelompok.

Setelah dihubungi oleh Indara, Arfan langsung menuju tempat Indara berada. Namun, Indara harus lebih bersabar karena jarak rumah Arfan dengan tempatnya saat ini terbilang cukup jauh. Gadis itu berniat kembali ke toko untuk menunggu Arfan, tetapi jarak dari toko pun sudah jauh. Sedangkan jarak untuk menuju rumah Bude’ Aya juga masih terbilang jauh.

Gadis itu hanya duduk termenung dipinggir jalan sambil sesekali melirik arloji yang melingkar ditangannya. Didekap tasnya erat-erat karena ia sedang membawa uang hasil toko hari ini. Sungguh begitu tak bersahabat nasib dengannya hari ini.

Mata Indara menyipit saat cahaya lampu motor memasuki retinanya. Ia berpikir bahwa Arfan telah sampai dan akan menjemputnya. Namun yang ditangkap oleh penglihatannya malah bukan wajah kakak sepupunya.

“Ara kamu ngapain disini ?” Tanya Ari setelah memarkirkan motornya tepat dihadapan Indara.

“Aku lagi nunggu mas Arfan buat jemput.” Jawab Indara sambil menghela napas lega. Setidaknya jika bukan Arfan yang ada dihadapannya namun Ari bukanlah orang jahat.

“Motor kamu kenapa emangnya ?” Tanya Ari dan memperhatikan motor Indara.

“Nggak tau, tadi tiba-tiba kayak oleng gitu Ri. Ban depannya kempes juga.” Jelas Indara pada Ari yang kini sudah berada di depan motor Indara.

“Oh ini kayaknya ban dalamnya pecah deh Ra.” Ucap Ari dan berjalan menuju Indara kembali. “Aku temenin kamu yah nunggu mas mu.”

“Nggak apa-apa Ri kamu nemenin aku disini ?” Indara malah balik bertanya.

“Iya nggak apa-apa kok. Dari pada ntar ada orang yang berniat jahat sama kamu.” Jawab Ari.

“Iya udah. Aku minta tolong ya Ri. Aku juga takut soalnya.” Pinta gadis cantik berbalut jilbab coklat itu.

“Iya.” Ucap Ari. “Kamu naik dimotor gih, jangan duduk disitu.” Ucap Ari mempersilahkan Indara untuk duduk di atas motornya. Sedangkan dirinya sendiri malah duduk disamping Indara.

Indara hanya mengangguk menuruti ucapan Ari. “Kamu abis dari emangnya Ri ?” Tanya Indara saat melihat kantong plastik di depan motornya.

“Abis ke mini market Ra. Awalnya aku nggak yakin sih kalau itu kamu. Tapi makin lama makin jelas. Ya udah makanya aku samperin.” Jawab Ari dan membenarkan duduknya.

“Oh.” Ucap Indara sembari menganggukkan kepala. “Kok mas Arfan lama yah.” Ucapnya kembali sembari melirik pergelangan tangannya.

Cukup lama mereka berbincang, hingga Indara pun mulai khawatir dengan Arfan yang belum saja sampai untuk menjemputnya. Ari menyadari raut wajah Indara kemudian ia pun mengusulkan saran.

“Ra, mending kamu pulang deh. Ini udah mau jam sepuluh ini. Nggak baik Ra.” Ucap Ari sambil melihat wajah ayu Indara yang sesekali terkena lampu kendaraan yang berlalu lalang.

“Iya tapi gimana Ri ?” Tanyanya pada Ari.

Sementara laki-laki itu sibuk mengecek ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Halo mas. Bisa minta tolong untuk ngambil motor teman saya ? Nanti saya kirimkan alamatnya.” Ucap Ari dengan seseorang yang berada diseberang telepon.

“Oke mas. Abis ini saya kirimkan alamatnya.” Ucap Ari kembali dan menyudahi panggilan teleponnya.

“Ra.” Panggil Ari. “Kamu bawa motorku aja. Aku nungguin orang yang ngambil motormu disini.” Ucapnya kembali.

“Tapi Ri.”

“Nggak usah tapi-tapian Ra. Kamu bawa motorku aja. Janji kalau motormu udah diperbaiki aku langsung antar kerumah Bu Haya.” Jelas Ari kembali.

“Tapi mas Arfan ?” Tanya Indara.

“Ya udah, coba dihubungi dulu. Kalau sekiranya masih jauh kamu bawa motorku pulang. Biar aku yang nungguin orang bengkel buat ngambil motormu.” Saran Ari.

Indara hanya mengangguk kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Arfan. Rupanya laki-laki itu masih berada ditengah jalan dan sepertinya akan sampai sekitar lima belas sampai duapuluh menit lagi.

Indara langsung memberi tahu Arfan untuk menemuinya dirumah Bude’ Aya karena ia akan pulang menggunakan motor Ari. Awalnya Arfan tak mengijinkan, namun karena Indara menjelaskan bahwa Arfan pernah melihat Ari saat berkunjung ditoko. Bertepatan dengan ia menjemput Gamila. Akhirnya Arfan mengijinkan dan akan menemui Indara di rumah Bude’ Aya.

“Ri, nggak apa-apa kan aku bawa motormu dulu ?” Tanyanya sambil menatap Ari.

“Iya Ra nggak apa-apa.” Ucap Ari dan menganggukkan kepalanya. “Ini kontaknya.”

Indara menerima kontak motor matic Ari dan memberikan kantong plastik milik Ari padanya.

“Ri, aku boleh minta kontakmu ?” Tanyanya kembali.

Ari tak merespon pertanyaan Indara, namun malah menyodorkan ponselnya pada gadis yang sudah berada di atas motornya sembari memakai helmnya.

Indara menerima ponsel Ari dan mulai mengetik nomor teleponnya.

“Aku akan ngasih tau kamu kalau udah selesai.” Ujar Ari dan menyimpan kontak Indara.

“Iya Ri, terima kasih banyak sebelumnya.” Ucap Indara. “Aku pamit Ri. Assalamualaikum.” Ucapnya kembali dan menyalakan motor Ari. Sesaat kemudian Indara mulai mengecil dipandangan Ari dan hilang di tengah kendaraan lainnya dijalanan.

“Waalaikumussalam. Alhamdulillah dapat kontaknya. Ada untungnya aku bawa motor matic itu.” Ucapnya pada diri sendiri, dan kembali duduk di atas motor Indara sembari menunggu mas bengkel untuk menjemputnya.

1
Soratobazu
uwow
Eli Usada
jangan lama-lama up nya thor 😭
kisses and martini
lanjuttt thorrr semangat ,jangan lupa jaga kesehatan ,dan jangan lama lama upnya ok
fleurlovin
Seru banget!! Nanti aku mampir ke karya yang lain deh!! Semanga Thor!!!
SecretGiggle
Permisi thor izin bertanya.. kapan kiranya ceritanya bisa lanjut? Saya sudah menunggu.. tapi akan terus saya tunggu hingga ribuan purnama huhu
Hulk
wahh kakak author .ini novel keren aku suka. ya meskipun belum selesai aku baca nya . tapi asli keren . nyesel dah pokoknya kalau udah baca gak diselesaiin. semangat ya kak😊😊
peto
semangat thor,ceritanya bagus,..crazy up dong
Jantung Taman
Thor, lanjut!!
sunshinegyspy
ceritany keren banget..............jadi baper hehehe. di tungu up selanjutnya SEMANGAT...
Atas Untuk Diikuti
Jadi pengen sungkem ke author! *ampun bang jago! ceritanya keren banget!
Dewa Yunani
lanjut semngat menulis karya karya mu thorr sehat sll😍😘
girlganggoodies
Seru Thor!! Lanjut ya ya! Plis Thor!
SizzlingTeapot
cerita yg bagus...gak banyak part nya tp jelas,singkat n feel nya dapet banget,aku lebih suka cerita yg gak terlalu banyak part nya,ini udah ok banget Thor..tapiii sayang like kok dikit yaaa...semangat terus Thor💪💪
SugaryHeaven
Maaf ya thor, baru bisa komen. Soalnya aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari ceritamu yang seru ini~
TexasTiger
Ceritanya makin seruuuu! Semangat Thor!
DavidTheDancer
Thor, aku bacanya sampe qerja lembur bagai quda. Pasti author ngetiknya juga ya sampe belum emam! Aku semangatin deh!! Semangat!
Soratobazu
semangat upnya dan selamat liburan
kisses and martini
Aku terhibur baca ceritanya kak, monggo dilanjuuut~
blouses and houses
semangat thor,ceritanya bagus,..crazy up dong
Kekasih Dropper
Authoooor~ hari ini wishlist aku cuma satu, yaitu mau tau kelanjutan cerita author!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!