Instagram : @imeldona
SEASON 2 : Tentang Kasih Sayang dan Perjuangan Orangtua untuk mengungkap kebenaran anaknya, juga berlatar belakang kisah cinta Remaja.
SEASON 1 :Kisah Cinta pertama.
Saling mencintai namun karena pertentangan orangtua, mereka saling dipisahkan.
Hingga Kemudian Mereka dipertemukan kembali, tapi mereka sudah tidak dapat bersama karena Sefia sudah menjadi istri pria lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Terakhir
Semenjak kejadian di restoran tadi, Sefia begitu canggung terhadap Dedi ataupun Angga suaminya.
Sefia buru-buru masuk kamar lalu Dedi mengejarnya.
"Kamu marah?" tanya Dedi santai.
"Gak." sahutnya ketus.
"Kenapa marah?" tanya Dedi lagi karena ia tahu dari nada bicaranya menunjukkan bahwa Sefia tengah marah padanya.
"Aku cuma bingung aja sama kamu, bisa-bisanya kamu bicara konyol seperti itu denganku."
Dedi memegangi kedua sisi pundak Sefia agar ia menatap matanya. "Konyol katamu? Aku serius."
"Gimana caranya kita menikah? Aku ini masih istri orang."
"Ya udah kita nikah di Belanda saja."
"Hei, kamu pikir kita dalam hubungan sejenis." Sefia mengeraskan suaranya kesal.
"Kan terlarang." sahutnya setengah bercanda.
"Dedi, kamu bercanda mulu. Kita sulit untuk bersama, bahkan mas Angga sudah mulai berubah."
"Kamu yakin kalau suamimu sudah berubah dan bisa bahagiain kamu?"
Sefia ragu tapi tak urung ia mengangguk untuk meyakinkan Dedi. "Yakin."
Dedi mengacak rambut Sefia layaknya anak kecil. "Ah, baiklah. Asal kamu bahagia saja." ucap Dedi dengan tatapan nanar lalu berbalik untuk pergi.
Sefia mengulurkan tangannya untuk mencegah Dedi pergi tapi ia kaku seketika mengingat bahwa hal ini adalah yang terbaik.
"Argh, kenapa selalu seperti ini." Sefia melemparkan badannya diatas ranjang dan ia pun gusar.
****
Pagi hari Sefia turun ke restoran untuk menyantap sarapan tapi Ia tidak menemukan atasannya disana.
"Dek, sini!" sapa Angga menyuruh Sefia duduk dengannya.
Sefia pun duduk sebelah suaminya, tapi ia masih menoleh mencari keberadaan atasannya, Dedi.
"Kamu mau sarapan pake apa? Biar mas yang ambilin." tawar Angga pada istrinya.
"Ah, gak usah mas. Sefia bisa ambil sendiri kok, bentar ya."
Sefia pun mengambil beberapa menu sarapan ala indonesia, lalu ia menaruhnya diatas meja.
Dia kemana ya?
Selama menyantap makanannya, pikiran Sefia hanya tertuju pada atasannya. Ia merasa khawatir.
"Oh ya, presdir gak ikut sarapan bareng kita?" tanya Angga.
"Kayaknya enggak deh mas, dia mungkin lagi tidur sekarang."
"Oh." Angga mengangguk kecil lalu kembali mengunyah sarapannya. "Oh ya, selesai sarapan kita jalan-jalan sebentar yuk, Dek! Lagian acaranya kan masih nanti sore."
"Oke mas, boleh."
Setelah mereka selesai sarapan, Angga dan Sefia bergegas keluar dari gedung hotel dan memilih berjalan kaki untuk melihat pasar wisata yang tak jauh dari gedung.
Banyak pernak pernik yang dijual, pengamen musik klasik di pinggir jalan. dan ramainya para pengunjung di pagi hari sekaligus menikmati sinar matahari pagi.
Saat Sefia memilih salah satu pernak pernik, lalu Angga suaminya menawarkan diri untuk membelikannya dan masuk kedalam toko untuk melakukan pembayaran, seketika itu pula jemari seseorang menggapai jemari Sefia dan menuntunnya untuk pergi.
"Dedi, kamu ngapain?"
"Nyulik kamu." sahutnya tersenyum.
"Kamu Gila ya."
Mereka pun pergi jauh meninggalkan Angga.
"Loh, kemana perginya?" Angga kaget mendapati istrinya sudah tidak ada ditempat.
****
Dedi membawa Sefia kesebuah toko antik, mereka pun masuk dan melihat-lihat apa yang menarik perhatian.
Sefia mengamati wajah Dedi yang sayu dan ada lingkar mata hitam terlihat jelas dimatanya, mendakan kalau ia semalam kurang tidur.
"Kamu tadi gak sarapan?" tanya Sefia.
Dedi hanya membalas senyum pada Sefia lalu tiba-tiba mengecup bibirnya sekilas, membuat Sefia membelalak kaget dan menggerutu.
"Duh, kalian pagi-pagi sudah bermesraan saja." ucap ibu penjaga toko.
"Biasa buk, lagi sarapan." sahut Dedi dengan tawa tengilnya.
"Dedi." Sefia menepuk bahu Dedi, kesal. Tapi ia malah makin tertawa dan terus menggodanya.
"Apa kalian suka barang antik?" tanya ibu penjaga.
"Ya, saya menyukainya." sahut Dedi, dan si ibu penjaga mengambil sebuah jam saku klasik terdapat angka romawi berwarna perak dan terkesan mewah.
"Ini bagus untuk kamu berikan pada istrimu, didalamnya kamu bisa berikan foto kalian berdua."
"Maaf bu tapi kami...." Sefia ingin berterus terang tapi Dedi menyekanya.
"Iya saya ambil yang ini, terimakasih bu. Istri saya sangat menyukainya." Dedi merangkul Sefia dan menoleh padanya. "Iya kan sayang?"
Sefia hanya bisa parah saja. "Iya."
Setelah melakukan pembayaran, mereka pun bergegas keluar toko dan tak lupa mengucapkan terimakasih pada pemilik toko yang sudah paruh baya.
"Terimakasih bu, doakan kami supaya secepatnya dapat momongan." ucap Dedi ketika berlalu pergi dan lagi-lagi mendapat tepukan kesal dari Sefia.
"Dedi." gumam Sefia kesal.
"Iya nak, semoga kalian berdua bahagia sampai kakek nenek dan ajak anak kalian nanti main kesini."
"Iya bu, pasti." sahut Dedi dari kejauhan.
Dedi sangat senang mendengar kata seperti itu, berbeda dengan Sefia yang sudah tampak kesal dibuatnya.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Sefia sembari menunduk, menutup wajahnya.
"Aku perlu ngomong sesuatu sama kamu."
"Mau ngomong apaan sih? Kan bisa disini."
"Udah deh Fi, ikut aja gak usah protes. Sekali lagi protes, aku bener-bener nyulik kamu loh."
"Ya Udah, iya. Aku gak bakal protes, tapi se-enggaknya kalo pergi tuh kamu harus pake topi biar gak jadi pusat perhatian gini."
"Bersyukur dong seharusnya bisa bareng pria tampan kaya aku."
Sefia memutar bola matanya jengah. "Terserah."
Banyak mata tertuju pada Dedi dan mengaguminya. Membuat Sefia yang berada disampingnya merasa rendah diri dan sesekali menghentikan langkahnya agar Dedi berjalan mendahuluinya tapi tak berarti ketika Dedi menariknya lalu menyatukan jemari mereka berdua.
"Dedi, kalau sampai ada orang kantor yang lihat, bagaimana?" tanya Sefia panik.
"Ya udah, bilang aja kalo kita lagi pacaran."
"Dedi, aku serius, ih!"
"Aku juga serius, aku gak bisa tidur semalam gara-gara mikirin omonganmu."
"Lalu?"
Dedi menghentikan langkahnya ketika mereka sudah cukup jauh dari keramaian dan melepas genggaman tangannya.
"Aku memutuskan untuk menyerah padamu, Fi." ucap Dedi memunggungi Sefia karena ia tidak sanggup jika mengatakan hal yang begitu berat sambil memandangi wajah perempuan itu.
Deg!
Jantung Sefia serasa tertusuk tombak mendengarnya, sangat sakit ia rasakan. Tapi, kali ini ia harus meyakinkan diri bahwa ini adalah keputusan yang terbaik. Ia hanya bisa menunduk sedih atas keputusan terbaik yang diambil oleh Dedi.
Dedi membalikan badan lalu menggapai tangan Sefia dan memberikan jam saku antik tadi untuk ia genggam dengan tatapan nanar.
"Ini untukmu, hadiah terkahir dariku. Semoga kamu bahagia." ucap Dedi tulus tapi tak sanggup menatap mata Sefia yang keduanya mulai nanar serta menahan air mata.
Ketika Dedi membalikkan badannya untuk pergi meninggalkan perempuan didepannya, Sefia tiba-tiba menarik baju Dedi untuk menahannya.
"Kenapa?" tanya Dedi ketika menoleh.
CUP
Sefia mengecup bibir Dedi sekilas. "Hadiah terakhir dariku." ucapnya.
Dedi pun membalasnya dengan menarik tubuh Sefia lalu melumat bibirnya penuh kasih dan kelembutan.
"Terimakasih." ucap Dedi ketika melepas pagutannya kemudian berlalu pergi meninggalkan Sefia.
Sefia hanya bisa menangis tanpa bisa melakukan apa-apa. "Semoga kamu juga bahagia, Ded."
****
Dedi : Kali ini aku gak bakal egois lagi, Fi! Asal kamu bahagia, aku pun sama.
aga & Yuna jg donk Thor.. lg seru2 nya..