Aku adalah seorang gadis yang dulunya kesepian saat masa SMA, aku bukan gadis biasa bahkan gadis yang luar biasa dimata banyak orang.
Awal karierku, aku bertemu dengan seorang lelaki yang penuh dengan misteri, lelaki itu datang di dalam kehidupanku. Tetapi disisi lain tidak ada kepastian dari lelaki itu. Aku juga bertemu dengan seorang lelaki di negara Singapore, dia baik dan sopan.
Apakah kisah itu dapat dikatakan indah? Atau tidak bermakna sama sekali?
Happy reading🌹
Salam kenal Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2 AC -Tentang Kita
Kini kau dan aku telah menjadi kita, semua rintangan dalam perjuangan kisah cinta kita telah kita lalui.
Kau telah menjadi suamiku dan aku telah menjadi istrimu, semoga kisah cinta ini akan abadi selamanya sampai maut memisahkan jiwa dan raga kita.
***
Aku yang bernama Jihan Zatia telah menjadi istri dari Revindha Harun. Hari ini tepat satu bulan setelah pernikahan kami. Semua berjalan dengan lancar.
Aku dan Revin memutuskan untuk tinggal di rumah kami sendiri, rumah yang di beli oleh Revin dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Awalnya Mommy Revin meminta kami untuk tinggal di kediaman Harun, namun Revin ingin mandiri.
Pagi ini seperti biasa aku menyiapkan sarapan pagi untuk Revin, untuk saat ini aku telah berhenti dari pekerjaanku tidak tau esok.
Revin datang dengan kemeja biru polos dan jas hitam yang di baluti di tangan kanannya, ia tersenyum manis padaku dan menggeser kursinya untuk duduk didekatku.
"*Morning* istriku," sapa Revin tertawa kecil.
"*Morning* juga *my husband*, kamu tampak tampan hari ini," balasku menyunggingkan bibirku seraya menyendokkan nasi ke piring Revin.
"Tidak terasa ya sayang, sudah sebulan setelah pernikahan kita. Aku bahagia kamu telah menjadi istriku," ujar Revin mengenggam tanganku dan menatap mataku.
"Iya sayang, aku sangat bahagia semoga kebahagiaan terus menghampiri kita," ucapku dengan menenduk dan entah kenapa air mata menetes di kelopak mataku.
"*Why are you sad Hany*?" Revin memegang kepalaku dengan lembut.
"Ini air mata kebahagian sayang," ujarku memandang wajah Revin.
"Yasudah jangan nangis trus, ntar cantiknya hilang," Revin tertawa kecil dan memegang sendoknya. "Emang kalau aku nggak cantik lagi gimana," balasku melihat Revin dengan penuh menyelidik.
"Aku akan tetap mencintaimu hany, i love you," ucap Revin, seperti gombalan pagi yang terdengar bagi seorang perempuan itu akan terasa berarti. "Love you to."
Kemudian kami melanjutkan sarapan pagi yang hangat, penuh canda tawa yang menghiasi rumah kecilku dan Revin.
Setelah selesai sarapan, Revin memakai jasnya dan aku memasangkan dasinya Revin.
"Tampan sekali suamiku," ucapku yang masih memakaikan dasi Revin.
Senyuman terukir di bibir Revin, ia menggenggam tanganku dan bersimpuh.
"Aku tau maksud dari ucapanmu Hany, walaupun wajahku lumayan tampan, tetapi hati ini akan tetap untukmu. Itulah janjiku padamu. Meski diluar sana aku bertemu dengan berbagai macam orang yang ingin mendekatiku, tetapi hatiku hanyalah untukmu. Kita sama sama percaya ya," jelas Revin tersenyum dan bangkit dari duduknya dan mencium keningku.
Hatiku terasa berada di atas awan, kata kata dari Revin membuat hati ini tak merasa ragu. Aku akan mencoba untuk percaya padanya.
"Makasih sayang," ucapku tersenyum manis.
Aku mencium tangan kanan Revin, karena biasanya itulah yang dilakukan istri saat suamijya pergi kerja. Revin melambaikan tangan ke arahku, kemeudian ia menaiki kaca mobilnya dan melajukan mobilnya ke kantor.
***
Di kantor
Revin tengah memeriksa berkas berkas yang ada di atas meja, ia tengah asik berkutat dengan komputee dan berkas berkas itu.
"Pagi Pak Revin," ujar salah seorang karyawan laki laki dengan tersenyum. Namun Revin hanya membalasnha dengan mengangguk.
"Pak siang ini kita akan mengadakan meeting, saya telah mengatur dimana meeting ini akan diadakan maka dari itu apakah Bapak bisa menghadarinya?" ujar karyawan itu tampak serius.
"Baiklah, saya akan mengadirinya," balas Revin melihat ke arah karyawan itu. Kemudian karyawan itu keluar dari ruangan Revin.
Tampaknya Revin sibuk hari ini, begitu banyak pekerjaan kantor yang ia lakukan otaknya akan terkuras habis hari ini.
***
Aku sangat bosan dirumah ini, dirumah itu aku hanya ditemani oleh ART dan security.
"Apa yang akan aku lakukan saat sedamg menunggu Revin pulang kerja," ucapku pelan, aku sedang duduk ditaman belakang diatas ayunan.
Angin pagi itu begitu menyejukkan, pemandangan bunga bunga yang mekar menambah keindahan saat ini.
"Seketika lamunanku buyar, saat ada telfon masuk, aku melihat ke arah handhponeku dan ternyata itu adalah panggilan suara dari Wini. Aku menggeser tobol hijau itu dan panggilan kami terhubung.
"Iya Win. Kenapa?" tanyaku dari balik telfon.
"Jihan gue kangen sama lo. Ketemuan yuk sekalian gue mau minta saran dari lo. Ini tentang Hilo," ujar Wini. Sarannya cukup bagus, karena saat ini aku sangat bosan.
"Okey, gue siap siap dulu ya," ucapku yang langsung di balas oleh Wini.
"Iya Nyonya Harun," balas Wini tertawa kecil terdengar dari balik telefon. Kemudian panggilan kami terputus.
Aku segera bersiap siap dan berdandan rapi, sudah lama aku dan Wini tidak bertemu, sebenarnya aku rindu dengan masa SMA kami, tapi saat ini kami sibuk dengan urusan masing masing.
Tak butuh waktu lama untukku untuk berdandam cantik, akhirnya aku telah selesai. Aku menuruni tangga menuju ke luar rumah.
Aku menaiki mobil dan duduk dikursi belakang. "Pak jalan," ucapku yang langsung di balas anggukan oleh supir peibadi keluarga kami.
Seketika aku teringat akan sesuatu, aku lupa memberitahu Revin. Aku menepuk keningku pelan.
Aku meraih handphoneku yang ada di dalam tas dan langsung menelfon Revin, tetapi panggilan kami tak kunjung tersambung. Aku berfkir kalau Revin sibuk dengan pekerjaannya dan akhirnya aku hanya mengirimkan pesan padanya.
***
Di mall
Aku tengah menunggu Wini dan melihat ke arah sekitar. Tiba tiba ada yang memegang bahuku, sontak aku langsung terkejut dan melihat ke belakang.
Ternyata orang itu adalah Wini yang tertawa kecil saat melihat ekspresi wajahku.
"Bikin kaget aja," ketusku kepada Wini. Namun Wini hanya tersenyum jail.
"Uwuwu gue kangen," ucap Wini yang langsung memelukku dan aku pun juga membalas pelukannya. Sudah lama kami tidak bertemu. "Gue juga kangen sama lo Win."
"Aurel gak datang ya?" tanyaku melepas pelukan Wini.
"Aurel sibuk ngurus kuliahnya, dia bilang juga kangen sama kita, dia minta maaf banget," ujar Wini tampak sedih.
"Yaudah nggak apa apa, lain kali kita akan kumpul kek dulu lagi. Walaupun kita semua kini sudah tampak berbeda. Gue ingat tujuan utama kita tadi apa? Ada hubungannya kam sama Hilo?" tanyaku menatap mata Wini.
"Iya, jadi hari ini ulang tahun Hilo, gue mau ngasih kejutan sama dia. Gue nggak mau besar besaran cuman yang spesial aja biar lebih terkenang," jawab Wini, kami saat ini berjalan sambil berbicara.
"Gimana kalau kita beli kado untuk Hilo dulu, trus ntar lo pikirin deh gimana kejutannya, gue cuman bisa nyaranin aja sih apa yang di sukai sama cowok ketara gue kan dah punya suami," jelasku melihat ke arah Wini.
"Iya Nyonya Harun. Baiklah gue akan dengerin apa yang lo saranin," balas Wini dan kemudian kami berjalan menuju toko untuk membeli hadiah untuk Hilo.
kakakmu mampir iniiiii😂😝😝
Selebihnya ok Thor 👍
Semangat, Ane-Chan~
semangat terus kk ku 😚