Luna adalah seorang gadis berusia 25 tahun yang dipaksa ibunya untuk menikah dengan mantan kekasihnya yang telah berkhianat, Samuel. Namun maminya berjanji tidak akan memaksanya menikah dengan Samuel dengan satu syarat, yaitu Luna harus memiliki kekasih yang lebih segalanya dari Samuel.
Sangat sulit mencari pria berkelas seperti Samuel tapi Luna tetap tidak akan mau menikah dengannya.
Tanpa disengaja Luna bertemu dengan Rey disaat yang tidak terduga. Muncullah niat Luna untuk memanfaatkan Rey yang ternyata memang mengangguminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Don't Touch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih Cinta
Kebodohan yang menular itu adalah kata-kata yang cocok untuk Luna, pagi ini ia berada di dokter kandungan dengan memakai kacamata hitam, masker dan sweater hoodie yang sengaja ia gunakan untuk menutupi identitas dirinya.
"Katty" seorang wanita dipanggil.
Luna bangun dan masuk, ia menggunakan nama samaran karna takut ketahuan. Ia membuka masker dan kacamatanya.
"Luna?" ternyata dokter itu adalah teman SMA Luna.
"Bianca?" Luna terkejut, wanita itu teman baiknya saat SMA.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Bianca heran.
"A.. aku..." Luna gugup ia bingung harus menjawab apa.
"Ada apa? Ceritakan padaku"
Bianca menghampiri Luna dan mengajaknya duduk bersama. Luna bingung mau menceritakan mulai dari mana.
"Apa kau melakukan sesuatu dengan Samuel?" tanya Bianca, wajah Luna berubah menjadi sedikit kesal.
"Dia adalah sampah, aku sudah lama tidak bersamanya!" jawab Luna ketus.
"Oke baiklah, lalu???" Bianca memancing Luna agar bercerita.
"Aku melakukan hubungan dengan suamiku dalam keadaan mabuk beberapa hari yang lalu" bisik Luna, Bianca tercengang.
"Kau sudah menikah? Tapi kenapa kau seperti ketakutan datang ke sini dan menggunakan nama palsu?" tanya Bianca heran.
"Jangan banyak tanya, cepat periksa aku dan pastikan aku tidak hamil" ujar Luna lalu berjalan ke ranjang.
"Ya baiklah" Bianca mengikuti kemauan Luna.
Bianca sudah lama mengenal Luna dan sudah tahu sifat Luna yang keras kepala juga sulit ditebak. Ia memeriksa Luna, matanya menunjukan sebuah pertanyaan.
"Aku tak bisa memeriksamu lebih jauh" ucap Bianca.
"Kenapa??" Luna penasaran.
"Aku bingung, bagaimana kau bisa hamil bila kau saja masih dalam keadaan pe***an?" Bianca menggelengkan kepalanya lalu duduk di kursinya.
"Apa kau serius? Itu berarti tak terjadi apapun malam itu... Yeaaaayyy" Luna bersorak riang.
"Apa yang membuatmu berpikir bahwa kau hamil?"
"Tadi malam aku merasa perutku sakit dan mual"
"Datanglah ke dokter umum dan periksa, sepertinya kau terlalu banyak makan"
"Benarkah? Oia benar juga. Yang penting aku tidak hamil... yeaaaay"
Bianca makin bingung dengan respon Luna.
"Heii bodoh! Kau sudah menikah dan masih pe***an itu adalah sesuatu yang aneh! Apakah suamimu seorang h**o?"
"Tidak, dia pria yang menganggumkan dan sangat menawan" jawab Luna, ia mengatakannya tanpa sadar.
"Lalu mengapa kau tidak berhubungan dengannya dan hamil?" tanya Bianca gemas.
"Ituuuu karena....." Luna memutarkan matanya mencari alasan.
"Ya sudah jangan mencampuri urusan pernikahanku, berikan nomor ponselmu" ujar Luna seenaknya, Bianca hanya mengikuti keinginan Luna.
"Terima kasih, aku pergi"
Luna kembali memakai masker dan kacamatanya juga menaruh topi hoddie dikepalanya, ia berjalan cepat ke mobilnya dan kembali ke apartemen.
♥️♥️♥️
"Apakah malam ini kau free?" tanya Erika pada Rey.
"Aaah aku tak bisa kemanapun setelah pulang bekerja. Apa kau mau mengajakku ke suatu tempat?" tanya Rey heran.
"Yaa, aku sedang ingin pergi ke suatu tempat malam ini"
Tak sengaja Bobby sedang melewati mereka, Rey menarik lengannya.
"Bagaimana bila kau pergi dengan Bobby?" ujar Rey sambil menaik turunkan alisnya.
"Apa itu?" tanya Bobby tak mengerti.
Erika hanya menunduk diam saja.
"Erika ingin mengajakmu ke suatu tempat malam ini, kau bisa kan? Ya kau pasti bisa. Baiklah sudah diputuskan, Bobby yang akan menemanimu" ucap Rey seenaknya, lalu berjalan ke toilet meninggalkan Bobby dan Erika yang masih canggung.
"Jadi.... apakah kau mau aku temani?" tanya Bobby sambil tersenyum malu.
Erika hanya mengangguk pelan.
"Yesss...." Seru Bobby sambil meninju angin.
"Tunggu aku ya, aku harus mengantar Rey dulu baru aku bisa menemanimu" ujar Bobby sambil menggaruk kepalanya.
Erika mengangguk malu, ia tak berani melihat ke arah Bobby. Bobby dipanggil oleh James untuk mencuci piring, ia lalu meninggalkan Erika.
"Apakah nanti malam kita bisa makan mie lagi?" tanya Erika yang belum sadar Bobby sudah pergi dan Rey sudah kembali.
"Mie?? Apa kau bertanya padaku?"
Erika menoleh ke Rey dan mencari keberadaan Bobby yang ternyata sudah berpindah sedang mencuci piring sambil bernyanyi. Ia menutup wajahnya karna malu.
"Hahaha apa kau dan Bobby pernah berkencan lalu makan mie?" Rey mulai paham maksud Erika, Erika hanya diam lalu berlari ke toilet.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya James yang aneh melihat Erika berlari sambil menutup wajahnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa pak, bisa dikatakan belum sempat" jawab Rey sambil tertawa lebar.
James hanya diam saja dengan wajah coolnya, ia mulai memasak dan meminta Rey membantunya.
"Aku merasa aneh, nona muda saat ini sering meminta menu baru padaku" ujar James dengan nada heran, Rey menoleh ke arah James lalu menaikan kedua pundaknya.
"Apa kau curiga sesuatu?" James menatap Rey seperti ingin memberitahukan sebuah rahasia.
"Curiga apa?" tanya Rey ragu, ia mengalihkan pandangannya dari James takut gugupnya terbaca oleh James.
"Aku pikir nona sedang menyukai pria yang suka memasak" ujar James membuat hati Rey berbunga-bunga.
"Benarkah?" mata Rey berbinar-binar.
"Ya mungkin saja, dan pria itu bisa jadi aku. Ya mungkin saja" ucap James tanpa merasa bersalah membuat semangat Rey menjadi pudar.
Rey memiringkan bibirnya kesal kepada James.
"Apa yang kalian bicarakan?" ucap Erika yang baru kembali dari kamar mandi, ia berusaha bersikap normal.
"Kami hanya membicarakan tentang makan mie malam ini" goda Rey.
Erika mengacungkan pisau ke arah Rey, Rey mengangkat kedua tangannya sambil tertawa kecil. Saat Bobby melewati mereka, Erika langsung menyembunyikan pisau itu.
"Jangan salah tingkah" bisik Rey meledek Erika.
"Bila masih sayang dengan dirimu, dan masih ingin mendapatkan cintamu maka jagalah perkataanmu tuan!" ujar Erika sambil melotot.
"Hamba mohon ampun ratu" ucap Rey sambil tertawa.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, waktunya restauran tutup.
"Jiraiya sudah datang, aku akan pulang bersamanya" ucap Rey langsung berjalan ke arah pintu depan restauran.
Erika dan James terlihat bertanya-tanya dalam hati.
"Tempat kos kami dilewati oleh tuan Jiraiya" kata Bobby santai.
Erika dan James saling tatap lalu mengangkat bahunya.
"Ayo kita pulang" ajak Bobby, Erika melirik ke arah James. Ia tak mau James tahu mereka akan pulang bersama.
"Aaah baiklah, aku akan pulang duluan" ucap Bobby melambaikan tangan lalu keluar dari pintu belakang.
Aku menunggumu didekat lampu lalu lintas.
Bobby mengirimkan pesan kepada Erika.
Oke
Erika menjawab singkat. Bobby menunggu Erika sambil bernyanyi lagu kesukaannya. Tak jauh dari sana Bobby melihat sekelompok orang yang sedang berjalan ke arahnya.
Orang-orang itu seperti akan mengeroyok Bobby, mereka memegang tangan Bobby dengan kuat.
"Heiiii!!! Apa yang kalian mau dariku!" teriaknya.
"Bukan kami yang punya urusan denganmu! Tapi Bos kami!"