Dista Keinadira, harus menelan rasa pahit kala Pamannya menjadikan sebagai alat penebus hutang. Kepada sosok pria lajang tua kaya raya yang memiliki sifat dingin dan sulit ditebak yaitu, Lingga Maheswara.
Pernikahan yang hanya dianggap nyata oleh Dista itu selalu menjadi bumerang dalam rumah tangga mereka. Lingga selalu berbuat kasar kepada Dista yang selalu saja mengharapkan cinta darinya.
•••••
"Satu ucapan cintaku akan setara dengan derasnya air mata yang akan kau keluarkan, Istriku.." Kata Lingga disela isak tangis menyakitkan Dista.
∆∆∆
Halo, jangan lupa follow dan dukung selalu🙃
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haasaanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMP~BAB 28
Dari sinilah Dista sadar dengan kebesaran Lingga, banyak orang-orang kaya yang terus mencari celah kesalahannya. Apa lagi Dista juga mendengar ada salah satu tamu yang ber bisik-bisik tentang hubungan pernikahan mereka. Sontak Dista langsung duduk lebih dekat dengan sang suami, membuat Lingga langsung menoleh kearahnya.
“Ada apa? Kenapa kau mendekat kepadaku?” Tanya Lingga, ia terlihat tidak suka. “Jelas-jelas di sampingmu masih sangat luas, kenapa kau menempel begini?”
Mata Dista memberi kode kearah tante-tante yang sedang memegang gelas berisi minuman anggur yang bergosip. Sontak Lingga langsung mengerti, ia mengarahkan tangannya melingkar dipinggang Dista. Membuat tante-tante itu langsung terdiam dan bahkan berlalu pergi.
“Padahal aku baru melingkarkan tanganku, kalau aku mencium mu pasti mereka pingsan ditempat,” ucap Lingga yang mana membuat Dista terdiam sebentar.
Satu hal yang membuat Dista sadar adalah bahwa Lingga paling tidak suka disepelekan. Disaat seperti ini, pasti banyak orang yang menyepelekan atas ketidakmampuannya dalam mendapatkan Vania. Dista sedikit tahu masalah ini, ia hanya tersenyum tipis saja sambil menikah makanan yang ada.
“Aku mau ke toilet, kau tetaplah disini jangan kemana-mana,” ucap Lingga yang hanya diangguki Dista. Mata Dista terus mengekori kepergian sang suami hingga tidak terlihat lagi.
“Tuan mau pergi kemana?” Tanya Malik yang tiba-tiba saja muncul membuat Dista terkejut.
“Malik, kau mengejutkan aku!” Perkataan Dista membuat Malik tertawa karna ekspresi wajah Dista kala terkejut tadi sungguh lucu.
“Tuanmu mau pergi ke toilet katanya,” Dista menjawab pertanyaan Malik yang mengejutkannya tadi. Malik mengangguk saja, ia duduk sedikit jauh dari Dista. Menjaga wanita itu dari para tamu-tamu yang mungkin saja menanyakan hal yang tidak penting padanya.
•
Sementara Lingga mencari toilet karna ingin membuang air kecil. Tapi, kala melewati toilet wanita langkah Lingga terhenti. Ia seperti mendengar suara seorang wanita menangis, dan suara itu tidak asing di telinga Lingga.
“Siapa?” Lingga mengetuk pintu yang mana ia mendengar suara wanita menangis.
Pintu itu pun terbuka, sungguh terkejut Lingga kala melihat Vania sudah sangat berantakan. Rambutnya yang dihias cantik tadi sudah berantakan bahkan hiasan diwajahnya hancur karna air matanya yang mengalir deras.
“Kau kenapa, Vania? Siapa yang menyakitimu?” Tanya Lingga, emosinya sudah memuncak melihat Vania dalam keadaan seperti ini.
Tangan Lingga ditarik oleh Vania hingga pria itu masuk ke dalam toilet. Vania memeluk erat Lingga, sangat erat hingga Lingga tentunya heran dengan itu. Terakhir kali Lingga sangat ingat jika Vania paling tidak suka dipeluk seperti ini.
“Lingga, maafkan aku.. Maafkan aku telah menyia-nyiakan semua cintamu, aku tidak berguna! Aku menyesal!” Ucap Vania disertai tangisan yang mana Lingga belum mengerti dengan semua arti kata itu.
Lingga melera pelukannya hingga saling tatap dengan Vania, tangan Lingga menghapus air mata Vania yang terus saja mengalir deras.
“Ada apa? Siapa yang menyakitimu? Apakah pria miskin itu melakukan hal yang menyakitimu?” Tanya Lingga beruntun.
Perlahan Vania mengangguk, ia menumpahkan air matanya lagi dihadapan Lingga. Sungguh sakit hati Lingga melihat kerapuhan Vania saat ini.
“Dia berselingkuh dengan wanita lain dibelakangku, Lingga.. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia bermain dengan wanita itu..” Aduan Vania membuat darah Lingga mendidih.
“Sebenarnya aku tidak mau melanjutkan pertunangan ini, tapi aku sudah mengundang semua orang. Tapi, sekarang aku memang tidak sanggup untuk memaklumi kesalahan dari Aldo lagi, aku mau ini semua berakhir!” Ungkap Vania yang mana membuat Lingga bingung harus apa sekarang.
“Aku akan memutuskan hubungan ini, apa kau mau kembali denganku?” Tanya Vania dengan suara yang sungguh lemah, Lingga menjauhkan tangannya dari pundak Vania.
“Katanya kau mencintai ku, aku sudah tidak punya siapa-siapa sekarang selain dirimu, Lingga!”
“Hatiku bukan mainan, Vania.. Yang mana kau tarik ulur begini, aku sudah mengikhlaskan mu bersama dengan pria itu. Mau bagaimana hubungan kalian, aku sudah tidak perduli akan itu.” Respon Lingga sungguh mengejutkan bagi Vania.
Bahkan Lingga berlalu pergi tapi tangannya dicekal oleh Vania. Wanita itu langsung membungkam bibir Lingga dengan lumatan bibirnya. Lingga hanya diam tidak membalas pergerakan bibir itu, tapi Vania tetap berusaha untuk mendapatkan balasan dari Lingga.
Otak Lingga bekerja, ia mendapatkan herpaan nafsu yang membuatnya tidak bisa menolak Vania kali ini. “Persetan dengan Dista ataupun Vania yang sempat jahat padaku, intinya aku harus mendapatkan kenikmatan ini!” Gumam Lingga didalam hati.
Masih melakukan lumatan bibir yang dibalas Lingga, pria itu mengangkat tubuh Vania menuju wastafel. Menarik celana dalam Vania dan menurunkan gaun Vania untuk memudahkan nya menikmati bongkahan gunung itu. Lingga melahap boba Vania hingga wanita itu merintih dan memejamkan matanya sembari memperdalam kepala Lingga akan aktivitasnya.
Bahkan tanpa pemanasan sama sekali Lingga memasukkan adiknya kedalam inti Vania. Hingga wanita itu merintih kencang disela hentakkan Lingga yang memabukkan.
“Katakan dengan jujur, Vania.. Lebih nikmat aku atau Aldo itu?” Tanya Lingga sembari menghentakkan pinggulnya agar adiknya masuk lebih dalam.
Vania yang masih menikmati setiap pergerakan dari Lingga mengalungkan tangannya pada leher pria itu.
“Lebih nikmat dirimu, Lingga.. Jadilah milikku selamanya maka kau akan merasakan kenikmatan ini setiap harinya.” Jawaban Vania membuat Lingga tersenyum puas.
Keduanya saling mengejar kenikmatan satu sama lain, tanpa memikirkan perasaan Dista. Lingga memikirkan hawa nafsu, sementara Vania memikirkan hal yang serupa dan ia tidak perduli dengan posisi Dista sebagai istri dari Lingga.
“Maafkan aku, Dista.. Aku kehilangan Aldo, maka aku tidak mau kehilangan Lingga juga. Aku butuh kenikmatan dari Lingga, aku butuh kekayaan Lingga disaat seperti ini.” Gumam Vania sembari menjerit kencang kala mengalami pelepasan bersama dengan Lingga.
Pamannya wkwkkwkw luar binasa bukan luar biasa lagi di luar akal udh sifatnya apa orang begini calon penghuninsurga wkwkkwkw gk jamin juga jmaaf ya agak gk bisa nerima
Wkwkwkkwkw wanita goblok gk tau apa yg pantas di sebut gk bisa menghargai diri sendiri
Penderitaannya dgn dalih mencari pahala , wkwkkwkw pahala itu bukan hanya dgn melayani suami yg biadab yg ada mati, sholeha yg keliru 🥶