WARNING!!!!!
[Karya ini akan menguras emosi. Tidak suka #KDRT atau #PELAKOR skip jangan baca. Kecuali ingin tahu akhir kisah para pelaku.]
Kevin terpaksa menikahi Aura karena permintaan papanya sebelum meninggal. Setelah pernikahan itu terjadi Kevin kerap melakukan KDRT kepada Aura. Istrinya hanya sebatas untuk pelampiasan napsu birahinya saja. Selain itu Kevin juga menikahi sang kekasih—Mariska—dan menambah penderitaan bagi Aura.
Kehidupan Aura mengalami pasang surut dalam hubungannya dengan Kevin. Aira, putri satu-satunya dianggap sebagai anak pembawa sial oleh Kevin.
Akankah Aura bisa terlepas dari jerat kehidupan rumah tangga seperti ini dan mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Melaporkan Kejahatan
Bab 28
Kevin diam-diam akan melaporkan Mariska atas tuduhan berupaya mencelakakan Aira dan menyebabkan bayi itu meninggal. Laki-laki itu tidak terima putri semata wayangnya meninggal.
Ada kiriman surat dari pengadilan agama yang datang ke rumah. Kevin mengerutkan keningnya karena di merasa belum pernah mengirimkan surat gugatan cerai.
"Sepertinya dulu aku belum kirim pengajuan gugatan cerai?" gumam Kevin sambil membaca tanggal yang tertera di kertas itu. Minggu depan sidang pertama akan digelar.
Terlihat Mariska menuruni anak tangga sambil memperhatikan Kevin yang sedang memegang kertas dan amplop berwarna kopi susu. Dia senang karena pengacaranya itu mau membantu dirinya.
'Jika kamu sudah cerai dengan Aura, maka aku akan menjadi satu-satunya istri Kevin. Tentunya semua kekayaan milik kamu juga adalah milik aku,' batin Mariska dengan seringai licik menghiasi wajahnya.
Kevin mencari tahu siapa yang telah mengirimkan gugatan cerainya ke pengadilan agama. Lalu, dia teringat kalau dulu Mariska pernah memberikan amplop berisi semua persyaratan untuk ajukan gugatan perceraiannya dengan Aura.
Mariska memeluk Kevin dari belakang. Dia bersikap manja seperti biasa. Wanita itu bahkan mencium pipi Kevin dengan mesra.
'Dasar ular berkepala dua!' batin Kevin mengumpat.
"Kapan panggilan sidang pertama?" tanya Mariska masih memeluk Kevin.
"Besok lusa," jawab Kevin sambil melepaskan tangan Mariska yang melingkar di perutnya.
Merasa ada yang aneh dengan suaminya, Mariska kembali mencoba merayunya. Namun, Kevin seakan tidak peduli dan memilih pergi ke ruang kerjanya.
'Dia itu kenapa, sih?' batin Mariska.
Kevin sedang mengumpulkan bukti untuk menghancurkan Aldo dan Mariska. Kini kebencian sudah menyelimuti hati laki-laki itu kepada dua orang terdekatnya. Pengkhianatan yang dilakukan oleh mereka akan dia balas lebih kejam agar tidak pernah bisa dilupakan seumur hidupnya.
Kevin menghubungi bagian keamanan dan pengawasan di kantor perusahaan. Mereka sudah kenal dengan Kevin yang merupakan salah satu pekerja yang memiliki jabatan cukup penting. Jadi, punya hak untuk mengetahui apa yang terekam kamera CCTV di ruangannya. Dia meminta rekaman pada tanggal-tanggal tertentu. Di mana, laki-laki itu merasa dicurangi oleh Aldo.
Sambil menunggu kiriman rekaman dari petugas pengawas, Kevin kemudian membuka beberapa rekaman CCTV yang terekam seluruh kejadian yang ada di rumahnya.
Air mata Kevin kembali mengalir saat melihat Aira yang sedang bermain seorang diri. Dia merasakan sesak di dadanya saat melihat Aira merangkak ke dekat sofa. Lalu, bocah itu berdiri dan mencoba berdiri, kemudian berjalan sendiri. Namun, baru dua langkah sudah terjatuh. Ternyata Aira tidak menyerah, dia mengulanginya lagi. Merangkak, berpegangan pada sofa, lalu melangkah dan berusaha untuk berjalan.
'Maafkan papa, Aira,' gumam Kevin yang menangis tergugu.
Kevin terus membuka satu persatu rekaman yang masih tersimpan di memorinya. Ada rekaman di mana Aira sedang bermain sendiri, tiba-tiba Mariska menoyor kepala Aira. Tentu saja Kevin tidak suka anaknya diperlakukan seperti itu. Laki-laki itu menyimpan rekaman tersebut untuk dijadikan salah satu barang bukti.
Merasa tidak puas, Kevin membuka rekaman video selama dua minggu sebelum meninggalnya Aira. Dia harus segera memeriksa semuanya sebelum rekaman itu terhapus.
***
Aura bergerak cepat dengan melaporkan Mariska. Dia ingin wanita itu secepatnya mendapatkan hukuman atas perbuatan jahatnya itu. Lazuardi juga akan membantu menyediakan pengacara untuk membantu Aura menangani kasusnya.
Untuk urusan perceraian dengan Kevin, Aura tidak begitu peduli. Karena dia sudah menganggap dirinya itu adalah seorang janda. Dia juga yakin kalau Kevin tidak tahu di mana dirinya berada sekarang.
"Untuk panggilan Kevin atas tuduhan KDRT sudah akan segera diproses oleh polisi. Semoga saja semua bisa berjalan dengan lancar," ucap Lazuardi dengan nada senang.
Dalam hati Aura menginginkan keadilan bagi dirinya dan putrinya. Dia ingin orang-orang yang sudah berbuat jahat kepada dirinya itu diberikan hukuman yang setimpal. Rasa kesakitan, putus asa, dan merasa tidak berdaya, bisa dirasakan juga oleh Kevin dan Mariska.
Dahulu Segara memang sudah berniat untuk menyuruh Aura melaporkan kejahatan suami dan istri mudanya. Saat dia melihat perlakuan mereka di rumah sakit. Perlakuan kejam Kevin dan Mariska terhadap Aura, terus saja terbayang-bayang di dalam pikirannya, sehingga dia akan mem-viral-kan kejadian kejadian saat itu.
"Eh, aku lupa. Rekaman CCTV yang di rumah sakit, aku sudah menyimpannya di ruang kerjaku di rumah sakit. Itu bisa menjadi bukti tambahan untuk mereka. Aku beberapa kali melihat rekaman CCTV itu dan merasa ada yang aneh," ujar Segara yang menepuk keningnya.
"Rekaman CCTV yang berada di koridor kamar jenazah?" tanya Aura.
"Iya. Aku sudah menyimpannya dan meneliti beberapa kali karena takut salah. Aku melihat wajah Mariska yang tersenyum senang saat melihat kamu yang menangis dan terluka setelah kematian Aira. Pasti dia saat itu merasa senang. Masukan itu juga menjadi barang bukti untuk mempertegas kalau wanita itu memang mengharapkan kematian Aira," jawab Segara.
Hati Aura kembali tersayat dan amarah di dalam dirinya bergelora kembali saat mengetahui kalau kematian anaknya memang sudah direncanakan oleh Mariska.
"Sebaiknya kita ambil rekaman CCTV itu dan menyerahkannya kepada pengacara kita," kata Lazuardi dengan geram.
Aura, Lazuardi, dan Segara akhirnya pergi ke rumah sakit. Setelah itu baru pergi ke kantor firma hukum milik kenalan Lazuardi dan Segara. Lebih cepat diproses itu akan menjadi lebih baik agar penjahat bisa segera diberikan hukuman.
***
Saat di rumah sakit Aura, Lazuardi, dan Segara mendapatkan hasil rekaman itu. Mereka merasa sangat senang karena ini bisa memperkuat bukti. Baik untuk kasus kekerasan yang dilakukan oleh Kevin atau rencana jahat Mariska.
Ketika ketiga orang itu berjalan di koridor rumah sakit, ada seseorang yang menabrak Lazuardi dan Aura. Keduanya sampai mundur beberapa langkah dan tidak menyadari kalau tas milik wanita itu telah diambil olehnya.
"Tasnya!" Aura berteriak saat sadar tas selempang miliknya hilang.
"Berhenti!" Lazuardi berlari mengejar orang yang sudah menabrak mereka tadi.
Orang yang dikejar itu berlari ke arah belakang gedung laboratorium. Dengan cepat dia memeriksa tas milik Aura dan mencari sesuatu.
Akhirnya apa yang dia cari berhasil didapatkan. Lalu, dia membuang tas milik Aura dan pergi dari sana.
***
Lagi-lagi Mariska menemui Dani di jalanan yang sepi seperti kemarin. Dia datang ke sana karena tadi dihubungi oleh laki-laki itu.
"Mana barang buktinya?" tanya Mariska.
"Ini." Dani memberikan dua chip kartu memori kepada Mariska.
Lalu, wanita itu memeriksa isinya. Ternyata kedua memori itu isinya sama. Yaitu, rekaman CCTV yang ada di dekat ruang kamar jenazah. Di sana terekam Kevin yang menampar Aura. Wanita itu tidak sadar dengan ekspresi wajah dirinya sendiri yang terekam di sana.
"Aku akan transfer uangnya lewat mbanking, karena aku tidak bawa uang cash," ucap Mariska.
"Tidak masalah, yang penting secepatnya masuk ke rekening aku," balas Dani, lalu pergi dari sana.
"Apa Aura akan melaporkan Kevin ke polisi atas kasus KDRT?" kata Mariska begumam.
***
aku udh curiga sm aldo sejak dia nanya dari mana mama kevin tau hubungan kevin sm mariska trus dia bilang mgkin aura yg ngasih tau krn cemburu