NovelToon NovelToon
Witch Hunter

Witch Hunter

Status: tamat
Genre:Perperangan / Action / Fantasi / Akademi Sihir / Iblis / Light Novel / Tamat
Popularitas:28.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ayanagi Souma

Penyihir

Makhluk biadab yang memangsa manusia. Tak peduli siapa dirimu.
Mereka akan memangsamu. Membunuhmu.

Di dunia ini sihir terbagi dua.
Sihir cahaya dan sihir kegelapan.

Berabad-abad tahun lepas. Umat manusia berperang melawan makhluk mengerikan yang dinamakan penyihir. Sang para pengguna sihir kegelapan.

Umat manusia yang berjuang melawan mereka disebut 𝘛𝘩𝘦 𝘩𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳. Mereka menggunakan sihir cahaya untuk membunuh para penyihir.

Kini saatnya untuk memburu penyihir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayanagi Souma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 –[ Lao Tzu 01 ]–

19 Mei 2023

"BUKA dan bacalah." Lang melempar gulungan kertas usang.

Kertas itu berumur satu abad lalu. Coklat kertasnya membuat tulisan sambung aksara Cina sedikit sulit terbaca. Sizhu menyipitkan mata agar bisa membacanya lebih jelas.

"Ini kisahku, mengenai janji yang tidak tertepati. Lao Tzu, 1837."

Sizhu membaca gulungan kertas itu lebih seksama. Membuka kertas lebih panjang. Matanya antusias membaca bait selanjutnya.

"Wahai, ini adalah kisahku dalam perjalanan jauhku. Aku menulis ini, karena suatu saat aku merasa ... Seseorang akan mewarisi janjiku. Hidupku tidak jauh dengan manusia biasanya. Di negeri tirai bambu ini, aku hanya memiliki seorang guru yang tabah mengajariku. Aku hanya seorang anak dari kedua orang tua yang sederhana. Mereka bekerja mengais kehidupan sebagai pengrajin besi.

"Wahai, hidup selalu berjalan seperti roda. Ayahku memiliki watak yang keras. Karena aku adalah anak laki-laki satu-satunya, beliau selalu memberiku tugas yang sulit semenjak belia. Di umur bayi baru bisa merangkak, aku sudah terbiasa berjalan. Membantu ayah membuat pedang. Terkadang, memotong kayu. Terkadang, membantu ayahku berburu. Walau hidupku keras seperti itu, ada ibuku yang selalu membuatku berhasil sabar. Ibuku adalah kebalikannya. Sangat lembut, seakan hewan dan tumbuhan pun turut mendengar saat ibuku mengucap. Kami pun menjalani hidup normal.

"Wahai, hidup selalu berjalan seperti roda. Ada saatnya kita di atas, dan ada saatnya kita di bawah. Pada zaman itu, perang opium sedang berlangsung. Kaisar dan prajuritnya membantai siapa saja yang diduga pencandu opium. Takdir, ayah dan ibuku tertuduh sebagai salah satunya. Mereka dibawa kekaisaran, dan dipenggal di depan umum agar para rakyat bisa menyaksikannya. Pada hari itu, aku menjadi seorang anak kecil yang kehilangan seluruhnya. Dititik terbawah, aku sudah tidak memiliki harapan hidup. Hingga akhirnya seorang kakek biksu datang, merawatku.

"Wahai, sesungguhnya setiap kesulitan, selalu disertai kemudahan. Guruku yang mengatakan itu. Satu hari aku diajak ke sebuah kuil. Aku menjadi anak yang bebal. Karena emosi, ringan tangan aku memukuli siapa saja yang mendekatiku. Kalian tahu? Di umur belia yang seharusnya bayi masih merangkak, tetapi aku sudah pandai berjalan. Tetangga-tetangga rumahku mengatakan, bahwa aku terlahir dengan tubuh monster. Aku terlahir dengan kekuatan pria di umur masih belia. Karena itu, satu hari di kuil. Tidak ada anak yang berani mendekatiku. Andai ada yang berani, akhirnya aku yang menghajar mereka.

"Wahai, sebulan telah berlalu. Hidupku masih sama seperti hari pertama. Penuh amarah, dijauhi oleh anak-anak seusiaku. Aku tidak peduli, aku hanya ingin mati, menyusul tubuh ayah ibuku yang dipenggal di depan seluruh orang. Namun, sayangnya tidak bisa. Pisau tertajam tidak bisa mengiris kulitku. Kapak dan panah tidak menembus tubuhku. Usaha itu sia-sia. Benar kata tetangga, aku adalah monster. Maka, biarlah aku hidup menjadi monster. Di kuil itu, aku membantai setiap makhluk hidup. Aku tidak peduli dengan wajah takut mereka. Juga dengan ekspresi marah mereka. Tidak ada senjata tajam yang bisa membunuhku. Andai ada, maka aku akan sangat berbahagia.

"Wahai, malam pembantaian itu adalah dosa pertama yang kulakukan. Buruk sekali. Seluruh penghuni kuil ku bunuh dengan tanganku sendiri. Begitu juga dengan kakek biksu yang baik hati merawatku. Tanganku bersimbah darahnya. Tatapanku kosong, hampa. Aku masih merasa kemarahan ini sia-sia. Ratusan kali aku ingin mati. Naas, takdir selalu tidak mengizinkannya. Apa maksudnya semua ini tuhan? Aku hanya seorang anak kecil yang kedua orang tuanya dibunuh oleh prasangka. Aku memukul patung Buddha besar yang tersenyum hangat itu. Memukulnya hingga hancur. Persetan dengan tuhan. Mereka hanya patung yang tidak bisa menjawab.

"Wahai, setelah beberapa jam aku sibuk menghancurkan patung itu. Tuhan mengutus utusannya. Memberiku jawaban. Seorang yang nantinya aku memilih jalan kebaikan karenanya. Seorang yang nantinya membuatku terpatri pada janji. Seorang yang nantinya mengajarkan padaku makna kehidupan. Dialah guruku. Seorang Hunter."

Sizhu termangu. Gurunya belajar pada seorang Hunter? Namun, selama sepuluh tahun semenjak guru Sizhu menjadikan Sizhu sebagai murid. Tidak ada satu ajaran pun gurunya mengajari tentang sihir ataupun penyihir. Sizhu hanya disuruh berlatih fisik dengan keras. Gurunya hanya mengajarkan cara bela diri. Mengatur kekuatan dalam tubuh. Menasehati tentang kehidupan. Tapi tidak dengan dunia luar seperti sihir, penyihir, dan Hunter.

Dia juga tidak diajarkan berburu hewan atau memasak. Walaupun Sizhu jelas bisa karena sering memperhatikan gurunya melakukan dua hal itu. Sizhu diperintahkan fokus pada latihannya. Hanya di hari terakhir sebelum gurunya meninggal Sizhu diizinkan berburu dan memasak.

Sizhu membuka gulungan ke bawah lebih panjang. Membaca potongan kisah selanjutnya.

***

Malam hari, 1842.

Wahai, guruku adalah Hunter pencandu obat. Dia datang malam-malam ke kuil dalam keadaan setengah waras. Efek mengonsumsi opium yang ku benci. Dia datang karena kakek biksu yang memanggilnya, hendak menjemput ku.

"Hahahaha, buruk sekali kelakuanmu bocah nakal. Haiya, ini salahku juga karena telat datang. Aku terlalu sibuk menghirup nafas kehidupan." Dia menatapku yang sibuk memukuli patung sembari menghembuskan asap rokok pipa. Matanya berputar mengedar ke sekitar kuil. Menangkap pemandangan berdarah itu. Kakek Biksu itu telah meninggal. Begitu pula dengan seluruh penghuni kuil. Matanya kembali menatapku. Kali ini, dengan mata tajam.

"Hei bocah. Kau tahu tidak ada gunanya melakukan itu bukan?" Dia meneriakiku yang terus memukul patung hingga menjadi kerikil. Aku menoleh tersadar ada orang yang masih tersisa. Tanganku terangkat. Wajahku datar. Mataku menatap tajam ke arahnya. Mulutku bergumam 'Mati, mati, mati.' Berjalan ke arahnya.

"Haiya, jika kau menginginkan kematian. Maka matilah."

Setelah mengatakan kata itu, aku terhempas ke dalam kuil. Menghantam dinding batu tebing. Terhenyak ke dalam. Entah trik apa yang pria perokok itu gunakan. Tapi, itu saja tidak membuatku terluka. Aku bangkit, berlari merangsek pria perokok itu. Tangan mungilku hendak menerjangnya, mencabik-cabik pria perokok itu.

Tidak seperti manusia biasa. Pria ini, menganggap ku bermain-main. Dia menari, melangkah lincah, sembari menghirup pipanya. Aroma opium tercium. Membuatku semakin membara ingin membunuhnya. Dia menangkap rambutku, menjambaknya tinggi-tinggi.

"Haiya, bagaimana bisa bocah ini membunuh seluruh penghuni kuil? Lihat, tangan mungilnya saja bahkan tidak bisa menyentuhku."

Aku mengamuk berusaha lepas. Menggeliat keras. Pria perokok itu masih tenang sembari menghisap pipa. Menghembuskan asapnya ke wajahku. Membuat kesadaranku menipis, aku seakan turut dimabuk karena asap itu.

Wahai, pria perokok itu tidak membunuhku ataupun marah karena telah membunuh orang. Dia membersihkan tragedi itu. Menguburkan para penghuni kuil dengan hormat. Mendoakan mereka. Aku dipaksa turut berdoa oleh pria perokok itu. Walaupun dia tahu akulah yang membunuh mereka, pria perokok itu tetap memaksaku mendoakan mereka. Pagi itu aku menolak angkuh, meludahi kuburan massal itu. Berusaha melepas ikatan yang terbuat dari tali bercahaya ini. Tangan dan kakiku diikat olehnya.

"Kau tidak akan mendoakan mereka?" Di depan pusara pun pria perokok itu masih nikmat merokok. Sementara aku terikat di sampingnya.

"Huh, untuk apa mendoakan gumpalan daging yang dikubur di tanah? Berdoa pun tidak membuatku terbunuh!" Saat itu aku merasa sangat angkuh. Memiliki tubuh yang tidak bisa terluka serangan fisik itu adalah kutukan. Untuk apa berdoa kepada tuhan ketika dirimu terkutuk?

"Haiya, hei bocah. Aku menyuruhmu mendoakan jiwa mereka yang telah pergi ke alam lain. Suatu saat kau akan merasakan seberapa berharganya nyawa dan jiwa manusia."

Aku terdiam tidak membalas.

Wahai, takdir itu selalu misterius. Pertemuanku dengan guruku, pria perokok itu mengubah jalur nasibku. Dia senang hati merawatku di kediamannya. Sembari melatihku mengendalikan kekuatan alamiku. Mengarahkannya pada jalan yang lebih baik. Jika dilihat sekilas, guruku ini tidak ada bedanya dengan manusia pencandu lain. Namun, saat beliau sudah mulai mengajar, tatapan dan sikapnya berubah serius. Pria perokok itu keras saat melatih, sekaligus lembut saat menasehati.

Singkat dua puluh tahun berlalu, aku sudah menjadi pemuda dewasa. Aku mulai memaafkan kejadian lalu, dan memperbaiki kesalahan lama. Guruku berkata, 'Orang hebat mampu mengendalikan orang lain, tetapi lebih hebat lagi kalau dia mampu mengendalikan dirinya sendiri.' Karena kata-kata itu yang membuatku tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan besar hati. Tapi tidak dengan niatku.

Aku tumbuh menjadi Hunter hebat di bawah bimbingan pria perokok itu. Umur sepuluh, semua kitab sihir kupelajari. Berbagai teknik dan teknik bertarung kulahap. Umur lima belas, aku menjadi salah satu kepala cabang. Umur dua puluh aku menjadi yang terkuat tiada banding. Menggantikan posisi guruku, shio naga. Lima kota ku kuasai dan jaga. Aku tumbuh menjadi pemuda jenius. Terutama dalam bertarung.

Dosa kedua yang ku sesali adalah saat menginjak umur dua puluh tahun itu. Aku menjadi angkuh, segala hal bisa kudapatkan. Aku menjadi puncak tertinggi. Bahkan, sang kaisar langit tunduk karena bakat ku. Niatku untuk membalas dendam kedua orangtuaku terwujud. Aku berhasil memenggal kepala kaisar lama. Tanpa sadar, ternyata aku masih menjadi seorang monster yang ditakuti.

Di daratan, aku menjadi pemburu penyihir. Di lautan, aku menjadi pemimpin perang melawan manusia. Perang dengan Inggris berkecamuk, dan akhirnya aku berhasil meraih kemenangan. Di saat itulah, hati manusia yang condong pada iri, merencanakan makarnya padaku.

Wahai, setiap keburukan, walau sebesar biji buah, pasti akan dibalas. Orang-orang yang iri dan benci padaku mulai bekerja sama. Mereka adalah bawahan setia kaisar terdahulu yang ku penggal kepalanya. Juga beberapa kepala cabang lain turut bersekutu dengan mereka.

Selepas pulang dari perang laut. Di darat, fitnah itu tersebar ke seluruh dataran Cina. Aku dijebak, permaisuri kaisar baru di tuduh melakukan zina denganku. Sesuai hukum, maka aku harus dihukum penggal karenanya. Ketua divisi dari keluarga Zen juga membenarkan. Siang itu, aku disidang. Lalu diseret ke tengah lapang. Hendak di penggal di depan umum.

Wahai, sifat manusia itu rakus dan bengis. Sejak hari itu aku mengenal sifat buruk lain dari manusia. Mereka terlena dalam kekuasaan, dan mabuk dalam harga diri. Aku tidak bisa dibunuh dengan senjata biasa. Namun, sebuah pedang sihir bisa melukaiku. Datanglah seorang pria tua dari keluarga Tao yang menyimpan pedang legendaris itu. Pedang waktu Goujian yang bisa membelah apa saja selama itu terpaut waktu.

Siang itu, aku akan dipenggal. Guruku juga turut menyaksikan. Tatapannya kecewa melihatku. Tak kuasa menatapku, muridnya yang ia latih sepenuh hati akan dipenggal. Dia pergi. Ini memang kesalahanku karena mengulang kesalahan yang sama seperti dulu. Tapi tidak. Aku ingin melawan takdir.

Wahai, siang itu. Semua mata yang menyaksikan bergidik ngeri. Siang itu, sejarah berubah. Siang itu, aku yang mengakhiri kekuasaan dinasti terakhir. Seluruh manusia yang berkaitan dengan kekaisaran dinasti Qing aku bantai. Tak terbilang ratusan nyawa ku cabut dengan tangan ku. Ribuan kepala yang hendak memenggalku, kubalas penggal. Esoknya, aku pergi dari dataran ini.

Wahai, aku berkelana memapahi jalan bergelombang. Tak mengetahui arus mana yang benar. Aku mengarungi ribuan kilometer lautan. Menapak jejak di negeri entah berantah. Sepuluh tahun berlalu, hidupku dalam ketidak pastian.

Wahai, aku mengarungi dalamnya lautan. Tenggelam dalam kegelapan. Menemui monster legenda. Wahai, aku mengarungi sungai lembah hutan. Bertemu para suku kanibal, menjadi kepala suku, mempelajari adat. Wahai, aku mendaki gunung tinggi, bertapa dalam gua, tertidur bersama kegelapan puluhan bulan. Wahai, aku menapaki semua tanah, dingin dan panas, gersang dan beku, semua itu berakhir saatku menemukan sepotong jiwaku. Kekasihku yang berujung pada tragedi tragis ...

***

Sizhu menghela nafas, kisah ini entah akan berakhir seperti apa. Sizhu tidak menyangka gurunya itu dulu sangat begitu dibenci. Jalan kehidupannya penuh dengan duri. Pantas saja wataknya seperti itu. Keras dan tegas. Sekaligus lembut dan penyayang. Ternyata berasal dari ajaran gurunya dulu.

Membuka gulungan kertas itu lebih panjang. Siap membaca potongan lainnya.

***

Wahai, cinta itu memang buta dan tuli. Di benua merah ini, aku jatuh hati pada seorang wanita yang rupawan. Dia adalah suku asli benua itu. Budaya barat sudah menjajah di sana. Ras kulit putih, memperbudak ras kulit hitam. Rasis sekali kehidupan yang ada di sana.

Umurku genap tiga puluh tahun saat itu. Wanita penghibur bar yang tersenyum berseri pada setiap pelanggannya. Aku tertarik pada senyum itu. Senyum itu bukanlah senyum yang dibuat-buat. Tapi, murni karena hatinya. Satu hari aku betah di bar itu. Wajahku tidak berpaling walau satu detik. Aku jatuh hati pada pandangan pertama. Dia hanya membalas ku dengan senyuman berseri manisnya.

Rambutnya sedikit keriting berwarna coklat kemerahan, matanya memikat berwarna merah menawan. Bibirnya tipis dengan wajah wanita tangguh. Dia natural tanpa perias apapun. Pandangan kami bertemu, satu detik dua detik, aku berpaling karena malu. Pipiku merona memerah.

Keesokan harinya aku mengunjungi bar yang sama. Menatap wanita yang sama. Senyum berseri manis yang sama. Saat itu aku tidak mengerti perasaan yang tumbuh itu. Aku tidak percaya cinta, namun kini aku percaya. Melihatnya saja membuat dunia terasa indah. Sehari saja tidak melihatnya dunia seakan muram durja. Satu Minggu berlalu, aku masih tidak berani mengenalkan diri. Namun, aku berhasil mengetahui nama wanita itu.

Catrina. Nama yang indah sesuai dengan pemilik namanya. Setelah berhari-hari duduk ditempat sama, datang pada waktu sama, memesan minuman yang sama, akhirnya Catrina mulai membuka diri. Awalnya karena basa-basi menanyakan asalku dan kisah masa kecilku. Kami berdua menjadi akrab karena itu. Catrina tertarik dengan cerita-cerita ku. Menjadi seorang petarung gagah tiada banding. Namun, pemalu dihadapan wanita cantik.

Itu masa-masa terindah yang pernah ku alami. Tiga bulan saling mengenal, akhirnya aku memutuskan untuk melamarnya. Semua berjalan lancar, aku menikah dengan Catrina. Tinggal satu atap bersama. Berbagi kisah duka dan cita bersama. Dan sepuluh tahun serasa satu menit.

Wahai, hari menyulam Minggu, Minggu menjahit bulan, bulan merangkai tahun. Kami dianugerahi dua anak kembar. Hidup kami bahagia dalam roda kehidupan. Tiada hari tanpa bersenang hati. Hingga terjadi malam itu. Malam berdarah. Malam tragedi tragis itu terjadi ...

***

1
Protocetus
bro
Story
Kok jadi POV 1🤔
Story
yang benar harusnya bergeming. 🤔
Ayanagi Souma: bergeming = tidak bergetar atau bergerak kecil

tak bergeming = bergerak atau bergetar kecil

source dari gugel
total 1 replies
🇮  🇸 💕_𝓓𝓯𝓮ྀ࿐
gak nyangka baca sampai sini😅
Ayanagi Souma: terima kasih sudah membaca, semoga terhibur~
total 1 replies
Filan
udah jasad masih bisa mati juga hehe
Filan
jangan2 ga ada yg baca pesan dia wkwkwk...
Filan
emang bawa2 HP terus semua orang? Ada waktu ngetik daripada ngomong?
Ayanagi Souma: ponsel si Kai punya fitur voice changer, jadi ketikan dia bisa bersuara
total 1 replies
erlis nia★🎀
bagus bang..jngn lupa mampir yeah
Ceritera ini mirip-mirip sama inuyasa, ya gak sih?
❤️⃟Wᵃf Mikey🇮🇩
apakah serigala nya kuat
❤️⃟Wᵃf Mikey🇮🇩
kayak tulisan jepang bagus/Facepalm/
❤️⃟Wᵃf Mikey🇮🇩
hadir bang.bagus novel nya
❤️⃟Wᵃf Mikey🇮🇩
bahasa Korea ya/Doubt/
❤️⃟Wᵃf Mikey🇮🇩
ngeri nya
Ayanagi Souma
Sizhu kan orang tampan dan pendiam😁👍
Filan
Dan bagaimana bisa dia terlihat ga kesakitan?
Filan: iya sih
total 2 replies
Filan
Dalam keadaan seperti itu bagaimana bisa ttp datar? /Sweat/
leasiee~。
hai kak aku mampir... yukk mampir juga di novel' ku jika berkenan 😊
Dian
Lanjut thor semangat 💪🏻
𝓛𝓮𝓸 [off]
jadi apa yang dimaksudnya Aamon?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!