Asher terpaksa menerima perjodohan dari orang tuanya untuk menepis gosip yang beredar tentang dirinya. Tetapi dia memiliki trauma yang membuat dirinya tidak bisa melakukan hubungan suami istri. Frandella merasa kecewa dan melimpahkan kekesalannya kepada Asher. Dengan rasa marah dan kesal Asher menyuruh Frandella untuk mencari kepuasaan di luar. Frandella menyetujui tawaran Asher karena dia adalah wanita yang sedikit gila akan ***. Di tengah hati yang gundah Asher pergi ke klub malam dan di sana dia bertemu dengan Jeslyn yang mengajaknya untuk melakukan hubungan one night stand. Asher tidak menyangka bahwa dirinya bisa menjadi laki-laki sejati saat bersama dengan Jeslyn. Bagaimana kelanjutannya? Apakah Asher akan terus mempertahankan rumah tangganya demi reputasinya? Atau malah mencari Jeslyn yang dapat menyembuhkan traumanya? Yuk ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana no Megami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melindungimu
Prang….
Bunyi pecahan kaca terdengar di seluruh penjuru ruangan. Serpihan-serpihan kaca yang telah hancur karena hantaman kursi jatuh berceceran di lantai. Suara yang bergema mengakibatkan beberapa orang yang mendengarnya segera berlari ke arah sumber suara. Ya, di kamar Frandella saat ini wanita itu sedang mengamuk karena merasakan sakit pada perutnya. Sepertinya wanita ini akan segera melahirkan namun ia tidak mengatakan apapun hanya mengamuk dan menghancurkan seluruh isi kamarnya. Dengan cepat dua petugas keamanan telah menahannya tiba-tiba saja terlihat genangan air di lantai. Air itu merembes dari arah dalam dress milik Frandella dan mengalir melalui kaki Frandella. Seorang perawat yang melihat hal itu langsung berlari untuk memberi tahu Dygta bahwa itu adalah tanda-tanda kelahiran.
Frandella di seret masuk ke dalam mobil dan dilarikan ke rumah sakit. Kini ia hanya bisa meronta-ronta kesakitan. Mobil melaju dengan cepat menuju ke rumah sakit terdekat. Sesampainya di rumah sakit dokter melakukan pemeriksaan dan ternyata pembukaannya masih belum lengkap dan harus menunggu hingga pembukaannya lengkap.
Hari telah berganti, dan Frandella sudah berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang menggemaskan. Namun keadaannya tidak baik ia hanya terdiam setelah kelahiran putranya, Bahkan jika melihat bayinya Frandella akan menjerit histeris dan menangis. Anton hampir memukulnya karena geram melihat tingkah Frandella, tetapi perawat menahannya dan menjelaskan kondisi Frandella saat ini sedang tidak baik.
Tiga hari berada di rumah sakit kini Frandella sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Keadaannya semakin membingungkan orang di sekitarnya ia tidak mau bicara dan melihat bayinya. Makan pun harus dipaksa terlebih dahulu. Perawat yang merawatnya memberi tahu kepada Anton dan Dygta jika Frandella mengalami baby blues namun Anton tidak mempercayai hal semacam itu. Perawat sudah memberikan saran agar Frandella dibawa ke psikiater namun Anton malah marah karena menganggap Frandella hanyalah drama dan wanita itu sudah gila sejak sebelum melahirkan.
Hari-hari telah terlewati Frandella tetap tidak mau menyentuh bayinya ia semakin terlihat tidak sehat. Melihat tingkah laku Frandella Anton bertambah murka.
“Ada apa denganmu? Apa kau ingin mati?” Anton berkacak pinggang berdiri di hadapan Frandella.
“Aku jijik dengan anak itu bawa ia pergi dari sini.” Frandella berteriak saat melihat Dygta berada di belakang Anton menggendong bayi kecil itu.
Entah apa yang dirasakan oleh Frandella saat ini namun seakan tidak ada yang mau mengerti akan dirinya. Anton pun bertambah geram dan menampar pipi Frandella. Wanita itu hanya tertawa saat ditampar oleh ayahnya. Anton pun mengangkat kembali tangannya namun seorang perawat berlari dan memeluk Frandella.
“Jangan tuan ini tidak baik untuk kesehatan mental anak anda.” Anton sangat kesal dan meninggalkan kamar itu daripada ia melakukan tindakan lebih dari ini. Dygta hanya mengekor di belakang Anton. Tangis Frandella pecah saat perawat itu memeluknya. Seakan hanya perawat itu yang peduli dengan dirinya saat ini.
***
Berita tentang penangkapan Jacob sudah tersebar ke seluruh pelosok negeri. Mungkin sudah sampai di telinga Asher saat ini. Jeslyn memaksa Black A12 untuk mengantarnya ke kantor polisi, ia ingin bertemu dengan Jacob dan melihat keadaannya. Mobil melesat dengan cepat dan setelah memakan waktu kurang lebih satu jam Jeslyn dan Black A12 sampai di kantor polisi. Setelah beberapa menit menunggu kini Jacob telah berada di hadapan Jeslyn.
“Kenapa kamu keluar dari rumah?” Jacob menatap tajam ke arah Jeslyn.
“Aku ingin melihatmu Jac.”
“Pergilah,” Jeslyn masih terdiam di tempatnya ia terlihat sangat kecewa dengan sikap Jacob. “Pergilah ke luar negeri aku tidak bisa melindungimu dalam keadaan seperti ini.” Jeslyn memiringkan kepalanya seakan meminta penjelasan.
“Ikuti perkataan Black A12, pergilah sekarang dan panggil Black A12 ke sini karena waktu kunjungan akan segera berakhir.” Jeslyn menarik nafasnya dalam-dalam dan berusaha menahan air matanya yang akan terjatuh.
“Baiklah Jac, jaga dirimu baik-baik.” Jeslyn beranjak dari tempatnya dan memanggil Black A12. Jeslyn menunggu di parkiran saat Black A12 sedang berbicara dengan Jacob.
Menit telah berlalu Black A12 sudah berada di parkiran dan meminta Jeslyn untuk masuk ke mobil. Dalam perjalanan pulang Jeslyn tampak termenung ia masih mencerna apa yang dikatakan oleh Jacob. Dan tiba-tiba suara Black A12 membuyarkan lamunannya.
“Nyonya, tuan meminta anda untuk meninggalkan Indonesia karena keadaan di sini masih sangat berbahaya.”
“Kalau begitu aku pulang saja ke Jakarta bersama Embun.” Jeslyn merasa kesal karena Jacob memutuskan tanpa bertanya ketersediaannya untuk pergi atau tidak.”
“Jangan nyonya itu malah membahayakan anda dan orang tua anda. Tuan Jacob meminta anda untuk pergi ke Perth, Australia bersama baby Embun karena disana akan ada orang yang melindungi anda. Sementara kami masih berusaha mencari cara untuk membebaskan tuan Jacob, jadi sembari menunggu itu demi keselamatan anda dan baby Embun tuan Jacob meminta anda untuk pergi.” Jeslyn membuang kasar napasnya dan membuang pandangannya ke arah luar. Ia merasa terjepit pada keadaan yang membingungkan.
“Sebenarnya siapa dalang dari semua ini?” Jeslyn membuka lagi suaranya.
“”Saudara tuan Alex yang bernama Michail.” Jeslyn membelalakkan matanya tidak percaya. Bagaimana bisa padahal pria itu selalu berada di rumah sakit untuk menunggu Alex serta ia juga yang mengurusi pemakaman Alex.
“Jika kalian sudah tau berarti kalian sudah memiliki buktinya. Kenapa tidak kamu laporkan saja dia ke kantor polisi.”
“Tidak semudah itu nyonya, bahkan yang menjebak tuan Jacob hingga masuk ke penjara adalah Michael.”
“Kalau begitu kita bisa ganti menjebloskannya ke penjara kan kita sudah mengantongi bukti-bukti perbuatannya.” Jeslyn tampak membenarkan ucapannya.
“Jika kita melaporkan Michail dengan tindakan perencanaan pembunuhan maka ia akan membongkar kasus pembunuhan tuan Jacob terhadap orang yang sudah menabrak mobil tuan Alex dan nyonya Diana. Hal itu hanya akan semakin memberatkan hukuman tuan Jacob dan semakin sulit juga untuk kita mengeluarkannya dari sana.” Deg… Jantung Jeslyn berdetak dengan cepat ia tahu bahwa Jacob seorang ba*ingan tetapi ia tidak menyangka bahwa pria itu juga melenyapkan seseorang. Jeslyn mengusap air matanya yang terjatuh di pipinya.
Mobil itu menjadi hening dan Black A12 melirik dari arah spion memastikan keadaan Jeslyn dan tidak melanjutkan lagi perkataannya. “Baiklah aku akan pergi demi baby Embun.”
“Baik nyonya saya akan segera mengurus keberangkatan anda.” Mobil melaju dengan cepat hingga sampai di rumah Jacob.
Jeslyn keluar dari pintu mobil dengan wajah pucat badannya terasa lemas kakinya serasa tidak sanggup untuk menopang dirinya. Saat akan melangkah tiba-tiba dia ambruk dan tersungkur di lantai. Sontak Black A12 segera berlari dan menggendong Jeslyn untuk masuk ke dalam rumah dan menidurkannya di atas sofa. Para pelayan yang melihat langsung berlari menuju ke arah Jeslyn.
“Nyonya baik-baik saja? Kenapa wajah nyonya begitu pucat?
“Tidak apa-apa bi, hanya kecapean saja. Dimana Embun?
“Embun sedang tertidur nyonya.”
Jeslyn bangkit untuk duduk dan mengatur napasnya. “Bi, mari bantu saya untuk berkemas.”
Pelayan itu hanya menatap Jeslyn dengan bingung. Bagaimana tidak Jeslyn yang terlihat pucat dan tidak sehat tapi memintanya untuk membantu berkemas, memangnya mau pergi kemana dengan keadaan seperti itu. Namun pelayan tidak berani bertanya dan menuruti permintaan Jeslyn.