Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Kejutan untuk Ana
Siang hari itu Ana dan Hugo datang ke kantor pengacara Mayapada, menyelesaikan segala urusan di sana kurang dari satu jam lamanya. Ketika ditanya apakah mereka akan mempertahankan warisan yang nanti mereka dapatkan dengan melangsungkan sebuah pernikahan, Ana dan Hugo mengangguk mantap.
“Tentu saja. Kami akan segera menikah dan mendapatkan warisan yang sudah dijanjikan. Bukan hanya 6 bulan, tapi untuk seumur hidup kami." Tegas Hugo sambil mengerling pada Ana yang duduk manis di sebelahnya. Tampak Ana menjadi salah tingkah, berusaha tetap bersikap tenang meski jantungnya berdebar kencang.
"Hmm, begitu?" Tony, sang pengacara Mayapada mengangguk-angguk sambil mengusap dagunya, tampak seperti sedang memikirkan sesuatu. "Oh, ya. Kapan kalian akan menikah?” Tanya Sony lagi seraya menatap Ana tajam.
“A-ku belum tahu,” sahut Ana tergagap, lalu mengalihkan pandangannya dari tatapan sang pengacara, beralih menatap Hugo yang menaikkan satu alisnya. Ana belum memikirkan waktunya. Sekilas ia bisa melihat kening sang pengacara berkerut dalam.
“Aku pikir minggu depan waktu yang baik untuk kami melaksanakannya,” cetus Hugo tiba-tiba hingga membuat Ana terkejut, dan semakin terkejut saat Sony bertepuk tangan lalu berdiri dan mengarahkan telunjuknya pada Hugo.
“Minggu depan?” Ana mengubah posisi duduknya, saling berhadapan dalam jarak dekat sambil mengulang ucapan Hugo barusan. Ditatapnya mata laki-laki yang duduk di sampingnya itu seolah meminta penjelasan, dan sorot mata itu menegaskan kalau ucapannya barusan tidak main-main. Jika hal itu benar terjadi, itu artinya waktunya kurang dari sepuluh hari dan Ana akan menyandang status sebagai seorang istri dari Hugo Denis lagi. “Apa tidak terlalu cepat, banyak yang harus diurus. Dan semua butuh waktu, Aku rasa seminggu tidak akan cukup.”
“Lebih cepat lebih baik. Serahkan semuanya padaku, biar Aku yang akan mengurusnya. Kau hanya perlu mempersiapkan diri sebagai seorang istri dari Hugo Denis saja,” lanjut Hugo lagi.
“Aku rasa ucapan tuan Hugo benar, lebih cepat lebih baik. Aku yakin tuan Hugo mampu menyelesaikan semua urusan dalam waktu cepat. Jadi, buat apa menunggu lama-lama?” Timpal Sony sambil tersenyum pada Hugo dan mengacungkan jempolnya.
Beberapa saat kemudian Ana dan Hugo pergi meninggalkan kantor pengacara Mayapada diiringi tatap mata sang pengacara. Luar biasa! Warisan telah mengubah sikap keduanya, pikirnya. Ia menggeleng tak percaya melihat Ana dan Hugo datang dan pulang selalu bergandengan tangan mesra. Tak seperti satu minggu lalu, hubungan keduanya justru tampak tegang. "Drama kehidupan, semoga saja semua sesuai harapan kalian."
Dari kantor pengacara Mayapada, mereka tak langsung pulang ke rumah. Hugo mengajak Ana berkeliling mengunjungi beberapa tempat, di antaranya toko yang menjual berbagai macam gaun pengantin juga mengunjungi toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan.
“Rasanya ini terlalu berlebihan. Sepertinya Aku lupa mengatakannya padamu kalau Aku menginginkan pernikahan yang sederhana saja, tak perlu harus memakai gaun pengantin seperti itu.”
Ana menatap nanar deretan gaun-gaun cantik berwarna putih yang berjajar rapi di hadapannya. Melihat harga yang tertera di sana membuat perutnya mendadak mual. Ini pernikahan kedua untuknya, ia merasa lebih nyaman bila memakai gaun yang sederhana saja bukan gaun indah nan mewah seperti yang ada di depan matanya.
“Aku ingin sekali melihatmu memakai gaun ini. Aku rasa tidaklah berlebihan karena Kau memakainya saat menikah denganku.” Hugo beralasan, sejujurnya ia ingin memberikan yang terbaik untuk Ana yang layak ia dapatkan. Bukan lagi gaun sederhana seperti saat pernikahan pertama mereka dulu.
“Tapi gaun-gaun ini harganya mahal sekali, tidak bisakah kita membeli yang lebih sederhana saja? Lagi pula ini hanya pernikahan kedua untuk kita,” kilah Ana lagi, tapi lagi-lagi Hugo menolak untuk dibantah olehnya.
“Jangan pikirkan soal harga, Kau hanya perlu mencoba dan memastikan gaun itu nyaman saat Kau memakainya.”
“Ah! Mengingat harganya yang sangat mahal, tentu saja akan terasa sangat nyaman di tubuh saat memakainya.” Sahut Ana dengan bibir mengerucut.
Cup! Ana tersentak kaget saat bibir Hugo tiba-tiba saja membungkam mulutnya. “Lakukan saja seperti apa yang Aku katakan. Tapi jika Kau terus membantahnya, Aku akan menciummu lagi seperti ini.”
Ana langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya saat Hugo membungkuk dan menundukkan wajah ke arahnya lagi, mencoba menciumnya agar ia menghentikan protesnya. Ana akhirnya mengalah, menurut saja ketika diajak mencoba beberapa gaun di sana, sementara Hugo duduk menunggu. Setiap kali Ana selesai mencoba salah satu gaun, Hugo minta Ana memperlihatkan padanya.
Ada dua gaun yang menjadi pilihan Hugo yang dianggapnya sangat pas dan menawan saat Ana memakainya. Tapi mendengar Ana memohon padanya untuk membeli satu gaun saja, Hugo pun akhirnya mau menuruti keinginannya.
Perjalanan berlanjut, mereka menuju toko perhiasan. Lagi-lagi Ana dibuat takjub dan terbelalak saat melihat nominal harga yang tertera di sana. Setiap kali ia buka suara untuk melayangkan protes, maka Hugo akan membungkuk dan menciumnya. Pemandangan itu membuat pelayan di toko itu senyum-senyum melihat mereka berdua.
Ana malu dan tubuhnya mendadak berkeringat, ia memilih untuk duduk menunggu di bangku pengunjung dan membiarkan Hugo melakukan keinginannya. Lelaki itu membeli dua set cincin berlian dalam dua wadah kotak mungil yang berbeda untuk Ana. Saat berada di dalam mobil, Hugo membuka salah satu kotak dan memberikannya pada Ana.
“Cobalah, Aku ingin Kau memakainya sekarang.” Hugo menatap wajah Ana yang balas menatapnya tak berkedip.
“Kenapa Kau melakukannya, sudah kukatakan ini semua berlebihan untukku. Kau memberiku banyak barang-barang mahal, sementara Aku tak sekalipun memberimu apa-apa.”
“Aku sudah punya semuanya, harta dan semua yang Aku inginkan bisa Aku dapatkan dengan mudah. Hanya satu impian dan keinginan yang belum Aku raih, yaitu menikah lagi denganmu. Bisakah Kau membantuku mewujudkan impianku itu, Ana sayang?”
Hugo memasangkan cincin itu di jari manis Ana, cincin pertunangan mereka. Begitu pas dan sangat indah, Ana terkesiap dan tak bisa berkata-kata. Napasnya tercekat dan tenggorokannya seakan tersumbat. Ana menunduk menatap cincin di jari manisnya yang tampak berkilauan. Matanya mengabur dan perlahan sudut matanya mengembun air mata.
“Jangan menangis, sayang. Aku ingin melihatmu tersenyum saat memakainya,” ucap Hugo sambil menghapus pipi Ana yang basah dengan ujung jemarinya.
Ana tersenyum, ia tangkup jemari Hugo yang ada di pipinya. “Terima kasih,” katanya pelan, dan Hugo menggunakan kesempatan itu untuk mencium bibir Ana lagi, lembut dan penuh perasaan.
“Terima kasih karena mau memberiku kesempatan kedua, itu sangat berarti untukku.” Kata Hugo lagi, dan Ana tersenyum mengangguk.
Mereka melanjutkan perjalanan lagi, kali ini Ana meminta untuk pulang ke rumah. Sudah hampir seharian mereka berada di luar, dan Hugo tak kembali ke kantor lagi setelahnya. Ia katakan akan menyelesaikan pekerjaannya di rumah, di ruang kerjanya seperti biasanya saat Ana bertanya padanya.
Sesampainya di rumah, Ana dikejutkan dengan banyak hal. Bik Ani dan pelayan lainnya memenuhi rumah dengan banyak bunga. Yang lebih mengejutkan Ana lagi, saat ia hendak masuk ke dalam rumah tiba-tiba saja muncul Kila dan ibu Astrid dengan pakaian ala koki berjalan membawa nampan berisi makanan dan menaruhnya di meja panjang.
“Ibu!” jerit Ana dan langsung berlari memeluk ibu Astrid. Air mata Ana tumpah seketika melihat wanita itu ada di dekatnya. Kila pun memeluk keduanya dan larut dalam rasa haru yang sama.
“Putri Ibu akan menikah, tentu saja Ibu akan datang melihatnya.” Ucap ibu Astrid sambil mencium kedua pipi Ana.
“Aku juga ikut bahagia mendengarnya, selamat ya sayangkuh!” Kila semakin erat memeluk keduanya.
“Selamat datang di rumah kami, senang bisa melihat Ibu dan Kila hadir di sini.” Hugo berdiri di dekat mereka bertiga, dan perlahan Ana mengurai pelukan mereka.
“Kau sangat beruntung memiliki suami yang sangat baik dan perhatian seperti dia,” kata ibu Astrid sambil melirik Hugo yang tersenyum menatap Ana.
“Dia yang mengundang kami datang kemari. Katanya Ana butuh dukungan kita menjelang hari pernikahan kalian,” timpal Kila yang membuat Ana terpana mendengarnya.
“Aku tahu Kau merindukan mereka, itulah sebabnya Aku mengundang Ibu Astrid dan Kila. Aku harap Kau suka dengan kejutan yang Aku berikan,” kata Hugo lagi, dan ia langsung terkekeh begitu Ana berlari masuk ke dalam pelukannya.
“Terima kasih untuk semuanya,” bisik Ana lirih di telinga Hugo, dan satu kecupan manis di pipi pria itu membuat semua yang ada di sana tersenyum melihat mereka.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹