DISARANKAN SUDAH CUKUP UMUR UNTUK MEMBACA CERITA INI. HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN!!!
"Jangan terluka, karena aku bukan orang yang pantas untuk membuatmu terluka"
~ Shakti Ing Djagat
Shakti, dokter muda yang berniat menolong seorang gadis yang hendak dilecehkan oleh pacarnya, justru berakhir dengan menjadi tersangka pelecehan. Dan harus bertanggung jawab menikahi Zia, si gadis manja yang berstatus pelajar SMA.
Awalnya, Shakti menolak pernikahan itu. Karena merasa tidak bersalah. Dan yang lebih utama, karena dia memiliki janji terhadap kekasihnya. Namun, demi menyenangkan mamanya disetujuinya juga pernikahan tanpa cinta itu.
Apakah Zia mampu membantu Shakti untuk jatuh cinta padanya dalam ikatan pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps.28 Kamu Ganteng
Sore itu Shakti melajukan mobilnya ke sekolah Zia, dia sudah terlambat satu jam dari waktu penjemputan. Tadi, saat Shakti mau pulang ada pasien darurat yang harus ia tangani. Alhasil jam pulangnya jadi mundur.
Sekarang dia memacu mobilnya dengan cepat, agar lebih cepat sampai di sekolah. Dia takut istrinya itu menunggunya terlalu lama, atau justru sudah pulang duluan. Dia juga tidak bisa menghubungi Zia karena ponselnya mati.
Di pinggir jalan, saat lampu merah dia melihat anak-anak berseragam SMA sedang nongkrong. Ada satu anak berseragam SMP yang sedang dimarahi oleh anak berseragam SMA itu. Bahkan kepalanya dipukul dengan gulungan buku.
Ada sesuatu yang aneh dengan anak itu, dia di pukul tapi dia diam saja dan malah menunduk. Mungkin anak SMP itu sedang di bully, kalau saja Shakti tidak mengkhawatirkan istrinya, pasti dia akan turun menolong anak SMP itu.
Saat sampai di depan sekolah, Shakti tidak melihat Zia di tempat biasa ia menunggunya. Sekolah bahkan sudah sepi. Tapi masih ada Satpam yang berdiri di posnya. Shakti pun turun menghampiri pak satpam itu, dan bertanya apakah masih ada siswa di dalam sekolah. Ternyata semua siswa sudah keluar.
"Memang Mas nyari siapa?" tanya Pak satpam.
"Saya mencari Alinzia, dia kelas dua belas," jawab Shakti.
"Oh ... neng Zia, dia sudah pulang tadi," jelas pak Satpam.
"Bapak lihat, dia naik apa tadi, Pak?" tanya Shakti lagi.
"Jalan kaki kayaknya, ke arah sana," tunjuk pak satpam ke arah kanannya.
"Kalau begitu terima kasih ya, Pak," pamit Shakti.
Shakti kembali masuk ke mobil, menjalankannya ke arah yang di tunjukkan pak satpam padanya. Mobilnya berjalan pelan sambil dia menoleh ke kiri dan kanan untuk melihat apakah Zia masih di sekitar sini. Tak lama dia menangkap sosok mirip istrinya, sedang duduk di bangku minimarket sambil menikmati minuman kalengnya.
Shakti menghentikan mobilnya dan menghampiri gadis itu. Benar saja, dia adalah Zia, istrinya.
Shakti langsung duduk di bangku depan istrinya. Zia yang menyadari ada seseorang duduk di depannya langsung mendongak mencari tahu. Senyumnya mengembang saat tahu yang di depannya ini adalah suaminya.
"Maaf, aku terlambat dan nggak bisa hubungi kamu, ponsel aku mati," ucap Shakti.
Zia hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Apa masih mau di sini?" tanya Shakti.
"Enggak, kita pulang saja, tapi sebelum itu kita mampir ke rumah papi, ya. Tadi mami ngirim pesen ke aku, katanya lagi bikin choco lava cake kesukaan aku, jadi disuruh ambil ke ajak Zia.
Shakti mengangguk mengiyakan.
.
.
.
.
.
Sampai di rumah papi Andra, Zia langsung di sambut maminya dengan senang.
"Kok lama sih sayang, bukannya jam pulang kamu udah lewat dari satu jam yang lalu?" tanya Mami Laura.
"Iya Mi, tadi Shakti jemput nya telat," jawab Zia.
"Maaf mi tadi ada pasien darurat dan nggak bisa Shakti tinggal, jadi jemput nya telat," jelas shakti.
Mami Laura hanya bisa ber 'oh' ria.Mengerti akan profesi menantunya itu.
" Ya udah, ke dapur, yuk. Mami udah siapin cakenya," ajak Mami.
Shakti dan zia pun mengekori Mami Laura.
"Kok sepi sih, Mi. Enzo mana? papi kok nggak kelihatan juga?" tanya Zia.
"Enzo belum pulang, kalau Papi kamu sudah dua hari di Surabaya," jawab Mami.
"Kok tumben Enzo belum pulang, bukannya pulangnya jam dua ya?" tanya Zia memastikan.
"Iya, pulangnya memang jam dua, tapi dia kan sudah kelas IX, jadi dia ikut les gitu sampai jam empat," jawab Mami.
"Lah, ini sudah jam Lima lebih masak belum pulang juga. Memang dia les di mana?"
"Ya les di tempat dulu kamu les."
"Katanya sih habis les dia mau ngumpul dulu sama temen-temennya," lanjut Mami Laura.
mendengar jawaban itu Zia langsung diam tak lagi menanyakan soal adiknya itu.
Zia langsung mengambil kuenya dan berpamitan untuk segera pulang. Mami Laura yang masih kangen, rasanya tak rela putrinya itu meninggalkan rumahnya.
Belum juga sampai di ruang tamu, Zia melihat Enzo adiknya masuk dan akan menaiki tangga.
"Kok baru pulang, Dek?" tanya Zia yang langsung menghentikan langkah Enzo.
Enzo langsung berbalik arah menghampiri kakaknya dan kakak iparnya. Zia langsung mencium pipi adik satu-satunya itu. Seperti biasa Enzo hanya tos dengan Shakti sebagai sapaan.
"Kok lo bau rokok sih, Dek. Jangan bilang lo ngerokok, ya?" selidik Zia yang membau aroma rokok saat mencium adiknya tadi.
"Enak aja, jelas gue nggak ngerokok. Tadi kan, gue abis nongkrong sama temen-temen gue di tempat parkiran les, dan di sana ada tukang parkirnya juga, yang kebetulan lagi ngerokok makanya gue kena baunya juga," jelas Enzo.
"oh ... ya udah deh kalau gitu, kakak pulang dulu, ya," pamit Zia.
"Ingat, jangan bandel!" tambah nya sambil mengacak rambut adiknya.
Shakti kembali tos dengan adik iparnya itu.
.
.
.
.
.
Di dalam mobil, Shakti teringat dengan anak SMP yang tadi sore dia lihat. Dia juga mengingat Enzo adik iparnya, yang juga masih berstatus pelajar SMP.
Rasa kasian muncul untuk anak SMP yang di bully tadi. Anak-anak yang lemah, selalu dengan mudah menjadi sasaran pelaku bullying. Shakti tau betul tentang dunia bullying antar pelajar, apa lagi di jalanan. Karena dia pernah menjadi bagian dari pelaku bullying itu. Bagaimana dia bisa sampai di rantai teratas pemimpin geng motor waktu itu, tentu saja tidak terlepas dari aksi bullying.
Sekarang dia begitu menyesali tindakan arogannya semasa remaja dulu. Dia berharap apa yang terjadi pada anak SMP tadi sore tidak terjadi pada adik iparnya.
Enzo adik iparnya itu adalah anak rumahan. Di lihat dari penampilannya saja, sudah terlihat bahwa dia anak mami. Enzo yang sebenarnya memiliki ketampanan yang menurun dari papinya, tak pernah ingin terlihat mencolok di depan siapapun, terutama teman-temannya. Karenanya, dia memilih berpenampilan yang akan menutupi ketampanannya dengan memakai kaca mata dan baju yang terlihat kedodoran seperti anak cupu.
"Shak, lo dengerin gue nggak sih?" tanya Zia yang menepuk bahu Shakti karena ajakannya tidak di jawab.
"Ah ... iya, kenapa?" Shakti yang tersadar dari lamunannya menjawab dengan tergeragap.
"Tadi aku bilang, ayo mampir dulu di kedai ice cream favorit aku. Mumpung kita lewat sini," jelas Zia.
"boleh, ya," rengek Zia.
"Jauh nggak dari sini?"
"Enggak kok, pertigaan itu kamu belok kanan aja," tunjuk Zia dengan jarinya.
Shakti mengikuti arahan Zia dan membawanya ke tempat ice cream langganan istrinya itu.
"Kamu mau, nggak?" tanya Zia yang sudah duduk di dalam kedai ice cream favoritnya.
"Enggak, aku kurang suka manis," jawab Shakti.
"Ok, kalau gitu saya mau ice cream coklat mix vanilla aja," ucapnya pada mbak pelayan kedai itu.
Tak lama Ice cream pesanan Zia datang. Shakti yang melihat pesanan istrinya itu menatap heran, Zia memesan ice cream ukuran jumbo.
"Apa kamu bisa menghabiskannya sendiri?" tanya Shakti heran melihat porsi ice cream Zia.
"Kan, ada kamu yang bantuin," jawab Zia enteng.
"Aku kan sudah bilang nggak suka manis." ucap Shakti.
"Aku juga nggak bilang kalau kamu harus bantuin aku makan."
"Terus?" tanya Shakti bingung.
"Kamu cukup bantuin nyemangatin aku aja, biar aku bisa menghabiskan ice cream ini." tunjuk Zia ke mangkok ice creamnya.
Seketika itu Shakti langsung tersenyum. Ada-ada saja istrinya ini, baru kali ini ada orang makan ice cream minta disemangati.
"Kamu ganteng!" puji Zia untuk Shakti saat melihat Shakti tersenyum.
Shakti langsung menghentikan senyumnya, kembali menatap Zia datar.
"Kenapa berhenti, kamu itu makin ganteng kalau tersenyum," jelas Zia.
"Aku suka lihat lesung pipi kamu kalau tersenyum," imbuh Zia.
Zia sukses membuat Shakti merona sekaligus salah tingkah. Bagaimana tidak? dia harus menahan dirinya agar tidak tersenyum saat istrinya ini menggodanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya like ... komen ... dan vote juga ya....
tengkyu❤❤❤sayang hee
pasti ad sesuatunya tuh di susunya🙈
apalagi Zia
pass banget
keren Thor 👍👍
jadi mau ngakak....boleh doong Thor...?