Sebuah kenyataan hidup yang sangat pilu dan menyakitkan membuat sebagian orang mengalami kejadian trauma yang sulit dilupakan. Namun, tidak semua orang merasa bahagia menikmati hidupnya yang penuh luka yang membekas di hati mereka.
Kebahagiaan yang diimpikan telah sirna oleh kenyataan pahit yang mereka alami. Disini, akan dibahas dalam sebuah novel LUKAS yang akan menguras emosi dan air mata.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? Jangan lewatkan update terbaru dari perjalanan kehidupan yang penuh pilu ini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Mimpi
Masuk kamar, Dimas langsung meletakkan barang tersebut di sofa kamarnya. Dirinya langsung mandi untuk membersihkan badannya. Selesai mandi, Dimas pun menyisir rambutnya rapi. Setelahnya, Dimas bersandar di ranjang sambil memainkan ponselnya.
Ya, diam-diam Dimas ingin memberi pelajaran pada Bayu dan juga istrinya yang tidak pernah dicintainya itu. Mereka pasti akan terkejut akan kepulangan Dimas yang tiba-tiba.
Sambil menunggu kedatangan Aqila. Dimas pun memejamkan matanya sebentar untuk istirahat.
Di kamar berbeda, Davina terus duduk di samping Bayu, berharap lelaki itu bangun. Namun, Bayu tak kunjung bangun akibat kelelahan mendera.
"Sudah satu jam, Bayu belum bangun juga. Lebih baik aku ke dapur untuk memerintahkan Dalia memasak makanan enak. Barangkali nanti makanan matang, Bayu sudah bangun.
Davina keluar kamar Bayu, lalu menutup kembali pintu kamarnya. Berjalan menuju dapur, tampak Dalia sedang mengiris wortel untuk makan siang nanti.
"Bu Dalia, siapkan kopi susu untukku dan jangan lupa masak yang banyak kali ini. Karena malam ini ada teman-teman arisanku datang," pinta Davina, lalu Dalia mengangguk mengerti.
"Baik, Nyonya."
Davina kembali ke kamarnya untuk menghubungi beberapa teman arisannya yang dekat dengan Davina. Sisanya, memilih menjauh dari orang-orang kaya yang sombong seperti Davina.
Tak terasa, siang telah berubah menjadi senja. Dimas terkejut saat dirinya duduk bersimbah darah. "Apa ini? Kenapa bisa ada darah di perutku?" Dimas meraba perutnya dan memperlihatkan perutnya yang sudah berlubang.
Di depannya, sudah ada seorang wanita yang dikenalnya yaitu Aqila. Gadis itu menatapnya tajam dengan memegang pisau yang telah berlumuran darah.
"Aqila kenapa kamu mau membunuhku!" tanya Dimas dengan nada sedikit bergetar karena menaham rasa sakit di perutnya.
"Aku adalah gadis yang telah kamu nodai tanpa rasa bersalah sedikit pun. Kamu pantas mati! Selama ini, aku hanya berpura-pura mencintaimu Dimas."
"Hari ini, aku tidak mau disakiti lagi untuk kesekian kalinya oleh kalian semua. Kamu harus mati saat ini juga!"
Aqila dengan matanya yang tajam menghunuskan pisau tersebut ke perut Dimas lagi. Namun, gagal karena Dimas berhasil menangkisnya dan Aqila tersungkur pingsan setelah menatap pucuk meja nakas di samping ranjang Dimas.
Dimas pun terkejut saat melihat gadis itu diam tak bergerak lagi. Dirinya berpikir, Aqila akan mencintainya. Ternyata hanya pura-pura saja, tetapi Dimas masih tidak percaya bahwa Aqila berubah begitu cepat.
Membalikkan tubuh Aqila. Dimas terkejut, karena dahi Aqila berdarah dan menyentuh bagian hidung sudah tidak bernafas.
"Aqilaaaa! Tidak, Aqila, tidak. Maafkan aku! Aku tidak sengaja melakukannya. Maafkan aku! Hiks...hiks...hiks." Dimas menangis dan mendekap tubuh Aqila yang tak bernyawa lagi.
"Aqila...Aqila...Aqila!"
"Astaga, Tuan Dimas! Apa yang terjadi? Kenapa Tuan Dimas jadi begini? Ini pasti mimpi?" tanya Baron saat membuka pintu kamar majikannya dan menutup kembali.
"Tuan Dimas, Tuan Dimas!" Baron berusaha membangunkan Tuannya yang sedari tadi berteriak memanggil Aqila.
Dimas terkejut saat menatap Baron yang melihatnya aneh. "Mana Aqila, Baron?"
Baron bingung dengan perkataan Tuannya. Namun, tetap dijawabnya. "Aqila ada di kamarnya Tuan? Ada apa dengan Aqila, Tuan?"
Dimas merasa malu dan canggung saat mengetahui, bahwa semua itu hanyalah mimpi buruk yang entah mengapa seperti nyata. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa pada Baron.
"Hmmm. Tidak apa-apa, hanya tanya saja. Aku mempunyai hadiah untuk anakmu. Nanti, sampaikan padanya dan suruh datang ke kamarku," kata Dimas berbohong akan kejadian barusan dan Baron mengangguk paham.
lanjutin aja laaah 😎🤫🥺
heeeemmm mau alasan apalagi neeeh
yaakiiiiin neeeh 🫣🫣🏃🏃
ntar temen arisannya mengira jika Bayu lah suami Davina donk 👉👈
padahal sepasang kekasih itu akan seneng banget jika kekasihnya selalu berada di sampingnya
lha klo kamunya wafat, lalu yang menjaga Aqila siapa donk ???
eeeeiiiiitttssss tapi kamu kan masih terikat dengan pernikahan ya, lalu jaga Aqila gak bisa maksimal deeeh
kamu doa aja supaya Aqila selalu dalam lindungan Allah
aamiin ya rabbal alamiin
ternyata kena prank ama Kak Dina deeeeh
huuuuuuffttttt syukurlah jika itu semua hanya mimpi belaka
semula dirinya yang ingin membunuh Dimas eeeh ini malah dia sendiri yang wafat 👉👈
ada apa ini sebenarnya???
kenapa ada adegan tusuk menusuk seeeh....
Idul Adha kan masih lama tuuuh 🤣🤣🤣🤣🏃🏃🏃🏃
dan Aqila yang sedang dalam posisi membawa pisau 😱😱😱😱
karena percuma aja, ikutan ajang kumpul-kumpul eeeh gak membawa pada kebaikan
kapan ya, Dimas akan mergoki Davina ama Bayu