Azizah, seorang wanita bisu dari desa yang merantau ke kota untuk bekerja sebagai pembantu baru. Namun kelembutan hatinya justru memikat sang nyonya majikan yang kemudian bersikeras menjodohkannya dengan putra sulungnya, Ezra.
Ezra menolak keras karena sudah memiliki kekasih, begitu pula Azizah yang tidak ingin menikah tanpa cinta. Namun demi menyelamatkan sang nyonya yang terkena serangan jantung, pernikahan itu terpaksa digelar. Di tengah dinginnya sikap Ezra, mampukah ketulusan Azizah menyentuh hati suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penyuka ungu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam-diam ketagihan
Azizah melangkah masuk ke kamar Ezra dengan nampan berisi semangkuk bubur ayam buatannya. Ezra masih berbaring, namun begitu mendengar derap langkah Azizah, ia segera mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di kepala ranjang dengan raut wajah yang masih menahan nyeri di perutnya.
Azizah mendekat, meletakkan nampan di nakas, lalu dengan sigap mengambil mangkuk bubur itu. Ia berniat menyuapi pria itu, namun Ezra menepis tangan Azizah dengan gerakan cepat.
“Aku bisa makan sendiri,” ucap Ezra ketus.
Azizah akhirnya menyodorkan mangkuk bubur itu ke arah Ezra dan memaksa pria itu memegangnya. Ezra terdiam sejenak, menatap isi mangkuk di tangannya dengan tatapan curiga yang sangat kentara.
Melihat keraguan yang terpancar jelas di mata suaminya, Azizah merasa gemas. Ia berniat merebut kembali mangkuk itu untuk menyuapi Ezra secara paksa agar pria itu tidak banyak alasan lagi.
Namun Ezra menarik mangkuk itu menjauh dengan gerakan sigap, “Apa kau menaruh racun di dalamnya?” tanya Ezra.
Azizah terpaku sejenak, lalu segera mengeluarkan ponselnya dari saku celemek. Jemarinya mengetik dengan cepat dan menunjukkan layar ponselnya tepat di depan wajah Ezra dengan ekspresi datar namun tajam.
‘Untuk apa aku meracunimu? Aku tidak ingin menjadi janda muda secepat ini.’
Ezra terdiam seribu bahasa setelah membaca kalimat itu. Tatapannya terpaku pada layar ponsel, lalu perlahan beralih ke wajah Azizah yang tampak serius. Keheningan menyelimuti kamar itu selama beberapa detik.
Dengan gerakan canggung, pria itu akhirnya meraih sendok di dalam mangkuk. Ia menyendok sedikit bubur itu, lalu mencicipinya di ujung lidah.
Ezra melebarkan matanya saat rasa bubur itu menyentuh lidahnya. Tidak disangka, rasanya sangat pas dan nyaman di perutnya yang sejak semalam meronta. Tanpa sadar, ia mulai menyendok bubur itu dengan suapan yang lebih besar.
Azizah yang berdiri di sampingnya sebenarnya ingin sekali tertawa melihat perubahan drastis ekspresi pria itu, namun ia tetap menjaga raut wajahnya agar tetap datar.
Menyadari Azizah terus memperhatikannya, Ezra langsung berdehem untuk memecah kecanggungan.
“Aku makan karena memang tidak ada pilihan makanan lain,” ujarnya membela diri, “Lagipula, kau menyita ponselku, jadi aku tidak punya akses untuk memesan makanan dari luar.”
Azizah hanya mengangguk pelan. Walaupun pria itu berusaha menutupi gengsinya dengan alasan logis, Azizah cukup peka untuk menilai bahwa Ezra sebenarnya sangat menikmati masakannya. Ia memberikan isyarat agar pria itu melanjutkan makannya.
Ezra kembali menyantap bubur itu dengan lahap. Sesekali, ia melirik Azizah yang berdiri tenang di sampingnya. Begitu mangkuk itu tandas hingga dasar, ia mengembalikannya kepada Azizah.
“Ada lagi?” tanya Ezra singkat.
Azizah menaikkan sebelah alisnya.
“Buburnya... Ck, jangan berpura-pura tidak mengerti,” gerutu Ezra dengan wajah memerah tipis karena gengsi.
Azizah tersenyum lebar menyadari maksud pria itu, lalu mengangguk dan bergegas kembali ke dapur untuk mengambil porsi kedua.
Sepeninggal Azizah, Ezra merutuki kebodohannya sendiri dalam hati.
Apa-apaan ini?! Pikirnya.
Ia merasa tidak seharusnya ia menyukai masakan wanita yang selalu ia tentang. Namun, lidahnya tidak bisa berbohong. Masakan Azizah benar-benar lezat, bahkan jauh melampaui masakan Mbak Ida. Bahkan Sienna, wanita yang selama ini ia anggap sempurna, sama sekali tidak bisa memasak.
Tidak berselang lama, Azizah kembali dengan mangkuk bubur porsi kedua. Tanpa banyak bicara, Ezra kembali menerimanya dan menyantapnya dengan lahap, seolah rasa lapar dan lezatnya masakan itu telah meruntuhkan tembok pertahanannya untuk sementara waktu.
Azizah kemudian mengetik sesuatu di ponselnya dan menyodorkannya pada Ezra.
‘Apa perlu kutelepon Mama?’
Ezra yang masih sibuk mengunyah, menatap singkat ke arah layar itu, “Tidak perlu. Jangan menghubunginya. Dia pasti akan sangat heboh jika melihatku sakit.”
Azizah mengangguk mengerti. Ia merogoh kantung celemeknya dan memberikan nota pesanan bunga tadi.
“Ah, bunga? Taruh saja disitu,” ucap Ezra sambil menunjuk nakas dengan dagunya.
Azizah langsung menurut, lalu mengetik di ponselnya.
‘Apa kau suka bunga? Rumah ini di setiap sudutnya penuh bunga.’
Ezra menelan bubur di mulutnya, “Hanya untuk penelitian.”
Azizah menatap bingung.
“Awalnya, aku ingin meluncurkan produk parfum dengan sampel bunga asli. Tujuan utamaku adalah meneliti aroma alami dan karakter wanginya. Karena itu, aku bisa memperhitungkan target pasar untuk parfum itu.”
Ezra melirik Azizah yang terlihat fokus mendengar penjelasannya, “Dan setelah produk itu rilis, ternyata menaruh bunga segar di rumah sudah menjadi kebiasaan. Pandangan mataku sudah terbiasa melihat bunga-bunga di vas itu. Jadi, aku masih memesan bunga sampai sekarang,” jelasnya lalu kembali fokus pada bubur ditangannya.
Perlahan, Azizah menarik kedua sudut bibirnya. Ia senang karena nada bicara pria itu menjadi berbeda. Penjelasan Ezra begitu tenang dan jauh dari kata-kata kasar. Namun ia buru-buru mengetik begitu mengingat sesuatu.
‘Untuk bunga yang lama, biasanya dibuat apa?’
“Dibuang.”
Azizah kembali mengetik balasan.
‘Tapi bunga lama masih cukup segar. Sayang kalau dibuang begitu saja.’
Ezra menghela napas, “Tapi tetap saja itu hanya bunga. Sudah, buang semuanya.”
Bahu Azizah luruh. Ia hanya bisa mengangguk pasrah.
Sedetik kemudian, ponsel Ezra yang berada di dalam kantung celemeknya tiba-tiba bergetar. Azizah mengeluarkan ponsel itu dan melihat notifikasi pesan yang masuk. Nama Sienna terpampang jelas di sana. Tangannya seketika menegang, dan ia meremas ponsel itu dengan perasaan yang sulit diartikan.
“Siapa?” tanya Ezra.
Azizah tersentak kecil, lalu menatap pria itu. Keraguan sempat hinggap di hatinya, namun ia memantapkan diri. Lebih baik ia jujur. Dengan tangan yang sedikit kaku, ia menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya.
Begitu Ezra melihat layar ponselnya, ia buru-buru meletakkan mangkuk buburnya ke atas nakas, bahkan membiarkan isinya yang masih tersisa. Ia segera membuka pesan dari Sienna.
Azizah melirik mangkuk itu sekilas, merasakan hantaman pahit di dadanya. Saat Ezra mulai membuka diri dan menerima kehadirannya sedikit saja, sosok wanita itu kembali lagi. Ia menatap suaminya sejenak dan mendapati Ezra sedang tersenyum lebar. Ia sangat yakin, ada kabar bahagia di sana.
Merasa bahwa ia tidak lagi memiliki kapasitas atau hak untuk berada di sana, Azizah berbalik dan melangkah keluar dari kamar.
Sementara itu, Ezra benar-benar diliputi kebahagiaan. Ia sempat mengira Sienna benar-benar telah meninggalkannya.
‘Ezra, sayang. Maaf aku menghilang beberapa waktu ini. Karena aku sibuk dengan pekerjaanku. Seminggu lagi aku pulang. Aku sangat merindukanmu.’
Jantung Ezra seolah berdegup lebih kencang. Ia segera mengetik balasan dengan penuh antusias, berjanji akan menjemput wanita itu di bandara.
Sienna langsung membalas dengan sebuah foto selfie di pinggir pantai dan memberikan stiker jempol sebagai konfirmasi.
Ezra sama sekali tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Ia menatap wajah wanita di layar itu dengan senyuman yang begitu lebar, seolah rasa sakit perut yang baru saja menderanya telah menghilang begitu saja.
......................
Sementara itu, di rumah Amisha, suasana terasa lebih ramai dari biasanya. Kedatangan tamu tidak terduga membawa kesegaran di ruang tamu yang luas itu. Rafa, putra dari adik Amisha yang selama ini menetap di luar negeri, kini sudah berada di sana. Pria itu tampak lebih dewasa dengan aura percaya diri yang terpancar setelah ia menuntaskan masa studinya.
Rafa baru saja kembali ke tanah air tepat setelah wisudanya selesai. Penampilannya yang rapi dan koper-koper besar yang diletakkan di sudut ruangan menandakan bahwa ia berniat untuk menetap untuk sementara waktu. Amisha menyambut keponakannya itu dengan senyum hangat.
“Akhirnya kau pulang juga, Rafa,” ucap Amisha sambil menatap keponakannya dengan bangga.
Rafa tersenyum tipis, matanya mengedar ke sekeliling rumah yang terasa familiar namun tetap menyimpan banyak memori masa kecilnya.
“Iya, Tante. Rasanya senang sekali bisa kembali.”
“Bagaimana kabar orang tuamu? Apa mereka tidak ingin kembali?” tanya Amisha, menyiratkan kerinduan.
Rafa tersenyum tipis, “Papa dan Mama terlalu nyaman tinggal di sana, Tante.”
“Memangnya apa yang bagus dari negara itu? Rumah kita tetaplah negara ini,” sahut Amisha dengan nada sedikit gemas.
Rafa terkekeh, “Bagaimana kabar Tante sendiri?”
“Baik, Nak. Kau akan menetap, kan?”
“Mungkin tidak lama. Aku hanya ingin liburan untuk menenangkan pikiran setelah masa studiku,” jawab Rafa jujur.
Wajah Amisha langsung menunjukkan kekecewaan, “Yah, padahal aku senang jika kau menetap lama. Kalau begitu, tinggallah di sini saja selama liburan.”
“Apa tidak apa-apa, Tante?” tanya Rafa ragu.
“Ya tidak apa-apa. Rumah Tante juga rumahmu. Tinggallah di sini, ya?” tegas Amisha.
“Benar, Rafa. Tinggallah di sini,” sahut Darel dan Windy yang muncul dari luar rumah. Windy tampak menggendong Keira di pelukannya.
“Darel!” Rafa berdiri dan menyambut sepupunya dengan pelukan, “Kau bertambah tua saja, ya?”
“Ck, kau ini!” Darel menepuk lengan Rafa sambil terkekeh, “Oh ya, kenalkan, ini Keira. Anak kami.”
Rafa dengan lembut menyentuh jemari kecil Keira, “Halo, Keira. Aku Om Rafa. Maaf ya, aku tidak bisa hadir saat Windy melahirkan.”
“Santai saja,” balas Darel, “Yang penting semuanya sehat.”
Windy tersenyum hangat dan mengangguk setuju.
Amisha ikut bangkit dari duduknya dengan perasaan haru, “Senang sekali melihat kalian berkumpul seperti ini.”
“Jadi ingat masa-masa kecil kita sebelum kau pindah ke luar negeri,” ujar Darel bernostalgia, “Kau tahu? Aku bahkan mengebut dari rumah mertuaku demi menyambutmu hari ini.”
Rafa tertawa, “Wah, kalau begitu mana hadiahku? Bukankah kau ingin menyambutku?”
Darel meremas leher Rafa dengan gemas, “Harusnya kau yang membawa oleh-oleh untuk kami!”
Suasana ruang tamu seketika dipenuhi tawa. Namun di sela-sela obrolan, mata Rafa mengedar ke sekeliling rumah, mencari sosok yang terasa absen.
“Clara? Ezra dan istrinya ke mana?”
“Clara sedang sekolah, dan Ezra tinggal di rumahnya sendiri,” jawab Amisha tenang.
“Ezra masih tidak tinggal di sini?” Rafa bertanya lagi dengan raut penasaran.
Amisha mengangguk sebagai jawaban.
Namun Rafa langsung menunjukkan senyum pengertiannya, “Saat Tante mengabari Mama tentang pernikahan Ezra, Mama benar-benar syok. Aku sendiri tidak menyangka Ezra bisa secepat itu memutuskan untuk menikah. Apalagi waktunya sangat mepet, kalau tidak, pasti kami sekeluarga akan menyempatkan diri untuk datang.”
“Tidak apa-apa, Rafa. Yang terpenting adalah doa untuk rumah tangga Ezra dan Azizah,” sahut Amisha lembut.
Rafa mengangguk mengerti, walaupun rasa penasaran di hatinya belum sepenuhnya hilang, “Jadi... Ezra benar-benar setuju dijodohkan? Bukankah bertahun-tahun ini dia memiliki kekasih?”
Amisha hanya tersenyum tipis. Darel dan Windy saling berpandangan, menyadari topik itu cukup sensitif.
“Demi aku, Ezra rela melakukan segalanya,” jawab Amisha singkat namun penuh penekanan.
Rafa mengangguk mantap, “Dan Tante tentu tahu yang terbaik untuk Ezra.”
“Pintar,” puji Amisha.
Tepat saat itu, Dewi muncul dari arah ruang makan, mengabari bahwa hidangan sudah siap. Amisha pun segera mengajak Rafa dan yang lainnya untuk makan bersama, mengalihkan percakapan menuju suasana yang lebih hangat.