Tepat dimalam pertama pernikahan, dimana malam yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi Aluna, namun harus berakhir duka sebab Bagas yang telah sah menjadi suaminya kepergok berselingkuh bersama Sania, adik tiri Aluna. Aluna pun terpaksa di talak demi menikahi Bagas dan Sania.
Malam itu pun menjadi malam kehancuran bagi Aluna. Namun, sesuatu terjadi ketika dia diam-diam pergi dari rumah dan menawarkan diri kepada pria asing di sebuah Club hingga dia melakukan hubungan semalam yang menyebabkan dirinya mengandung anak pria asing tersebut.
Bagaimanakah nasib Aluna selanjutnya?
EKSLUSIF HANYA DI NOVELTOON. JIKA ADA DITEMPAT LAIN SUDAH PASTI PLAGIAT.
IG author: @rafizqi0202
fb: Rafizqi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
"Anda Nona Aluna?" Salah satu pelayan bertanya.
Aluna mengangguk pelan, "Iya. Kalian siapa, dan kenapa mencari saya?" Tanya Aluna lagi.
Ketiga pelayan itu kembali saling memandang, lalu kemudian buru-buru mendekat.
"Maaf Nona. Kami tidak mengenali anda, tadi kami pikir anda bukan pemilik rumah ini. Maafkan kami karena tidak menyambut anda datang" Salah satu pelayan mencoba menjelaskan.
Aluna nampak masih mematung dengan wajah yang bingung. Melihat kebingungan di wajah itu, Susi, sebagai ketua dari kedua pelayan lainnya buru-buru berucap.
"Kami bertiga, pelayan yang diutus oleh tuan Anderson untuk melayani nona disini. Sekali lagi maaf karena kami tidak mengenali anda Nona" Lanjutnya, kembali meminta maaf.
"Apa. Tiga orang? Pria itu menyuruh kalian bertiga bekerja di rumah ku. Apa itu tidak kebanyakan" Aluna terlihat terkejut. Ketiga pelayan itu hanya membalasnya dengan anggukan kepala.
Aluna terlihat meringis, "Tapi saya tidak butuh pelayan saat ini. Ada baiknya jika kalian kembali saja, saya tidak apa sendirian disini" Ujar Aluna, menolak halus para pelayan tersebut.
Ketiganya terlihat kembali saling memandang bingung, "Maksud nona?"
"Kalian kembali saja ke rumah tuan Anderson. Bilang kalau saya tidak butuh pelayan saat ini" Jawab Aluna menjelaskan.
"Tapi... Kami tidak bisa kembali Nona. Tuan akan marah besar, dan bahkan kami sudah pasti dipecat karena tidak bisa menjaga anda dengan baik. Jika kami kembali, itu artinya nona tidak menyukai kami, dan itu akan membuat tuan Anderson tidak lagi mempercayai kami" Jelas pelayan itu mengiba.
Aluna menghela nafas, "Baiklah. Kalian boleh masuk sekarang" Aluna membuka pintu dan mempersilahkan ketiga pelayan itu untuk masuk.
Ketiganya pun ikut masuk. Mereka nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Ruangan yang terlihat sederhana, namun cukup bersih dan rapi dari pandangan.
"Nona, dimana kamar kami?" Tanya Susi. Bela dan Nesa tak banyak bicara, kedua pelayan itu hanya masuk dan mengikuti arahan.
Aluna menoleh, " Disitu. Mungkin kamar itu cukup untuk kalian bertiga. Maaf, di rumah ini hanya ada dua kamar, jadi hanya kamar itu yang tersisa. Apa tidak masalah?"
Ketiganya tersenyum tulus, "Tidak apa Nona. Kami sudah terbiasa jika harus sekamar bertiga. Lagipula, kamarnya cukup besar untuk kami bertiga" Jawabnya setuju. Lalu membawa barang-barang mereka masuk ke dalam kamar.
Aluna nampak duduk di sofa depan TV. Dia menyandarkan kepalanya di kursi, lalu memejamkan kedua matanya karena merasa lelah.
Ketiga pelayan itu langsung mengerjakan tugasnya masing-masing tanpa mengganggu Aluna yang terlelap di kursi. Susi mengambil bagian memasak makanan dan mengurus segala keperluan Aluna, sementara Bela dan Nesa bagian pembersihan rumah serta mencuci pakaian.
"Tuan. Nona Aluna sedang tidur" Susi terlihat terkejut mendapati tuannya berdiri di depan pintu, lalu buru-buru melapor ketika Anderson tiba-tiba masuk.
Anderson tak menjawab. Dengan wajah dinginnya, dia hanya melangkah menuju Aluna yang masih duduk bersandar dengan kedua matanya yang terlelap pulas di kursi.
Anderson duduk, lalu Sebelah tangan nya terangkat memberikan kode. Membuat semua orang mengerti, lalu para pelayan dan Sekertaris Han yang berdiri dibelakang melangkah pergi meninggalkan tuannya.
"Kamu cantik jika tertidur pulas seperti ini" Lirihnya, tersenyum manis memandang wajah polos Aluna.
"Bagaimana anak kita. Apa dia baik?" Aluna benar-benar sangat kelelahan sehingga tak menyadari ketika Anderson sengaja menyentuh dan mengelus perut Aluna yang masih rata.
Setelah sesaat kemudian, Anderson dengan sangat hati-hati menggendong tubuh Aluna dan membawanya ke kamar. Meletakan tubuh mungil itu di atas kasur, lalu membentangkan selimut ke tubuh wanitanya.
"Aku mencintaimu" Anderson tersenyum memandangi wajah halus Aluna, lalu mencium lembut pucuk kepala Aluna sebelum pergi meninggalkan Aluna yang masih terlelap di kamarnya.
Anderson pun melangkah meninggalkan kamar, Han terlihat sudah berdiri di luar pintu bersama ketiga pelayan suruhannya untuk menjaga Aluna.
"Jaga calon istriku dengan baik. Jangan sampai ada kekurangan apapun untuknya. Dan satu lagi. Tetap jaga pola makan yang sehat untuknya, karena dia sedang mengandung anakku. Jika sampai Aluna sakit, maka kalian lah yang harus disalahkan. Kalian tahu sendiri jika aku marah, kalian semua tidak akan bisa membayangkan apa yang bisa aku lakukan" Ujar Anderson memperingati dengan penuh tekanan.
Ketiga pelayannya hanya bisa menelan saliva-nya mendengar perkataan Anderson. Sudah dapat dibayangkan jika sedikit saja kesalahan yang mereka lakukan, maka tidak hanya pekerjaan yang hilang, bisa-bisa mereka pun juga bisa kehilangan nyawa.
Ditempat lain.
Bagas nampak duduk di kursi tunggu dengan wajah cemberut. Sementara, Sania dan Sekar masih terlihat asyik memilih baju-baju mahal untuk mereka beli di toko pakaian, lebih tepatnya di pusat pakaian di Mall.
Bagas merasa sedikit jengkel dan kesal. Semenjak menikahi Sania, wanita itu tidak henti-hentinya berbelanja dan shopping-shopping barang yang tidak perlu. Tidak sedikit uangnya yang sudah terkuras demi memenuhi kebutuhan istrinya yang sangat boros. Belum lagi mertuanya juga ikut-ikutan belanja dan meminta untuk dibayarkan olehnya.
Sedikit saja dia menolak, maka kedua wanita itu langsung menudingnya sebagai suami dan menantu yang pelit.
"Apa kalian masih lama. Aku harus pergi ke rumah sakit" Tanya Bagas, ketika Sania sedang memilih baju di dekatnya.
"Tunggu dulu mas. Ini sebentar lagi" Jawab Sania, tanpa menoleh kepada suaminya yang sudah memasang wajah cemberut dan tak suka. Apalagi melihat barang belanjaan Sania yang sudah sekeranjang penuh, namun masih ingin memilih yang lain.
Sangat berbeda dengan Aluna. Sejak berpacaran, Aluna tidak pernah meminta dibelikan barang apapun, melainkan barang-barang yang memang sengaja Bagas belikan sebagai hadiah untuk Aluna.
Memikirkan itu, Bagas merasa merindukan Aluna. Sungguh, penyesalan selalu saja datangnya di akhir. Jika saja dia tahu Sania seperti ini, tidak akan dia mau menikahi wanita yang tidak memikirkan masa depan. Yang ada di dalam pikiran Sania hanyalah belanja dan belanja setiap hari. Sangat jauh berbeda dengan Aluna, ketika Bagas menawarkan sesuatu untuk Aluna beli, Aluna selalu saja mengatakan jangan "terlalu boros, aku tidak memerlukan barang-barang itu, lebih baik uangnya ditabung untuk kita menikah dan membeli rumah" Itulah yang selalu Aluna katakan setiap kali dirinya ingin membelikan barang-barang mahal untuk Aluna.
Bagas hanya bisa membuang nafas kasar, "Bagaimana keadaan mu Aluna. Jika saja aku tidak mengkhianati dirimu, mungkin kita tidak akan berpisah seperti ini" Lirihnya penuh penyesalan.
.
.
.
Bersambung.
ini beda agama apa gimana thor 🙏